Seorang CEO tampan blesteran Turki-Indonesia, Alexander Kemal Malik, putra satu-satunya Billionaire, Emir Kemal Malik, raja properti dan ritel, Malik Corp, Turki, dipaksa menikah dalam waktu satu bulan. Jika tidak Alex hanya ada dua pilihan, dijodohkan atau dicabut hak warisnya. Sialnya sang kekasih, Monica Young, model internasional Hongkong, lebih memilih kariernya dan meminta waktu satu tahun untuk menikmati puncak kariernya sebelum melepasnya untuk menikah.
Tapi waktu yang ada hanya satu bulan. Atau Alex harus merelakan, dijodohkan ataukah melepaskan semua sahamnya untuk didonasikan?
Dan ide menikah kontrak dari Monica membuatnya bertemu dengan gadis manis Rianti Azalea Jauhar. Relakah Monica, saat Alex menikahi Rianti? Sanggupkan Rianti tidak jatuh cinta pada Alex? Saat tiba kontraknya selesai, mampukah Alex menceraikan Rianti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tya gunawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Honeymoon
Rianti menganga ketika memasuki kamar yang ditunjukkan oleh kepala pelayan kepadanya.
"Ini kamar Anda, Nyonya."
Pelayan wanita itu membuka kamar besar, yang berada persis di samping kamar Alex. Rianti merasa lega. Tadinya ia berpikir akan tidur sekamar dengan Alex, ternyata tidak.
Syukurlah.
Rianti sudah berpikiran yang tidak-tidak.
Memang dalam perjanjian mereka, tidak akan tidur sekamar dalam pernikahannya. Tidak ada sex, dan tidak saling mencampuri urusan masing-masing.
Gadis itu berdecak kagum. Kamar yang sangat mewah bernuansa soft terbentang di depannya. Lantai granit bermotif yang indah, gorden dua lapis berwarna coklat yang bagian dalamnya berwarna putih terbuat dari kain sutera yang lembut, serta dua buah lampu tidur berukuran besar berada di samping kanan dan kiri tempat tidur.
Untuk ranjangnya sendiri sangat besar, dua kali ranjang king size dengan seprai dan selimut yang juga berwarna putih yang lembut. Ada TV besar berlayar datar menghadap ke arah ranjang.
Ketika melihat almari di sudut ruangan dekat kamar mandi, saat itu Rianti sadar kenapa Alex menatap kopernya dengan aneh. Bajunya hanya mengisi satu rak lemari. Sementara lemarinya itu sangat besar. Hampir dua kali lipat luas kamarnya di kampung.
"Untuk baju Anda biarkan pelayan yang merapikannya, Nyonya," ucap pelayan tadi yang ternyata masih ada di dalam kamar.
Rianti hanya diam mengamati pelayan itu merapikan gorden dan membukanya. Seketika kaca jendela menampakkan pemandangan kota yang temaram dengan gedung-gedung pencakar langit yang berpendar cahaya lampunya.
"Terima kasih, saya akan merapikan sendiri," jawab Rianti yang kini berdiri canggung di tengah kamar.
Pelayan yang kira-kira seusia ibunya itu tersenyum,
"Biar kami saja, Nyonya. Tuan akan marah pada kami jika membiarkan Anda bekerja."
Rianti mengangguk pelan, "Baiklah kalau begitu, maaf merepotkan."
"Panggil saja saya Fatma, Nyonya. Jika Anda membutuhkan sesuatu. Dan Anda tidak perlu merasa telah merepotkan saya. Itu sudah menjadi kewajiban saya."
Rianti mengangguk pelan merasa nyaman dengan senyuman wanita paruh baya di hadapannya itu, "Terima kasih, Bu Fatma."
Bu Fatma berbalik dan menutup pintu dari luar. Tinggal Rianti sendiri di kamar yang hampir sepuluh kali luas kamarnya di desa.
Atau dua kali luas kamar yang ditempati di mansion Alex saat di Jakarta.
Ia mencoba merebahkan badannya. Sudah berjam-jam ia memejamkan mata, namun ia tidak bisa tidur. Meski kasurnya empuk dengan selimut hangat dan lembut serta AC yang dingin, tetapi ia merasa kesepian.
Rasanya sunyi dan sendirian di kamar sebesar ini. Diam-diam ia merindukan kamarnya yang kecil dan sempit tetapi nyaman. Bahkan kamar di kostnya lebih terasa nyaman berkali-kali lipat daripada di kamar mewah ini.
Mata Rianti menerawang menatap langit-langit kamarnya.
Seketika pikirannya tertuju pada sosok wanita cantik yang dipanggil Monica.
Wanita itu benar-benar sangat cantik seperti boneka Barbie dalam film. Artis juga model terkenal. Pantaslah jika wanita cantik itu bisa meluluhkan hati Alex.
Suaminya itu juga terlihat sangat mencintai wanita itu. Bagaimana tidak? Jika demi karier wanita itu, Alex mengorbankan dirinya untuk menikah kontrak selama satu tahun? Dan setelah menceraikannya, ia akan menikah dengan Monica.
Dada Rianti terasa sesak.
Kedatangan Monica dengan senyum terkembang dan tangan yang menggenggam erat tangan Alex membuat moodnya semakin memburuk.
Bayangan demi bayangan dari mulai akad nikah sampai resepsi hingga dirinya terdampar di sini terus bercokol di kepala Rianti.
Sikap Alex yang berubah pendiam dari bandara hingga tiba di mansionnya di Singapura, membuatnya tidak bisa memicingkan mata hingga nyaris pagi.
Pria itu tak sekalipun mengajaknya bicara.
Bahkan hingga malam tiba. Ia belum bertemu kembali dengan pria yang telah menjadi suaminya itu.
🍁🍁🍁
Rianti menggeliat pelan. Suara ketukan di pintu kamarnya membuatnya terbangun.
Gadis itu membuka mata. Ia sadar jika sedang tidak ada di kamarnya sendiri. Bergegas ia merapikan pakaiannya yang berantakan dan melihat jika waktu sudah nyaris tengah hari.
Ya Tuhan. Ia sudah tidur terlalu lama.
Semalam ia tidak bisa tidur sama sekali dan baru bisa memejamkan mata dini hari tadi.
Rianti mengerjapkan matanya. Gadis itu melangkah gontai menuju pintu dan membukanya.
Seketika ia merasa seperti itik buruk rupa, saat melihat Alex berdiri dengan setelan jas mahalnya dan memandangnya dengan heran.
"Eng, maaf Alex. Aku kesiangan," ucap Rianti malu, gadis itu berusaha merapikan rambutnya yang berantakan.
Alex tersenyum menatap gadis lugu di hadapannya. “Never mind. Are you ok? Apa kamu menyukai kamarmu?"
Mau tak mau Rianti mengangguk, "Kamar yang sangat mewah," jawabnya singkat.
"Maafkan aku, harusnya aku membawamu ke Paris. Baba sudah menyiapkan semuanya untuk rencana honeymoon kita. Tapi perusahaanku di sini ada sedikit masalah. Kamu tidak kecewa bukan?"
"Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak pernah terpikir honeymoon segala."
"Oh," Alex mencoba tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Aku menunggumu di bawah untuk makan siang. Mandi dan gantilah pakaianmu."
Rianti menatap suaminya yang berjalan pelan menuruni tangga, meraba dadanya yang berdebar kencang. Rupanya mulai sekarang dia harus membiasakan diri melihat sosok Alex yang tinggi dan tampan selalu berada di dekatnya.
Segera Rianti menepuk-nepuk kepalanya.
Sadar Ri. Sadar. Ini hanya pernikahan pura-pura.
Rianti segera mandi dan berganti pakaian. Gadis itu melongo terkejut ketika menyadari almari pakaiannya sudah penuh dengan aneka pakaian dan dres branded. Juga sepatu, sandal, dan tas, yang entah kapan diletakkan di sana.
Gadis itu segera turun ke lantai bawah. Seorang pelayan memberitahukan jika Alex ada di teras kolam. Rianti berharap ia tidak akan tersesat berjalan di rumah sebesar ini.
Setelah beberapa kali masuk ke ruangan yang salah, Rianti menemukan suaminya sedang sibuk dengan ponsel dan machbooknya. Duduk santai di kursi dengan meja bundar tepat di samping kolam. Ada payung besar yang menaunginya dari matahari, dan aneka bunga di sisi kolam renang.
"Alex."
"Ah, duduklah. Mau makan apa? Aku sengaja tidak mengajakmu makan di ruang makan supaya kau lebih santai berada di sini."
Dengan canggung, Rianti duduk di hadapan suaminya. Tak lama seorang pelayan datang menghampiri dan bertanya. "Anda mau makan apa, Nyonya?"
"Apa saja yang ada."
Jawaban Rianti membuat pelayan bingung.
"Ri, sengaja aku meminta chef untuk tidak menyiapkan makanan ready. Kau mintalah apa yang akan kau makan. Chef baru akan membuatkannya untukmu," ucap Alex sambil tersenyum.
"Aku takut jika mereka menyiapkan makanan, tidak sesuai seleramu."
"Oh... begitu. Padahal aku akan memakan apapun makanan yang disediakan."
Alex tertawa. Nampaknya istrinya ini sangat lucu dan menggemaskan.
"Kalau begitu aku makan apa yang kamu makan saja," Rianti menunjuk pada hidangan di atas piring Alex.
Pria itu mengangguk, lalu berkata pada pelayan perempuan di depan mereka. "Nyonya muda mau makan Manti, jangan lupa salad dan sausnya."
"Dan nasi. Jangan lupa."
Alex tertawa.
Pelayan itu kemudian mengangguk dan melangkah cepat menuju dapur.
Tak lama makanan sejenis pangsit yang diisi daging sapi dihidangkan bersama mentega serta saus yang terbuat dari yogurt.
Seketika Rianti merasa perutnya berbunyi. Tidak mengindahkan Alex yang masih asyik menelpon, Rianti makan dengan lahap.
Segelas besar jus semangka membuat makannya lengkap. Mungkin di kemudian hari ia akan dihina, terlebih lagi dengan kedatangan kekasih Alex. Bisa jadi hidupnya akan menderita meski dirinya bergelimang harta. Tapi Rianti tak mau memikirkannya sekarang. Karena yang terpenting saat ini adalah makan.
"Ri. Aku minta tolong padamu," kata Alex sambil meletakkan ponselnya di atas meja dan memandang Rianti yang terlihat kekenyangan.
"Apa?"
Alex mencondongkan tubuh, "Kau tidak ingin kita honeymoon bukan? Aku juga. Selama tiga minggu ini kita akan tinggal di sini. Jika Anne atau Baba bertanya padamu, bilang saja, kita sudah honeymoon di Eropa. Terserah kau bisa bilang Paris, atau London, atau di manapun kau suka."
Rianti terkesiap, "Tapi, Alex,"
"Tidak ada kata tapi. Mereka pasti akan bertanya padamu. Dan jawab seperti apa yang aku katakan. Paham, Ri?"
Rianti menelan ludah dengan gugup, lalu mengangguk. "Baiklah. Ada yang lain?"
"Kita bisa pura-pura seperti suami istri sungguhan."
"No! sergah Rianti cepat. Tidak ada sex diantara kita," Ia mengakhiri ucapannya dengan menunduk.
Alex memandang lekat. Rambut Rianti yang terurai indah, panjang dan lembut.
"Maksudku, hanya di depan orang lain, Ri. Just kiss jika diperlukan."
"Eh?"
Alex mengangkat tangan, "Dan lagi kau tidak boleh keluar dari rumah ini. Aku tidak mau kau tersesat. Dan jika membutuhkan sesuatu, kau bisa bilang padaku atau pada Bu Fatma."
Niat Rianti untuk membantah terhalang dering ponsel Alex. Alex kembali bicara di ponsel dengan serius. Rianti menatap kolam renang di depannya, tidak menyadari pelayan datang dan mengangkat piringnya serta menggantinya dengan kue-kue kecil yang terlihat indah dan enak. Rianti makan dengan lahap. Mencoba dari berbagai rasa yang terhidang. Tidak sadar kalau Alex tengah memperhatikannya.
"Enakkah?"
"Iya. Enak sekali. Aku bisa gendut di sini." Jawab Rianti tanpa mendongak.
"Bagus. Aku suka kalau kau bertubuh sintal dan montok."
Rianti tersedak kue. Ucapan Alex yang mesum membuatnya terkejut.
"Makan pelan-pelan, Ri. Tidak ada yang berebut denganmu seperti Azzam," terdengar nada geli dari ucapan Alex membuat Rianti mendelik kesal.
"Kenapa berhenti? Ayo teruskan."
Rianti menggeleng, "Aku masih akan tinggal bersamamu setahun lagi. Aku takut tubuhku bengkak dan kau bangkrut "
Alex tertawa terbahak sambil mengacak surai hitam Rianti.
"Kau tak akan membuatku bangkrut. Kau bisa makan sepuasmu. Melakukan apapun sesuai keinginanmu. Rumahku adalah rumahmu juga. Semua milikku adalah milikmu juga."
"Kalau begitu, aku bisa menjual rumah ini? Aku bisa kaya, dong?"
"Apa?" tanya Alex bingung.
"Ah... tidak tidak. Aku hanya bercanda."
"Baiklah aku harus pergi sebentar ke kantor. Ada sedikit masalah. Kau baik-baiklah di rumah dengan Bu Fatma."
Alex berdiri dan berjalan pelan menuju garasi.
Rianti mengekor di belakangnya. Hingga Alex melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah. Meninggalkan Rianti sendirian. Kembali merasa kesepian menyergapnya. Dirinya bagaikan burung disangkar emas.
🍁🍁🍁