Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
Rio melangkah maju dan berdiri di samping Liam, mencoba menyamakan posisi agar tidak terlihat mencurigakan. Bahunya sedikit tegang, tapi ia memaksa wajahnya tetap santai.
Senyum tipis muncul, bukan karena tenang, tapi karena itu satu-satunya cara untuk mengamankan diri. Dalam pikirannya, satu dugaan terus berputar tanpa henti. "Jika pria ini benar-benar mencari Rivaldo, maka kami bertiga sudah berdiri terlalu dekat dengan masalah besar.* pikir Rio.
"Umm paman , sepertinya kami tidak mengetahuinya...."
Rio berbicara pelan, nadanya dibuat biasa saja. Senyumnya tertutup, matanya tidak berani terlalu lama menatap wajah Ravel. Ia tahu, satu gerakan salah saja bisa membuat semuanya berantakan.
Tanpa menunggu reaksi lebih jauh, Rio langsung menoleh ke samping dan memberi isyarat pergi.
"Ayo..Liam. Kris....,kita ke taman,teman kita sudah menunggu lama Sepertinya.."
Kris dan Liam langsung mengikuti, seolah-olah itu memang rencana dari awal. Saat mereka mulai melangkah menjauh, Kris menghembuskan napas panjang. Ketegangan di bahunya perlahan turun.
"Untung saja..,." bisik nya.
Nada suaranya lega, seakan bahaya sudah lewat.
Namun langkah mereka belum benar-benar aman. Ravel tiba-tiba memiringkan tubuhnya, bergerak dengan santai tapi menekan. Kepalanya condong ke depan hingga wajahnya berada tepat di depan Rio.
Jarak mereka terlalu dekat. Mata pria itu tertutup, tapi senyumnya melebar, senyum yang membuat perut terasa tidak enak.
"Sepertinya yang satu ini pintar berbohong..."
Rio terdiam. Tubuhnya kaku, pikirannya kosong sesaat. Ia tidak berani bergerak, tidak berani membalas kata-kata itu. Di dalam kepalanya, hanya satu kalimat yang berteriak panik berulang-ulang.
"Habislah sudah..."
Ravel perlahan menggerakkan tangannya ke depan, arah gerakannya santai namun penuh tekanan. Telapak tangannya terbuka, mengarah tepat ke kepala Rio, seakan jarak di antara mereka tidak berarti apa-apa. Senyum itu masih menempel di wajahnya, mata tertutup rapat, membuat niatnya terasa semakin tidak wajar.
"Karena paman tidak suka dengan anak yang nakal,Sini akan paman berikan pelajaran.."
Refleks Rio bekerja lebih cepat dari pikirannya. Tubuhnya membungkuk ke belakang, punggungnya hampir sejajar tanah sebelum ia segera meloncat mundur.
Gerakannya kasar dan tidak rapi, tapi cukup untuk lolos. Kris dan Liam ikut tersentak, kaki mereka bergerak mundur hampir bersamaan, naluri bertahan hidup mengambil alih sebelum rasa takut benar-benar menyusul.
Jantung Rio berdegup keras, napasnya terengah.
"Hampir saja.., bagaimana jika itu kena?!.'
Pikirannya kacau, kepalanya dipenuhi bayangan terburuk. Namun Ravel tidak berhenti. Tubuh besar itu langsung menerjang ke depan, langkahnya lebar dan cepat, jarak di antara mereka menyusut dengan cepat.
"Ternyata kau pintar menghindar ya.."
Rio terpaku sesaat. Matanya melebar, tubuhnya terasa terlambat bereaksi.
"Cepat sekali!, aku tidak akan sempat untuk menghindarinya."
Suara itu hampir tenggelam oleh langkah berat Ravel yang mendekat, bayangan tubuh besar itu kembali menutupi pandangannya.
Dari sisi kanan, Liam bergerak lebih dulu. Tanpa banyak pikir, ia memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan samping, lintasannya melengkung seperti huruf C.
Kakinya menghantam lengan Ravel dengan bunyi berat. Tangan besar itu terpental ke samping, lalu laju Ravel terhenti.
Rio, Kris, dan Liam langsung mundur lagi, langkah mereka terburu-buru dan tidak beraturan. Ketakutan kini benar-benar terasa, bukan lagi sekadar firasat.
Ravel berdiri tegak kembali, merapikan posisinya seolah tidak terjadi apa-apa, lalu berjalan santai ke arah mereka bertiga. Senyumnya tidak hilang sedikit pun.
"Wah..anak nakalnya tidak hanya satu?."