Laura yang ingin mendapatkan kebebasan dalam hidupnya mengambil keputusan besar untuk kabur dari suami dan ibu kandungnya..
Namun keputusan itu membawa dirinya bertemu dengan seorang mafia yang penuh dengan obsesi.
Bagaimana kah kelanjutan kehidupan Laura setelah bertemu dengan sang mafia? Akankah hidupnya lebih atau malah semakin terpuruk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SabdaAhessa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Laura
Di pemakaman Dante, Laura tak henti-hentinya menangis. Air matanya seakan punya stok lebih banyak hari ini. Hingga dia tak menghiraukan keberadaan Ben dan Maggie ibunya yang sedang menatapnya dengan tajam.
Mata Maggie, seperti serigala yang kelaparan saat melihat mangsanya. Ingin segera mencengkram erat Laura dan mencekiknya hingga kehabisan nafas.
Dia seakan kehilangan mesin uangnya selama ini. Bayang-bayang kemiskinan kian menyeruak menghantui. Maggie tak mampu menghadapi kenyataan pahit itu. Air mata yang menetes adalah air mata buaya betina.
Sedangkan Ben seperti kehilangan permata kehidupannya. Mulai detik ini, martabat dan kehormatan yang dia bangun runtuh seketika. Media akan membicarakan hal ini. Namanya akan menjadi buah bibir yang hangat. Menjadi hidangan dan santapan yang pas untuk para netizen.
Namun, apa yang bisa Ben perbuat? Meskipun dirinya masih berstatus suami sah dari Laura Saw, tapi Ben nampak sangat tak berdaya berhadapan dengan Aaron.
Sesuai dengan aturan Keluarga Pattinson. Siapapun anggota keluarga yang meninggal dunia harus di makamkan di pemakaman keluarga. Tidak boleh di tolak dan tidak boleh di tawar. Ini adalah aturan yang mutlak.
Dengan itu, Laura harus menerima jika dirinya harus kembali ke New York hari itu juga untuk melakukan pemakaman. Namun, Aaron dan Fred juga setia menemaninya. Aaron khawatir Laura akan mengalami hal buruk lagi jika kembali ke New York seorang diri. Setelah acara pemakaman, Tuan Rayyan Pattinson mengadakan sebuah rapat keluarga penting.
Yang didatangi oleh Maggie, ibunda Laura. Laura, Ben, Jacob, Rayyan, Aaron dan Fred. Sebuah pertemuan keluarga yang akan membahas permasalahan rumah tangga Ben dan Laura yang sudah ada di ujung tanduk.
Laura yang duduk di samping Aaron menahan rasa sakit di telapak tangan kanannya, rasa nyeri yang menjalar naik ke pergelangan tangan membuatnya tremor.
Hal itu di sadari oleh Aaron, nampaknya Aaron mulai peka dengan hal-hal kecil tentang Laura. Dia menarik tangan Laura dengan lembut, memijit telapak tangannya perlahan, dia tau Laura sangat gugup dan takut saat ini. Apalagi berhadapan dengan ibunya sendiri yang seperti iblis.
Rayyan Pattinson hanya memperhatikan gerakan kecil itu. Dia seakan tersihir untuk tetap diam. Harusnya dia marah melihat menantunya di sentuh oleh pria lain di hadapannya sendiri. Tapi ingatan tentang perilaku Ben yang sudah menganiaya Laura kembali ke menyeruak di permukaan. Membuatnya diam seketika. Bungkam.
Sedangkan Ben menahan amarahnya. Separuh hidupnya di curi di depan mata namun dia tak dapat berkutik. Dia tau, Laura pasti akan menolaknya apalagi sekarang sudah ada Aaron yang akan melindungi perempuan itu. Ben seakan haus akan kepatuhan Laura lagi. Dia ingin melihat Laura mengangguk di setiap perintahnya lagi. Namun, hal itu harus dia pendam dalam-dalam saat ini.
"Laura!" Panggil Rayyan Pattinson.
Laura memandangnya lekat. Dia tau, posisinya sangat sulit kali ini. Kembali kepada Ben bukanlah pilihan yang tepat. Namun pergi bersama Aaron juga belum tentu membuatnya bebas dan utuh.
"Setelah semua yang terjadi, kau boleh memutuskan apapun." Sambung Rayyan.
Mendengar itu Laura menundukkan kepala dalam-dalan. Dia belum menentukannya. Belum menemukan jawabannya.
"Aku benar-benar minta maaf, Laura!" Ucap Ben seketika memecah keheningan di ruangan itu.
Namun Rayyan, ayahnya segera mengangkat tangan untuk memberi kode berhenti pada Ben. Dia masih ingin bicara dengan Laura, mendengar apa jawaban dari menantunya itu.
"Tapi, Laura sangat mencintai Ben, iya kan sayang?" Maggie dengan senyuman palsunya mulai angkat bicara.
"Nyonya Maggie, tolong diam sebentar. Saya perlu mendengar jawaban dari Laura, jangan ada yang mempengaruhinya!" Ucap Rayyan Pattinson dengan tegas. Dia sangat berwibawa sekali malam ini. Pantas saja seluruh keluarga sangat menghormatinya.
"Laura, kita sangat-sangat menghargai keputusan mu, katakan saja! Apa kau ingin berpisah dengan Ben atau tidak?" Tanya Rayyan Pattinson.
Laura menelan ludahnya, matanya berkedip dan seketika setetes air mata jatuh di atas telapak tangan Aaron yang memegang erat tangannya.
Aaron menatapnya, menatapnya mata biru lautan yang selama ini sudah membuatnya mabuk kepayang.
"A.. Aku.. Aku sebenarnya ingin berpisah, apa boleh?" Ucap Laura dengan terbata-bata.
"Tidak! Tidak boleh! Kau cobalah beri kesempatan pada Ben! Dia suami mu, jangan mengambil keputusan saat sedih, iya kan?" Maggie mulai mengoceh lagi.
Aaron memandangnya dengan muak. Tak sanggup lagi mendengar ocehan yang keluar dari mulut Maggie.
"Laura tidak butuh persetujuan dari siapapun!" Aaron berkata dengan dingin. "Dia akan ikut dengan ku!"
Seketika Ben berdiri dari kursinya. Sejak tadi dia memandang Aaron dengan tajam, merasa iri saat melihat pria itu menyentuh istrinya.
"Aku tidak mau berpisah! Laura tetap istri ku!" Ucap Ben.
"Istri yang kau aniaya sampai hampir mati?" Sarkas Aaron.
"Kau orang baru, kau tau apa!" Ben mulai menaikkan suaranya beberapa oktaf.
"Cukup!" Teriak Laura menggetarkan ruangan itu.
Ini baru pertama kalinya mereka semua mendengar teriakan dari seorang Laura yang selama ini di kenal sebagai penurut dan lemah lembut. Selalu patuh pada semua aturan. Sekarang wanita itu berteriak menggema sambil menutup kedua telinganya. Wajahnya terlihat sangat frustasi dan tertekan.
"Cukup! Aku ingin berpisah dengan mu, Ben! Aku juga tidak akan ikut dengan Aaron! Aku mau sendiri!" Ucap Laura sambil menangis.
"Tapi.." Aaron berusaha meraih tangan Laura lagi namun kali ini di hempaskan oleh Laura.
"Sen-di-ri!" Ucap Laura dengan penuh penekanan.
Membuat Aaron mengurungkan niatnya untuk menggenggam kembali tangan Laura yang tremor.
Sedangkan Maggie terlihat sangat panik dengan keputusan Laura itu. Dia tau, sejak Laura memutuskan untuk berpisah itu artinya uang bulanannya pun akan berhenti detik ini juga. Maggie tak mau jatuh miskin dan kekurangan. Sehingga dia kembali merayu Laura agar tak berpisah dengan Ben.
"Laura! Ibu tidak mau kau seperti itu! Kau jangan durhaka menjadi istri!" Ucap Maggie sambil menunjuk-nunjuk Laura yang sedang menangis.
Mendengar itu, Laura bangkit dari duduknya. Dia menatap Maggie dengan tajam. "Cukup ibu! Aku tau maksud mu! Kau hanya butuh uang bulanan dari Ben, kan?"
"Jangan kurang ajar kamu!" Bentak Maggie yang naik pitam saat melihat Laura mulai melawan dirinya.
"Aku tidak mau lagi menjadi boneka untuk kalian berdua! Aku muak! Mulai sekarang jangan ganggu hidup ku lagi!" Laura menghapus air matanya.
"Ayah, ayah tanya apa keputusan ku, kan? Ini keputusan ku! Aku ingin berpisah dengan Ben! Aku ingin hidup sendiri!" Sambung Laura.
Lalu dia berjalan meninggalkan ruang pertemuan keluarga itu. Nampaknya Laura kembali tak sanggup menghadapi situasi yang pelik itu. Aaron segera mengejarnya keluar. Begitupun dengan Ben yang sudah mengambil ancang-ancang untuk mengejar Laura. Namun Rayyan segera menahan lengan anaknya itu agar kembali duduk di tempatnya.
Ben tak sanggup melawan, dia kembali duduk di tempatnya. Menatap kepergian Laura yang kian menjauh.
"Kita harus menghargai keputusannya!" Ucap Rayyan.
Namun Ben tak bisa begitu saja mengikhlaskan kepergian Laura. Memang sesuatu yang berharga itu akan terasa indah saat dia mulai meninggalkan kita.
Bersambung..
.