NovelToon NovelToon
Kunikahi Gadis Yang Mirip Mendiang Istriku

Kunikahi Gadis Yang Mirip Mendiang Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: LebahMaduManis

Aksa bertemu dengan seorang gadis pemilik toko kue yang perlahan memikat perhatiannya. Namun ketertarikan itu bukanlah karena sosok gadis tersebut sepenuhnya, melainkan karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang sang istri.

Terjebak dalam bayang-bayang masa lalu, Aksa mulai mendekatinya dengan berbagai cara — bahkan tak segan mengambil jalan licik — demi menjadikan gadis itu miliknya. Obsesi yang awalnya lahir dari kerinduan perlahan berubah menjadi hasrat posesif yang menguasai akal sehatnya.

Tanpa disadari, sang gadis pun terseret semakin dalam ke dalam cengkeraman pria dominan itu, masuk ke sebuah lembah gelap yang dipenuhi keinginan, manipulasi, dan ilusi cinta.

akankah Aksa bisa mencintai gadis itu sepenuhnya? apakah gadis itu mampu membuat Aksa jatuh cinta pada dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LebahMaduManis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Ashanti sudah kembali dari mengambil minum dan beberapa cemilan untuk para tamunya kemudian menggeser lembut secangkir kopi pada Rio, juga jus nanas yang menjadi favorit Erina "silahkan dinikmati" Ashanti kembali duduk bersama di paviliun.

"Terima kasih" ucap Rio singkat dan dingin, bahkan nyaris tanpa ekspresi, kemudian meneguk kopi yang sudah di berikan Ashanti. "Saya izin mau menghampiri anak-anak disana" Rio beranjak dari tempat duduknya, melangkahkan kaki mendekati sekumpulan anak-anak panti yang sedang bermain.

"Siapa tadi yang dimaksud menyeramkan?" Tanya Ashanti ia seperti sangat penasaran dengan obrolan Rio dan Erina.

"Ah ... tidak apa-apa Ashanti" sahut Erina, "bagaimana anak-anak panti? Maaf aku belum bisa menggantikan ayahku sebagai donatur" ia mengalihkan obrolannya lalu menggenggam erat sebelah tangan Ashanti.

Ashanti membalas genggaman tangan Erina "jangan terlalu dipikirkan" Ashanti mencoba menenangkan Erina.

​"Aku tahu, tapi rasanya bersalah sekali. Ayah selalu bilang, panti itu seperti keluarga kita yang lain. Setelah beliau tiada— beban itu terasa berat, Shan," bisik Erina, suaranya sedikit bergetar. Ia menoleh, menatap Ashanti dengan mata berkaca-kaca. "Bagaimana kabar mereka? Terakhir aku dengar biaya operasional semakin tinggi."

​Ashanti meremas lembut punggung tangan Erina.

​"Anak-anak—mereka baik, Er. Tentu saja mereka merindukan Ayahmu. Tapi Panti masih berjalan. Kami berhemat, dan beberapa donatur lain yang dulu dibantu Ayahmu, juga ikut membantu semampu mereka," jawab Ashanti menenangkan. Ia mengulas senyum tipis. "Ingat, donasi itu perbuatan baik. Bukan kewajiban atau hutang. Fokus saja dulu pada dirimu. Ayahmu pasti lebih senang melihatmu kuat, daripada memaksakan diri."

​Erina mengangguk perlahan, air mata akhirnya menetes. Ashanti segera mengulurkan tangan yang bebas dan menyeka pipi Erina.

"Ng, ngomong-ngomong, bagaimana dengan usaha bakery dan toko peninggalan orang tuamu?" tanya Ashanti, suaranya melembut, berusaha keras mengalihkan alur pembicaraan agar kesedihan di mata Erina tidak berlarut. "Terakhir aku dengar, itu di kelola Tantemu, benarkah?"

Erina menanggapi dengan senyum tipis, sesekali meneguk jus nanasnya yang dingin.

"Benar sekali," sahut Erina. "Waktu Ayah meninggal, aku masih terlalu belia untuk langsung mengurusnya. Jadi, ya sudahlah, aku biarkan Tante Talia yang mengelolanya." Ada nada ikhlas sekaligus sedikit rindu dalam ucapannya

"Kenapa kamu tidak membawa roti dan kue-kue dari tokomu itu, aku rindu dengan rasa lezatnya" tutur Ashanti seakan ia sedang menikmati kelezatan dari kue yang dimaksudkan

"Usaha kami sedang bermasalah Shan, kami sepertinya kena sabotase, kami sulit mendapatkan bahan-bahan kebutuhan produksi, hingga harus menutup toko, karena kehabisan bahan baku" ucap Erina ia terdengar sedikit frustasi.

"Maafkan atas ucapanku Erina, aku benar-benar tidak tahu" suara Ashanti lirih, seakan ia ikut merasakan kesedihan Erina.

"Gak apa-apa" ucapan Erina terjeda, ia menarik nafas panjang "jujur aku frustasi sekali,aku bingung harus bagaimana lagi" sorot matanya nanar, kelopak matanya berusaha agar tidak terpejam, agar air mata tidak jatuh dipipinya.

"Aku tidak bisa banyak membantumu, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu Erina"

"Aku mau menginap disini beberapa hari, boleh?" Ucap Erina lirih tertunduk.

Ashanti langsung tersenyum lebar, matanya berbinar. Ia memegang lengan Erina dengan hangat

"Tentu, kamu boleh menginap disini kapanpun kau mau, anak-anak pasti senang sekali" seru Ashanti. "Akan aku persiapkan bahan,bahan untuk kamu bertempur didapur" ashanti terkikih ia terlampau senang mendengar Erina akan bermalam disana.

Perbincangan hangat yang diselingi gelak tawa renyah antara Erina dan Ashanti seketika terinterupsi. Sosok Rio kembali bergabung, melangkah mendekat pada Erina dengan langkah yang tenang namun penuh wibawa. "Non," bisik Rio pelan, suaranya nyaris bergetar, "saya pamit, Pak Aksa sudah meminta saya kembali."

Erina mengangguk, sorot mata hangatnya membalas pandangan Rio. "Oh, iya. Terima kasih banyak, Pak Rio, sudah sudi mengantarkan saya, dan meluangkan waktu berharga untuk bermain dengan anak-anak panti di sini," balasnya tulus.

Ia kemudian menoleh sekilas ke Ashanti. "Nona Shanti, saya pamit undur diri." Rio mengangguk pelan, seulas senyum tulus terlukis di wajahnya.

Ashanti langsung menyela, ekspresinya menampilkan kekecewaan yang dibuat-buat. "Yah! Kenapa cepat sekali? Bahkan kopinya saja belum dihabiskan!" cetusnya, nadanya sedikit merajuk.

Mendengar itu, Rio spontan menoleh ke arah meja, mencari cangkir kopinya. Ia bergegas menggapai cangkir porselen itu, dan tanpa ragu, meneguk sisa kopi yang dingin hingga tandas tak bersisa "Sudah habis, Nona Shanti," ujar Rio sambil membalik cangkir kosongnya, memperlihatkan dasarnya kepada Ashanti dengan ekspresi puas.

Ashanti tergelak melihat aksi cepat Rio. "Baiklah, baiklah! Kapan-kapan, Anda wajib datang lagi ke sini! Kami tunggu, lho."

"Dengan senang hati," jawab Rio, matanya sedikit mengerling "Baik kalau begitu. Saya permisi." Rio mengangguk hormat ke arah keduanya, lalu membalikkan badan dan melangkahkan kaki meninggalkan area panti.

Dari belakang, Erina mengangkat tangan, melambai dengan lembut. Lambaian itu tak luput dari pandangan Rio, ia membalasnya dengan lambaian singkat sebelum akhirnya menghilang di balik pintu gerbang, meninggalkan sisa kehangatan.

...***...

Setelah keluar dari gerbang panti asuhan, rio tidak langsung melajukan kendaraannya, ia terdiam sejenak untuk mengirimkan pesan Whats App pada Aksa.

Setelah menempuh jarak yang cukup panjang dan memakan waktu tempuh yang melelahkan, Rio akhirnya tiba di lobi mewah. Ia melangkah pasti, menaiki lift khusus menuju hunian atasannya. Apartemen mewah itu terasa sunyi dan dingin, namun Rio sudah terbiasa.

Tak perlu menunggu dibukakan, ia sudah menghafal kode akses pintu baja itu. Tiga digit rahasia diketiknya cepat. Pintu terbuka, dan langkahnya yang tegas segera membelah keheningan ruangan.

"Permisi, Pak. Halo," ucap Rio, suaranya sedikit bergema di ruang tamu yang lapang.

Tak lama, terdengar derap langkah kaki yang berat, menghampirinya. Aksa, sang pemilik apartemen, muncul dari balik koridor, tatapannya tajam namun tenang.

"Duduklah," perintah Aksa, gesture tangannya mempersilakan Rio mengambil tempat di sofa tunggal yang berhadapan dengannya. "Perjalananmu lancar? Tidak ada kendala saat mengantar dia?"

"Semua berjalan lancar, Pak," jawab Rio, berusaha menjaga nada suaranya tetap profesional.

Aksa menyandarkan punggungnya, sorot matanya yang seolah menembus itu kini tertuju lurus pada Rio. Ada lapisan rasa penasaran yang pekat di matanya.

"Jelaskan," desaknya, suaranya kini lebih rendah dan intens. "Kenapa Erina memilih pergi ke panti asuhan?"

Rio terdiam sejenak, menelan ludah sebelum melanjutkan kalimatnya. Matanya sempat melirik Aksa, yang kini duduk tegak di kursinya, wajahnya sekeras batu pualam "Mendiang Ayah Erina adalah donatur utama di panti asuhan itu, dan para pengurus panti mengenal dekat Nona Erina," Rio menarik napas, mengatur irama bicara "Nona Erina hanya berkunjung karena sudah lama dia tak datang kesana, Pak."

Aksa tidak bergeming. Ia hanya menggerakkan ekor matanya, dingin dan tajam, menatap Rio. "Tidak ada yang mencurigakan?"

"Selama saya berada di sana, tidak ada, Pak," jawab Rio tegas, meyakinkan. Ia kembali mengingat apa yang ia lihat dan dengar selama mengantar Erina. "Justru Nona Erina terlihat lebih ceria, lebih hangat. Dia bermain dengan anak-anak. Tapi—"

Dahi Aksa mengernyit, meski raut wajahnya tetap kaku dan dingin. Suara yang keluar dari bibirnya terdengar tegas, memutus udara. "Kenapa?"

Rio ragu-ragu. Ia menggeser bobot tubuhnya, seolah keberatan fisik menghimpit batinnya. Ini adalah taruhan, tapi hati nuraninya memberontak "Apa Bapak masih tetap mau mensabotase pengiriman bahan-bahan untuk usaha Nona Erina?" Rio memberanikan diri. "Saya tidak tega melihat Nona Erina, Pak. Terutama setelah saya mendengar dia bercerita dengan kerabatnya di panti. Dia sangat mengandalkan usahanya itu."

Suasana mendadak hening. Hanya dentingan jam dinding yang terdengar, menjadi saksi bisu atas pertentangan hati di ruangan itu.

Tubuh Aksa sontak menegang kaku mendengar setiap kalimat yang Rio ucapkan. Keheningan menggantung sesaat di antara mereka, pekat oleh ketegangan. Namun, alih-alih panik, bibir Aksa justru perlahan menarik sebuah seringai tipis. Ia mendengus pelan, lalu membuang muka, seolah apa yang baru didengarnya hanyalah lelucon yang tidak lucu.

...***...

1
LebahMadu
terima kasih sudah menjadi pembaca setiaku😍
aliyanila
akhirnyaaa.. sampai ditahap aksa ngajak erina nikahh🤭
aliyanila
ayo lantkan ceritanya, aku penasaran
LebahMadu: siapp.. di tunggu
total 1 replies
LebahMadu
semoga secepatnya bisa banyak pembaca ya , dan terus dukung karya2ku👍
LebahMadu
Terima kasih dan tunggu plotwis2 berikutnya
LebahMadu
Terima kasih sudah mampir 😍
aliyanila
cerita sebagus ini, penulisannya bagus. bisa2nya sepi
aliyanila
tiap babnya bikin penasaran
aliyanila
ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!