NovelToon NovelToon
Putra Rahasia Sang Aktor

Putra Rahasia Sang Aktor

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Anak Genius / CEO / Romansa / Tamat
Popularitas:92.5k
Nilai: 5
Nama Author: Quenni Lisa

Menikahi Pria terpopuler dan Pewaris DW Entertainment adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah terjadi di hidupnya. Hanya karena sebuah pertolongan yang memang hampir merenggut nyawanya yang tak berharga ini.

Namun kesalahpahaman terus terjadi di antara mereka, sehingga seminggu setelah pernikahannya, Annalia Selvana di ceraikan oleh Suaminya yang ia sangat cintai, Lucian Elscant Dewata. Bukan hanya di benci Lucian, ia bahkan di tuduh melakukan percobaan pembunuhan terhadap kekasih masa lalunya oleh keluarga Dewata yang membenci dirinya.

Ia pikir penderitaannya sudah cukup sampai disitu, namun takdir berkata lain. Saat dirinya berada diambang keputusasaan, sebuah janin hadir di dalam perutnya.

Cedric Luciano, Putranya dari lelaki yang ia cintai sekaligus lelaki yang menorehkan luka yang mendalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quenni Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28 - Kenyataan Pahit

Karena Author dah janji tadi, author UPDATE tapi enggak banyak, karena lagi kedatangan tamu bulanan, sakitnya bukan main.

BANTU LIKE YA, KOMENTAR JUGA BUTUH BANGETT 🤧

...****************...

Beberapa hari kemudian.

Lucian dan Juan telah berada di mobil, menuju Pinggir Kota. Lucian hanya terdiam, hanyut dalam pikirannya sepanjang perjalanan. Bertanya-tanya entah mengapa, semalaman ia tak bisa tidur sama sekali.

'Semoga bisa ketemu tuh bocah,' batin Lucian, sembari menatap keluar jendela. Setidaknya, bertemu dengan anak itu dapat meringankan rasa sakit di kepalanya.

Lalu, ia memejamkan matanya, mencoba mengistirahatkan tubuhnya sejenak, sebelum menghadapi aktivitas yang padat.

Kabar mengenai kedatangan Lucian ternyata telah membuat heboh satu kota. Tepatnya di Desa Kembang, yang akan menjadi latar dan tempat untuk syuting film terbaru Lucian. Semua warga berkumpul, menunggu kehadiran Aktor Terkenal itu.

Kyak!

Waaaaa!

LUCIAN!

Teriakan-teriakan para warga semakin histeris saat mendapati sebuah mobil mewah memasuki area penginapan. Penginapan ini adalah yang termewah yang mereka punya di Kota itu, jelas mereka tahu bahwa Lucian akan menginap disana.

"Lucian!"

"Luciiiii!"

Teriakan demi teriakan terus berdengung memenuhi area penginapan, namun sang pemilik nama belum juga keluar dari mobilnya. Saat pintu mobil perlahan terbuka. Mereka semakin gencar mendekati mobil dengan teriakannya.

"Lucian! Lucian!"

"Arghhh! My Lucian!"

Deg!

Sontak semua orang terdiam membisu, kala mendapati seseorang yang berada di dalam mobil bukanlah Lucian. Melainkan sekretarisnya, Juan. Yang juga merangkap menjadi Asisten Pribadi, Lucian. Karena Lucian yang tak ingin terlalu banyak berinteraksi kepada orang lain. Hanya dengan Juan ia bisa merasa nyaman.

Apa lagi, Juan sudah lama menemaninya. Sejak ia masih mempelajari bagaimana caranya berakting dan mengurus perusahaan.

"Lucian?"

"Luciannya mana?"

Dilain Tempat.

Seseorang dengan pakaian serba hitamnya, plus dengan masker dan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, berjalan dengan santai menuju suatu tempat.

'Sudah kuduga, mereka pasti akan heboh.' Sepanjang jalan Lucian celingak-celinguk. Ia terlihat bingung, mencari sesuatu.

"Sial, kenapa aku tidak mengikutinya sampai kerumah kemarin ... malah berhenti karena ...." Lucian kembali teringat kejadian saat dirinya mengejar Cedric. Namun, langkahnya terhenti saat matanya tanpa sengaja menangkap sosok punggung wanita, yang sepertinya ia kenali. Namun, ia tak memiliki keberanian untuk mendekat. Apa lagi, mungkin itu hanya halusinasinya saja karena kepalanya yang sering sakit.

'Tapi ... bagaimana jika itu benar-benar Anna,' batin Lucian. Ia melupakan hal itu karena terlalu fokus menyesali segala perbuatannya pada Anna.

Kakinya melangkah cepat, menuju rumah yang terakhir kali ia lihat sosok punggung yang familiar. Matanya menyorotkan binar harapan. Harapan setipis tisu, namun berhasil menerbitkan senyum tulus di wajah Lucian, setelah sekian lama. Lucian dapat melihat rumah itu di ujung sana. Namun, karena terlalu bersemangat.

Bruk!

Lucian terjatuh, begitupula dengan seseorang yang menabraknya atau yang ia tabrak. Keduanya terdiam.

"Raven!"

"Lucian!"

Lucian langsung mengubah mimik wajahnya, menampilkan aura permusuhan. Ia dengan cepat melepaskan penyamarannya dan menatap tajam Raven. Mengapa? Mengapa lelaki itu juga berada di kota ini. Apakah tebakannya benar, bahwa yang ia lihat sekilas waktu itu adalah Anna. Jadi, Raven mengetahui Anna dimana?

'Harusnya aku tahu itu. Mereka bersama saat itu, kemungkinan Raven yang menyembunyikan Anna dariku,' batin Lucian penuh curiga.

Seketika raut wajah Lucian bertambah masam. Ia menahan amarahnya, menatap Raven penuh kebencian. "Kenapa kau ada disini?" tanya Lucian, sarkas. Ia ingin sekali marah, namun apa haknya. Jika Anna lebih memilih percaya Raven daripada dirinya. Itu murni atas kesalahannya. Namun, ia tetap tak bisa menahan dirinya. Ia marah. Ia cemburu.

Raven tersenyum miring. "Apa maksudmu, Lucian? Aku kemari karena proyek investasi Taman Bermain Ceria di Kota ini. Harusnya aku yang bertanya, mengapa kau ada disini?" tanya Raven balik, ia tak menanggapinya raut wajah Lucian. Ia sudah terbiasa dengan tatapan itu. Malah justru ia tak takut sama sekali.

'Apa yang Lucian lakukan di sekitar rumah Anna? Apakah dia sudah mengetahui sesuatu?' batin Raven curiga.

Lucian menggertakkan giginya. "Aku ada syuting di daerah sini," jawabannya dengan enggan. Namun, Lucian berusaha menahan emosinya selain tak memiliki hak, ia ingin mendapatkan informasi dari lelaki ini tentang keberadaan Anna.

"Kau mengetahui sesuatu tentang Anna, kan?" tanya Lucian tiba-tiba, membuat Raven terkejut.

'Apakah dia tidak tahu jika di daerah ini Anna tinggal? Jadi ini hanya kebetulan,' batin Raven ia merasa senang sekaligus takut. Bahkan rasanya takdir pun ingin mempertemukan keduanya kembali. Ia tak mau lagi, jika Lucian mengganggunya. Apa lagi, kesempatan untuk Lucian telah ia sia-siakan dengan menceraikan Anna.

"Kenapa kau mencari tahu soal Anna, Luc?" tanya balik Raven, dengan tatapan tajam. Tanda ia tak menyukainya.

"Aku bertanya lebih dulu padamu ... itu urusanku jika aku mencarinya," jawab Lucian, tak kalah tajam.

"Jika kau menyesali perbuatanmu, dan ingin kembali pada Anna. Maka, lupakan saja niatmu itu. Karena Anna---." Raven menjeda kalimatnya, ia menatap raut wajah Lucian yang nampak sangat penasaran.

Dan, sedikit keputusasaan saat ia mengatakan lupakan saja.

"Apa? Karena apa, Raven!" bentak Lucian, tak sabaran.

Raven tersenyum. "Karena dia telah menikah dan mempunyai seorang anak," jawab Raven dengan santai, walau ia tahu itu kebohongan Anna. Raven siap menerima anak Lucian dan Anna, menganggapnya sebagai anak kandung, jika Anna bersedia bersamanya.

Deg!

Lucian terdiam, dengan wajah kaget. Seolah tak percaya dengan apa yang di katakan Raven. Kepalanya menggeleng pelan. "Tidak! Tidak mungkin! Kau berbohong, kan!" bentak Lucian, dengan marah.

Greb!

Lucian menarik kerah baju Raven dengan amarah yang meluap-luap. "Katakan jika itu bohong!" bentak Lucian lagi. Sorot matanya yang tajam, berhasil membuat siapapun merinding ketakutan, namun tidak dengan Raven.

Lelaki itu malah tersenyum tipis. Sembari menepis tangan Lucian dari kerahnya. "Terserah kau ingin mempercayainya atau tidak! Yang jelas dengan semua kesalahanmu ... kau pikir Anna akan memaafkanmu?" tanya Raven dengan senyum smirk. Lalu berlalu meninggalkan Lucian.

Dalam hatinya, Raven berharap Lucian benar-benar mempercayai perkataannya dan menghentikan niatnya untuk mencari Anna. Dengan begitu ia dapat dengan mudah mendekati Anna tanpa gangguan dari Lucian.

'Maaf, Na ... Aku tahu, masih ada cinta itu di hatimu untuk Lucian. Namun, aku benar-benar tak bisa merelakanmu untuk lelaki seperti Lucian,' batin Raven, setidaknya ia tak akan membiarkan ini mudah untuk Lucian.

Apakah ia benar-benar terlambat? Apakah ia tak akan pernah mendapatkan kesempatan lagi? Apakah ini karma untuknya karena menyia-nyiakan gadis sebaik Anna?

Lucian memang telah menerka-nerka. Bahwa mungkin saja harapannya tak sesuai kenyataan. Bahkan, ia sudah memikirkan kemungkinan terburuk. Jika saja, Anna memilih bunuh diri karena merasa tak ada siapapun di dunia ini yang berada di pihaknya.

Namun, mendengar kenyataan ini langsung. Tetap membuatnya sakit. Hatinya seolah di remas dengan keras, tanpa jeda. Kenyataan ini memang pahit. Mungkin sudah balasan dari Tuhan untuknya.

...****************...

Maaf jika sedikit kurang berkenan. Karena kondisi author juga gak memungkinkan banget. Ini mata aja lima watt wkwk🤧

Semoga suka.

JIKA SUKA?

LIKE, DONKKK🤭

1
Mazree Gati
maulah anna, lucian kaya coba lucian kere
alyssa bunga: hmmm🫣
total 1 replies
Reni Setia
selamat udah tamat karyanya dan makasih untuk novelnya ya
alyssa bunga: iya, ak yg Terima Kasih kak🙏
total 1 replies
Reni Setia
selamat udah tamat karyanya
Nur Koni
kok merasa ending nya kaya d paksakan ya kak....
alyssa bunga: iya keknya kak, maaf ya tapi emang ini ending, tapi ad side story kok. sekitar 5-10 episode maaf yaaa
total 3 replies
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
ya thor, welcome back thor
alyssa bunga: makasih kak, maaf yaa🙏
total 1 replies
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Nn Nisaan
thor jangan di gantung yah!! /Cry/
Sun Rise
ayooook 💪 thooor up lagi
evi carolin
knp akhir akhir ini novel yg aq baca pemeran cowoknya bs jatoh pingsan i
ya ...🤔 ...ga kuat perasaanya ya krn merasa bersalah amat sangat /Whimper/
Linda Liddia
Kenapa udh lama gak up kk
NP
memanfaatkan
NP
mengharap-harapkan
NP
Anna
NP
menjadi sabar sensitif, maksudnya gimana ya
NP
tampak
NP
memanfaatkan
NP
pria
NP
berbohong
NP
gimana ini kalimat nya 😄😄
NP
tuntut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!