Menikahi Pria terpopuler dan Pewaris DW Entertainment adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah terjadi di hidupnya. Hanya karena sebuah pertolongan yang memang hampir merenggut nyawanya yang tak berharga ini.
Namun kesalahpahaman terus terjadi di antara mereka, sehingga seminggu setelah pernikahannya, Annalia Selvana di ceraikan oleh Suaminya yang ia sangat cintai, Lucian Elscant Dewata. Bukan hanya di benci Lucian, ia bahkan di tuduh melakukan percobaan pembunuhan terhadap kekasih masa lalunya oleh keluarga Dewata yang membenci dirinya.
Ia pikir penderitaannya sudah cukup sampai disitu, namun takdir berkata lain. Saat dirinya berada diambang keputusasaan, sebuah janin hadir di dalam perutnya.
Cedric Luciano, Putranya dari lelaki yang ia cintai sekaligus lelaki yang menorehkan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quenni Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 - Kenyataan Pahit
Karena Author dah janji tadi, author UPDATE tapi enggak banyak, karena lagi kedatangan tamu bulanan, sakitnya bukan main.
BANTU LIKE YA, KOMENTAR JUGA BUTUH BANGETT 🤧
...****************...
Beberapa hari kemudian.
Lucian dan Juan telah berada di mobil, menuju Pinggir Kota. Lucian hanya diam sepanjang perjalanan. Entah kenapa, semalaman ia tak bisa tidur sama sekali.
'Semoga bisa ketemu tuh bocah,' batin Lucian, sembari menatap keluar jendela. Lalu, ia memejamkan matanya, mencoba mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
Kabar mengenai kedatangan Lucian ternyata telah membuat heboh satu kota. Tepatnya di Desa Kembang, yang akan menjadi latar dan tempat untuk syuting film terbaru Lucian. Semua warga berkumpul, menunggu kehadiran Aktor Terkenal itu.
Kyak!
Waaaaa!
LUCIAN!
Teriakan-teriakan para warga semakin histeris saat mendapati sebuah mobil mewah memasuki area penginapan. Penginapan ini adalah yang termewah yang mereka punya di Kota itu, jelas mereka tahu bahwa Lucian akan menginap disana.
"Lucian!"
"Luciiiii!"
Teriakan demi teriakan terus terlontar, namun sang pemilik nama belum juga keluar dari mobilnya. Saat pintu mobil perlahan terbuka. Mereka semakin gencar mendekati mobil dengan teriakannya.
"Lucian! Lucian!"
"Arghhh! My Lucian!"
Deg!
Sontak semua orang terdiam membisu, kala mendapati seseorang yang berada di dalam mobil bukanlah Lucian. Melainkan sekretarisnya, Juan. Yang juga merangkap menjadi Asisten Pribadi, Lucian. Karena Lucian yang tak ingin terlalu banyak berinteraksi kepada orang lain. Hanya dengan Juan ia bisa merasa sedikit nyaman.
Apa lagi, Juan sudah lama menemaninya. Sejak ia masih mempelajari bagaimana caranya berakting dan mengurus perusahaan.
"Lucian?"
"Luciannya mana?"
Dilain Tempat.
Seseorang dengan pakaian serba hitamnya, plus dengan masker dan kacamata hitam, berjalan dengan santai menuju suatu tempat.
'Sudah kuduga, mereka pasti akan heboh.' Lucian celingak-celinguk. Ia terlihat bingung.
"Duh, kenapa aku tidak mengikutinya sampai kerumah kemarin... Malah berhenti karena..." Lucian kembali teringat kejadian saat dirinya mengejar Cedric. Namun, langkahnya terhenti saat matanya tanpa sengaja menangkap sosok punggung wanita, ia seperti mengenalinya. Namun, ia tak memiliki keberanian untuk mendekat. Apa lagi, mungkin itu hanya halusinasinya saja karena kepalanya yang sering sakit.
'Tapi... Bagaimana jika itu benar-benar Anna,' batin Lucian. Ia melupakan hal itu karena terlalu fokus menyesali segala perbuatannya pada Anna.
Kakinya melangkah cepat, menuju rumah yang kemarin ia lihat ada sosok Anna. Matanya menyorotkan binar harapan. Harapan setipis tisu, namun berhasil menerbitkan senyum tulus di wajah Lucian, setelah sekian lama. Lucian dapat melihat rumah itu di ujung sana. Namun, karena terlalu bersemangat.
Bruk!
Lucian terjatuh, begitupula dengan seseorang yang menabraknya atau yang ia tabrak. Keduanya terdiam.
"Raven..."
"Lucian!"
Lucian nampak menunjukkan aura permusuhan. Ia dengan cepat melepaskan penyamarannya dan menatap tajam Raven. Mengapa? Mengapa lelaki itu juga berada di kota ini. Apakah tebakannya benar, bahwa yang ia lihat sekilas waktu itu adalah Anna. Jadi, Raven mengetahui Anna dimana?
Seketika raut wajah Lucian berubah. Ia menahan amarahnya, menatap Raven penuh kebencian. "Kenapa kau ada disini?" tanya Lucian, sarkas. Ia ingin sekali marah, namun apa haknya. Jika Anna lebih memilih percaya Raven daripada dirinya. Itu murni atas kesalahannya. Namun, ia tetap tak bisa menahan dirinya. Ia marah. Ia cemburu.
Raven tersenyum miring. "Apa maksudmu, Lucian? Aku kemari karena proyek investasi Taman Bermain Ceria di Kota ini. Harusnya aku yang bertanya, mengapa kau ada disini?" tanya Raven balik, ia tak menanggapinya raut wajah Lucian. Ia sudah terbiasa dengan tatapan itu. Malah justru ia tak takut sama sekali.
Lucian menggertakkan giginya. "Aku ada syuting di daerah sini," jawabannya dengan enggan. Namun, Lucian berusaha menahan emosinya selain tak memiliki hak, ia ingin mendapatkan informasi dari lelaki ini tentang keberadaan Anna.
"Kau mengetahui sesuatu tentang Anna, kan?" tanya Lucian tiba-tiba, membuat Raven terkejut.
'Bocah ini tak mungkin tahu, jika tujuanku ke daerah perumahan ini karena Anna,' batin Raven sedikit takut. Ia tak mau lagi, jika Lucian menganggunya. Apa lagi, kesempatan untuk Lucian telah ia sia-siakan dengan menceraikan Anna.
"Kenapa kau mencari tahu soal Anna, Luc?" tanya balik Raven, dengan tatapan tajam. Tanda ia tak menyukainya.
"Aku bertanya lebih dulu padamu... Itu urusanku jika aku mencarinya," jawab Lucian, tak kalah tajam.
"Jika kau menyesali perbuatanmu, dan ingin kembali pada Anna. Maka, lupakan saja niatmu itu. Karena Anna... " Raven menjeda kalimatnya, ia menatap raut wajah Lucian yang nampak sangat penasaran.
Dan, sedikit keputusasaan saat ia mengatakan lupakan saja.
"Apa? Karena apa, Raven!" bentak Lucian, tak sabaran.
Raven tersenyum. "Karena dia telah menikah dan mempunyai anak," jawab Raven dengan santai, walau ia tahu itu kebohongan Anna. Raven siap menerima anak Lucian dan Anna, menganggapnya sebagai anak kandung, jika Anna bersedia bersamanya.
Deg!
Lucian terdiam, dengan wajah kaget. Seolah tak percaya dengan apa yang di katakan Raven. Kepalanya menggeleng pelan. "Tidak! Tidak mungkin! Kau berbohong, kan!" bentak Lucian.
Greb!
Lucian menarik keras baju Raven dengan amarah yang meluap-luap. "Katakan jika itu bohong!" bentak Lucian lagi.
Apakah ia benar-benar terlambat? Apakah ia tak akan pernah mendapatkan kesempatan lagi? Apakah ini karma untuknya karena menyia-nyiakan gadis sebaik Anna?
Lucian memang telah menerka-nerka. Bahwa mungkin saja harapannya tak sesuai kenyataan. Bahkan, ia sudah memikirkan kemungkinan terburuk. Jika saja, Anna memilih bunuh diri karena merasa tak ada siapapun di dunia ini yang berada di pihaknya.
Namun, mendengar kenyataan ini langsung. Tetap membuatnya sakit. Hatinya seolah di remas dengan keras, tanpa jeda. Kenyataan ini memang pahit. Mungkin sudah balasan dari Tuhan untuknya.
...****************...
Maaf jika sedikit kurang berkenan. Karena kondisi author juga gak memungkinkan banget. Ini mata aja lima watt wkwk🤧
Semoga suka.
JIKA SUKA?
LIKE, DONKKK🤭
Semangat selalu
Cpt sembuh author