Rachel sering mendapatkan siksaan dan fitnah keji dari keluarga Salvador. Aiden yang merupakan suami Rachel turut ambil dalam kesengsaraan yang menimpanya.
Suatu hari ketika keduanya bertengkar hebat di bawah guyuran hujan badai, sebuah papan reklame tumbang menimpa mobil mereka. Begitu keduanya tersadar, jiwa mereka tertukar.
Jiwa Aiden yang terperangkap dalam tubuh Rachel membuatnya tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada sang istri selama tiga tahun ini. Begitu juga dengan Rachel, jadi mengetahui rahasia yang selama ini disembunyikan oleh suaminya.
Ikuti keseruan kisah mereka yang bikin kalian kesal, tertawa, tegang, dan penuh misteri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Akhirnya Aiden membopong Rachel turun ke lantai bawah. Tubuh Rachel terasa ringan di pelukannya, meski jelas ia mencoba menyamarkan rasa nyeri yang mendera. Setiap langkah Aiden menuruni anak tangga terdengar tegas.
Aroma masakan yang menggoda mulai tercium begitu mereka mendekati ruang makan. Kehangatan dari dapur berpadu dengan aroma sop yang baru diangkat dari kompor. Namun, bagi Rachel, suasana itu sama sekali tidak menenangkan.
Ketika mereka masuk ke ruang makan, terlihat Nenek Hilda dan Hillary juga baru akan duduk. Meja makan besar itu tampak rapi dengan peralatan makan tersusun sempurna. Piring-piring porselen putih berkilau di bawah cahaya lampu gantung yang elegan, seakan suasana akan penuh keakraban, setidaknya di mata orang luar.
"Wah, manja sekali kamu, Rachel! Apa sakit sampai membuat kakimu lumpuh?" celetuk Hillary sambil tersenyum sinis. Tatapannya menyapu Rachel dari atas ke bawah, penuh nada meremehkan.
Rachel menahan napas sejenak, mencoba menekan gejolak emosinya. Namun, rasa nyeri di perut bercampur dengan suasana yang memanas membuatnya kehilangan kesabaran.
"Semoga saja kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini," balas Rachel, nada suaranya lebih tajam dari yang ia maksudkan.
"Rachel!" bentak Nenek Hilda dengan wajah mengeras. Suara neneknya terdengar penuh wibawa, seakan keputusan siapa yang salah itu sudah mutlak. "Tidak pantas mulutmu bicara seperti itu kepada Hillary."
Aiden, tanpa banyak bicara, menurunkan Rachel perlahan dan mendudukkannya di kursi yang ada di sebelah tempatnya biasa duduk. Dia tidak ikut membela atau mengomentari bentakan itu, membiarkan Rachel mengatasi masalahnya sendiri dengan sang nenek.
Rachel menatap Nenek Hilda, lalu menunjuk ke arah Hillary yang kini sedang menatapnya dengan tatapan puas bercampur tantangan.
"Grandma, Hillary yang memulai duluan," ucap wanita pemilik rambut panjang itu mencoba menahan nada suaranya agar tidak meninggi karena kesal.
"Tidak ada yang salah dengan ucapan Hillary barusan," jawab Nenek Hilda tegas, seakan membela Hillary tanpa ragu sedikit pun.
Rachel menarik napas panjang. Rasa perih di dadanya jauh lebih menyakitkan daripada nyeri yang dirasakannya di perut.
"Apa yang aku ucapkan juga tidak salah," ucap istri Aiden dengan tenang. "Bukannya setiap wanita akan merasakan siklus bulanan? Dan sering merasa sakit? Itulah yang sedang aku rasakan saat ini."
Ucapan itu membuat suasana meja makan makin kaku. Hillary hanya menaikkan alis, sementara Nenek Hilda menggeleng pelan dengan ekspresi tak setuju.
"Sudah ... sudah! Ayo, kita makan," ucap Aiden akhirnya, mencoba meredakan ketegangan.
Aiden menyendokkan sop ke mangkuk Rachel, aroma gurihnya memenuhi udara. Gerakannya tenang, seakan mencoba memberi isyarat bahwa makan adalah hal yang lebih penting saat ini.
Perbuatan Aiden tak luput dari perhatian Hillary dan Nenek Hilda. Keduanya tampak merasa aneh. Wanita tua itu berkata, "Apa yang kamu lakukan Aiden? Tidak pantas kamu melakukan itu."
"Rachel sedang sakit, Grandma," balas Aiden tudak menghiraukan.
"Seharusnya kamu lebih galak lagi sama sepupumu itu," bisik Aiden sambil memberikan mangkuk.
Rachel mendelik, tatapan matanya seperti kilatan tajam yang ia sembunyikan selama ini. Ia merasa Aiden sengaja tidak mau membelanya, sama seperti dulu. Sama seperti masa-masa ketika ia harus menghadapi perlakuan sepupu dan neneknya seorang diri.
Ia menunduk, menatap sop panas yang mengepulkan uap di depannya. Rasa lapar mendadak menghilang, tergantikan rasa getir yang membekas di lidah bahkan sebelum ia menyentuh sendok.
***
Rachel sakit selama dua hari penuh dan itu membuat suasana rumah benar-benar tidak nyaman. Perempuan itu seperti kehilangan kesabaran atas hal-hal kecil; apa pun yang dilakukan orang di sekitarnya selalu tampak salah di matanya.
Perhatian kecil Aiden pun dianggap mengganggu. Dua hari itu bagai ujian kesabaran bagi semua orang, terlebih bagi Aiden yang diam-diam hanya bisa menenangkan dengan caranya sendiri.
Di hari ketiga, barulah emosi Rachel mulai stabil. Wajahnya terlihat lebih segar, meski masih ada sisa letih yang samar-samar terbaca dari sorot matanya. Ia sudah bisa tersenyum tipis, bahkan kembali mengenakan busana yang rapi untuk mendampingi Aiden ke kantor.
Ada semangat baru yang ia paksa tumbuh, terlebih karena hari itu mereka akan menghadapi proyek kerja sama besar dengan Maximilian Kedrava—nama yang cukup bergaung dalam lingkaran bisnis internasional.
Saat pertemuan berakhir, Maximilian mengatakan sebuah pujian yang tak biasa.
"Tuan Salvador pastinya bahagia mempunyai seorang istri yang cerdas dan berpenampilan anggun seperti ini. Jarang sekali seorang wanita memahami bisnis skala internasional," kata Maximilian yang senyumnya tipis tapi sarat arti.
Rachel spontan mengernyit. Ia tahu betul, Maximilian bukan tipe pria yang mudah melemparkan pujian, apalagi kepada seorang wanita. Sosoknya kerap dingin, hampir mirip dengan Aiden. Justru karena itulah kata-kata itu terasa aneh baginya, seolah ada sesuatu di baliknya.
"Jangan bilang kalau Maximilian suka sama Rachel," batin Aiden.
Aiden, yang duduk dengan penuh wibawa di samping Rachel, segera menanggapi. Nada suaranya tegas, penuh kebanggaan, seolah bukan Rachel yang dipuji, melainkan dirinya yang diuji.
"Terima kasih atas pujiannya. Rachel memang wanita hebat. Makanya aku memilih dia sebagai pendamping hidup, karena hanya dia yang pantas untuk posisi Nyonya Salvador."
Rachel melirik tajam pada Aiden. Baginya, reaksi itu terlalu berlebihan, seakan Aiden sedang mempertontonkan rasa memiliki yang dominan. Alih-alih merasa tersanjung, Rachel justru merasa risih, seperti menjadi objek pameran di antara dua pria yang sama-sama menyembunyikan maksud.
Dalam hati, Rachel bergumam getir. Kelihatan sekali kalau tuan muda Kedrava itu punya ketertarikan. Entah apa yang membuatnya suka padaku. Apa karena aku istri Aiden? Atau hanya karena dia ingin menguji kami?
Ketegangan kecil itu seolah teralihkan saat Maximilian melontarkan ajakan santai, "Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Kebetulan ada restoran yang makanannya sangat enak dan direkomendasikan, tidak jauh dari sini."
Aiden langsung menanggapi tanpa pikir panjang. "Baiklah. Ayo, Rachel kita coba masakan restoran itu! Apa benar-benar pantas untuk direkomendasikan atau tidak."
Rachel menghela napas panjang, wajahnya jelas memperlihatkan ketidakrelaan. Ia tak bisa menolak, sekalipun hatinya berat.
Restoran yang mereka datangi benar-benar memukau. Bangunan artistik dengan interior yang hangat membuat suasana terasa berbeda dari kantor. Aroma bumbu rempah menguar kuat begitu pintu dibuka, memancing selera sejak langkah pertama. Meja-meja hampir penuh, suasana ramai, tapi tetap elegan.
Baru saja pasangan suami-istri itu mengagumi dekorasi ruangan, sebuah suara memanggil, terdengar jelas di antara riuh rendah restoran.
"Rachel!"
Refleks, Rachel menoleh. Bersama Aiden, ia melihat Xavier dan Thomas yang tengah menunggu meja tak jauh dari sana. Thomas melambaikan tangan penuh antusias.
"Sini! Kita makan bersama," seru Thomas, wajahnya berseri.
Maximilian melirik sekilas, ekspresinya tetap datar. "Siapa mereka?" tanyanya tenang, tapi nada suaranya mengandung rasa penasaran.
Aiden tersenyum kaku, mencoba menyembunyikan kegembiraan yang muncul begitu saja. "Mereka teman-temanku, eh, maksudku teman-temannya Rachel," jawab Aiden yang lidahnya hampir tergelincir jujur.
Rachel segera menyikut lengannya pelan, lalu berbisik cepat dengan suara yang nyaris tak terdengar, "Ingat, jaga diri. Jangan sampai melakukan hal sembrono yang bisa menimbulkan rasa curiga."
Rachel tak ingin rahasia mereka terbongkar hanya karena satu kesalahan kecil.
ttp semangattt d
sabar menunggu update nya
Semangatt