Afsensa Faiha Azahra, perempuan cantik dengan paras ayu, biasa dipanggil Sensa. Dia gadis sederhana yang hanya hidup sebatang kara, orang tuanya meninggal 1 tahun yg lalu karena kecelakaan.
Arsel Dirga milard, CEO muda diperusahaan Milard Company. Kekayaan Arsel tidak akan habis tujuh turunan, apalagi dengan wajahnya yang nyaris sempurna selalu membuat wanita jatuh hati pada pandangan pertama 😊😊
Arsel pria dingin, sedikit kasar mudah terbakar emosi. Apalagi setelah ditinggal kekasihnya sikap Arsel semakin dingin tak tersentuh.
Kedua orang tua Arsel menjodohkan dengan Sensa, akankah keduanya bisa bahagia atau justru saling menyakiti?
Ayo ikuti kisahnya...
selamat mmbaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 28
"Astagfirullahaladzim,,," Mama Eisha beristigfar.
"Pa, apa maksut ucapan dokter tadi? siapa yang tega melakukan itu kepada menantu kita?" Papa Abiyasa tak menjawab, karna dia pun juga belum tahu kejadian sebenarnya, dia memeluk Mama Eisha yang terus menangis.
"Ayo kita temui Arsel, Ma." ajak Papa Abiyasa. Mama eisha mengangguk, mereka berdua keluar dari kamar rawat Sensa.
Papa Abiyasa dan Mama Eisha mendekati Arsel yang duduk diruang tunggu.
"Arsel, jelaskan!!!" Papa Abiyasa langsung berbicara tegas dengan nada dingin, siapapun pasti tau kalau pria paruh baya itu sedang marah. Raut wajah Papa Abiyasa terlihat merah padam menahan emosi yang sebentar lagi akan keluar.
"Jawab, Sel!! siapa yang tega melakukan hal keji itu pada Sensa! orang itu harus mendapat ganjaran yang setimpal!!" Papa Abiyasa semakin geram karna Arsel hanya diam dan menunduk.
"Arsel...!!!" Papa Abiyasa berteriak marah.
"Pa, ini dirumah sakit. Jangan berteriak seperti itu, nanti bisa mengganggu pasien yang lain." Mama Eisha mengelus lengan Papa Abiyasa.
Arsel yang takut dan merasa bersalah sujud dikaki Papanya.
"Maafin Arsel, Pa." ucap Arsel bergetar menahan takut, jika Papanya akan murka.
"Apa maksut kamu meminta maaf? bukan kamu 'kan pelakunya?" Papa Abiyasa sudah memegangi dadanya dengan nafasnya yang memburu.
"Maafin Arsel, Pa, Ma. Arsel setengah sadar melakukan itu karna Arsel sedang mabuk malam itu." Arsel berkata dengan masih duduk dilantai dan memegangi kaki Papanya.
"Apa... jadi kamu sendiri yang membuat keadaan Sensa seperti itu?" Papa Abiyasa sangat terkejut, disampingnya Mama Eisha juga sama.
"Suami macam apa kamu, Sel. Kamu sudah sangat keterlaluan!! Huftt.." Papa Abiyasa mengatur nafas, dan terus memegangi dadanya.
"Ma..." suara Papa Abiyasa lirih, dan tak lama Papa Abiyasa jatuh pingsan.
"Pa,,,Papa.....!!" teriak Mama Eisha panik melihat Papa Abiyasa tak sadarkan diri. Tangan Mama Eisha, menahan kepala Papa Abiyasa dipangkuan nya.
"Pa.. Papa kenapa, Ma?" Arsel juga sangat panik melihat Papanya pingsan.
Mama Eisha tak menjawab, dia berteriak-teriak memanggil suster yang berjalan tak jauh darinya.
"Suster, tolong suami saya. Tolong!!" Mama Eisha menangis.
Suster itu segera memanggil temannya untuk membantu dan mengambil brankar.
Semua membantu memindahkan Papa Abiyasa keatas brankar.
Papa Abiyasa langsung dibawa keruang ICU.
Mama Eisha duduk dikursi tunggu, pusing, menantunya sakit, sekarang suaminya ikut sakit.
"Ya Allah, cobaan apa ini?" Mama Eisha menutup wajah dengan kedua telapak tangannya dan masih menangis.
"Ma..." Arsel mendekati Mama Eisha ingin menenangkan Mama nya yang sudah pasti merasa sangat sedih dan kecewa.
"Diam kamu! semua ini gara-gara kamu! puas kamu!. Kenapa kamu tidak membunuh kami saja, Sel? apa salah kami? kami memilihkan gadis baik-baik untuk kamu, dia gadis sholehah, tapi kamu perlakukan begitu buruk! alasan apa, kamu memperlakukan dia seperti itu. Hah!!" Mama Eisha sangat marah kepada anak satu-satunya itu, anak bej*t yang tidak mempunyai kemanusiaan.
Arsel mengambil handphone disaku celananya dan memutar vidio Sensa yang membuatnya salah faham.
Mama Eisha yang melihat itu menggelengkan-gelengkan kepalanya.
"Tidak, Mama tidak percaya Sensa seperti itu." sanggah Mama Eisha.
"Tapi vidio ini nyata, Ma. Arsel pergi ke Hotel itu dan menyaksikan Sensa tidur seranjang dengan laki-laki lain!" jelas Arsel.
"Lantas, apa kamu pantas memperlakukan Sensa seperti itu?" Mama Eisha nyalang menatap Arsel.
"Sensa selalu membela diri, dia bilang dia masih suci. Arsel hanya ingin membuktikan omongan dia, tapi dia menolak dan..."
Arsel tak melanjutkan cerita.
"Lalu kenapa kamu harus memukulnya!! bukan hatinya saja yang kamu lukai tapi fisiknya juga kamu siksa, dimana hatimu!! astagfirullah..." Mama Eisha menangis terisak, hatinya begitu pilu membayangkan kelakuan bej*t anaknya.
"Setelah itu, puas kamu. Lalu apa kebenaran nya?"
"Dia... dia memang masih suci, Ma." lirih Arsel menjawab hampir tak terdengar.
Mama Eisha sudah tak bisa berucap lagi.
*****
Satu jam menunggu, tetapi didalam ruang ICU itu belum ada dokter yang keluar.
Mama Eisha semakin cemas, pasalnya memang suaminya punya penyakit jantung yang memang lumayan parah.
Arsel tak kalah cemas, dia duduk disamping Mama Eisha, dalam hati dia terus menyesal.
Lima menit kemudian, dokter keluar. Mama Eisha langsung menghampiri Dokter.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Mama Eisha pada dokter.
"Saat ini pasien kritis, Bu. Silahkan ibu masuk kedalam." jelas Dokter.
Mama Eisha setengah berlari menghampiri suaminya.
"Pa..." panggil Mama Eisha lirih, disamping Papa Abiyasa yang terbaring lemah.
"Ma, maafin Papa kalau selama ini Papa banyak salah..." Papa Abiyasa berbicara terbata-bata.
"Tidak, Pa. Jangan katakan seperti itu, Papa tidak pernah punya salah. Kalau pun Papa punya salah, Mama sudah memaafkannya." jawab Mama Eisha, dari kedua matanya terus mengeluarkan cairan bening.
"Ma, ingat pesan Papa. Bimbing dan tuntun terus anak kita kejalan kebaikan, jangan sampai dia berbuat buruk terus menerus."
"Arsel, jika Papa pergi Mama hanya punya kamu. Kamu harus berjanji untuk selalu menjaga Mamamu. Untuk Sensa, bertanggung jawablah atas perbuatanmu. Buat dia sembuh seperti sedia kala, jangan sampai kamu berpisah dengannya." pesan Papa Abiyasa suaranya semakin lirih.
"Iya, Pa. Arsel janji akan selalu menjaga Mama, dan juga Arsel akan bertanggung jawab untuk menyembuhkan Sensa." jawab Arsel sedih, ia sudah menitikan air mata.
Papa Abiyasa sudah sangat kesulitan berbicara, nafasnya semakin pendek.
Mulutnya mangucap kalimat tauhid , namun lirih tak terdengar.
Sampai alat monitor itu berbunyi. tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.
Saat itu, Papa Abiyasa pergi untuk selamanya dengan tenang.
Mama Eisha menangis histeris. Sama sekali tidak menyangka jika suami tercintanya, yang beberapa jam masih menemani disampingnya, masih sehat dan baik-bsik saja harus pergi secepat ini meninggalkan dia untuk selamanya.
Arsel ikut menangis disamping jenazah Papa nya. Menyesal, seribu kali menyesal tidak akan bisa mengembalikan nyawa Papa nya. Semua sudah terlambat. Dalam hati tidak menyangka Papanya akan pergi.
"Pa, jangan tinggalin Mama, Pa. Papa tidak boleh pergi, Papa menemani Mama. Mama tidak mau sendiri, Pa. Mama dengan siapa, Pa. Kenapa Papa tega pergi tinggalin Mama sendiri. Bangun, Pa. Pa..." tak kuat menahan kesedihan, Mama Eisha pingsan.
Arsel keluar memanggil dokter.
Mama Eisha sudah dipindah diatas ranjang.
Sedang jenazah Papa Abiyasa dipindah keruang jenazah.
Arsel menangis, meluapkan rasa sedih dan penyesalan nya dengan meninju tembok hingga tangannya berdarah.
'Penyesalan tetap penyesalan, semua tidak akan kembali. Apa yang terjadi akan berlalu meninggalkan sebuah kenangan. Kini Arsel sangat menyesali perbuatannya, semua karna keegoisannya. Papa Abiyasa harus pergi selamanya. Menangis pun percuma, karna Arsel tak bisa melihat wajah ayahnya lagi.
.
.
.
.
.
yang gubug itu
ini terlalu mengada " ceritanya
🤔🤔🤔🤔