NovelToon NovelToon
Membatasi Rasa

Membatasi Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:986
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?

Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.

Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dingin yang Menghangatkan Doa

Gerimis yang mengguyur daerah Dinoyo sejak sore tadi menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. Zaza duduk di meja belajarnya, menatap lembaran kertas proposal kegiatan milik Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kerohanian Islam yang harus ia rapikan. Namun, fokusnya buyar. Setiap kali jemarinya hendak mengetik di laptop, bayangan kejadian di koridor kampus siang tadi kembali berputar otomatis di kepalanya.

Tatapan mata elang cowok itu, caranya yang kikuk saat mengulurkan tangan, dan bagaimana suaranya terdengar begitu panik sekaligus penasaran.

Zaza menghela napas pelan, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu. Ia menarik laci meja, mengambil sebuah buku catatan kecil berwajah polos tanpa hiasan apa pun. Di sana, ia terbiasa menumpahkan segala riuh yang tidak bisa ia ceritakan pada dunia, termasuk pada uminya sendiri.

Zaza memegang pena, lalu menuliskan beberapa baris kalimat:

Membatasi rasa itu bukan berarti mematikan hati. Ini tentang seni menjaga rasa agar tetap berada di tempat yang semestinya, sampai Pemilik Hati memberi restu-Nya.

"Zaza? Belum tidur, Nduk?" Suara ketukan lembut di pintu membuyarkan lamunan gadis itu. Uminya melangkah masuk sambil membawa segelas susu hangat.

Zaza buru-buru menutup buku catatannya, menyunggingkan senyum terbaiknya. "Belum, Umi. Masih tanggung sedikit lagi merapikan berkas buat acara besok."

Sang umi meletakkan gelas di meja, lalu duduk di tepi ranjang Zaza, menatap putrinya dengan tatapan teduh yang selalu menenangkan. "Jangan terlalu malam tidurnya. Besok kamu ada kelas pagi, kan? Abi juga titip pesan, besok selesai kuliah langsung pulang, ada pamanmu dari Kediri mau datang."

"Iya, Umi. Habis ini Zaza langsung tidur kok," jawab Zaza lembut. Setelah uminya kembali keluar dan menutup pintu, Zaza menatap segelas susu hangat itu, lalu beralih ke jendela kamar. Kamar ini menjadi saksi bisu betapa ia sangat dijaga oleh keluarganya. Di saat teman-teman kuliahnya asyik bercerita tentang malam minggu atau pesan-pesan manis dari pacar mereka, Zaza memilih sunyi. Bukan karena ia tidak laku atau tidak punya rasa, tapi karena ia tahu, sekali saja ia membiarkan hatinya lolos dari penjagaan, ia akan mengecewakan dua orang yang paling ia hormati di dunia ini.

✨✨✨

Sementara itu, di sudut lain Kota Malang, tepatnya di sebuah kafe berkonsep industrial di kawasan Soekarno-Hatta, suasana justru berbanding terbalik. Suara dentum musik akustik berpadu dengan gelak tawa beberapa anak muda yang berkumpul di meja pojok.

Rayyan duduk di sana, tapi pikirannya sama sekali tidak ada di tempat itu. Ia berulang kali memutar-mutar kunci mobilnya di atas meja, mengabaikan segelas iced americano yang mulai mengembun dan mencair.

"Eh, Ray! Lo dengerin gue gak sih?" Niko, salah satu temannya, menyenggol bahu Rayyan agak keras. "Gue nanya, Sabtu besok lo ikut anak-anak riding ke Batu gak? Ada anak fakultas sebelah juga yang mau gabung, si Sherly katanya nyariin lo terus."

Rayyan hanya bergumam malas, "Gak tahu. Kayaknya gue absen dulu."

"Tumben amat lo? Biasanya paling depan kalau soal nongkrong. Lagi pusing masalah saham bokap lo?" timpal teman satunya lagi.

Rayyan menggeleng, lalu menegakkan posisi duduknya. "Gak ada. Lagi gak pengen aja."

Ia melempar pandangannya ke arah jalanan di luar kafe. Di matanya, semua perempuan yang mendekatinya akhir-akhir ini terasa sama saja, semuanya terlalu berusaha keras untuk terlihat modis, terlalu berisik, dan selalu membicarakan hal-hal yang sama. Mereka masuk ke dalam kriteria yang diinginkan mamanya: kalangan atas, setara, dan bisa dipamerkan. Tapi, entah mengapa, ego Rayyan malam ini justru menolak itu semua.

Pikirannya malah terkunci pada satu nama yang ia dengar di koridor siang tadi. Zaza.

"Gadis yang aneh," batin Rayyan. Cara gadis itu menolak bersalaman dengannya bukan dengan raut wajah jijik atau sombong, melainkan dengan ketenangan yang luar biasa. Tatapan matanya yang teduh tapi sedingin es itu justru meninggalkan lubang penasaran yang besar di dada Rayyan.

Selesai nongkrong, Rayyan mengendarai mobilnya membelah jalanan Malang yang semakin larut dan dingin. Sesampainya di kamar rumahnya yang luas, ia melempar jaketnya ke sembarang tempat dan merebahkan diri di atas kasur king size-nya. Ia mengambil ponsel, membuka aplikasi pencarian, dan mencoba mengetikkan nama universitas mereka diikuti kata kunci nama gadis itu. Nihil. Tidak ada akun media sosial yang aktif atau mencolok.

Rayyan melempar ponselnya ke samping bantal, menatap langit-langit kamarnya yang tinggi dengan perasaan gusar yang tak biasa. "Kenapa gue jadi mikirin dia terus sih? Padahal baru ketemu sekali," gumamnya kesal pada diri sendiri.

Waktu terus bergulir, jam dinding di kamar Zaza menunjukkan pukul tiga dini hari. Suara alarm kecil di atas mejanya berbunyi sangat pelan, namun cukup untuk membuat kelopak mata gadis itu terbuka. Zaza langsung terjaga. Ia menyibak selimutnya, melawan hawa dingin Malang yang menusuk tulang, lalu melangkah ke kamar mandi untuk mengambil wudu.

Di atas hamparan sajadah merah marunnya, suasana menjadi begitu magis. Riuh dunia benar-benar padam, menyisakan kesunyian yang intim antara dirinya dan Sang Pencipta. Zaza melipat kedua tangannya di dada, memulai salat malamnya dengan khusyuk.

Selesai mengucapkan salam terakhir, ia menumpahkan segalanya. Air matanya menetes tanpa bisa dibendung saat kedua telapak tangannya menengadah ke atas. Di sinilah, di sepertiga malam ini, benteng dingin yang ia tunjukkan di siang hari runtuh total.

"Ya Allah, Penguasa segala hati... jika rasa penasaran dan getaran yang hadir di hatiku siang tadi adalah sebuah ujian, maka kuatkanlah hamba untuk membatasinya. Jangan biarkan hamba mencintai seseorang melebihi cinta hamba kepada-Mu dan kedua orang tua hamba. Namun... jika namanya adalah nama yang telah Engkau gariskan di Lauhulmahfuz untuk mendampingi hijrah hamba, jagalah dia dalam iman, dan pertemukanlah kami di waktu serta cara yang paling Engkau ridai..."

Zaza mengusap wajahnya, menarik napas panjang untuk meredakan sesak di dada. Di saat yang sama, beberapa kilometer dari sana, Rayyan terbangun dari tidurnya karena merasa haus. Ia berjalan ke balkon kamarnya, menatap gemerlap lampu Kota Malang di kejauhan yang mulai sepi.

Tanpa mereka sadari, dua manusia yang saling menjauh dan bersikap sedingin es di dunia nyata itu, justru sedang ditarik oleh takdir yang sama. Di bawah langit malam yang sama, keheningan mereka bertransformasi menjadi sebuah komitmen spiritual yang paling rahasia.

1
Nurul
mending ta'aruf saja, Zaza
Nurul
mulai terbayang, cepat beristighfar
Xlyzy
kalau merasa ga pantas seharusnya harus bisa merubah diri agar pantas untuk nya
Xlyzy
Dilema si ini jadi nya mau nolak gimana sama orang tua
Xlyzy
Tapi ga harus di jodohin jugak sih cukup kenalkan mereka dulu kalau mereka saling suka baru nikahkan mereka
Cimol krispy
padahal temenan aja nggak di larang loh za
Sarifah_Aini97: bukan mahram kak
total 1 replies
Cimol krispy
jadi dari tadi kamu bikin heboh koridor karna nyariin Zaza ya rayyan
Miu.Nuha
barangkali jodohny ya itu rayyan
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
Miu.Nuha
makanya...
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
Filan
doanya pakai gue /Facepalm/
Sarifah_Aini97: Wkwk iya nih, biar doanya terasa lebih akrab dan personal langsung ke pencipta-Nya 🤣
total 1 replies
Filan
susah sih ya, kalau dia masih belom bisa sholat. gimana bisa jadi imam?
Filan
langsung sholat malam aja nih... sholat wajibnya gimana, Ray? /Chuckle/
Filan
menghindar nih ceritanya
Filan
skateboard apa udah jadi bagian dirinya? 😅
Aquarius97 🕊️
bagus Rayyan.. awalnya berubah karena Zaza, tapi lama2 dari hati yaa

. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe
Three Flowers
semoga doa Rayyan terkabul, karena dia sudah meminta dengan jalan yang benar
Three Flowers: okay kakak
total 2 replies
Three Flowers
Rayyan dapat hidayah sejak bertemu Zaza
Three Flowers
bau-bau mau dijodohkan, apalagi calonnya baru lulus dari luar negeri
Three Flowers
seperti dikejar hantu, ya😅
Mega Siregar
hindari siapa tuh, za🤭?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!