NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13- Pengacau

Lanjut...

Pintu pun tertutup perlahan. Lalu Alena kembali bersandar di ranjang sambil menatap pintu yang baru saja tertutup.

Namun, belum lima menit berlalu, pintu ruang rawat Alena terbuka kembali dan datanglah Mico yang di ikuti bara di belakangnya.

Ternyata, saat Bara hendak masuk lift, ia langsung bertemu dengan Mico yang sedang mencari ruang rawat Alena.

"Oh, ternyata kamu di rawat disini? Aku mencarimu dari tadi. Untungnya bertemu dengan si tidak berguna ini!," seru Mico sambil menunjuk ke wajah Bara.

Alena menatap Mico dengan rasa tidak percaya kemudian menatap Bara yang seakan tiada berdaya.

Mico menyadari tatapan Alena lalu segera mengangkat kedua tangannya dan merubah nada bicaranya.

"Tunggu, aku kesini bukan untuk cari keributan, kau mengerti?," tutur Mico sambil duduk di kursi samping ranjang Alena.

Melihat Alena yang hanya diam saja, Mico pun mencondongkan tubuhnya sehingga sedikit mendekat ke tubuh Alena. "Lukamu tidak parah kan?," tanyanya tanpa terlihat berdosa.

"Aku baik-baik saja. Jadi lebih baik kau kembali saja," ucap Alena akhirnya.

"Oh, tentu saja! Aku akan segera kembali...," balas Mico dengan perkataan yang menggantung dan lalu berdiri. "Tapi setelah memastikan jika kamu tidak menuntutku ke polisi," lanjutnya.

Pernyataan Mico sontak membuat Bara terkejut tapi tidak dengan Alena yang bersikap tenang.

"Kau tidak akan melaporkanku ke polisi bukan?," tanya Mico seraya menatap Alena dengan tekanan. Namun Alena hanya tersenyum tipis dan tidak berniat menjawab.

"Mico, apa maksudmu? Aku sudah meminta maaf pada nona Alena. Jangan buat keributan lagi," pinta Bara sambil sedikit menarik tangan Mico agar mundur dan pergi.

Namun bukannya menurut, Mico malah menepis tangan Bara dan memakinya, "diam kau bodoh!."

Merasa muak dengan sikap Mico, Alena pun akhirnya meminta Mico untuk segera keluar dari sana. Namun, lagi-lagi Mico hanya mengabaikannya.

"Mico ayo...," ajak Bara lagi.

"Aku bilang lepaskan! Aku tidak akan buat keributan!."

Alena memicingkan matanya dan ingin melakukan sesuatu pada Mico, namun ia pikir itu bukan waktu yang tepat.

"Mico, disini rumah sakit. Aku ingin beristirahat, jadi silahkan pergi sekarang juga. Kalau tidak, aku akan panggil keamanan," tegas Alena.

Mico menatap Alena lalu berjalan santai mengelilingi ranjang.

"Aku tau ini rumah sakit... Dan biaya rumah sakit tempat kau di rawat ini juga aku yang bayar. Jadi, kau tidak perlu khawatir," ucap Mico dengan sedikit ngeyel.

Alena mengernyitkan dahinya karena memang dia baru sadar tentang biaya rumah sakitnya. Ia memejamkan matanya dan menahan kekesalannya dalam hati.

Kemudian ia membuka matanya kembali lalu berkata, "Berikan nomor rekening mu, aku akan ganti-."

"Tidak perlu!," potong Bara. "Nona Alena tidak perlu menggantinya, itu bukan uangnya Mico."

“Apa katamu?!” Mico yang tersulut pun langsung meninggikan suaranya.

Ia lalu melangkah mendekat ke Bara dengan emosi yang mulai memuncak.

“Sejak kapan lo ikut campur urusanku?!” teriaknya lagi.

Namun kali ini Bara tidak mundur dan malah menjawab, “Sejak kamu mulai menyalahgunakan keadaan."

“Kurang ajar!” bentak Mico.

Ia kemudian mendorong bahu Bara cukup keras hingga sedikit terhuyung, namun tetap berdiri.

“Mico, cukup!” tegas Bara. “Ini bukan tempatnya.”

Namun Mico sudah kehilangan kendalinya dan membusungkan dadanya seraya mendorong dorong tubuh Bara. “Lo pikir Lo siapa?!” teriaknya. “Sok jadi pahlawan?!”

Keributan pun mulai terdengar keluar ruangan. Alena menutup matanya sebentar karena kelelahan dengan situasi itu.

“Cukup…” ucapnya.

Namun suara Alena tenggelam oleh emosi Mico, hingga tak lama kemudian beberapa petugas keamanan datang bergegas masuk.

“Ada apa ini?” tanya salah satu dari mereka.

Mico masih terlihat emosi, sementara Bara berusaha menahan situasi.

“Pak, mohon tenang,” ujar petugas itu sambil menahan Mico. “Ini area rumah sakit.”

“Lepaskan aku!” bentak Mico.

Sementara itu, dua petugas lain menahan Bara dengan hati-hati. “Maaf, Pak. Kami harus mengamankan dulu,” ujar mereka.

Bara tidak melawan dan hanya mengikuti. Sedangkan Mico masih berusaha memberontak, namun akhirnya berhasil ditenangkan dan dibawa keluar bersama Bara.

'Kacau emang si Mico 😁😁'

____

________

Keesokan harinya...

Setelah beberapa hari dirawat, Alena akhirnya diizinkan pulang. Meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih, dokter mengatakan kondisinya sudah cukup stabil untuk melanjutkan perawatan di rumah.

Namun, tanpa memberi tau siapa pun, terutama Max, Alena memilih pulang sendiri. Ia memesan mobil online dan duduk diam sepanjang perjalanan. Tangannya sesekali menahan bagian perutnya yang masih terasa nyeri, tetapi tatapannya tetap lurus ke depan.

Rencananya ia tidak langsung pulang ke rumah melainkan ke toko bunganya. Hingga beberapa saat kemudian mobil online tersebut berhenti tepat di depan toko.

Alena menatap bangunan itu dengan beberapa perasaannya. Rasa rindu, rasa khawatir, sekaligus perasaan takut jika ia tidak bisa mengendalikan diri.

Perlahan, ia turun dari mobil dan melangkah dengan hati-hati. Namun saat mendekati pintu toko ia tertegun.

Pintu toko dalam keadaan terbuka dan dari dalam sana terlihat seseorang. Seorang pria sedang berdiri membelakanginya dan menyirami bunga dengan hati-hati.

“Bara…?”

Pria itu tersentak.

“Eh—!”

Semprotan air di tangannya pun langsung terlepas dan jatuh ke lantai.

Plastak!

Air sedikit memercik ke mana-mana sementara Bara refleks menyentuh dadanya saking terkejut dan langsung menoleh.

“Nona Alena…?” ucapnya kaget. “Anda… sudah pulang?”

Alena tersenyum tipis karena merasa lucu atas keterkejutan Bara tersebut. “Iya. Baru saja.”

Bara masih terlihat terkejut, tapi ia buru-buru mematikan keran kecil di dekatnya, lalu mengambil semprotan yang jatuh.

“Maaf, saya tidak menyangka Anda datang sekarang,” katanya, dengan sedikit canggung.

Kemudian Alena melangkah masuk, lalu matanya menyapu seluruh ruangan. Toko itu rapi bahkan lebih rapi dari yang ia bayangkan.

Bunga-bunga tersusun indah, meja kerja bersih, dan suasana toko terasa hidup kembali.

“Kamu… yang melakukan semua ini?” tanya Alena.

Bara menatapnya sebentar, lalu mengangguk. “Saya hanya merapikan sedikit,” jawabnya.

Alena menatapnya tidak percaya. “Sedikit?” ulangnya. “Ini sudah seperti semula.”

Bara tersenyum namun tidak menjawab. Ia hanya mengalihkan pandangan, seolah tidak ingin memperbesar hal itu.

Kini, Alena berjalan perlahan ke arah meja kerja. Tangannya menyentuh permukaan meja, seolah memastikan semuanya nyata. “Terima kasih,” ucapnya.

“Sama-sama. Hmm... Seharusnya Anda masih istirahat,” kata Bara kemudian. “Kenapa langsung ke sini?”

“Kalau bukan aku yang datang… siapa lagi yang akan menjaga tempat ini?” jawab Alena.

Bara menatap wanita di depannya itu dengan takjub dan merasa jika Alena adalah wanita yang tangguh.

“Tubuh Anda belum sepenuhnya pulih,” kata Bara lebih serius. “Jangan dipaksakan.”

Alena menggelengkan kepalanya pelan-pelan. “Aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja,” katanya.

Namun, saat ia melangkah lagi wajahnya sedikit meringis dan tangannya pun refleks menahan perutnya.

Bara langsung menyadari keadaan Alena dan langsung mendekat. “Nona Alena, Anda tidak apa-apa?”

“Aku tidak apa-apa,” jawabnya, meski terlihat menahan sakit.

Akan tetapi Bara tidak langsung percaya dan khawatir. Ia lalu menarik kursi terdekat dan meletakkannya di belakang Alena.

“Silakan duduk dulu,” katanya yang terdengar tegas, tapi tetap sopan.

Alena sempat ingin menolak. Namun tubuhnya tidak cukup kuat dan akhirnya duduk dengan perlahan. “Terima kasih…”

**

Kini Bara berdiri di samping Alena dan masih memperhatikannya dengan serius. “Seharusnya Anda tidak sendirian,” katanya.

Alena menoleh namun tidak menatap langsung ke arah Bara. “Aku sudah terbiasa,” jawabnya.

Kalimat itu membuat Bara terdiam lalu bertanya dengan hati-hati. “Max tidak tau?”

“Tidak perlu,” tegas Alena.

Bara pun tidak melanjutkan topik itu, seolah tau jika Alena tidak terlalu nyaman membahasnya. Lalu, ia berinisiatif mengambil segelas air dan memberikannya pada Alena. “Minum dulu,” katanya.

Alena menerima gelas itu sambil berkata, “Terima kasih… lagi."

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!