Menjadi kaki tangan mafia, tidak menyurutkan peran ganda Mark Robert kali ini.
Duda memiliki anak satu, cantik dan cerdas itu. Tiba-tiba mengejar cinta seorang sekretarisnya. Setelah kegagalan perasaan cintanya atau hanya sekedar tanggung jawab dulu. Apakah Mark akan benar-benar jatuh cinta dan di cintai? Mengingat latar belakang hitam dirinya bukan menyurutkan wanita tidak menyukainya, malah mereka berharap dapat di sentuh pria beranak satu itu.
Selamat membaca kisah tuan Mark Robert sahabatnya Rendi Anggara ya Kak.
Salam hangat dari Herti Bilkis😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herti Bilkis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Naura
Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen yang banyak kak, favoritkan dan vote, Tip juga kak, Selamat membaca kak. Oh iya gabung group chat aku Kak ya, Emot senyum.
Setelah sampai di depan rumah kedua Pamanya, Alea berterima kasih kepada supir taksi yang berbaik hati untuk menolongnya, Alea kini berada di kamarnya lalu ia membuka semua bingkisan yang ada, beserta belanjaan yang ia beli ini semua pakaian sepatu dan juga tas yang ia beli tertata rapih di atas tempat tidurnya. Alea terdiam ketika melihat nominal di kalkulator ponselnya.
"Astaga ini benar-benar sangat banyak, kerja apaan ini? Aku bukannya dapat gaji malah hutang aku sangat numpuk ini!" gerutu Alea melempar handphone dan merebahkan tubuhnya yang merasa kelelahan.
"Tapi ... Kenapa juga dia sangat mementingkan tentang penampilanku ya? Hmm lain kali aku tanyakan deh, eh gak usah pria dingin gitu mana mau dia bicara banyak!" gumam Alea melihat langit-langit kamarnya.
Saat Alea bergelut dengan pikirannya, terdengar ketukan dari balik arah pintu kamarnya, ia kini berdiri dan menghampiri pintu kamarnya. Saat ia membuka pintu kamarnya, terlihat Bibinya yang tengah berdiri dengan senyum dan segelas susu di tangannya menyapa Alea.
"Sayang, kamu baru pulang?" tanya Ibu Isya tersenyum.
"Iya Bi, hari pertama kerja melelahkan sekali," jawab Alea menyentuh pundaknya.
"Kamu mau Bibi pijit Sayang?" tanya Ibu Isya.
"Tidak perlu Bi, aku cukup istirahat saja juga pasti baikan lagi," balas Alea.
"Hmmm, kalo begitu ini susu kamu minum! Jangan lupa turun dan makan Sayang!" ucap Ibu Isya.
Alea mengambil segelas susu di tangan Bibinya dan melihat kepergian Bibinya uang kini berjalan meninggalkan Alea yang masih berdiri. Alea menutup pintu kamarnya dengan segelas susu di tangannya. Ia berjalan meminum susunya hingga habis dan ia beralih lagi ke pakaian yang berserakan.
"Aaah, kalian lagi! Aku kok antara bahagia dan sedih tahu liat kalian. Tapi aku suka, hihi," ucap Alea tekekeh ketika mengingat dirinya yang lupa diri membelanjakan kartu warna hitam dari bosnya dan sesuka hati membelanjakannya.
"Perasaan belanja sesuka hati itu memang sangat menyenangkan dan buat awet muda, hihi," ucap Alea tersenyum mengingat kekonyolannya.
Alea merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya merentangkan kedua tangannya. Ia tersenyum mengingat hari pertama dia bekerja dan mengingat wajah tuannya yang terlihat dingin dan juga terkadang sangat tampan di matanya.
"Huh, apaan kutub utara aneh," cetus Alea.
"Hmmm, dia juga selalu bilang aku berantakan! Aku cantiknya segini, dia masih bilang aku berantakan kan aneh! Ibu saja selalu mengatakan aku cantik, apalagi ayah. Aaaah aku kangen kalian," ucap Alea tersenyum mengingat kedua orang tuanya.
Dengan tubuh yang kelelahan, Alea kini tertidur di atas tempat tidurnya, dengan dirinya mengenakan pakaian yang masih pakaian kerjanya. Ia tidak ingin terlalu banyak memikirkan tentang hal yang akan membuatnya semakin merasa pusing. Kini dengan pakaian yang ada di atas tempat tidurnya. Alea kini memejamkan kedua matanya dan tertidur tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
******
Saat pulang ke rumahnya Mark kini keluar dari mobilnya, sembari ia berjalan memasuki rumahnya disambut oleh para pelayan yang berjaga dan juga pelayan yang membukakan pintu untuknya. Saat ia memasuki rumah tiba-tiba seorang gadis mungil dan cantik berusia 5 tahun berlarian menghampiri Mark. Gadis sangat cantik dan mungil itu, mengenakan gaun selutut berwarna putih ia tampak bahagia ketika menyambut kedatangan ayahnya.
Mark tersenyum ketika mendapati sambutan dari putri satu-satunya itu, yang teramat dia cintai dan sayangi. Kini Naura berada di pangkuan Mark dengan wajah cerianya dan bahagia menyambut kedatangan ayahnya.
"Daddy, ini sudah lewat dari 5 menit! Daddy kenapa pulang terlambat?" protes Naura memajukan bibirnya merajuk.
"Daddy akan membayar keterlambatan Daddy!" balas Mark tersenyum melihat putrinya yang tengah merajuk.
"Tentu saja Daddy harus membayarnya! Jadi harus memakan semua makanan yang Naura sediakan untuk Dedi!" ucap Naura tersenyum danmencium pipi ayahnya.
"Siap Tuan Putri!" Mark tersenyum dan menggendong putrinya itu berjalan ke ruang tamu, di mana ada Iyas yang sedang duduk di sofa.
"Kau ingat pulang juga? Setelah memiliki sekretaris yang begitu cantik!" Iyas tersenyum tipis.
Mark tidak menanggapi ucapan Iyas, namun ia menatap tajam kearah sahabatnya itu, yang menurutnya banyak berbicara. Saat Mendengar hal itu Naura mengernyitkan dahinya lalu menatap ayahnya yang kini membawanya duduk di sofa.
"Daddy punya sekretaris baru?" tanya Naura dengan tersenyum manis menatap ayahnya.
"Hmm," jawab Mark.
"Apakah dia cantik? Apakah dia pintar?Apakah dia cekatan? Apakah dia bisa menjaga Daddy?" pertanyaan Naura begitu banyak kepada ayahnya.
"Yang harus di jaga itu perempuan, bukan Daddy Sayang," balas Mark tersenyum ketika mendapati pertanyaan yang begitu banyak dari putrinya. Ia lalu mencium pipi Naura.
"Hmm, lalu kenapa Daddy harus ada sekertaris?" tanya Naura.
"Untuk Daddymu siksa, hahaha," sela Iyas tertawa.
Mark menatap tajam Iyas yang kini terdiam dari tawanya terkejut mendapati sorotan tajam Mark.
"Nanti Daddy akan diceritakan. Sekarang Daddy harus ke kamar dulu bersih-bersih! Kamu jangan kemana-mana ya putri kecil!" ucap Mark sembari menyentuh hidung Naura yang kini terlihat manis dengan senyum manisnya.
Mark berdiri dan berjalan meninggalkan Iyas dan Naura. Mark menaiki tangga dan memasuki kamarnya hendak membersihkan tubuhnya. Iyas dan Naura melihat kepergian Mark menuju kamar ya ndak untuk membersihkan tubuhnya.
****
"Apa paman Tahu siapa sekretaris baru Daddy?" tanya Naura tampak penasaran ketika mendengar tentang Sekretaris baru ayahnya.
"Tentu saja paman tau! Apalagi sekretaris Daddymu itu sangat cantik. Paman saja sangat menyukainya. Oh iya Sayang? Apakah kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau itu?" balas Iyad sembari ia bertanya.
"Belum Paman, bagaimana ini apa yang harus Naura lakukan untuk mendapatkan informasi tentang ibu?" jawab Naura.
"Bagaimana kalau kamu memintanya saat kamu ulang tahun nanti kamu balas Iyas dia tersenyum.
"Ulang tahun Naura kan sebulan lagi!" Jawab Naura.
"Karena satu bulan lagi jadi kamu harus merangkai kata untuk meminta kepada Dedi mu!" Jelas iyas.
"Oh, jadi alasan seperti itu bisa di berikan buat Daddy Om?" Naura terdiam mencerna rencana pamannya.
"Hmm, kamu tau kan apa yang mau kamu minta?" tanya Iyas.
"Hmmm, Naura tau Om," Naura tersenyum.
Naura dan Iyas mereka berbincang di ruang tamu, sembari merencanakan apa saja yang akan dilakukan Naura, ketika bersama dengan ayahnya dan juga rencana dirinya yang akan ulang tahun 1 bulan lagi. Keduanya bercanda satu sama lain sembari merencanakan apa saja yang akan dilakukan beberapa hari kedepan, selama ulang tahun Naura akan dilakukan 1 bulan kemudian.