Jika menikah hanya dijadikan sebuah alat pertukaran yang saling menguntungkan satu sama lain tanpa didasari rasa cinta, akankah kebahagiaan itu tercipta?
Kinara seorang gadis yang selalu pesimis dengan masa depannya. Ia memutuskan menikah dengan Gema Putra Mahardika laki-laki yang sudah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Hal tersebut rela ia lakukan demi kelangsungan hidup seorang gadis kecil yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit yang menggantungkan hidupnya hanya pada Kinara.
Akankah cinta hadir di antara mereka meski semua bermula dari terpaksa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasil Pencocokan
"Haishh, sial*n!" geram Gema sambil mengusap kasar wajahnya.
Dia mengambil ponsel yang tergeletak di meja sebelahnya. Dia menggeser ke atas layar ponsel itu untuk membuka kunci. Rahang pria itu mengeras saat kunci terbuka dan langsung menampakkan sebuah foto, dan sepertinya sudah dari semalam foto itu terpajang di sana.
"Apa-apaan dia ini, tidur di pangkuan pria dengan sembarangan. Bagaimana kalau sampai pria itu melakukan hal yang tidak-tidak, ceroboh sekali." Gema terlihat geram melihat foto Nara yang dikirimkan oleh Paman Sam.
Gema melempar ponselnya ke sembarang arah. Dengan tidak bersemangat pria yang hanya mengenakan celana kolor berwarna hitam itu beranjak menuju ke kamar mandi.
"Aku yang harus melindungimu dan adikmu, bukan orang lain," gumam Gema sambil mengguyur tubuh atletisnya di bawah shower.
Pria itu segera meraih handuk dan membungkus tubuh bagian bawahnya. Otot-otot perut Gema terlihat jelas, bahu lebar dan lengan kekar pria itu membuat tubuhnya terlihat sangat menggoda untuk para wanita.
Gema mematutkan diri di depan cermin kamarnya. Beberapa kali pria itu mengusap wajah tampannya, memastikan tidak ada kotoran ataupun bulu yang tumbuh di sana. Pandangan pria tampan itu teralihkan saat mendengar suara ponsel yang tergeletak di atas kasur.
"Halo." Gema mengangkat ponselnya dan menjawab dengan nada datar.
"Tuan Gema, saya dokter Efran. Hasil pencocokan anda sudah keluar," ucap dokter yang membantu Gema melakukan tes kecocokan ginjal dengan Yana.
"Baik, saya akan ke sana." Gema menutup telepon dan segera beranjak dari kamarnya.
Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui hasilnya. Perasaan Gema kembali dibuat tidak karuan. Pria yang sudah memakai setelan jas berwarna hitam itu, sangat berharap ginjalnya cocok sehingga dia bisa memenuhi permintaan Ibu Sari untuk menolong putrinya. Gema ingin sekali menginjak pedal gas mobilnya dengan kecepatan maksimal, tapi jalanan kota Jakarta yang padat merayap membuat pria itu harus kembali bersabar.
Gema berjalan menuju ruangan dokter Efran dengan langkah lebar. Namun langkah pria itu terhenti saat melihat orang yang sangat familiar sedang tertidur di kursi lorong rumah sakit.
"Paman, sttt. Heii." Gema menendang kecil ujung kaki Paman Sam yang masih terlelap.
"Eh, i—iya, Tuan Muda."
"Aku meminta Paman mengawasinya, bukan numpang tidur. Aissh ..." desis Gema kesal.
"Maaf, Tuan Muda. Saya baru saja tidur," jawab Paman Sam berusaha membela diri.
"Benarkah? Dimana gadis itu sekarang?" tanya Gema menyelidik.
Paman Sam menaikkan kedua alisnya. Dia tidak tahu apa-apa lagi setelah mengambil foto, karena dirasa sudah aman melihat Nara sudah tertidur, dia pun memutuskan untuk tidur juga. Mata Paman Sam berkeliling mencari keberadaan gadis itu, tapi nihil dia tidak terlihat di manapun.
"Sudahlah, ikuti aku." Gema melenggang pergi meninggalkan pria yang sudah berumur tersebut.
Dengan segera Paman Sam merapikan diri dan menyusul tuan mudanya itu dengan langkah lebarnya. Dia tahu betul apa yang ingin dilakukan tuan muda yang sudah dia anggap seperti putranya itu, hati Paman Sam belum rela jika sampai hasilnya cocok, tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah keinginan Gema.
Gema masuk begitu saja ke dalam ruangan dokter senior tersebut. "Bagaimana hasilnya?" tanya Gema tanpa berbasa-basi.
Ya, Gema baru saja menanam saham di rumah sakit tersebut. Demi mempermudah rencananya, dia harus memiliki kuasa dan akses penuh, begitulah yang selalu dilakukan olehnya. Gema tidak ingin membuang-buang waktu dengan bernegosiasi.
Dokter Efran mengeluarkan surat dari dalam amplop berwarna coklat. Dokter itu melirik sekilas ke arah Gema yang sudah duduk dengan penuh wibawa di hadapannya. Sejak hari dimana pimpinan rumah sakit memperkenalkan dirinya dengan Gema, saat itu juga dia ditunjuk sebagai penanggung jawab atas perawatan Kiyana oleh Gema.
"Dari hasil pencocokan ini semua sesuai, mulai dari golongan darah, cek jaringan, dan tes kecocokan darah, hasilnya cocok. Kita bisa melakukan prosedur pendonoran," jelas dokter Efran.
Bersambung ....
berani tidak author buat scen kayak gini
aku paling sebel kalo BAB kepanjangan. selain itu, kalo mau beralih ke cerita baru pun, aku akan cari episode yg tidak terlalu panjang, kalo bisa di bawah 100 chapters.
Jadi, episodenya pendek, cerita per BAB/chapter nya juga pendek. setelah itu baru deh berharap cerita nya bagus.