NovelToon NovelToon
Marcella & Olivia

Marcella & Olivia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Denny Ramdhani

Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.

Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.

Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Malam yang Tenang

Marcella melangkah turun dari taksi, merapatkan cardigan rajutnya untuk menghalau angin malam yang menusuk tulang. Setelah seharian terjebak dalam urusan yang melelahkan di luar, rumah adalah satu-satunya tempat yang ingin dia tuju. Namun, saat taksinya berbelok di ujung gang tadi, matanya sempat menangkap sorot lampu sebuah sepeda motor yang melesat pergi dengan kecepatan tinggi ke arah berlawanan.

Marcella mengernyit kecil. Siluet pengendara dan bunyi mesin motor itu terasa sangat familiar di telinganya. "Kayak motor Doni", batinnya berspekulasi. Namun, dia segera menggelengkan kepala, menepis pikiran itu. Tidak mungkin Doni ada di sini. Pacarnya itu sudah bilang kalau dia sedang mengerjakan tugas kelompok di kosan temannya sejak siang tadi.

Dengan langkah lelah, Marcella membuka pagar besi, berjalan melewati teras, dan membuka pintu depan yang tidak terkunci. Rumah itu terasa sunyi karena beberapa lampu sudah dimatikan. Dia lalu melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk menuju lantai dua. Dia ingin memeriksa keadaan adiknya di kamarnya.

Tok! Tok! Tok!

“Liv... Kamu udah tidur?” bisik Marcella pelan setelah mengetuk pintu kamar Olivia.

Tidak ada jawaban dari dalam. Marcella kemudian membuka pintu kayu itu perlahan, yang ternyata tidak dikunci oleh adiknya. Kamar itu cukup remang-remang, karena lampu utamanya sudah dimatikan, dan hanya menyisakan cahaya dari lampu tidur yang berada di atas meja. Di atas ranjang, tampak Olivia yang berselimut tebal hingga ke leher. Posisi Olivia sekarang memunggunginya. Hanya bagian belakang rambutnya yang masih terikat yang dapat dilihat oleh Marcella.

Marcella melangkah masuk dengan sangat pelan, takut mengganggu istirahat adiknya. Dia duduk di tepi ranjang, lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Olivia. Terasa agak hangat, dan sisa-sisa keringat dingin masih terasa di pelipis gadis itu. Efek dari sisa olahraga fisik sore tadi yang kini menjadi alibi yang sempurna.

“Masih capek banget ya, Liv?” bisik Marcella lembut, takut membangunkan adiknya yang mungkin sudah terlelap di alam mimpi. “Ya udah, lanjut aja tidurnya. Aku ke kamar, ya”, sambungnya sambil beranjak dari tempat tidur Olivia.

Namun, sebelum Marcella bergerak ke pintu kamar, Olivia perlahan membalikkan tubuhnya. Dia membuka matanya pelan, menatap Marcella dengan ekspresi lelah yang sangat meyakinkan. Akting tingkat dewa yang dia gunakan pada satpam mall tadi kembali dia keluarkan, bahkan kali ini lebih halus.

“Eh, Kak Cella. Baru pulang ya, Kak?” sahut Olivia dengan suara yang sengaja dibuat agak serak.

“Iya, barusan aja. Suaraku berisik banget, ya? Kamu jadi kebangun. Maaf, ya”, jawab Marcella sambil tangannya mengelus rambut adiknya dengan sayang. “Kamu tadi pulang sama siapa? Temen?” tanya Marcella perhatian.

“Nggak. Tadi Pesen ojol”, bohong Olivia tanpa ragu dan gugup sedikitpun.

“Oh, gitu. Pantesan…” Marcella menghembuskan napas lega, namun masih tampak seperti menyisakan keraguan di wajahnya.

“Pantesan kenapa, Kak?” tanya Olivia penasaran melihat ekspresi wajah kakaknya.

“Nggak, Liv. Tadi pas sebelum taksi aku nyampe, aku lihat ada motor yang ngebut banget di depan rumah. Tapi, suara sama model motornya mirip banget sama punya Doni. Warna motornya juga sama. Dan, kamu tau? Jaket orangnya juga persis sama jaket Doni yang pernah aku belikan pas dia ulang tahun! Aku inget banget”, cerita Marcella penuh kecurigaan. “Kamu... nggak ada lihat Doni datang kesini, kan?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, membuat atmosfer di dalam kamar mendadak terasa membeku bagi siapa pun yang mengetahui kebenaran di baliknya. Pertanyaan itu terdengar menginterogasi. Tapi tidak bagi Olivia. Dia tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun. Matanya yang sayu tetap menatap Marcella dengan lempeng, seolah pertanyaan itu tak lebih dari sekedar angin lalu. Dia menarik selimutnya sedikit lebih tinggi. Aktingnya pun dimulai lagi.

“Hah? Kak Doni? Ngapain dia kesini, Kak? Malam-malam begini”, jawab Olivia santai sambil tersenyum tipis. Dia kemudian mengernyitkan kening, seperti mengingat-ngingat sesuatu. “Kalau nggak salah, Kak Cella kan pernah cerita kalau Kak Doni itu penakut. Dia pernah sampai nolak nganter Kakak malam-malam karena dia takut lewatin jalanan yang gelap, kan?” cerita Olivia sambil tertawa kecil.

“Iya, ya?” Marcella mencoba mengingat-ngingat juga.

“Iya kan, Kak?” Melihat Marcella mulai yakin, Olivia meneruskan cerita yang dia ingat. “Terus, Kak Cella juga pernah cerita kan, kalau Kak Doni itu anaknya safety riding banget. Dia kalau lagi bonceng Kakak, pasti jalannya pelan banget. Biarpun ada mobil truk gede di depannya, dia tetap nggak berani buat nyalip. Nggak tau deh, beneran safety riding atau emang pengen lama-lama aja berduaan di atas motor. Ciyee…” Olivia menutup akting pura-pura tidak tahunya dengan menggoda Marcella.

Marcella hanya tersenyum tipis mendengar itu. Jawaban Olivia yang membawa-bawa kembali cerita masa lalu itu langsung mengenai sasaran, dan membangkitkan lagi kenangan-kenangan romantis Marcella dan Doni. Kenangan akan karakter Doni yang Olivia ceritakan berhasil mengeluarkan tawa kecil dari bibir Marcella.

“Lucu juga ya, si Doni. Aku jadi nggak kepikiran sampai situ. Jangan-jangan dia emang sengaja lagi jalannya dia pelanin kalau lagi bonceng aku”, ucap Marcella tersipu, disusul tawa renyahnya dan Olivia yang hampir berbarengan.

“Makanya, Kak. Kayaknya nggak mungkin kalau Kak Doni naik motor malam-malam gini, ngebut pula. Mungkin anak-anak kompleks sini lagi mau balapan, atau mungkin juga ojol aku yang tadi”, alasan Olivia yang masuk akal itu semakin meyakinkan Marcella.

“Bisa jadi. Kayaknya aku salah lihat tadi”, ujar Marcella, sepenuhnya melonggarkan kewaspadaan. “Ya udah, kamu lanjut tidur sana. Aku mau mandi dulu terus langsung tidur”, sambungnya sambil berdiri dari tepi kasur.

“Aduduh… baru juga nggak ketemu sehari udah kangen banget ya, Kak? Sampai kepikiran gitu. Ojol dikira pacarnya”, goda Olivia lagi lalu menarik selimutnya sampai menutupi seluruh badannya.

“Berisik kamu! Sana tidur”, omel Marcella dengan nada bercanda sambil melemparkan bantal bergambar logo Chelsea FC yang ada di dekatnya ke Olivia yang sudah terbungkus selimut.

Olivia hanya tertawa puas di balik selimutnya. Dia berhasil menggoda Marcella sampai salah tingkah, dan berhasil meyakinkan kakaknya itu dengan memadukan alasan yang dia buat dengan aktingnya yang sempurna.

Begitu terdengar suara pintu kamarnya tertutup rapat dan langkah kaki Marcella menjauh menuju kamarnya sendiri, Olivia langsung membuka lagi selimutnya. Tatapan sayunya yang tadi langsung menghilang, digantikan oleh kilatan mata yang penuh kepuasan.

Olivia berbalik, meraba kolong bantalnya, dan mengeluarkan ponselnya yang disembunyikan di sana. Dia membuka aplikasi chat dan mengetik sebuah pesan singkat yang ditujukan kepada sosok yang dia dan kakaknya bicarakan sejak tadi. Bibirnya menorehkan senyum kemenangan sebelum menekan tombol kirim.

“Semuanya berjalan sesuai rencana”, batinnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!