NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23.

Bel pulang akhirnya berbunyi.

Suara riuh langsung memenuhi setiap sudut sekolah. Para siswa bergegas membereskan buku dan tas mereka sebelum berhamburan keluar kelas.

Alesha menutup buku terakhirnya lalu meregangkan kedua tangannya.

"Akhirnya selesai juga."

Dinda yang sedang memasukkan buku ke dalam tas tertawa kecil.

"Capek?"

"Banget."

"Padahal hari ini kamu serius terus."

Alesha mengangguk.

"Itu dia yang bikin capek."

Dinda hanya menggeleng sambil tersenyum.

Mereka berdua kemudian berjalan keluar kelas.

Di koridor, banyak siswa berlalu-lalang sambil bercanda. Beberapa guru juga terlihat berjalan menuju ruang guru.

Saat menuruni tangga, Dinda tiba-tiba berhenti.

"Les."

"Hm?"

"Besok jangan lupa bawa bahan tugas kelompok."

Alesha langsung mengangguk.

"Iya."

"Yakin ingat?"

Alesha tersenyum lebar.

"Kali ini ingat."

Dinda tertawa.

"Semoga saja."

Sesampainya di parkiran, Kevin ternyata sudah menunggu sambil bersandar di motornya.

Melihat Alesha datang, ia langsung berdiri.

"Sudah selesai?"

"Iya, Kak."

"Gimana sekolah hari ini?"

Alesha tersenyum bangga.

"Nggak tidur."

Kevin langsung terkekeh pelan.

"Itu memang sudah seharusnya."

Alesha langsung mencibir.

"Kak, kenapa sih masih dibahas?"

"Soalnya itu pencapaian terbesar kamu."

"Ih."

Dinda yang mendengar percakapan kakak beradik itu ikut tertawa.

"Besok ketemu lagi ya, Les."

"Iya, hati-hati."

Dinda melambaikan tangan sebelum berjalan menuju gerbang sekolah.

Tak lama kemudian, Arka, Reza, dan Alvian juga keluar dari gedung utama.

Reza yang melihat Kevin langsung menyapa.

"Vin."

Kevin mengangguk.

"Pulang?"

"Iya."

Reza kemudian melirik Alesha.

"Hari ini aman?"

Alesha langsung menyilangkan tangan di depan dada.

"Aku sekarang anak baik."

Reza menahan tawa.

"Iya, iya."

Arka yang berdiri di samping mereka hanya melirik Alesha sekilas.

"Besok jangan lupa tugas kelompok."

Alesha sedikit terkejut.

"Kamu tahu?"

"Tadi guru kelasmu bertemu Bu Rina di ruang guru."

"Oh..."

Alesha mengangguk pelan.

"Tenang, kali ini aku nggak bakal lupa."

Arka mengangguk singkat.

"Bagus."

Mendengar kata itu, Alesha kembali tersenyum.

Kevin yang memperhatikan sejak tadi hanya menggeleng kecil.

Entah kenapa, setiap kali Arka mengucapkan satu kata sederhana itu, adiknya selalu terlihat jauh lebih bersemangat.

Dan itu membuat Kevin mulai merasa ada sesuatu yang perlahan berubah... meski ia sendiri belum bisa menjelaskannya.

Di perjalanan pulang, Alesha duduk di belakang motor Kevin sambil menikmati angin sore.

Jalanan tidak terlalu ramai, membuat perjalanan mereka terasa santai. Sesekali Alesha melihat deretan toko dan pepohonan yang mereka lewati.

"Kak."

"Hm?"

"Aku mau mampir ke toko alat tulis."

Kevin melirik melalui kaca spion.

"Buat apa?"

"Beli stabilo sama sticky note."

"Bukannya di rumah masih ada?"

Alesha menggaruk pipinya pelan.

"Habis."

Kevin menghela napas kecil.

"Yakin habis?"

"Iya."

"Atau cuma pengin beli yang lucu-lucu?"

Alesha langsung tertawa canggung.

"Sedikit."

Kevin sudah hafal kebiasaan adiknya.

Kalau sudah masuk toko alat tulis, Alesha bisa menghabiskan waktu hampir satu jam hanya untuk memilih pulpen, buku catatan, atau stiker dengan gambar yang menurutnya menggemaskan.

"Baiklah."

Motor pun berhenti di depan sebuah toko alat tulis.

Begitu masuk, mata Alesha langsung berbinar.

"Wah..."

Kevin yang melihat ekspresi itu langsung menyilangkan tangan.

"Jangan lama."

"Iya."

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Kevin yang menunggu di dekat kasir mulai kehilangan kesabaran.

"Alesha."

"Iya, Kak."

"Kamu pilih alat tulis atau buka toko?"

Alesha menoleh sambil membawa beberapa pulpen warna-warni.

"Bentar lagi."

Kevin hanya bisa menggeleng.

Tak lama kemudian, Alesha akhirnya selesai memilih.

Di tangannya ada satu bungkus stabilo, sticky note berbentuk bunga, dua pulpen, dan sebuah buku catatan kecil berwarna biru muda.

Kevin melihat belanjaan itu.

"Tadi katanya cuma stabilo."

Alesha tersenyum lebar.

"Diskon."

"Itu alasan klasik."

Alesha terkekeh pelan.

Setelah membayar, mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang.

Sesampainya di rumah, Oma yang sedang menyiram tanaman langsung menyapa mereka.

"Sudah pulang?"

"Iya, Oma."

Oma tersenyum melihat kantong belanja di tangan Alesha.

"Beli apa lagi?"

"Alat tulis."

Kevin langsung menyela.

"Katanya cuma stabilo."

Alesha langsung memonyongkan bibir.

"Kak..."

Oma tertawa kecil.

"Sudahlah. Selama dipakai untuk belajar tidak apa-apa."

Mendengar pembelaan Oma, Alesha langsung tersenyum bangga.

"Nah, Oma mengerti aku."

Kevin hanya menggeleng sambil masuk ke dalam rumah.

Melihat kakaknya berjalan pergi, Alesha diam-diam tersenyum.

Walaupun Kevin sering mengomel, ia tahu kakaknya selalu menuruti permintaannya.

Dan itu membuat Alesha merasa sangat beruntung memiliki seorang kakak yang selalu menjaganya.

Malam itu, setelah makan malam bersama, Alesha langsung naik ke kamarnya sambil membawa kantong belanja yang tadi ia beli.

Ia mengeluarkan satu per satu isi kantong tersebut.

"Stabilo... pulpen... sticky note..."

Pingky yang berada di dekat pintu kamar berjalan mendekat sambil mengeluarkan suara kecil.

"Kwek."

Alesha tersenyum.

"Iya, aku tahu. Kamu juga penasaran."

Ia mengambil buku catatan berwarna biru muda, lalu menempelkan sebuah sticky note berbentuk bunga di halaman pertama.

"Hmm... bagus."

Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan dari luar kamar.

Tok... tok... tok...

"Masuk."

Kevin membuka pintu lalu masuk sambil membawa segelas susu hangat.

"Nih."

Alesha menatap kakaknya.

"Untuk aku?"

Kevin mengangguk.

"Iya."

Alesha menerima gelas itu dengan senyum lebar.

"Makasih, Kak."

"Jangan tidur terlalu malam."

Alesha langsung mengangguk.

"Iya."

Kevin melihat meja belajar Alesha yang kini jauh lebih rapi dibanding beberapa minggu lalu.

Buku-buku tersusun rapi, alat tulis berada di tempatnya, bahkan jadwal pelajaran ditempel di dinding.

"Rapih juga."

Alesha tersenyum bangga.

"Aku yang beresin."

Kevin mengangguk kecil.

"Bagus."

Mendengar pujian itu, Alesha langsung terkekeh.

"Kak Kevin akhir-akhir ini sering muji aku."

Kevin memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Kalau memang bagus, ya dibilang bagus."

"Tapi dulu jarang."

"Dulu kamu jarang bikin hal yang bisa dipuji."

Alesha langsung cemberut.

"Kak..."

Kevin tertawa pelan.

"Bercanda."

Alesha mendengus kecil, tetapi sudut bibirnya ikut terangkat.

Setelah Kevin keluar dari kamar, Alesha membuka buku tugas kelompoknya.

Ia mulai mengerjakan bagian yang menjadi tanggung jawabnya.

Sesekali ia membuka buku pelajaran untuk memastikan jawabannya benar.

Hampir satu jam berlalu.

Alesha akhirnya menutup bukunya sambil meregangkan badan.

"Fiuh... selesai."

Ia melihat jam dinding.

Baru pukul sembilan malam.

Biasanya pada jam seperti ini ia masih bermain ponsel atau menonton video.

Namun kali ini ia memilih membereskan meja belajarnya.

Setelah semuanya rapi, ia mematikan lampu meja dan naik ke atas kasur.

Sebelum memejamkan mata, Alesha mengambil ponselnya sebentar.

Ada satu pesan dari Dinda.

Dinda: "Jangan lupa besok bawa tugas kelompok."

Alesha langsung membalas.

Alesha: "Tenang. Sudah masuk tas dari sekarang."

Tak lama kemudian, Dinda mengirim stiker tertawa.

Alesha ikut tersenyum.

"Kayaknya dia benar-benar nggak percaya sama ingatanku."

Ia pun memasukkan ponsel ke meja samping tempat tidur.

"Besok pasti bakal jadi hari yang menyenangkan."

Dengan senyum tipis di wajahnya, Alesha menutup mata.

Sementara di kamar sebelah, Kevin yang baru selesai membaca buku tersenyum kecil.

Mendengar rumah yang sudah kembali sunyi, ia tahu adiknya benar-benar sudah tidur lebih awal.

"Itu baru Alesha yang seharusnya," gumamnya pelan sebelum ikut mematikan lampu kamarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!