Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAb 4: Buronan Sekte Awan Langit
Hujan turun semakin deras, seperti paku-paku es yang menghantam kulit.
Lin Yuan berdiri dengan pedang besi yang berat di tangannya. Qi yang baru terbentuk di dalam meridiannya masih mengalir liar, tidak terkendali, rasanya juga perih.
Di hadapannya, Han Lie terduduk di lumpur. Wajahnya pucat seperti kertas.
Beberapa menit lalu, ia masih menganggap Lin Yuan sampah tanpa Akar Roh. Sekarang justru dialah yang terbaring dengan pergelangan tangan patah.
"Tidak mungkin..." Han Lie menggertakkan gigi, air hujan dan darah bercampur di dagunya.
"Aku Tubuh Fana Tingkat Tiga... bagaimana bisa aku kalah dari sampah Tingkat Satu..."
Lin Yuan menatapnya tanpa emosi. Tidak ada kasihan.
"Kau kalah bukan karena aku lebih kuat," jawabnya dingin.
Han Lie mengangkat kepala.
"Kau kalah karena sejak awal kau sudah menganggap aku mati. Orang yang meremehkan nyawa orang lain, biasanya mati duluan."
Wajah Han Lie membiru menahan malu.
Ia hendak membalas makian, tapi sebuah suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari atas tebing.
Tap... Tap... Tap...
Tidak cepat. Tidak keras. Namun setiap pijakannya membuat genangan air di jalan gunung bergetar, dan udara di sekitar mereka terasa semakin berat, seolah oksigennya disedot habis.
Empat murid yang tumbang tadi langsung mengangkat kepala dengan mata berbinar.
Sesosok pemuda berjubah putih berjalan turun dari balik tirai hujan. Jubahnya berkibar pelan, tidak basah sedikit pun meski hujan deras.
Rambut panjangnya tetap rapi, wajahnya tenang seperti sedang jalan-jalan di taman.
Zhao Feng. Murid Luar Nomor Satu Sekte Awan Langit.
Begitu melihatnya, Han Lie seperti melihat dewa penyelamat dan langsung berteriak.
"Kakak Senior Zhao! Selamatkan aku! Sampah ini... sampah ini pakai ilmu sesat!"
Zhao Feng tidak menjawab. Ia bahkan tidak melirik Han Lie yang tergeletak di lumpur seperti anjing. Sejak awal, tatapannya hanya mengunci Lin Yuan.
Langkahnya berhenti sekitar dua puluh meter jauhnya.
Dan keheningan langsung menyelimuti jalan gunung. Bahkan suara hujan seolah mengecil.
Bahkan Han Lie pun langsung menundukkan kepala, tidak berani menatap lagi.
Lin Yuan menggenggam pedangnya lebih erat sampai buku jarinya memutih. Meski Zhao Feng belum melepas aura sedikit pun, bulu kuduk Lin Yuan berdiri semua. Naluri dari Insting Tempur-nya berteriak keras di dalam kepala.
Berbahaya. Sangat berbahaya.
Jangan mendekat.
Suara itu segera bergema.
Target kuat terdeteksi.
Nama: Zhao Feng.
Kultivasi: Pengumpul Qi Tingkat 2.
Peluang menang langsung: 0 persen.
Pupil mata Lin Yuan mengecil. Pengumpul Qi. Jadi itu nama ranah setelah Tubuh Fana. Ia baru saja masuk Tingkat Satu, jaraknya seperti langit dan bumi.
Suara itu berbisik, nadanya terdengar mendesak.
Takdir Kematian baru terbentuk.
Saran: Lari.
Untuk pertama kalinya sejak sistem itu bangkit, Lin Yuan tidak diberi jalan kemenangan. Hanya satu perintah. Lari.
Zhao Feng menyapu tubuh Han Lie dengan pandangan jijik sekilas, lalu tersenyum tipis ke arah Lin Yuan.
"Lima orang. Empat Tingkat Dua. Satu Tingkat Tiga. Namun kalian semua dikalahkan oleh seseorang yang pagi tadi bahkan tidak bisa merasakan Qi." Suaranya lembut, tapi setiap katanya menusuk seperti jarum.
Han Lie menunduk semakin dalam.
"Maafkan aku, Kakak Senior..."
"Diam."
Satu kata itu. Hanya satu kata tenang. Namun membuat Han Lie langsung membeku dan menggigit bibirnya sampai berdarah. Tidak berani bernapas keras.
Zhao Feng maju selangkah lebih dekat. Matanya memperhatikan uap tipis yang keluar dari tubuh Lin Yuan.
"Pagi tadi kau sampah. Sekarang kau cultivator. Semuanya terjadi setelah Bola Roh hancur."
Tatapannya berubah tajam seperti elang melihat tikus.
"Sepertinya ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhmu yang busuk itu."
Lin Yuan tidak menjawab, tapi setiap perubahan kecil tidak luput dari tatapannya.
Senyum Zhao Feng semakin dalam dan serakah.
"Sepertinya tebakanku benar."
Lin Yuan mengangkat pedangnya yang berat. "Jadi kau ingin mengambilnya?"
"Bukan ingin." Zhao Feng menggeleng pelan, seolah mengajari anak kecil.
"Aku akan mengambilnya. Dengan membelah kepalamu."
BOOOM!
Aura Pengumpul Qi Tingkat Dua meledak keluar dari tubuh Zhao Feng. Bukan angin, tapi gelombang Qi putih kebiruan yang nyata.
Batu-batu kecil beterbangan, pepohonan bergoyang hebat. Tubuh Han Lie dan keempat murid lainnya langsung terdorong mundur dan menghantam tebing.
Lin Yuan menancapkan pedangnya ke tanah agar tidak terhempas. Lengan kanannya bergetar hebat, luka di dadanya kembali sobek dan berdarah.
Hanya dari aura saja sudah cukup untuk membuatnya hampir berlutut. Inilah perbedaan ranah.
Zhao Feng berjalan mendekat tanpa terburu-buru, seperti kucing mempermainkan tikus.
"Langit telah membuangmu. Sekte juga telah membuangmu. Sekarang kau seharusnya tahu tempatmu. Di bawah kakiku."
Lin Yuan menahan tekanan yang menghantam tubuhnya sampai giginya berdarah. Namun ia tetap mengangkat kepala dan menatap langsung mata Zhao Feng.
"Kalau langit tidak menginginkanku..." Tangannya mencabut pedang dari tanah dengan susah payah.
"...aku akan merebut langit itu untuk diriku sendiri."
Senyum Zhao Feng hilang seketika. Untuk pertama kalinya, niat membunuh murni yang dingin muncul di matanya.
"Kalau begitu, matilah bersama kesombonganmu."
Tubuhnya sedikit membungkuk. Qi putih kebiruan berkumpul dan berderak di kedua kakinya.
Suara itu berteriak nyaring di kepala Lin Yuan.
Bahaya mematikan terdeteksi.
Tiga jalur pelarian ditemukan.
Di depan mata Lin Yuan, tiga garis cahaya muncul. Dua merah pekat yang berarti kematian. Hanya satu yang berwarna kuning pucat yang mengarah menuju sisi tebing curam, lalu turun ke sungai deras yang bergemuruh di bawah gunung.
Peluang selamatnya... hanya dua puluh tujuh persen.
Lin Yuan menarik napas dalam yang berisi darah.
Sedikit peluang lebih baik daripada menunggu mati diinjak.
Saat bayangan Zhao Feng menghilang dari tempatnya...
Lin Yuan berbalik dan melompat terjun bebas ke tepi tebing.
Ia melompat tanpa sedikit pun keraguan.
Tidak ada teriakan, tidak ada drama. Tubuhnya melesat meninggalkan jalan pegunungan dan langsung ditelan angin dingin yang menerpa wajahnya seperti pisau.
"Dia... dia melompat! Gila!" Han Lie berteriak tidak percaya. Tak seorang pun menyangka Lin Yuan lebih memilih jurang yang tidak ada dasarnya daripada menghadapi Zhao Feng.
Namun senyum tipis justru muncul di wajah Zhao Feng. Senyum jijik.
"Masih ingin main petak umpet denganku? Kau pikir sungai bisa menyelamatkanmu?"
Whuuush!
Tubuhnya menghilang dari tempatnya berdiri. Dalam sekejap, ia sudah muncul di bibir tebing yang licin, jubah putihnya berkibar.
Qi putih kebiruan berkumpul dengan cepat di telapak tangan kanannya hingga menimbulkan suara berderak seperti kaca retak.
"Telapak Pemecah Awan!"
BOOOM!
Sebuah telapak raksasa yang terbuat dari Qi padat meluncur turun ke arah Lin Yuan yang sedang jatuh. Tekanannya membuat udara di jurang bergetar hebat dan kabut tersibak.
Suara dingin berteriak di kepala Lin Yuan.
Serangan energi terdeteksi.
Peluang menghindar: 11 persen.
Lin Yuan memutar tubuhnya di udara dengan paksa. Otot perutnya sobek karena gerakan itu. Meski Insting Tempur terus berteriak menyuruh menghindar, perbedaan kekuatan mereka seperti anak kecil lawan orang dewasa.
DUAAAR!!
Telapak Qi itu tidak menghantam telak, hanya menyerempet bahu kirinya. Namun rasanya seperti dihantam palu godam seberat satu ton.
"UGH!"
Darah segar menyembur dari mulut Lin Yuan, bercampur air hujan. Tulang selangkanya berbunyi krek. Tubuhnya berubah arah dan menghantam keras dinding tebing yang penuh lumut.
BRAAK!
Batu-batu pecah berhamburan. Punggungnya serasa remuk. Beberapa tulang rusuknya dipastikan retak karena ia bahkan tidak bisa menarik napas.
Namun benturan itu justru menyelamatkannya. Pantulannya membuat tubuhnya terpental dan jatuh tepat menuju sungai deras yang bergemuruh di bawah.
BYURRR!!
Air dingin yang sedingin es langsung menelan sosoknya hidup-hidup. Arus sungai yang mengamuk akibat hujan seharian langsung menyeret tubuhnya seperti boneka kain.
Di atas tebing, Han Lie mengembuskan napas lega sampai terduduk.
"Dia pasti mati... jatuh dari ketinggian ditambah Telapak Pemecah Awan Senior... tidak mungkin hidup..."
Namun Zhao Feng masih berdiri diam di bibir tebing. Tatapannya tetap tertuju ke arah sungai yang keruh di bawah. Ia tidak menunjukkan rasa puas sedikit pun.
"Tidak. Orang licik seperti dia tidak akan mati semudah itu."
Han Lie terkejut. "Kakak Senior Zhao?"
Zhao Feng mengalihkan pandangan dinginnya ke Han Lie.
"Mulai hari ini, laporkan ke Aula Misi. Siapa pun yang menemukan mayat Lin Yuan, atau membawanya hidup-hidup, akan kuberikan 100 Batu Roh dari tabunganku pribadi."
Empat murid yang masih mampu berdiri langsung membelalakkan mata. 100 Batu Roh! Itu gaji setengah tahun murid luar!
Han Lie menelan ludah. "Kakak... apakah perlu sampai seperti itu hanya untuk sampah..."
Zhao Feng menatap sungai yang menghilang di balik kabut, suaranya pelan namun mematikan.
"Bocah itu pagi tadi sampah. Sore ini sudah bisa mematahkan tanganmu. Kalau kubiarkan dia hidup tiga bulan lagi, mungkin giliran leherku yang dipatahkan. Memberantas bibit masalah harus dari akarnya."
Angin gunung bertiup semakin kencang. Hujan perlahan mereda.
Di sisi lain, tubuh Lin Yuan masih terseret arus tanpa kesadaran penuh. Kepalanya beberapa kali menghantam batu sungai yang tajam. Darah terus mengalir dari luka di bahunya, membuat air di sekitarnya menjadi merah.
Suara itu terdengar samar, putus-putus.
Tuan luka berat.
Vitalitas: 31 persen.
Mencari peluang bertahan hidup...
Arus semakin deras, semakin dalam. Beberapa saat kemudian, tubuh Lin Yuan tersedot oleh pusaran air besar di tengah sungai.
Whooosh!
Pusaran itu menyeretnya paksa ke dasar sungai yang gelap gulita. Kegelapan total menyelimuti segala arah, dinginnya menusuk sampai ke tulang.
Saat kesadarannya hampir padam sepenuhnya, matanya yang setengah tertutup melihat sesuatu.
Di dasar sungai yang seharusnya hanya ada lumpur, berdiri sebuah gerbang batu raksasa. Gerbang itu dipenuhi lumut hijau tebal dan cangkang kerang, terkunci oleh sembilan rantai hitam yang sudah berkarat.
Meski telah terkubur entah berapa ribu tahun, aura yang keluar dari celahnya masih membuat air di sekitarnya bergetar dan tidak berani mendekat.
Pada saat yang sama, gerbang hitam di dalam lautan kesadaran Lin Yuan yang tadinya diam, tiba-tiba bergetar hebat seperti bertemu saudara tuanya.
Klang! Klang! Klang!
Suara rantai bergema tanpa henti, lebih keras dari sebelumnya.
Suara sistem yang biasanya dingin, kini terdengar bergetar karena rakus.
Fluktuasi Takdir kuno ditemukan.
Warisan lapar telah ditemukan.
Kecocokan... sempurna.
Mata Lin Yuan yang hampir tertutup perlahan terbuka sedikit. Di balik gerbang batu berlumut itu, seolah ada sesuatu yang telah menunggunya, telah kelaparan selama ribuan tahun, menunggu seorang Pemakan Takdir datang.
Bersambung...