Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.
Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.
Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Kaleng Dari Masa Lalu
Getaran ponsel di atas meja kayu jati itu seolah memotong paksa kehangatan yang baru saja tercipta di antara mereka. Arkan mengernyitkan dahi, melirik layar yang berkedip-kedip menampilkan deretan nomor yang tidak dikenal. Genggaman tangannya pada jemari Kinanti perlahan terlepas saat ia meraih perangkat hitam tersebut.
"Siapa, Pak?" tanya Kinanti, menyadari perubahan drastis pada raut wajah bosnya. Aura santai yang beberapa detik lalu melingkupi Arkan menguap begitu saja, digantikan oleh kewaspadaan tinggi khas seorang pemimpin yang mendeteksi ancaman.
Arkan tidak langsung menjawab. Ia menggeser layar, membuka sebuah pesan teks yang masuk tepat setelah panggilan tak terjawab itu berhenti. Sepasang mata hijau zamrudnya menyipit tajam membaca deretan kalimat pendek yang tertulis di sana.
“Keseimbangan Takdir tidak bisa dibeli dengan saham atau uang, Arkananta. Rangga mungkin bisa kamu bungkam dengan berkas korupsi, tetapi rahasia Serat Jayaning Mahardika tidak akan selamanya terkunci di perpustakaan bawah tanah Menteng. Ada harga yang harus dibayar untuk setiap detik kebebasanmu malam ini. Temui aku di dermaga lama Sunda Kelapa, besok malam pukul sepuluh. Sendiri. Atau rahasia wujud bulumu akan menjadi konsumsi publik hari Senin pagi.”
Wajah Arkan mengeras, rahangnya mengetat hingga urat-urat di lehernya menonjol. Pria itu meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dengan ketukan yang cukup keras, membuat gelas wiski di dekatnya sedikit berdenting.
"Pak Arkan? Ada apa?" Kinanti mencondongkan tubuhnya, raut cemas kini menghiasi wajah cantiknya.
Arkan memutar ponselnya, mengarahkannya ke depan Kinanti agar gadis itu bisa membaca sendiri pesan ancaman tersebut. Begitu mata Kinanti selesai memindai kata demi kata, napasnya tertahan. Jantungnya yang tadi berdegup karena debaran romantis kini berpacu karena kepanikan baru.
"Rangga? Apa dia mencoba menggertak kita lagi?" bisik Kinanti, mencoba mencari logika di balik situasi ini. "Tapi saya sudah mengunci semua pergerakannya. Surat pengunduran dirinya sudah resmi ditandatangani oleh HRD sore tadi."
"Bukan. Ini bukan gaya Rangga," sahut Arkan, suaranya kembali dingin dan datar, sewarna dengan angin malam Jakarta Selatan yang mendadak terasa lebih menusuk tulang. "Rangga adalah seorang oportunis, dia tidak akan menggunakan diksi seperti 'Keseimbangan Takdir' atau menyebut nama Serat Jayaning Mahardika. Dia bahkan tidak tahu nama kitab itu saat kita berada di ruang rapat. Orang ini... orang ini tahu jauh lebih banyak tentang kutukan keluarga saya daripada Rangga."
Kinanti meraih ponsel Arkan, memperhatikan nomor pengirimnya. "Nomor ini menggunakan sistem enkripsi satelit virtual. Tidak bisa dilacak dengan aplikasi pelacak standar. Pak, orang ini tahu tentang isi perpustakaan bawah tanah Eyang Widya. Apakah mungkin ada anggota keluarga Mahardika yang lain?"
Arkan menyandarkan punggungnya ke kursi, tatapannya menerawang jauh menembus hamparan lampu-lampu gedung pencakar langit di hadapan mereka. "Sumpah darah ini sudah berjalan selama ratusan tahun. Selama beberapa generasi, selalu ada faksi-faksi di dalam silsilah keluarga besar yang merasa tidak puas karena garis keturunan utama—garis keturunan saya—yang selalu memegang kendali penuh atas perusahaan dan kejayaan Mahardika. Mereka menganggap kutukan ini adalah kelemahan yang bisa dimanfaatkan untuk merebut takhta."
Arkan menarik napas panjang, lalu menatap Kinanti dengan pandangan yang sarat akan rasa bersalah. "Maafkan saya, Kinanti. Saya menyeretmu terlalu dalam ke dalam lingkaran pusaran air yang berbahaya ini. Baru saja kita merayakan retakan pertama kutukan ini, sekarang musuh baru sudah muncul di permukaan."
Kinanti menggelengkan kepalanya dengan tegas. Ia meletakkan kembali ponsel itu di atas meja, lalu menatap lurus ke mata Arkan tanpa ada keraguan sedikit pun. "Pak Arkan, jangan mulai lagi. Kita sudah sepakat di pinggir jalan tol malam itu bahwa kita adalah satu tim. Saya adalah Direktur Operasional perusahaan ini, dan saya adalah orang yang memegang rahasia Bapak. Saya tidak akan mundur hanya karena sebaris teks ancaman dari nomor tidak dikenal."
Mendengar ketegasan dari bibir Kinanti, ketegangan di wajah Arkan sedikit mencair. Ada rasa kagum yang mendalam yang kembali membuncah di dalam dadanya untuk gadis di hadapannya ini.
"Lalu, apa rencana Bapak? Bapak tidak benar-benar berniat datang sendirian ke dermaga Sunda Kelapa besok malam, kan?" tanya Kinanti. "Sunda Kelapa adalah area terbuka di dekat laut. Kelembapan di sana sangat tinggi, dan besok malam... ramalan cuaca memprediksi akan ada hujan lokal di kawasan pesisir Jakarta Utara."
Arkan terdiam. Risiko itu sangat besar. Jika ia datang ke sana dan hujan mendadak turun, ia akan langsung berubah menjadi kucing di hadapan musuh yang belum ia ketahui identitasnya. Itu sama saja dengan menyerahkan nyawanya secara sukarela.
"Saya harus datang, Kinanti. Jika saya mengabaikannya, kita tidak akan pernah tahu siapa dalang di balik semua ini," ujar Arkan tegap. "Namun, saya tidak akan datang dengan bodoh."
Arkan berdiri dari kursinya, merapikan kemeja putihnya, lalu mengulurkan tangannya kembali kepada Kinanti. "Makan malam kita malam ini sepertinya harus berakhir lebih cepat. Kita harus kembali ke kantor sekarang. Kita punya waktu kurang dari dua puluh empat jam untuk menyusun strategi pertahanan, sebelum sang musuh menyadari bahwa Singa Mahardika tidak pernah berjalan sendirian di dalam kegelapan."
Kinanti menyambut uluran tangan Arkan, berdiri dengan keanggunan yang penuh tekad. Saat mereka melangkah menuju lift, langit di atas rooftop restoran itu masih bersih memancarkan bintang, namun di dalam benak mereka masing-masing, sebuah badai baru yang jauh lebih besar dari sekadar air hujan alami... kini resmi mengancam dari arah utara Jakarta.