NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:482
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AWAL MULA SENYAP

“Ayah... Ayah sering lecehin aku, Bu!”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Maira yang bergetar. Udara di dalam ruang tamu seketika terasa membeku. Bu Maya menghentikan semua gerakannya. Pakaian yang sedang dilipatnya merosot begitu saja dari tangannya, jatuh ke atas karpet.

Bukannya memeluk atau menenangkan anaknya yang sedang menangis, Bu Maya justru terdiam kaku. Matanya melotot lebar menatap Maira dengan pandangan penuh kepanikan. Wanita paruh baya itu menengok ke kanan dan ke kiri, celingak-celinguk ke arah jendela dan pintu luar yang terbuka, seolah-olah ketakutan setengah mati jika ada tetangga atau orang luar yang mendengar percakapan mereka.

Tanpa sepatah kata pun, Bu Maya langsung menyambar pergelangan tangan Maira dengan cengkeraman yang kuat, lalu menariknya paksa masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat.

“Ngomong apa kamu ini, Maira?!” tanya Bu Maya dengan suara berbisik namun penuh penekanan, matanya menatap tajam seolah menuduh Maira sedang mengarang cerita.

Maira tidak bisa lagi membendung air matanya. Pertahanan yang dibangunnya berhari-hari runtuh total. Ia menangis dengan sesegukan, dada dan bahunya naik turun menahan rasa sesak yang luar biasa.

“Ayah... Ayah Yudi udah lecehin aku beberapa kali, Buuu... di rumah ini!” adu Maira di sela-sela tangisnya yang memilukan.

“Nggak... nggak mungkin. Mas Yudi orang baik,” ucap Bu Maya pelan, menggelengkan kepalanya kuat-kuat seolah menolak kebenaran yang baru saja menghantam telinganya. Kedua tangannya bergerak memegangi kepalanya yang mendadak terasa pening, lalu ia maju dan memegang kedua pundak Maira dengan sangat kuat, mencengkeramnya hingga terasa sakit.

“Maira, dengerin Ibu. Ibu minta... jangan sampai kamu buka mulut soal hal gila ini ke siapapun! Paham?!” gertak Bu Maya, suaranya gemetar. “Mungkin... mungkin semalam ayahmu cuma khilaf, Mai. Dia cuma khilaf...”

Mendengar kata 'khilaf' keluar dari mulut wanita yang telah melahirkannya, Maira merasa seperti disambar petir di siang bolong. Rasa sakitnya jauh lebih menyiksa daripada saat Yudi menyentuhnya secara paksa.

“Bu... dia lakuin itu udah berulang kali, Buuuu! Khilaf macam apa yang dilakukan berkali-kali?!” potong Maira dengan suara meninggi, tidak terima jiwanya diremehkan seperti itu. “Ibu, tolong... aku takut, Bu. Aku takut kalau malam datang. Tolong Maira...” Maira memohon, mengiba pada naluri keibuan yang ia harap masih ada di dalam dada ibunya.

“Maira, diam!” bentak Bu Maya dengan suara menggelegar.

Bentakan keras itu membuat Maira refleks terdiam, tubuhnya tersentak mundur, meskipun dadanya masih naik turun karena sesegukan.

“Ibu nggak mau ya, orang-orang tahu aib keluarga kita! Ibu malu, Maira! Apalagi... apalagi Ibu baru menikah sama Yudi baru enam bulan! Kamu mau merusak rumah tangga Ibu, iya? Kamu mau bikin Ibu menjanda lagi dan jadi omongan orang sekampung?!” teriak Bu Maya dengan napas memburu.

Deg.

Ucapan Bu Maya barusan bagai anak panah beracun yang melesat cepat dan menancap tepat di ulu hati Maira. Menembus kulitnya, menghancurkan jantungnya, dan mematikan seluruh harapan yang tersisa di dalam jiwanya. Maira menatap ibunya dengan pandangan tidak percaya. Air matanya mengalir semakin deras, namun kali ini rasa perihnya bercampur dengan rasa tidak adil yang teramat sangat.

“Bu! Yang harusnya Ibu pikirin sekarang tuh aku! Aku anak kandung Ibu! Anak kandung Ibu yang dirusak sama dia!” ucap Maira dengan suara yang bergetar hebat, menunjuk ke arah dadanya sendiri.

Bu Maya memalingkan wajahnya, menghindari tatapan mata anaknya yang penuh luka. “Ya... tapi dia sekarang suami Ibu, Maira. Ibu butuh dia,” jawab Bu Maya lirih, egois menutupi akal sehatnya demi ketergantungan status dan ekonomi pada suami barunya.

Maira kembali menangis histeris. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, meraung meratapi kenyataan yang begitu pahit. Ia benar-benar tak menyangka ibunya akan mengabaikan perasaannya sekasar ini. Wanita itu lebih memilih membela suami sialannya dibanding anak kandungnya sendiri. Bukannya memeluk, mengamankan, dan mencari keadilan untuk putrinya yang telah ternoda, Bu Maya justru lebih memilih diam dan mengorbankan masa depan Maira hanya demi menutupi aib suaminya.

Di saat suasana di dalam kamar sedang mencekam dan dipenuhi isak tangis yang memilukan, terdengar suara pintu depan rumah dibuka. Tak berselang lama, langkah kaki terdengar mendekat. Yudi rupanya sudah pulang dari tempat kerjanya. Pria itu langsung melangkah masuk ke dalam kamar Maira, seolah sudah tahu apa yang sedang terjadi.

“Ada apa ini? Kenapa Maira menangis keras sekali sampai terdengar ke luar?” ucap Yudi dengan nada suara yang dibuat-buat, penuh kepura-puraan dan sok peduli.

Maira langsung memalingkan wajahnya ke arah dinding, memeluk tubuhnya sendiri karena merasa jijik dan takut melihat kehadiran pria biadab itu.

Bu Maya berdiri, menatap suaminya dengan tatapan yang campur aduk. “Mas... Maira bilang kamu... kamu ngelecehin dia. Apa benar?” tanya Bu Maya, suaranya terdengar mencicit, berharap suaminya akan menyangkal.

Yudi sama sekali tidak tampak kaget atau panik. Sebagai pria manipulatif, ia sudah menyiapkan skenario terbaiknya jika hari ini tiba. Ia menarik napasnya dalam-dalam, lalu melangkah mendekati Bu Maya. Ia menatap mata istrinya dengan raut wajah yang sengaja dibuat sok menyesal, melas, dan penuh rasa bersalah yang palsu.

“Maya... maafin aku. Aku... aku khilaf,” ucap Yudi dengan nada suara yang bergetar teaterikal. Pria itu kemudian melirik Maira sekilas dengan tatapan licik sebelum melanjutkan kalimatnya. “Tapi, May... lagi pula ini juga sebenarnya salahnya Maira sendiri. Beberapa kali... beberapa kali aku tidak sengaja melihat dia sehabis mandi hanya memakai handuk pendek, tanpa menutup rapat pintu kamarnya. Aku... aku sudah mencoba menahannya, May. Tapi aku ini cuma lelaki biasa, aku punya batas kesabaran. Lagipula... aku cuma satu kali melakukan itu kepadanya. Tidak lebih.”

Alasan busuk dan fitnah yang keluar dari mulut Yudi membuat mata Maira membelalak tak percaya. Kepalanya serasa ingin pecah mendengar bagaimana fakta diputarbalikkan begitu kejam.

“Bohong, Bu! Dia bohong! Dia sudah berulang kali melakukan itu sama Maira! Hampir tiap minggu saat Ibu nggak ada di rumah! Tolong percaya Maira, Bu... tolong...” teriak Maira histeris, menunjuk-nunjuk wajah Yudi dengan telunjuknya yang gemetar.

Namun, jeritan kebenaran dari Maira menguap begitu saja di udara. Ibu Maira hanya terdiam membisu, menatap bergantian antara Yudi yang memasang wajah penuh penyesalan palsu dan Maira yang menangis histeris. Keputusasaan dan ego Bu Maya akhirnya mengambil alih kewarasannya.

Lalu... PLAK!

Sebuah tamparan yang teramat keras dan nyaring menggema di dalam kamar.

Rasa panas yang membakar seketika menjalar di pipi. Namun, tamparan keras itu bukan mendarat di pipi Yudi yang bersalah. Tamparan itu mendarat sempurna di pipi mulus Maira, dikirimkan langsung oleh tangan ibu kandungnya sendiri. Tenaga tamparan itu begitu kuat hingga membuat kepala Maira terlempar ke samping dan sudut bibirnya sedikit berdarah.

“Diam, Maira!” bentak Bu Maya, napasnya naik turun. “Kamu... kamu harusnya sadar kalau kamu itu sudah remaja! Jangan ceroboh di dalam rumah! Jangan memakai pakaian yang mengundang nafsu orang lain! Kamu yang memancingnya!”

Maira terpaku. Kulit pipinya terasa mati rasa, namun hatinya jauh lebih mati rasa. Ia memegang pipinya yang panas dengan tangan yang gemetar, menatap ibunya dengan tatapan kosong yang tak percaya.

Dunia malam ini benar-benar runtuh bagi Maira. Seorang ibu—satu-satunya pelindung yang ia harapkan bisa memeluknya setelah kepergian sang ayah—malah bertindak sebagai algojo yang menambah beban trauma dan menghancurkan sisa-sisa jiwanya yang telah retak.

“Kemas barang-barangmu sekarang juga,” ucap Bu Maya dingin, suaranya kini terdengar tanpa emosi. “besok Ibu antar kamu ke terminal, kamu pergi dan tinggal di rumah nenekmu di kota lain.”

Setelah mengucapkan kalimat usiran itu, Bu Maya berbalik badan dan melangkah keluar dari kamar, menutup pintu dan meninggalkan Maira berdua di dalam ruangan bersama dengan monster yang telah merusaknya.

Suasana kamar mendadak senyap. Yudi yang kini hanya berdua dengan Maira, melangkah perlahan mendekati kasur. Pria itu mengulas senyum kemenangan yang amat menjijikkan.

Ia mengulurkan tangannya yang kasar, mencoba mengelus pipi Maira yang baru saja ditampar, namun dengan sisa tenaga yang ada, Maira langsung menangkis tangan itu dengan sentakan kasar.

Yudi tidak marah. Ia justru terkekeh pelan, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Maira.

“Sudah saya bilang, kan? Jangan macam-macam sama saya,” bisik Yudi tepat di dekat telinga Maira, suaranya terdengar seperti desisan ular. “Toh, ibumu lebih sayang dan lebih percaya sama saya dibanding kamu anak kandungnya sendiri. Saya rasa... saya gak perlu repot-repot melenyapkan kamu, kalau respon ibumu saja semenyedihkan begitu. Lebih percaya sama suaminya. Makasih ya, Mai... sudah kasih saya nyicip tubuh segarmu.”

Setelah membisikkan kalimat jahanam yang merendahkan harga diri Maira itu, Yudi berdiri tegak, membalikkan badan, dan melenggang pergi keluar kamar sambil bersiul santai.

Pintu kamar tertutup rapat. Meninggalkan Maira sendirian di dalam kegelapan kamarnya yang sunyi.

Detik itu juga, Maira kehilangan seluruh kendali atas akal sehatnya. Ia berteriak histeris—sebuah teriakan panjang yang sarat akan rasa sakit, dendam, dan kehancuran yang tak bertepi. Dengan membabi buta, ia mengacak-acak seisi kamarnya. Ia menarik sprei, melempar buku-buku sekolahnya ke dinding, meremas bantal, dan menjatuhkan semua barang di atas mejanya hingga hancur berantakan di lantai. Di dalam kamar yang kini hancur lebur itu, Maira meratapi nasibnya yang telah dibuang, dibungkam, dan tidak lagi diinginkan oleh rumahnya sendiri. Mulai hari itu, kehidupannya yang ceria resmi berganti dengan kesenyapan yang dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!