Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 006: Dia Kenal Siapa
Bu Ratna memilih hari yang buruk untuk mempermalukan Keira.
Pagi itu kelas XII IPA sedang membahas soal fungsi komposisi. Soal di papan sebenarnya tidak sulit, tetapi Bu Ratna menuliskannya dengan langkah panjang yang membuat separuh kelas menguap.
Keira duduk di belakang, menghitung napas. Tubuhnya masih berat setelah lari pagi. Kakinya pegal. Uang di kartu kantin tinggal cukup untuk air mineral.
"Keira Wulandari."
Suara Bu Ratna membuat semua kepala menoleh.
"Coba maju. Kerjakan soal ini."
Beberapa siswa langsung tersenyum. Nadira Sutanto yang baru mulai berani menatapnya lagi menyandarkan dagu di tangan.
"Bu, nanti papan tulisnya ketutup," bisik seseorang.
Tawa kecil pecah.
Bayu yang kebetulan lewat di depan kelas membawa buku tugas berhenti sebentar. Wajahnya tegang.
Keira berdiri.
Bu Ratna menatapnya dari atas kacamata. "Kalau tidak bisa, bilang saja tidak bisa. Tapi jangan cuma diam di kelas."
Keira mengambil spidol.
Satu menit pertama, kelas masih berbisik.
Menit kedua, bisik-bisik berhenti.
Keira tidak memakai cara Bu Ratna. Ia memotong soal dari bentuk akhir, mengubah variabel, lalu menulis penyelesaian yang lebih pendek dan lebih bersih. Setelah selesai, ia menambahkan satu catatan kecil di sampingnya.
Cara di buku terlalu panjang.
Bu Ratna menatap papan. Wajahnya pelan-pelan memerah.
Nadira duduk tegak. Revano di baris depan bahkan lupa memutar pulpen.
"Itu..." Bu Ratna berdeham. "Kebetulan kamu pernah lihat soal ini?"
Keira meletakkan spidol. "Guru seharusnya memberi contoh yang baik, bukan begini."
Kelas hening.
Tidak ada siswa yang berani tertawa. Bahkan Bayu di luar kelas menutup mulut, matanya menyala antara takut dan bangga.
Bu Ratna ingin marah, tetapi tulisan di papan terlalu jelas untuk disangkal.
Sejak hari itu, Keira resmi menjadi hal yang tidak nyaman di kelas.
Ia tetap duduk di belakang. Tetap makan sedikit. Tetap pulang dengan angkot atau berjalan kaki. Bedanya, setiap kali ia melewati lorong, orang tidak lagi mengejek sekeras dulu.
Di kantin, Bayu duduk di seberangnya sambil menyembunyikan kaki di bawah bangku plastik. Beberapa anak kelas lain datang pura-pura membeli es teh, padahal ingin melihat Keira dari dekat.
"Itu yang ngerjain soal Bu Ratna?"
"Serius? Keira yang itu?"
Bayu mendengar bisik-bisik itu. Kali ini ia tidak menunduk serendah biasanya. Ia membuka kotak nasi sederhana, lalu mendorong separuh telur dadar ke arah Keira.
"Jangan dibagi terus," kata Keira.
"Aku mau lihat Mbak kuat lari malam nanti."
Keira menatapnya. Anak ini mulai bisa membalas dengan alasan yang membuatnya sulit menolak.
Di meja dekat jendela, Nadira meremas sedotan plastik sampai bengkok. Ia tidak ikut bicara, tetapi matanya mengikuti setiap gerakan Keira. Kekalahan kecil di kelas, penghinaan Rika di toilet, dan Broto yang belum ia panggil saat itu belum cukup membuatnya takut. Nadira hanya merasa posisinya sebagai ratu kecil sekolah sedang disentuh orang yang salah.
Malamnya, Keira keluar untuk lari.
Perumahan Wulandari tidak pernah benar-benar sunyi. Ada suara televisi dari rumah tetangga, suara sendok dari warung pecel lele, suara motor lewat dengan knalpot bocor. Namun di ujung jalan dekat lahan kosong, ada bau lain yang membuat langkah Keira berhenti.
Darah.
Bukan darah kecil dari lutut tergores.
Darah segar, bercampur obat dan asap mesiu.
Di balik tembok rendah, seorang lelaki muda merosot ke tanah. Kemeja putihnya basah di bagian perut. Wajahnya pucat, tetapi matanya masih tajam. Di tangannya ada pistol kecil yang sudah kosong.
Keira mengenali wajah itu dari ingatan Blood Shadow, bukan dari hidup Keira Wulandari.
Tan Yucen.
Keponakan keluarga Tan. Salah satu pewaris muda yang pernah fotonya muncul dalam laporan pasar gelap karena nilainya terlalu mahal untuk disentuh sembarangan.
Tan Yucen mengangkat pistol kosong. "Jangan mendekat."
Keira berjongkok di depannya. "Kalau aku mau membunuhmu, kamu sudah mati sejak tadi."
Ia merobek sedikit kain kemeja, menekan luka, lalu menyentuh sisi perutnya. Peluru belum menembus titik fatal. Beruntung atau dilindungi dewa leluhur, ia tidak tahu.
Jari Keira bergerak cepat. Tekanan di sekitar luka, pola napas, warna bibir, suhu kulit. Ia tidak punya alat, tidak punya ruang steril, tidak punya obat bius. Tetapi ia pernah menahan orang hidup dengan kondisi lebih buruk dari ini di tengah hujan peluru.
"Dengarkan," katanya. "Kalau kau pingsan, peluangmu turun setengah."
Tan Yucen menggertakkan gigi. "Kau dokter?"
"Malam ini, iya."
"Siapa kamu?" bisik Yucen.
"Orang yang harus kamu bayar."
Yucen hampir tertawa, tetapi napasnya tersangkut.
Suara langkah terdengar dari kejauhan. Beberapa orang mendekat, berbicara pelan dalam bahasa campuran. Keira mengambil spidol kecil dari saku celana olahraga. Ia menarik tangan Yucen dan menulis deretan angka di lengan bawahnya.
"Nomor rekening."
Yucen menatap angka itu dengan mata buram. "Kamu menolongku demi uang?"
"Kamu masih hidup. Itu sudah diskon."
Ia menunjuk arah gang sempit di belakang rumah kosong. "Lewat sana. Ada jalan keluar ke jalan besar. Jangan berdiri sampai hitungan tiga puluh."
"Kamu?"
Keira mengambil segenggam tanah basah, mengusap bekas darah di beton, lalu menendang pot bunga pecah ke arah lain. "Aku olahraga."
Tan Yucen menatap gadis di depannya. Tubuhnya tidak seperti pengawal. Wajahnya masih terlalu muda. Tetapi gerakannya membuat bagian terdalam nalurinya diam.
Orang ini pernah hidup di tempat yang sama gelapnya dengan pemburunya.
Ia memaksa tubuh berdiri dan menghilang ke gang.
Beberapa detik kemudian, tiga pria berbaju hitam muncul. Salah satu menodongkan senter ponsel ke wajah Keira.
"Kamu lihat pria terluka lewat sini?"
Keira mengatur napas seperti orang habis lari. "Ada orang lari ke sana."
Ia menunjuk arah berlawanan, ke jalan yang menuju lahan kosong belakang pasar.
"Yakin?"
Keira menatapnya kosong. "Kalau tidak percaya, tanya pohon."
Pria itu mengumpat dan memberi isyarat pada temannya. Mereka berlari ke arah yang ia tunjuk.
Keira menunggu sampai suara mereka hilang, lalu melanjutkan lari kecil menuju rumah. Di tangannya masih ada sisa darah Tan Yucen. Ia mencucinya di keran luar sebelum masuk, seolah malam itu tidak berbeda dari latihan biasa.
Di ruang belakang, Bayu sudah tidur dengan buku terbuka di dada. Keira berhenti sebentar di dekatnya. Kaki kiri anak itu sedikit bergetar bahkan saat tidur, tanda nyeri yang dipaksa diam terlalu lama.
Keira mengeringkan tangan.
Tan Yucen adalah utang uang.
Bayu adalah alasan.
Dan alasan selalu lebih berat daripada utang.
Jauh lebih berat.
Di Jakarta, sebelum fajar benar-benar pecah, seorang pewaris muda Keluarga Tan akhirnya berhasil kembali dengan darah di kemeja dan angka asing tertulis di lengannya.