Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18 - Di Balik Kaca IGD
Rayyan mogok makan lagi.
Kali ini bukan karena demam, melainkan karena Lila dilarang masuk sekolah selama beberapa hari untuk pemulihan. Ia duduk di meja makan rumah Wiratama, menatap telur dadar seperti telur itu musuh negara.
Nenek Ratih menghela napas.
"Rayyan, makan."
"Nanti."
"Nanti kapan?"
"Kalau Lila masuk sekolah."
Arkan yang baru turun dari lantai dua berhenti di belakang kursi anaknya.
"Rayyan."
Anak itu menunduk.
"Papa tahu aku harus makan. Tapi Lila juga makan atau tidak?"
Pertanyaan itu membuat Arkan terdiam.
"Dia makan."
"Papa lihat?"
Arkan tidak menjawab cepat.
Rayyan langsung tahu. "Papa tidak lihat."
Nenek Ratih menutup mulut, menahan tawa. Situasi tidak lucu, tetapi cara Rayyan menekan ayahnya terlalu mirip Arkan saat rapat.
Arkan mengambil ponsel dan menghubungi Raka.
"Tanya kondisi Lila."
Rayyan mendongak. "Video call."
"Makan dulu."
"Video call dulu."
"Rayyan."
"Papa juga kalau mau deal, minta lihat dokumen dulu."
Nenek Ratih benar-benar batuk.
Arkan menatap anaknya lama, lalu membuka panggilan video.
Beberapa menit kemudian, layar ponsel menampilkan wajah Yuni. Di belakangnya terlihat apartemen staf. Lila duduk di sofa dengan selimut, Naya di sampingnya sedang membuka kotak obat.
"Pak Arkan?" Yuni tampak kaget.
Rayyan langsung mendekat ke layar. "Lila!"
Lila menoleh.
Wajahnya masih pucat, tetapi ketika melihat Rayyan, matanya sedikit hidup.
Rayyan mengangkat sendok. "Aku makan kalau kamu makan."
Lila menatap mangkuk kecil di depannya.
Naya, yang tidak tahu harus marah atau terharu, berkata pelan, "Lila, kalau mau, kita makan sedikit."
Lila mengambil sendok.
Rayyan langsung menyendok telur.
Arkan menyaksikan dua anak itu makan lewat layar, satu di rumah megah, satu di apartemen sederhana, tetapi ritme mereka seolah sama. Saat Rayyan minum, Lila ikut minum. Saat Lila berhenti, Rayyan berhenti dan menatap layar sampai ia bergerak lagi.
Naya tidak melihat Arkan. Ia fokus pada Lila.
Setelah makan beberapa suap, Lila tampak lelah. Naya mematikan panggilan dengan sopan.
"Terima kasih, Rayyan. Lila istirahat dulu."
"Aku besok boleh jenguk?"
Naya ragu.
Arkan menjawab sebelum Naya bisa menolak.
"Kalau dokter mengizinkan."
Naya menatap layar akhirnya. "Pak Arkan..."
"Dia makan karena Lila. Kita bicarakan nanti."
Panggilan ditutup.
Naya menatap ponsel Yuni, lalu menghela napas.
Yuni tersenyum. "Anak itu lucu."
"Terlalu dekat."
"Mungkin karena mereka sama-sama kesepian."
Naya tidak menjawab.
Besoknya Rayyan benar-benar datang menjenguk. Arkan membawanya sendiri, dengan dokter anak keluarga ikut mengecek kondisi Lila.
Naya awalnya menolak, tetapi Lila berdiri di depan pintu begitu mendengar suara Rayyan di koridor. Anak itu tidak bicara, tapi tubuhnya sudah menjawab.
Rayyan masuk membawa tas kecil.
"Aku bawa buku gambar, permen, sama kelinci mainan. Tapi Papa bilang permen harus izin Tante."
Naya mengambil permen itu. "Disimpan dulu."
Rayyan mengangguk patuh.
Ia duduk di lantai dekat sofa, tidak terlalu dekat dengan Lila.
"Kamu mau gambar?"
Lila menatap kertas.
Rayyan membuka krayon. "Aku gambar Papa. Tapi Papa susah. Wajahnya selalu marah."
Naya tanpa sadar tersenyum.
Arkan yang berdiri dekat jendela menatapnya.
Senyum itu muncul lagi.
Lila mengambil krayon kuning. Ia menggambar lingkaran kecil, lalu garis-garis seperti rambut.
Rayyan mencondongkan tubuh. "Itu siapa?"
Lila menatap Naya.
"Mama?" tebak Rayyan.
Tangan Lila berhenti, lalu ia mengangguk.
Naya menahan napas.
Rayyan menatap gambar itu lama.
"Tante Naya memang mirip mama."
Ruangan langsung hening.
Naya menatapnya. "Rayyan..."
"Maksudku..." Rayyan mengerutkan kening, berusaha menjelaskan sesuatu yang bahkan orang dewasa tidak bisa jelaskan. "Kalau sama Mama Rania, aku harus ingat dia mama. Kalau sama Tante, aku lupa harus ingat."
Arkan memejamkan mata.
Kalimat anak itu menghancurkan lebih banyak daripada laporan Raka.
Naya berlutut di depan Rayyan.
"Rayyan, kamu tidak boleh bicara begitu sembarangan. Mama Rania..."
"Mama Rania marah kalau aku tidak panggil mama."
Naya berhenti.
"Papa juga tidak suka kalau aku tanya kenapa Mama Rania tidak pernah tahu aku suka apa."
Arkan menegang.
Naya menatap Arkan.
Kali ini pertanyaannya jelas: kamu dengar?
Arkan mendengar.
Dan ia tidak punya pembelaan.
Siang itu dokter anak memeriksa Lila. Karena Lila sempat pingsan saat diculik, dokter menyarankan pemeriksaan darah tambahan. Naya menyetujuinya, tetapi saat perawat membawa jarum, Lila panik.
Rayyan langsung berdiri.
"Aku juga."
Naya mengerutkan kening. "Apa?"
"Ambil darah aku juga. Biar Lila tidak takut."
"Tidak perlu."
"Aku kakak."
Naya ingin membantah, tetapi kata itu membuat Lila menatap Rayyan.
Arkan berkata pelan, "Sedikit saja untuk pemeriksaan rutin. Dia sudah jadwal kontrol minggu depan. Bisa sekalian."
Naya tahu Arkan punya alasan lain.
DNA.
Mungkin bukan hari ini, mungkin tidak langsung. Tapi darah dua anak itu di ruangan yang sama membuat udara berubah berat.
"Jangan lakukan apa pun tanpa izin saya," kata Naya kepada Arkan.
Arkan menatapnya.
"Aku tidak akan mengambil sampel untuk tes lain tanpa bicara padamu."
"Saya tidak percaya janji mudah."
"Aku tahu."
Rayyan duduk duluan, menggulung lengan baju.
"Aku tidak takut," katanya, padahal wajahnya tegang.
Lila memperhatikan. Ketika darah Rayyan diambil, anak itu menggigit bibir tetapi tidak menangis.
"Lihat? Cuma seperti digigit semut sombong."
Lila mengerutkan kening.
Naya hampir tertawa.
Giliran Lila, ia tetap takut, tetapi tangannya memegang jari Rayyan. Darahnya diambil cepat.
Setelah selesai, Rayyan memberi stiker kecil dari perawat kepada Lila.
"Kamu hebat."
Lila memegang stiker itu, lalu melakukan sesuatu yang membuat semua orang terdiam.
Ia mengangkat tangan dan menepuk kepala Rayyan pelan.
Rayyan membeku.
Lalu tersenyum lebar.
"Papa! Lila sayang aku."
Arkan tidak bisa tersenyum.
Ia melihat dua plester kecil di lengan anak-anak itu.
Di rumah sakit empat tahun lalu, mungkin dua bayi juga pernah diberi gelang berbeda.
Satu dibawa pulang ke rumahnya.
Satu dibuang ke dunia yang salah.
Malamnya Raka mengirim laporan baru.
CCTV lama dekat rumah Pradipta, dari toko kecil di seberang jalan, ternyata masih tersimpan di hard drive pemilik toko. Kualitasnya buruk, tetapi cukup menunjukkan satu hal.
Mobil Pradipta masuk halaman sebelum Naya tiba di rumah itu.
Artinya, Naya tidak mungkin mengendarainya saat kecelakaan.
Arkan menatap layar komputer.
Di frame lain, terlihat Rania turun dari kursi pengemudi dengan wajah panik.
Arkan mengepalkan tangan.
Empat tahun.
Naya dipenjara empat tahun untuk kebohongan yang mulai terlihat di depan matanya.
Ia memutar video itu sekali lagi.
Rania keluar dari mobil dengan langkah goyah. Bu Mira muncul dari dalam rumah, menariknya masuk, lalu beberapa menit kemudian Naya datang dengan pakaian rumah sederhana dan rambut masih basah. Rekaman itu tidak bersuara, tetapi gerakan tubuh Naya cukup jelas. Ia bukan orang yang baru saja menabrak seseorang dan kabur.
Ia terlihat seperti anak perempuan yang dipanggil pulang dan tidak tahu sedang diseret ke lubang.
Raka berdiri di sisi meja. "Pemilik toko mau bersaksi, tapi dia takut. Dulu orang Pradipta pernah datang meminta semua rekaman dihapus."
"Siapa yang datang?"
"Dua orang. Satu sopir, satu pengacara keluarga."
"Cari nama pengacaranya."
"Sudah. Dia sekarang bekerja di firma yang sering dipakai Pradipta Group."
Arkan menutup laptop.
"Buat salinan. Tiga tempat. Jangan simpan di server kantor."
Raka mengangguk. "Pak, kalau ini keluar, hubungan keluarga Wiratama dan Pradipta akan pecah total."
Arkan menatapnya.
"Hubungan itu dibangun di atas apa?"
Raka diam.
Arkan mengambil ponsel. Ia hampir menelepon Naya, lalu berhenti. Jam sudah lewat tengah malam. Mungkin Lila baru tidur. Mungkin Naya masih duduk di samping ranjang, takut memejamkan mata.
Ia tidak berhak datang membawa satu bukti lalu meminta perempuan itu kembali percaya pada dunia.
Di layar ponsel, ada pesan dari Rania.
`Rayyan besok kangen aku. Aku mau jemput dia ke sekolah.`
Arkan membalas hanya satu kalimat.
`Jangan dekati Rayyan tanpa izinku.`
Balasan Rania datang cepat.
`Aku ibunya.`
Arkan menatap kata itu lama.
Dulu kata itu cukup untuk menutup semua pertanyaan.
Sekarang kata itu terdengar seperti barang curian.
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕