NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 10

Hugo menatap tajam putrinya. Sorot matanya yang lelah kini dipenuhi kilat frustrasi. Menuntut kepatuhan yang instan di tengah situasi yang menjepitnya ini. Namun Jenny tidak peduli. Dia tetap menunjukkan sikap menolak dengan terang-terangan. Meski tanpa makian.

Remaja itu tetap bersedekap. Memaku pandangannya pada dinding kosong seolah menganggap keberadaan Asia di ruangan itu tidak pernah ada.

"Ayo, kita makan malam. Makanan nanti dingin," pinta Nyonya Malinda yang tahu situasi. Beliau dengan cepat memotong ketegangan yang nyaris meledak antara ayah dan anak itu, berusaha mengalihkan perhatian semua orang menuju ruang makan.

Saat Hugo hendak menggerakkan kursinya, roda itu sudah bergerak terlebih dahulu. Hugo sempat tersentak kecil saat merasakan dorongan mantap pada sandaran punggungnya. Ternyata, tangan Asia mendorong kursi rodanya dengan gerakan yang tenang dan penuh inisiatif. Asia tahu persis tugasnya sebagai istri kontrak di depan ibu mertuanya telah dimulai.

Nyonya Malinda yang melihat itu tersenyum senang. Beliau tampak sangat puas melihat kepatuhan dan kecekatan Asia yang langsung tanggap melayani suaminya.

"Terima kasih," lirih Hugo formal. Suaranya terdengar sangat pelan dan kaku, sebuah ucapan terima kasih yang sarat akan batasan jarak di antara mereka berdua.

Meja makan ramai dengan kehebohan Nero soal pilih-pilih makanan. Piring di hadapan bocah enam tahun itu sudah berantakan karena ia terus menggeser lauk-pauk yang dihidangkan.

"Aku enggak mau ini," tolak Nero sambil mengerucutkan bibirnya.

"Kalau begitu yang ini ya?" tawar Nyonya Malinda lembut, mencoba menyodorkan mangkuk sayur yang lain ke dekat piring cucunya.

"Enggak mau."

"Nero!" sebut Hugo dengan nada memperingatkan. Suaranya yang berat terdengar tegas di ruang makan. "Kamu harus makan."

"Tapi aku enggak mau itu. Aku enggak mau makan! Huwaaa!" Nero malah menangis. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan tangisannya pecah dan memicu kegaduhan baru di meja makan. Nyonya Malinda tampak panik. Bibi pelayan ikut mendekat.

Asia menaikkan alis. Dia tahu perangai bocah itu. Ya, sama saja seperti di gerai makanan waktu itu. Keras kepala dan tidak bisa dipaksa. Setelah melihat Nero mata Asia bergeser ke putri pertama Kapten Hugo.

Jenny tampak tenang meski di sampingnya Nero berteriak memekakkan telinga. Gadis remaja itu sama sekali tidak terganggu dengan drama adiknya.

Dia makan dengan cara yang rapi dan elegan, memotong makanannya dengan tenang tanpa menimbulkan suara denting sendok yang berisik.

Apa itu menurun dari sifat mamanya? Asia tidak pernah tahu, karena ia belum tahu rupa wanita itu. Di rumah ini, bayang-bayang mendiang istri Hugo masih terasa sangat kuat, namun wajahnya masih menjadi misteri bagi Asia.

Saat itu Jenny mendongak dan mendapati Asia menatapnya. Tatapan mereka bertemu di udara.

"Ada apa?" tanya Jenny. Pertanyaan yang penuh intimidasi dan dingin. Pun menuntut penjelasan mengapa orang asing itu berani memperhatikannya.

Asia memilih mengalihkan pandangan ke arah lain, tidak ingin memicu perdebatan lebih lanjut di malam pertamanya berada di rumah ini.

Nyonya Malinda sibuk menenangkan Nero. Ternyata amukan Hugo tidak bisa meredakan emosi Nero. Pria itu justru menghela napas panjang dan meneguk minumannya dengan cepat. Seakan ingin makan malam ini segera berakhir agar dia bisa terlepas dari siksaan atmosfer yang menyesakkan ini.

Baiklah. Mungkin aku harus mencoba membantu. Namun, tiba-tiba makanan yang dipegang Nero malah melayang dan mengenai Asia. Kuah dan remahan lauk itu mengotori bagian depan pakaian wanita itu.

"Nero!" pinta Nyonya Malinda yang cemas. "Lihatlah Tante Asia. Dia kena lempar makananmu." Nyonya Malinda berusaha kuat menenangkan cucunya yang masih sesenggukan. Beliau kemudian menoleh ke arah dapur. "Bibi, bantu Asia ke belakang untuk membersihkan bajunya."

Bibi pelayan yang tadi ikut membantu menenangkan Nero langsung menoleh pada Asia, bersiap memandu calon nyonya baru.

"Biar aku yang mengantarnya," kata Hugo mengambil alih situasi. Ia menatap lurus pada Asia. "Ayo, Asia."

Asia hendak menolak, tapi sepertinya pria itu sengaja ingin menjauh dari kebisingan meja makan.

"Ya," Asia berdiri dari kursinya. "Saya permisi dulu."

Nyonya Malinda mengangguk pelan memberikan izin dengan tatapan penuh rasa bersalah atas kekacauan yang dibuat cucunya. Asia kemudian melangkah ke belakang kursi roda Hugo dan mulai mendorongnya menjauh dari ruang makan.

"Aku bisa," kata Hugo saat mereka sudah berada di lorong tengah dan tidak lagi terlihat oleh keluarga.

"Ya?" Asia menghentikan langkahnya, sedikit bingung.

"Kamu bisa lepaskan tanganmu dari kursi rodaku."

"Oh. Ya. Baik," jawab Asia refleks sambil menarik kedua tangannya dari pegangan kursi roda.

"Kamar mandi ada di sana. Basuh pakaianmu," Hugo menunjuk ke sebuah pintu di ujung lorong dengan isyarat kepalanya.

Asia mengangguk patuh lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah pintu tertutup rapat, ia mengunci pintu dan bersandar sejenak.

"Aku paham Pak Hugo jadi kaku begitu. Di rumah ini anak-anak itu sungguh menjadi monster," gumam Asia lirih sambil mulai membersihkan bajunya dari sisa-sisa makanan di depan cermin. "Suasana meja makan sungguh membuat kepala pusing. Jika aku tidak sedang butuh uang mendesak, aku mungkin juga tidak sanggup."

Ia mengambil tisu dan membasahinya dengan air. Lalu menggosok noda yang menempel di kain bajunya. Namun, noda kuah itu tampaknya sudah meresap terlalu dalam.

Ternyata sedikit susah membersihkannya. Asia menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya yang tampak berantakan di malam pertama pernikahan kontrak ini. "Hah. Ini susah membersihkannya."

Setelah beberapa menit, Asia keluar dari kamar mandi. Langkah kakinya terdengar pelan di lorong yang sunyi.

"Maaf lama," ucap Asia merasa tidak enak.

Sudut mata Hugo melihat ke arah baju Asia yang terkena makanan tadi. Noda kuah itu masih tercetak samar di sana, tidak bisa hilang sepenuhnya meskipun sudah dibasuh.

"Mereka memang sulit diatur. Maafkan mereka," kata Hugo, suaranya terdengar berat dan dipenuhi rasa bersalah atas sikap kedua anaknya.

"Ya. Saya paham, Pak," jawab Asia singkat, mencoba bersikap profesional untuk memaklumi situasi tersebut.

Mereka kembali ke meja makan.

Meja makan sudah tenang karena tidak ada anak-anak di sana. Hanya meja makan yang berantakan karena ulah Nero tadi; sisa makanan dan tisu berserakan di beberapa sudut. Jenny pun sudah tidak ada di kursinya, kemungkinan besar sudah kembali mengunci diri di dalam kamar.

"Hh ..." Hugo menghela napas panjang. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi untuk membela keluarganya. Namun, Asia paham betul betapa kacaunya mereka di rumah ini. Keadaan internal keluarga sang kapten ternyata jauh lebih rapuh dari yang terlihat di luar.

"Sebaiknya kamu pulang sekarang. Gilang akan mengantarmu. Dia ada di luar," ujar Hugo, memutuskan bahwa keberadaan Asia malam ini sudah cukup sampai di sini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!