NovelToon NovelToon
Jodoh Kok Bikin Emosi

Jodoh Kok Bikin Emosi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16 - Makan Siang yang berubah jadi ajang menjodohkan

Hari Sabtu akhirnya tiba.

Sejak pukul delapan pagi, rumah Nadira sudah ramai. Ibunya sibuk di dapur menyiapkan berbagai hidangan, sementara ayahnya membersihkan halaman depan.

Nadira yang baru selesai menyapu ruang tamu langsung dipanggil.

"Dir."

"Iya, Ma?"

"Coba lihat penampilanmu."

Nadira menunduk melihat kaus longgar dan celana training yang dikenakannya.

"Kenapa?"

"Ganti baju."

"Kenapa harus ganti?"

"Ada tamu."

"Mama..."

"Mereka tetangga, bukan pejabat."

Ibunya menggeleng.

"Justru karena tetangga."

Dengan wajah pasrah, Nadira akhirnya masuk ke kamar dan berganti menjadi blouse berwarna krem dipadukan dengan celana jeans biru muda.

Ketika keluar, ibunya tersenyum puas.

"Nah, cantik."

"Mama lebay."

"Ayahmu aja sampai melirik."

Ayah Nadira yang sedang membaca koran hanya tertawa kecil.

---

Di rumah sebelah, suasananya tidak jauh berbeda.

"Gar!"

"Iya, Ma."

"Cepetan mandi."

"Aku sudah mandi."

"Terus pakai kemeja."

Arga yang sedang duduk santai di sofa langsung mengernyit.

"Ngapain pakai kemeja? Mau makan siang doang."

Mama Arga melipat tangan di depan dada.

"Supaya rapi."

"Ma..."

"Jangan protes."

Ayah Arga yang sejak tadi memperhatikan hanya tertawa.

"Sudahlah, Gar."

"Kamu nurut aja."

"Lagian yang kamu datangi rumah perempuan."

Arga langsung menatap ayahnya.

"Yah."

"Kenapa?"

"Ayah juga mulai?"

"Tetangga."

Jawaban singkat itu justru membuat Arga semakin pasrah.

---

Pukul sebelas siang, bel rumah Nadira berbunyi.

"Ting tong..."

"Aku buka!"

Ibunya berjalan cepat menuju pintu.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Mama Arga berdiri paling depan sambil membawa kotak kue.

"Maaf merepotkan."

"Lho, justru kami senang."

Di belakangnya ada Ayah Arga.

Dan...

Arga.

Begitu mata mereka bertemu, keduanya sama-sama tersenyum canggung.

"Pagi."

"Pagi."

Mama Nadira langsung mempersilakan mereka masuk.

"Silakan, silakan."

Rumah yang biasanya tenang mendadak penuh dengan suara obrolan orang tua.

Mulai dari cerita tentang lingkungan, harga cabai, sampai pengalaman tinggal di kompleks itu.

Sementara Nadira dan Arga duduk berdampingan di sofa, sama-sama sibuk memainkan gelas minuman.

"Kita kayak tamu kehormatan."

Bisik Arga.

Nadira menahan tawa.

"Padahal ini rumahku."

"Makanya."

"Tapi aku juga gugup."

"Serius?"

"Iya."

"Kirain cuma aku."

---

Makan siang berlangsung hangat.

Mama Nadira berkali-kali menambahkan lauk ke piring tamunya.

"Coba rendangnya."

"Wah, enak sekali."

Mama Arga ikut memuji.

"Masakannya mirip restoran."

"Aduh, biasa saja."

Obrolan mengalir tanpa henti.

Sampai akhirnya...

Mama Arga menoleh ke arah Nadira.

"Dir."

"Iya, Tante?"

"Arga di kantor nyebelin nggak?"

Nadira melirik Arga yang langsung menggeleng pelan, seolah memohon agar tidak dibongkar.

Nadira tersenyum jahil.

"Sering."

Arga langsung membelalakkan mata.

"Lho!"

"Sering usil."

"Sering bikin emosi."

"Sering bercanda pas lagi serius."

Seluruh meja makan langsung dipenuhi tawa.

Mama Arga mengangguk.

"Berarti sama dari kecil."

"Ma..."

Arga memijat pelipisnya sendiri.

Belum selesai rasa malunya, kini giliran Ayah Nadira yang ikut berbicara.

"Tapi meski begitu..."

Beliau tersenyum sambil melihat Arga.

"...saya lihat anak ini perhatian."

Nadira langsung menatap ayahnya.

"Yah..."

"Papa cuma bilang apa yang Papa lihat."

Suasana tiba-tiba menjadi lebih tenang.

Arga yang biasanya pandai bercanda pun hanya tersenyum kecil.

"Terima kasih, Om."

---

Setelah makan siang, para orang tua memilih mengobrol di teras.

Sementara Nadira membawa piring kotor ke dapur.

Belum selesai mencuci gelas, seseorang ikut masuk.

"Boleh bantu?"

Arga.

"Nggak usah."

"Aku nggak enak."

"Kamu tamu."

"Aku tetangga."

Nadira menyerahkan beberapa piring.

"Kalau pecah, ganti."

"Siap."

Beberapa menit mereka mencuci piring bersama.

Dapur yang sempit membuat mereka beberapa kali saling bersenggolan.

"Eh, maaf."

"Nggak apa."

"Tanganmu kena sabun."

"Kamu juga."

Tanpa sengaja, keduanya tertawa bersamaan.

Dari balik pintu dapur, dua pasang ibu memperhatikan diam-diam.

Mama Nadira berbisik pelan,

"Cocok ya."

Mama Arga tersenyum sambil mengangguk.

"Saya juga mikir begitu."

Tanpa mereka sadari, Ayah Nadira dan Ayah Arga yang sedang duduk di teras saling berpandangan.

"Kita kayak lagi nonton sinetron."

"Bedanya ini gratis."

Keempat orang tua itu sama-sama tertawa.

---

Menjelang sore, keluarga Arga berpamitan.

Saat mengantar sampai pagar, Arga menghentikan langkah.

"Dir."

"Hm?"

"Besok Minggu."

"Iya."

"Kamu ada acara?"

"Nggak."

Arga tampak ragu beberapa detik.

"Lusa ulang tahun Mama."

"Oh."

"Beliau ngajak keluargamu datang."

Nadira menghela napas sambil tersenyum pasrah.

"Kayaknya orang tua kita memang nggak mau kasih kita istirahat."

Arga ikut tertawa.

"Iya."

Hening sejenak.

Lalu Arga menatap Nadira dengan ekspresi yang lebih serius.

"Kalau bukan karena orang tua..."

"...aku juga sebenarnya tetap ingin kamu datang."

Nadira menatapnya tanpa berkedip.

Sebelum sempat menjawab, suara Mama Arga terdengar dari dalam mobil.

"Gar! Ayo!"

"Iya, Ma!"

Arga tersenyum kecil.

"Sampai ketemu lusa."

Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah.

Nadira masih berdiri di depan pagar.

Entah kenapa, kalimat terakhir Arga terus terngiang di kepalanya.

*"Aku juga sebenarnya tetap ingin kamu datang."*

Untuk pertama kalinya...

Nadira mulai menunggu pertemuan berikutnya, bukan karena pekerjaan.

Melainkan karena seseorang yang dulu selalu berhasil membuat emosinya naik, kini justru menjadi alasan senyum itu muncul tanpa diminta.

**Bersambung ke Episode 17...**

1
Dewi Sinta
lusa hari senin dong.. kan mau ngerayain ultahnya mamanya arga hari minggu mesti nya besok😂
Seranovelle: "Ya ampun, bener juga. 🤣 Untung ada Kakak, kalau enggak Arga ngerayain ulang tahun mamanya lompat hari. 😂"
total 1 replies
Dewi Sinta
ayah tiri ya thoor, krn di bab sebelumnya ayah arga udah meninggal
Seranovelle: Cobaa tebak kak, ayah arga sudah meninggal atau belum yaa kak?
total 1 replies
Dewi Sinta
perasaan masih pagi thoor 😂
Seranovelle: Perjalanan dangat jauh ni kak, waktu pagi terasa singkat.. dan tibatiba sudah masuk jam makan siang deh kaa 🤭
total 1 replies
Dewi Sinta
Gar.. apa itu thor.. sy kira arga.. mesti nya bilang Ar..😌
Seranovelle: Btw kak, Gar itu nama panggil argaa yaa kak 😬🤍
total 2 replies
Dewi Sinta
sudah bertemu 3 kali thoor 😂
Seranovelle: Author lagi kena efek butterfly. Pertemuan ketiga tiba-tiba menghilang. 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!