Eiren Azura merupakan gadis periang denga wajah cantik dan penuh keberanian. Dia merupakan gadis yang tidak memiliki prestasi apa pun dalam bidang kuliahnya. Sebuah kesalahan membuatnya harus berurusan dengan Adelio Cetta, seorang dosen tampan, tetapi juga galak. Semua bermula dari kesalahannya hingga dia mengetahui begitu banyak tentang dosen populer yang digandrungi begitu banyak wanita.
Adelio Cetta, merupakan pria yang selalu bertanggung jawab dan terpaku pada masa lalu. Keberadaan Eiren perlahan melunturkan pandangannya tentang seorang wanita. Perlahan, gadis tersebut mampu mengikis benteng yang selalu dibangunnya hingga menjulang tinggi.
》》》》》
Aku berusaha menjauh darimu, menghindari luka yang masih begitu baru menampilkan goresannya. Namun, takdir begitu kejam menarikku hingga kembali padamu.
Eiren Azura
》》》》》
Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Apa pun yang kamu pikirkan saat ini. Aku hanya akan membawamu dalam genggamanku.
Adelio Cetta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 28_Ingin Sendiri
Eiren melangkah menyusuri jalanan yang tampak begitu ramai. Langit mendung seakan menandakan perasaannya kali ini. Luka dan terasa perih. Jujur, setegar apa pun dia mencoba, tetap saja semua keputusan yang diambil masih membekaskan luka.
Eiren menghela napas perlahan. Mengusap air mata yang sempat turun, mencoba menghilangkan perasaan yang terasa kosong. Takdir seakan tengah mentertawakan dirinya. Hidup di keluarga yang sudah berantakan dan tidak mempedulikannya sama sekali. Ditambah Alex, satu-satunya pria yang dipercaya dan dicintainya juga menghilang.
“Lima tahun bukanlah hal yang singkat, Lex. Tetapi aku lelah percaya dengan janjimu. Tetap saja pada akhirnya kamu akan bersama dengannya,” ucap Eiren bermolong.
“Aku tidak mau kamu menjadi seorang anak yang tidak berbakti. Bagaimana pun, aku ingin mendpaatkan restu tanpa harus mengakhiri hubungan,” lanjut Eiren dengan perasaan pilu.
Eiren mencoba menenangkan perasaan yang kian berkecambuk dalam dadanya. Dia merasa, sekarang sudah benar-benar sendiri. Helaan napas kmbali terdengar ketika dirasa napasnya mulai sesak. Matanya bahkan sudah sedikit mengabur karena air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.
Eiren melambaikan tangan ketika dilihat sebuah taksi berada di depannya. Setelah berhenti, Eiren segera masuk dan mengatakan tujuannya. Sepanjang perjalanan, Eiren masih mencoba meratapi nasib. Bahkan, terkadang dia masih mengeluarkan suara karena perasaan terluka yang begitu dalam, membuat sang sopir taksi menatapnya dari kaca spion.
“Nona, pakai ini untuk menghapus air matanya,” ucap sang sopir sembari memberikan kotak tisu sedangkan sebelah tangannya lagi sibuk menyetir.
Eiren yang mendengar langsung mengambilnya dan tersenyum kecil. “Terima kasih,” ucap Eiren yang sudah mengalihkan pandangan.
“Sudah, Nona kalau mau nangis ya nangis aja. Jangan ditahan, biar perasaan mengganjal yang terasa menyakitkan bisa hilang,” ucap sopir taksi kembali.
Eiren hanya diam. Dia tidak menghiraukan sama sekali perkataan yang sengaja ditunjukan untuknya. Dia hanya fokus dengan pemandangan di hadapannya. Pepohonan hijau dengan desiran air yang tampak begitu sejuk. Rasanya dia ingin tinggal di antara pepohonan yang begitu bahagia.
“Pemandangan di sini indah. Nona mau bertemu siapa?” tanya sopir taksi dengan wajah masih menatap lurus ke depan.
“Nenek,” jawab Eiren singkat. Perasaannya sudah membaik, meski masih merasa sedikit berbeda. Sekarang dia harus hidup tanpa Alex. Kenyataan pahit yang tidak pernah dibayangkan olehnya sama sekali.
“Nona tau? Dulu aku ketika ada masalah juga selalu bercerita dengan Nenek. Beliau memberiku saran yang membuat perasaan lebih tenang. Anda tahu, Nona. Nenek selalu menajdi tempat kedua untuk berbagi ketika ibu kita terasa begitu cuek dengan kita,” sahut sang sopir dengan wajah santai.
Eiren langsung menatap pria di hadapannya dengan pandangan datar. Dia tidak mengenal siapa pria yang sedang mengemudi di depannya. Namun, sejak dia masuk, pria tersebut seakan tahu dengan masaalahnya.
Sopir taksi tersebut sadar dengan tatapan Eiren dan langsung tersenyum kecil. “Maaf, saya terlalu lancang sudah berkata banyak sekali. Maaf jika anda merasa tidak nyaman.”
“Siapa nama kamu?” tanya Eiren dengan mata menatap lekat.
“Perknalkan, nama saya Venda,” jawab Venda dengan senyum yang masih terukir.
“Aku Eiren. Bisa kamu bersikap biasa saja?” ujar Eiren merasa tidak nyaman.
“Oh, maaf. Aku pikir kamu akan memprotesku jika aku tidak bersikap sopan,” canda Venda dengan tawa kecil.
Eiren hanya tersenyum kecil. Rasanya dia sudah membaik. Tidak terlalu sakit ketika dia mengingat wajah Alex yang begitu menampilkan luka. Apa dia benar terluka atau hanya merasa iba karena aku yang terlalu bodoh percaya dengannya?
“Oh iya, Eiren. Nenekmu tinggal di sini sama siapa?” tanya Venda yang masih sibuk menyetir.
“Nenek tinggal di sini bersama dengan banyak teman,” ucap Eiren dengan senyum sumringah.
Venda yang mendengar hanya mengangguk dan kembali fokus dengan perjalanannya. Sesekali dia berbincang santai dengan Eiren yang terlihat sudah lebih baik dari sebelumnya. Wajahnya sudah tampak begitu cerah dan tidak semurung ketika dia baru saja masuk ke dalam taksi. Hingga pada akhirnya, Eiren sudah sampai di tujuannya. Rumah tua dengan bunga yang ditanam di sekitar taman.
“Terima kasih, Venda,” ucap Eiren sembari membuka pintu mobil.
“Kamu tidak mau aku menunggu saja?” tanya Venda sembari menatap Eiren yang sudah siap keluar.
Eiren menggeleng dan tersenyum. “Tidak. Aku masih ingin bersama dengan Nenek tanpa merasa terganggu. Jadi lebih baik kamu pulang dan terima kasih sudah mengatar,” tolak Eiren lembut.
“Baiklah,” putus Venda dan membiarkan Eiren pergi. Matanya masih menatap Eiren dengan mata menatap tajam. Mengamati Eiren yang sudah hampir masuk ke dalam rumah.
“Semoga kita bisa bertemu lagi, Eiren,” ucap Venda sembari membalikan laju mobilnya dan pergi meninggalkan rumah tersebut.
_____
Alex melangkah melewati ruang tamu di rumahnya dengan mata tajam yang menunjukan kekesalannya. Dia masih tidak menyangka Eiren tidak mempercayainya dan memutuskan hubungan yang selama ini dibangun olehnya.
“Aku berjuang mati-matian dan kamu tidak menghargainya sama sekali, Eiren. Apa mau kamu sebenarnya?” gumam Alex sembari menaiki anak tangga.
“Sampai kapan pun aku tidak mau kamu bersama dengan yang lain, Eiren. Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu,” ucap Alex sembari memasuki ruangan di dekat tangga. Matanya menatap ranjang besar yang selalu ditidurinya. Namun, dia memilih untuk melangkah ke balkon kamar dan mencoba menenangkan pikiran.
Alex menatap kolam renang rumah yang tampak begitu tenang. “Kamu itu kenapa, Eiren? Aku bahkan seperti tidak mengenalmu sama sekali,” ujar Alex dengan perasaan yang semakin kacau.
“Alex, aku lelah. Aku lelah berurusan denganmu dan semua janji manismu. Aku mau kita akhiri hubungan kita mulai hari ini.”
Ucapan Eiren kembali terngiang dalam benak Alex. Perasaan kesal bercampur bingung merayap dalam hatinya. Menyangkal semua yang dikatakan Eiren mengenai sikapnya. Apa selama ini dia memang kurang tegas? Apa semua yang dilakukan malah melukai kekasihnya? Rasanya pikiran Alex hanya berhenti di satu tempat saja. Eiren.
“Cukup aku percaya dan berjuang sendiri, Alex. Aku lelah mencoba mempertahankanmu di saaat kamu asyik dengan Dora. Aku juga punya hati. Sebagai kekasih, aku juga mau diperhatikan.”
“Apa selama ini aku terasa tidak perhatian denganmu, Eiren?” tanya Alex kepada diri sendiri, “ baiklah. Jika itu maumu. Aku akan putuskan semuanya dan bertindak tegas. Aku mau kamu tetap menjadi kekasihku,” ucap Alex dengan perasaan berkecambuk.
Setelahnya Alex hanya diam sembari menimang dan memikirkan bagaimana caranya untuk mengatakan kepada orang tuanya yang jelas melarang hubungannya dengan Eiren.
“Alex,” panggil seseorang dari luar.
Alex hanya diam mendengar panggilan yang sudah diketahui siapa pemilik suara tersebut. Dora. Alex bahkan meninggalkan Dora di restoran yang baru saja hendak didatanginya.
“Alex, aku mau bicara,” ucap Dora lagi.
Alex hanya diam dan memejamkan mata. “Aku sedang tidak ingin bertemu siapa pun, Dora. Aku hanya ingin sendiri. Terlebih melihatmu hanya akan membuatku semakin emosi,” ucap Alex seorang diri.
_____
🌹🌹🌹🌹
Loha sayang-sayang Kim. Ketemu lagi nih. Gimana liburannya kemarin? Atau ada yang gak liburan. Tenang, kita senasib sayang.
Selamat membaca ya. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke favorit, vote dan follow Kim ya
Jangan lupa juga baca cerita baru Kim “Relationship Goals”. Di sana ada kisah tentang Bara, Dave, dan Alice. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke favorit, vote. Jangan lupa kirimkan ucapan untuk Kim ya. Terserah deh di ceirta yang mana. Semua juga Kim gak nolak hehe.
Sampai ketemu lagi sayang-sayangkuh
🌹🌹🌹🌹