Ardan Putra Anjaya seorang dosen lulusan khairo di Universitas Trisakti Bangsa. Penerus satu-satunya keluarga Anjaya. Demi bakti pada orang tua Ardan menerima perjodohan dengan wanita pilihan sang Bunda.
Zahwa Andana Srinata salah satu mahasiswa tempat Ardan mengajar. Memiliki paras yang cantik dan budi pekerti yang baik membuat Marwa menjadi idola kampus, tak ada lelaki yang tak tertarik dengannya. Namun prinsip warna tetap teguh tiada kata pacaran sebelum menikah sesuai ajaran orang tuanya.
Akankah pernikahan Ardan dan Zahwa berakhir bahagia? jika disaat benih cinta mulai muncul kedatangan orang masa lalu yang tak lain adalah kakak dari Zahwa datang untuk menagih janji Ardan untuk menikahinya? apakah yang akan dilakukan Ardan mempertahankan pernikahannya atau justru meninggalkan Zahwa demi sang kakak istrinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulia Nofika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan
Hiliran angin menemani gelapnya malam, suasana keheningan penuh kedamaian menemani gadis itu merenungi perbuatannya. Marwa menatap lurus taman kota didepannya, memutar kembali memori yang telah lama berlalu. Bagaimana dulu setiap waktunya dia habiskan disana bersama adiknya, semua kenangan seakan menambah luka dihatinya.
Keegoisan, kecemburuan, dan emosi membuatnya kehilangan akal sehatnya sendiri. Adik yang dulu begitu disayangi, selalu dijaga agar tak ada yang menyakitinya kini justru dia sendiri yang menolehkan luka dihatinya.
Semua seakan telah menjadi bumerang bagi Marwa, tak ada yang didapatkan dari semua yang dilakukan hanya kekecewaan orang tua yang diperolehnya.
"Ini sudah terlalu malam, aku antar pulang sekarang ya" entah sudah yang keberapa kali Adam menawarkan diri namun tak sedikitpun respon dari Marwa kakinya begitu berat meninggalkan tempat itu.
"Jika kamu begini terus, justru akan menyakiti dirimu sendiri. Angin malam tidak baik untuk kesehatan Marwa jadi aku mohon kota pulanh sekarang ya" bujuk Adam kembali.
Marwa menatap sendu laki-laki didepannya itu, disaat semua orang membencinya hanya Adam yang tetap berada disisinya. Selama ini dia selalu seperti orang bodoh yang tak menyadari bagaimana perasaan laki-laki itu padanya. Obsesi yang dirasakan kepada Ardan seakan telah menutup mata dan hatinya melihat ketulisan Adam.
"Jikapun aku sakit, mungkin itu tidak akan sesakit luka yang kutorehkan pada orang tuaku terutama adikku" setelah mengucapkan itu kembali Marwa menatap kosong kedepan. Mengingat bagaimana orang tuanya yang begitu enggan bertemu dengannya ditambah lagi kondisi Zahwa yang saat ini masih koma hanya demi menyalamatkan dia.
"Aku tahu kamu bersedih, yang penting kamu menyadari kesalahan yang kamu lakukan itu. Sekarang yang harus kamu lakukan minta maaf lah pada mereka, ikhlaskan Ardan bagaimana pun sekarang dia adik iparmu. Apa kau tidak melihat bagaimana besarnya cinta Ardan pada Zahwa?"
"Kamu tahu sendiri Adam, sekarang mereka begitu marah padaku jangankan untuk bicara melihatku saja mereka begitu enggan" dada Marwa terasa sesak, dia tidak menyangka kebodohan dan obsesinya terhadap Ardan menghancurkan dirinya sendiri sekarang.
"Mereka marah karena terlalu shok mendengar semua ini Marwa, kamu kan tahu sendiri bagaimana orang tuamu yang begitu sensitif jika sudah menyangkut kalian, dan sekarang Zahwa kritis itulah yang membuat mereka marah sekarang" dengan penuh kesabaran Adam mencoba menenangkan Marwa, hatinya begitu sesak saat melihat wanita dihadannya itu terlihat menyedihkan seperti sekarang.
"Apa mereka akan memaafkanku?" tanya Marwa setelah sesaat keheningan terjadi diantata mereka.
"Semarah dan sekecewa apapun mereka, kamu tetaplah anak mereka tidak ada orang tua yang akan membenci anaknya sendiri. Sekarang mereka hanya sedang emosi aku yakin besok mereka akan membaik"
Marwa kembali terdiam, hatinya membenarkan semua yang dikatakan Adam. Selama ini memang orang tuanya terlihat lebih menyayangi Zahwa tapi mereka memberinya rasa sayang dengan cara yang lain, tak pernah sekalipun orang tuanya menghalangi langkahnya bahkan selalu mendukung apa yang dia lakukan.
***
"Terima kasih sudah mengantarku palang" ucap Marwa saat mobil yang dikendarai Adam itu telah berhenti didepan Apartennya.
"Jangan berterima kasih seperti itu, bukankah sesama teman harus saling membantu" jawab Adam
Lidah terasa berat dan hatinya terasa teriris setiap kali harus mengatas namakan perteman disaat dia melindungi wanita itu. Jauh dilubuk hatinya, dia selalu berharap wanita yang dicintainya dalam diam itu kelak bisa menyadari ketulusannya.
"Masuklah, lansung istirahat besok pagi aku akan menjeputmu. Kita akan menemui orang tuamu" lanjut Adam.
Marwa hanya menuruti semua perintah Adam, pandangannya tak lepas sampai mobil yang dikendarai Adam mulai menjauh.
"Maafkan aku yang selama ini sangat bodoh seakan tak menyadari perasaanmu. Aku janji setelah semua masalah ini selesai aku akan belajar menerimamu" batin Marwa.
.
.
.
.
langsung saja aku kasih vote
*hujan dibalik punggung
*suamiku ceo ganas