Sinopsis
Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.
Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.
Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mungkin salah alatnya salah!
"Kamu pasti nggak minum obatnya, kan?! Jawab!" bentak Julian dengan suara tertahan namun melengking penuh emosi.
Mukanya memerah padam, urat-urat di lehernya menegang seiring dengan napasnya yang makin memburu.
"Kenapa kamu nggak minum?! Kamu sengaja biar kejadian kayak gini, hah?!"
Tuduhan kejam itu menghantam Sabrina tepat di dada.
Belum sempat ia menjawab, Julian melangkah maju dengan mata bergelora amarah. Dengan kasar, tangan pria itu terulur dan mencengkeram rahang Sabrina erat-erat.
Jemari Julian menekan pipi Sabrina dengan begitu kuat hingga mulut gadis itu sedikit meringis kesakitan.
"Jawab, Sab!" gertak Julian, menatap lurus ke dalam mata Sabrina yang penuh derita.
"Kamu sengaja kan mau jebak aku?!"
Sabrina gemetar hebat di bawah cengkeraman tangan Julian.
Tubuhnya menempel kaku pada dinding semen. Ketakutan luar biasa melumpuhkan seluruh badannya, melihat sosok Julian yang belum pernah ia temui sebelumnya, seorang pria yang mendadak berubah menjadi monster yang dipenuhi kekepanikan dan amarah.
Air mata Sabrina mengalir makin deras, membasahi jemari Julian yang masih mencengkeram wajahnya. Isakan tangisnya pecah di antara napasnya yang tersendat-sendat.
"Ti.... Tidak, Kak... demi Allah, tidak..." Ucap Sabrina terputus-putus di balik jeratan jemari Julian.
Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Sabrina memegang pergelangan tangan Julian, memohon ampun sekaligus belas kasih.
"Aku minum obatnya, Kak! Aku sumpah... aku bersumpah aku minum obat itu!" jerit Sabrina dengan suara serak yang memilu.
"Aku tidak bohong, Kak... aku bener-bener minum!"
Tangisan Sabrina makin pecah, bahunya berguncang hebat di tengah cengkeraman keras Julian.
Rasa sakit di wajahnya tak sebanding dengan hancurnya hatinya saat orang yang paling ia harapkan perlindungan justru menudingnya dengan begitu keji.
"Aku takut, Kak... Aku juga nggak mau ini kejadian..." tangis Sabrina pilu, menatap Julian dengan tatapan memohon agar pria itu mau mempercayainya sedikit saja.
Melihat Sabrina yang menangis tersedu-sedu dan tubuhnya gemetar hebat dalam cengkeramannya, sisa kesadaran Julian akhirnya menahan dirinya.
Dia tersentak, lalu perlahan melepaskan cengkeramannya dari wajah Sabrina.
Bekas memar kemerahan tercetak jelas di pipi pucat gadis itu.
Julian melangkah mundur beberapa tindak, mengacak-acak rambutnya sendiri dengan sangat frustrasi.
Suara napasnya kasar dan memburu, mencerminkan kepanikan luar biasa yang kini menggerogoti pikirannya. Dia membelakangi Sabrina, berjalan bolak-balik di area tangga darurat yang sempit itu bagai binatang dalam kandang.
"Bangsat..." umpat Julian pelan, seraya meninju dinding semen di sebelahnya dengan pelan.
Dia lalu berbalik lagi menghadap Sabrina, menatap gadis itu dengan raut wajah penuh tuntutan.
"Kalau kamu beneran minum..." Julian menggantung kalimatnya. Ia memajukan tubuhnya sedikit, memelankan suaranya hingga menjadi bisikan yang sangat tajam dan tertahan,
"Kenapa bisa sampai hamil, Sab?"
Julian menekan kata hamil dengan suara yang begitu pelan namun penuh dengan racun kecurigaan dan penolakan, seolah-olah menyebut kata itu saja bisa menghancurkan seluruh hidupnya.
Sabrina yang masih bersandar lemas di dinding hanya bisa terisak. Ia memeluk dirinya sendiri rapat-rapat, mencoba meredakan guncangan hebat di dadanya.
"Aku... aku tidak tahu, Kak..." bisik Sabrina di antara tangisnya yang memilu, suaranya parau dan habis. Ia menggelengkan kepala berulang kali dengan keputusasaan yang mendalam.
"Aku bener-bener tidak tahu... Aku cuma... aku cuma lakuin apa yang Kakak suruh..."
Julian menarik napas panjang, berusaha keras menekan kepanikan yang membakar dadanya. Ia memejamkan mata sejenak, memblokir suara isak tangis Sabrina yang memenuhi lorong tangga darurat.
Otaknya berputar cepat, mencari celah, kemungkinan, atau alasan apa pun untuk membantah kenyataan mengerikan ini. Ia tidak boleh hancur sekarang. Ia harus berpikir jernih.
"Oke... oke, dengerin aku dulu," ujar Julian, suaranya kini melunak meski nada pening yang amat sangat masih terdengar jelas.
Dia melangkah mendekati Sabrina, menatap gadis yang masih terisak pelan di depannya.
"Kamu... kamu tau kamu hamil dari mana, Sab? Kamu cek sendiri atau udah ke dokter?" tanya Julian menuntut, matanya menatap tajam, menggantungkan harapan besar pada jawaban Sabrina.
Sabrina menyapu air mata di pipinya dengan ujung lengan baju sweater-nya yang kebesaran. Suaranya terdengar begitu parau dan rapuh saat menjawab.
"Aku... aku cek sendiri, Kak. Pake testpack."
Mendengar jawaban itu, binar kelegaan mendadak memercik di mata Julian. Rasa panik yang tadi menghimpit dadanya seketika menyusut, berganti dengan keyakinan baru yang menenangkan pikirannya.
Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnya.
"Cuma pake testpack?" tawar Julian cepat, nada suaranya naik satu oktaf karena kelegaan. Ia memegang kedua bahu Sabrina, menatap gadis itu lekat-lekat.
"Sab, dengerin aku. Alat tes kayak gitu tuh nggak seratus persen akurat! Banyak banget kasus alat tesnya yang rusak, atau salah garis. Bisa aja alat itu produk gagal, Sab!"
Sabrina mendongak perlahan, menatap mata Julian dengan sisa-sisa air mata yang masih membendung.
"Tapi aku udah coba dua kali. Garisnya tetap dua."
"Iya, tapi bisa aja satu bungkus yang kamu beli itu dari lot produksi yang cacat, kan?!" potong Julian cepat, tak memberi kesempatan bagi Sabrina untuk meragukan teorinya.
Julian menggelengkan kepala, mencoba menyuntikkan rasa optimis palsu ke dalam kepala Sabrina.
"Kamu jangan panik dulu. Alat tes mandiri kayak gitu sering salah. Kita nggak bisa langsung menyimpulkan kamu hamil cuma gara-gara selembar kertas plastik murah."
Julian mengusap bahu Sabrina yang masih bergetar, mencoba bersikap seolah ia mengendalikan situasi.
"Nanti sore, kita tes ulang. Aku sendiri yang bakal beliin alat tesnya yang paling bagus, paling mahal, dan paling akurat di apotek. Kamu cek lagi, paham?"
Sabrina hanya mampu mengangguk pelan dalam kepasrahannya. Di dalam hatinya yang paling dalam, ia ingin sekali mempercayai kata-kata Julian, berharap dua garis merah itu memang hanyalah sebuah kesalahan teknis yang membodohinya.
Julian merapikan jaketnya yang sedikit kusut, lalu mengembuskan napas panjang untuk menyeka sisa-sisa kepanikan di wajahnya.
Sorot matanya kini fokus, tampak dipenuhi rencana yang telah tersusun cepat di otaknya.
"Ya udah, kita pulang," ujar Julian tegas, suaranya kembali datar dan dingin.
"Kita langsung singgah apotek beliin testpack baru. Udah gitu kita ke hotel, kamu periksa di sana."
Sabrina mendongak seketika dengan mata sembapnya.
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Julian meraih pergelangan tangan Sabrina dan menuntunnya keluar dari area tangga darurat menuju parkiran.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil Julian. Perjalanan berlangsung dalam keheningan yang tegang dan membisu.
Julian memacu kendaraan membelah arus jalanan kota, hingga ia menghentikan mobilnya di depan sebuah apotek besar di pinggir jalan utama.
"Kamu tunggu di sini," perintah Julian singkat sebelum melepas sabuk pengamannya.
"Jangan kemana-mana."
Julian keluar dari mobil dan melangkah cepat masuk ke dalam apotek. Dari dalam kabin yang sepi, Sabrina hanya bisa menatap punggung Julian yang menghilang di balik pintu kaca apotek.
Tangannya meremas kuat-kuat sabuk pengaman yang melintang di dadanya, sementara jantungnya berdegup semakin kencang.