Bagi dunia, Hades Sterling adalah pengusaha kejam yang tak tersentuh. Namun bagi Persephone Sinclair, dia adalah suami posesif yang memanggilnya "Ma chérie". Percy suka petualangan dan kegilaan keliling dunia, sementara Hades suka membiarkannya bebas, dalam pengawasan ratusan pengawal bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Air mata hangat akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipi mulus Percy, lolos tanpa bisa ia tahan di bawah tekanan jari-jari suaminya. Rasa sakit menjalar di rahangnya, membuat napasnya tersengal di tenggorokan.
"Sakit... Hades, lepas..." rintih Percy lirih, jemari mungilnya mencengkeram pergelangan tangan suaminya yang kokoh bagai besi, berusaha menariknya menjauh dengan tenaga yang tersisa.
Namun, Hades tidak sedikit pun mengendurkan cengkeramannya. Pria itu menunduk semakin dalam, wajah tampannya hanya berjarak beberapa inci dari wajah sang istri yang basah oleh air mata. Sorot mata kelabu itu menggelap, menyimpan bara api amarah yang siap menghanguskan apa saja.
"Hukuman apa yang cocok untuk Nyonya Sterling?" ulang Hades dengan suara baritonnya yang rendah dan dingin, menusuk langsung ke dalam gendang telinga Percy. "Kau pilih sendiri... atau aku yang menentukannya?"
Pertanyaan mutlak itu menggantung di udara, menuntut jawaban yang tidak mungkin bisa diberikan dengan mudah. Selama ini, Percy selalu bisa meloloskan diri dengan senyuman, manja, atau rayuan ringan. Namun kali ini, singa di hadapannya sama sekali tidak berniat untuk berkompromi.
Ketakutan yang sempat melilit dada Percy perlahan tersapu oleh gelombang pemberontakan yang mendadak melonjak naik. Rasa tidak terima karena diperlakukan sekaku itu membuatnya kehilangan sisa-sisa kesabaran. Dengan mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dirinya, Percy mendadak mendongakkan kepalanya dengan mata amber yang menyala tajam, lalu berteriak sekuat tenaga di hadapan wajah suaminya.
"Aku tidak mau dihukum apa pun!" teriak Percy lantang, suaranya bergetar hebat di sela isakannya. Ia mulai meronta-ronta dengan beringas, mendorong dada bidang Hades sekuat tenaga. "Aku tidak merasa salah sama sekali! Aku hanya bosan! Kenapa aku harus terus dikurung di dalam sangkar itu sementara kau bebas pergi ke mana pun?!"
Rontaan liar dan teriakan keras dari sang istri bagaikan percikan api terakhir yang jatuh ke tumpukan mesiu. Kesabaran Hades yang sedari tadi berada di ujung tanduk seketika runtuh total, membawanya tepat ke puncak kemarahannya.
Udara di dalam kamar mewah itu mendadak membeku, menyisakan ketegangan yang begitu pekat hingga membuat napas terasa sesak.
Dengan sekali gerakan yang sangat cepat dan tanpa ampun, tangan besar Hades terulur dari rahang Percy, berpindah melingkari leher jenjang istrinya. Pria itu mencekik leher Percy dengan cengkeraman besi yang kokoh, sementara sepasang mata kelabunya menatap tajam tanpa secercah pun rasa belas kasih.
"Ukh...!" Percy terkesiap tertahan. Tubuh mungilnya langsung menegang kaku di atas ranjang.
Rontaan liar yang tadinya beringas seketika berubah menjadi gerakan melemah. Cengkeraman tangan Hades di lehernya begitu kuat hingga membuat pasokan udara di paru-parunya terputus seketika. Air mata Percy mengalir semakin deras, membasahi punggung tangan suaminya. Jemari mungilnya mencengkeram pergelangan tangan Hades dengan panik, mencoba menariknya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
"Le... pas..." ronta Percy terpatah-patah, suaranya tercekat di tenggorokan, nyaris tak terdengar di bawah tekanan mutlak sang suami.
Namun, pemandangan itu sama sekali tidak meluluhkan hati Hades. Pria berdarah Yunani-Italia itu mendekatkan wajahnya, berbicara dengan nada dingin, datar, namun sarat akan ancaman mematikan yang menusuk relung jiwa.
"Selama ini aku diam dengan semua yang kau lakukan, Ma chérie," bisik Hades tepat di depan wajah Percy yang mulai memerah. "Aku selalu menuruti semua kegilaanmu... namun jika aku bilang kau tetap diam, artinya tetap diam dan tidak ke mana-mana."
Hades mempererat sedikit tekanannya, membuat Percy mendesah kesakitan dalam tangisnya.
"Jika kau ingin bepergian, aku akan membiarkanmu bepergian saat aku mengizinkannya," lanjut Hades dingin, rahangnya mengeras. "Namun saat aku berkata tidak, artinya tidak. Jangan pernah terus menguji batas kesabaranku."
Napas Percy mulai memburu tak beraturan. Pandangannya di hadapan mulai mengabur, dipenuhi titik-titik hitam akibat kekurangan oksigen. Kesadarannya perlahan-lahan mulai melayang, meninggalkan rasa takut dan sesak yang teramat sangat.
Hades, yang tadinya berniat bergegas pergi untuk membersihkan 'tikus' pengganggu bernama Iris Montgomery di hotel, mendadak menghentikan niatnya. Melihat sang istri yang kini terkulai lemas dengan mata setengah terpejam dan tubuh yang mulai kehilangan daya, amarahnya bergeser menjadi kilatan posesif yang menakutkan.
"Sebenarnya, aku harus segera pergi untuk menyingkirkan tikus itu..." bisik Hades tajam tepat di telinga Percy. "...namun melihatmu yang semakin tidak terkendali seperti ini, sepertinya bukan ide yang buruk untuk membiarkan tikus itu berulah lebih lama, agar kau belajar betapa berbahayanya dunia luar tanpaku di sisimu."
Tepat di ambang batas kewarasan Percy, saat wanita itu merasa dirinya benar-benar akan kehilangan kesadaran untuk selamanya, Hades akhirnya mengendurkan cengkeramannya dan melepaskan leher sang istri begitu saja.
Bruk.
Percy terhempas lemas di atas seprai sutra. Ia langsung miring ke samping, meraup oksigen di sekitarnya dengan sangat rakus dan terbatuk-batuk hebat. Dadanya naik-turun dengan liar, sementara air mata terus bercucuran tak henti-hentinya dari sepasang mata ambernya yang menyiratkan ketakutan mutlak untuk pertama kalinya terhadap sang penguasa Sterling.
Udara di dalam kamar mewah bernuansa Mediterania itu masih terasa begitu berat, menyisakan bau asing dari ketegangan yang baru saja mereda secara brutal. Percy terbaring lemah di atas seprai sutra, dadanya masih naik-turun tak beraturan, berusaha menstabilkan napasnya yang tercekat.
Belum sempat ia memulihkan kesadarannya sepenuhnya, tangan besar Hades kembali terulur. Tanpa memberikan ruang bagi Percy untuk bernapas, pria itu mencengkeram rahang Percy dengan kuat, memaksa wajah pucat sang istri untuk mendongak dan menatap langsung ke dalam sepasang mata kelabunya yang sedingin es.
"Aku tidak ingin ada negosiasi apa pun, Percy," ucap Hades dengan suara baritonnya yang rendah, mutlak, dan tidak menyisakan sedikit pun celah untuk membantah. "Jika kau terus melawan... aku bisa melakukan hal yang lebih jauh yang tak pernah kau bayangkan. Mengerti?"
Percy menggigil hebat. Tubuhnya yang mungil gemetar ketakutan di bawah cengkeraman tangan suaminya. Tidak ada lagi sisa-sisa keberanian atau sifat 'cegil' yang angkuh yang tersisa hanyalah rasa ngeri yang merasuk hingga ke tulang sumsum. Dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya, Percy perlahan mengangguk lemah.
Hades melepaskan cengkeramannya dari rahang sang istri. Tanpa aba-aba, pria itu mendekatkan wajahnya dan melumat bibir pucat Percy dengan kasar sebuah ciuman penuh dominasi, kepemilikan mutlak, dan peringatan tanpa kata.
Begitu melepaskan tautan mereka, Hades menatap Percy sekilas dengan pandangan datar. "Istirahatlah. Besok pagi kita akan pulang ke New York. Masih ada urusan yang harus aku urus di sini."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Hades berbalik badan, melangkah keluar kamar dengan langkah tegas, lalu menutup pintu rapat-rapat. Suara kunci diputar dari luar, mengurung Percy sendirian di dalam kamar luas tersebut.
Begitu suara langkah kaki Hades benar-benar menghilang di balik koridor, pertahanan terakhir Percy runtuh seketika.
Ia jatuh terduduk di atas ranjang, memeluk kedua lututnya erat-erat sambil menangis sesenggukan. Rasa sakit di rahangnya, sesak di lehernya, dan rasa terhina karena diperlakukan sedemikian rupa bergemuruh menjadi satu di dalam dadanya. Selama ini ia mengira dirinya adalah ratu yang bisa mempermainkan singa itu sesuka hatinya, namun malam ini ia disadarkan dengan cara yang paling kejam bahwa ia tidak lebih dari sekadar tawanan di dalam sangkar emas.
Kemarahan, rasa frustrasi, dan keputusasaan yang meluap-luap membuat Percy kehilangan akal sehatnya.
Dengan napas tersengal dan air mata yang terus bercucuran, ia mendongak lalu menyambar vas bunga kristal mahal yang terletak di atas nakas, melemparkannya sekuat tenaga hingga pecah berkeping-keping menghantam lantai marmer.
Prang!
Suara pecahan kaca menggema di seluruh ruangan. Aksi itu tidak berhenti di situ Percy terus melampiaskan amarahnya dengan menyapu bersih segala benda yang ada di jangkauannya, lampu meja, bingkai foto, hingga gelas-gelas kristal di atas meja rias dilempar dan dipecahkan satu persatu hingga seluruh lantai kamar dipenuhi puing-puing kehancuran.
Percy terduduk di tengah reruntuhan barang-barang mewah tersebut, memeluk dirinya sendiri, menangis meraung-raung dalam kesendirian, menyadari bahwa jeruji besi sangkar itu kini jauh lebih nyata dan menyesakkan daripada sebelumnya.