NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Keesokan paginya, Azel tampak mondar-mandir di teras rumah sambil sesekali melirik jam tangan.

"Kak Arshaf ke mana, sih..."

Ia kembali menekan tombol panggil di ponselnya. Sudah entah berapa kali ia menghubungi sang kakak, tetapi tak kunjung diangkat.

"Aduh... aku bisa telat."

Hari itu ia memang berencana menggunakan motor milik Gus Arshaf karena motornya sendiri sedang masuk bengkel untuk servis ringan.

Beberapa menit kemudian, suara motor akhirnya terdengar memasuki halaman rumah.

Gus Arshaf turun dari motornya sambil melepas helm. "Ada apa, sih, Zel? Telepon kakak terus."

Azel langsung berjalan menghampirinya dengan wajah cemberut. "Ya Allah, Kak. Aku udah hampir telat ke kampus. Kan hari ini aku mau pakai motor ini."

Gus Arshaf menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lho, mana kakak tahu? Kakak kira hari ini kamu dianter Abi."

Azel mendengus pelan. "Kalau dianter Abi, ngapain aku nelepon Kakak berkali-kali?"

"Iya juga, sih."

"Udah ah, aku benar-benar telat."

Azel buru-buru mengambil helmnya, lalu menaiki motor. Gus Arshaf menyerahkan kunci motor sambil tersenyum kecil.

"Hati-hati di jalan."

"Iya."

"Jangan ngebut."

Azel mengangguk asal. "Iya, iya."

"Serius, Zel. Jangan karena telat terus kamu kebut-kebutan."

"Iya, Kak. Aku tau."

Setelah mengenakan helm, Azel segera menyalakan mesin motor. "Bismillah."

Motor itu pun melaju keluar dari halaman rumah.

Gus Arshaf masih memperhatikan adiknya hingga menghilang di ujung jalan.

"Semoga nggak kenapa-kenapa," gumamnya pelan sebelum kembali masuk ke dalam rumah.

Begitu tiba di area parkir Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Azel langsung mematikan mesin motor. Ia bahkan tidak sempat merapikan anak rambut yang keluar dari balik kerudungnya.

Tas ransel segera disampirkan ke bahu.

Lalu...

Bruk!

Jok motor ditutup, dan ia langsung berlari menuju gedung perkuliahan.

"Aduh... semoga belum mulai."

Ia melirik jam tangan. Wajahnya langsung meringis. "Ya Allah... udah telat sepuluh menit."

Napasnya mulai memburu saat menaiki anak tangga menuju lantai dua. "Untung pagi ini Bu Maya. Beliau baik hati. Paling cuma disuruh minta maaf terus masuk."

Sesampainya di depan ruang kelas, Azel berhenti sejenak untuk mengatur napas.

"Huft... hufth..."

Setelah napasnya sedikit teratur, ia membuka pintu kelas perlahan.

Ceklek.

Baru saja kepalanya menyembul dari balik pintu, Sekar yang duduk di bangku depan langsung menoleh. Tatapan sahabatnya itu terlihat aneh. Seperti sedang memberi kode. Sekar menggeleng pelan sambil membulatkan mata, tetapi Azel sama sekali tidak mengerti maksudnya. Azel pun mengucapkan salam.

"Assalamu'alaikum."

Ruangan mendadak hening. Saat pandangannya beralih ke depan kelas, mata Azel langsung membulat sempurna.

Lho...?

Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat.

Pria yang berdiri di depan papan tulis itu... Adalah laki-laki yang kemarin menyipratinya dengan air lumpur.

"Dosen kaku...." Batin Azel menjerit. Apa aku salah masuk kelas?

Namun ketika melihat wajah teman-temannya yang sama-sama tampak terkejut, ia sadar... Bukan ia yang salah kelas. Melainkan dosen di depannya itulah yang menggantikan Bu Maya.

Di depan kelas, Ibra menyunggingkan senyum tipis. Bukan senyum ramah. Melainkan sebuah smirk yang nyaris tak terlihat. Tentu saja ia masih mengingat mahasiswi yang kemarin berani menghadang mobilnya di tengah jalan.

"Permisi, Pak," ucap Azel pelan. "Maaf, saya terlambat."

Tanpa berani menatap lebih lama, ia segera melangkah menuju bangkunya.

"Berhenti." Suara datar Ibra membuat langkah Azel terhenti.

"Siapa yang menyuruh kamu duduk?"

Azel menelan ludah. "Maaf, Pak."

Ibra melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. "Kamu terlambat sebelas menit empat puluh lima detik."

Seluruh mahasiswa menahan napas.

"Tapi, Pak, saya—"

"Saya belum selesai bicara."

Azel langsung terdiam.

Ibra melangkah perlahan dari depan kelas. "Saya tidak menoleransi keterlambatan. Tidak peduli apa pun alasannya."

Tatapan tajamnya berhenti tepat di depan Azel.

"Karena dalam dunia kerja nanti, waktu tidak akan berhenti hanya untuk menunggu satu orang."

Azel mengepalkan kedua tangannya.

Dalam hati ia menggerutu. Ya Allah... kenapa dari semua dosen yang ada, justru dosen es batu ini yang gantiin Bu Maya?

Ibra kembali membuka suara. "Karena ini pertemuan pertama saya dengan kelas ini, saya hanya akan memberi satu kesempatan."

Azel mengangkat wajahnya sedikit.

"Sebutkan nama lengkap, NIM, dan jelaskan kepada seluruh kelas mengapa seorang mahasiswa harus menghargai waktu."

Mata Azel langsung membesar. Lho... disuruh pidato?

Azel mengembuskan napas pelan. Mau tidak mau, ia berdiri tegak di depan kelas dengan puluhan pasang mata yang kini tertuju kepadanya.

"Perkenalkan, Pak. Nama saya Arzelia Nayesha Mahina Ghazi."

Kalimat itu membuat Ibra yang semula hendak menuliskan sesuatu di papan tulis menghentikan gerakannya. Spidol di tangannya terdiam. Sorot matanya perlahan beralih ke arah Azel.

"Ghazi..."

Nama belakang itu terasa begitu familier. Sejenak, pikirannya melayang jauh ke belasan tahun yang lalu.

"Ghazi... bukankah itu nama belakang Kiai Alif dan Kiai Abidzar?"

Ia masih mengingat dengan jelas kedua laki-laki yang ia hormati itu. Sosok yang pernah mengajarinya membaca Al-Qur'an dan menanamkan banyak nasihat ketika ia masih kecil.

Ibra kembali menatap Azel. "Tunggu."

Azel yang hendak melanjutkan perkenalannya berhenti. "Iya, Pak?"

"Siapa nama lengkapmu tadi?" "Arzelia Nayesha Mahina Ghazi, Pak."

"Nama belakangmu... Ghazi?"

"Iya, Pak."

Ibra terdiam beberapa saat. "Ghazi..." batinnya kembali mengulang nama itu. "Nama yang tidak asing."

Apakah hanya kebetulan?

Atau... Jangan-jangan gadis di hadapannya masih memiliki hubungan dengan seseorang yang pernah begitu berjasa dalam hidupnya.

Namun Ibra segera mengenyahkan dugaan itu. Indonesia bukan negara kecil. Kesamaan nama keluarga bukan berarti memiliki hubungan darah.

Ia kembali memasang ekspresi datarnya. "Baik. Lanjutkan."

Azel mengangguk pelan, meski dalam hati merasa heran. "Kenapa beliau tiba-tiba nanya nama lengkapku dua kali?"

Ia pun menarik napas sebelum mulai menjawab pertanyaan berikutnya. "Menurut saya, seorang mahasiswa harus menghargai waktu karena disiplin adalah bagian dari tanggung jawab. Datang tepat waktu bukan hanya bentuk menghargai dosen, tetapi juga menghargai teman-teman yang sudah hadir lebih dulu. Selain itu, kebiasaan disiplin selama kuliah akan sangat berpengaruh ketika nanti memasuki dunia kerja."

Jawaban itu membuat beberapa mahasiswa mengangguk pelan.

Ibra memperhatikan Azel tanpa menyela sedikit pun. Setelah Azel selesai berbicara, ia bertanya lagi.

"Kamu tinggal dengan siapa?"

Azel mengernyit. "Maaf, Pak?"

"Saya bertanya, kamu tinggal dengan siapa?"

"Dengan Abi, Uma, sama kakak-kakak saya."

"Nama ayahmu?"

Azel semakin bingung. "Pak... ini masih ada hubungannya sama materi kuliah?"

Beberapa mahasiswa mulai saling pandang. Mereka juga tidak mengerti mengapa dosen yang terkenal dingin itu tiba-tiba menanyakan identitas Azel sedetail itu.

Ibra tersadar bahwa pertanyaannya mulai keluar dari konteks perkuliahan.

Ia menghela napas pelan. "Tidak. Silakan duduk."

"Iya, Pak."

Azel segera menuju bangkunya.

Sementara itu, Ibra kembali menghadap papan tulis. Namun pikirannya tidak lagi sepenuhnya berada pada materi kuliah.

Nama Ghazi terus terngiang di kepalanya.

"Kalau memang ada hubungannya dengan beliau... Berarti... kemungkinan itu memang ada."

Setelah menjelaskan materi perpajakan selama hampir satu setengah jam, Ibra menutup spidol yang sedari tadi digunakannya.

Ia menyapu seluruh isi kelas dengan tatapan tenang, tetapi cukup membuat suasana kembali hening.

"Sebelum saya akhiri perkuliahan hari ini, saya ulangi sekali lagi."

Seluruh mahasiswa langsung menegakkan posisi duduk.

"Saya berada di kelas ini untuk menggantikan Bu Maya selama beliau menjalani cuti. Selama saya mengajar, ada beberapa aturan yang wajib kalian patuhi."

Ia mengangkat satu jari. "Pertama, saya tidak menerima alasan apa pun untuk keterlambatan. Datanglah sebelum jam kuliah dimulai."

Jari kedua terangkat. "Kedua, saya tidak mentoleransi kecurangan dalam bentuk apa pun. Mencontek tugas, ujian, menjiplak karya orang lain, ataupun menggunakan cara-cara yang tidak jujur."

Beberapa mahasiswa mulai saling melirik.

Jari ketiga menyusul. "Ketiga, selama saya menjelaskan materi, saya ingin seluruh mahasiswa memperhatikan. Tidak ada yang mengobrol sendiri."

Tatapannya berkeliling ke setiap sudut ruangan.

"Kalau tidak mengerti, angkat tangan dan bertanya. Saya lebih menghargai mahasiswa yang berani bertanya daripada mahasiswa yang pura-pura paham."

Ruangan kembali sunyi.

"Jelas?"

"Jelas, Pak," jawab seluruh mahasiswa hampir bersamaan.

Ibra mengangguk tipis. "Saya juga tau..."

Pandangan matanya berhenti sejenak ke arah beberapa mahasiswa di barisan tengah, termasuk Azel.

"...ada beberapa dari kalian yang belum pernah mendapatkan kelas saya."

Azel refleks menundukkan kepala. Entah mengapa ia merasa kalimat itu ditujukan kepadanya.

"Dan sekarang...akhirnya kalian merasakannya."

Sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyum yang sulit diartikan.

"Bagaimana?" Ia berhenti sesaat sebelum melanjutkan, "Happy?"

Seketika suasana kelas menjadi canggung. Beberapa mahasiswa saling pandang.

Ada yang ingin tertawa, tetapi takut. Ada pula yang menelan ludah. Dengan ragu-ragu, beberapa mahasiswa mengangguk kecil.

"He-he... happy, Pak," jawab mereka lirih.

Azel yang duduk di bangku tengah hanya bisa memejamkan mata sejenak. "Ini pasti nyindir aku."

Ia teringat perkataannya kemarin di jalan. "Dasar dosen es batu."

Dan kini... Rasanya dosen es batu itu sedang menikmati momen ketika akhirnya menjadi dosennya.

"Ya Allah... satu semester bakal panjang banget kayaknya."

Sementara di depan kelas, Ibra menangkap ekspresi pasrah Azel. Meski wajahnya tetap datar, dalam hati ia hampir saja tersenyum. "Tidak takut, ya?"

Ia masih mengingat dengan jelas ucapan mahasiswi itu kemarin. Kini, ia ingin melihat apakah keberanian Azel hanya muncul di jalan raya... Atau juga bertahan di dalam ruang kelas.

Begitu Ibra keluar dari kelas, suasana yang semula hening seketika berubah ramai.

Beberapa mahasiswa langsung mengembuskan napas lega. "Huft... akhirnya selesai juga."

Azel menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Ya Allah... baru pertemuan pertama aja udah bikin jantung mau copot."

Sekar memutar kursinya menghadap Azel. "Kok bisa, sih, lo telat hari ini, Zel?"

Azel langsung mendengus. "Jangan ditanya. Kak Arshaf bawa motor dari pagi. Mana susah banget dihubungin. Pas dia pulang, waktu gue udah mepet."

"Hahaha... apes banget."

"Iya. Mana yang ngajar malah dia."

Sekar mengangguk paham. "Jujur, gue juga syok waktu masuk kelas. Gue kira masih Bu Maya."

Azel memegang dahinya. "Kenapa harus dosen itu, sih, yang gantiin Bu Maya?"

Bela yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka ikut menyahut. "Ya mau gimana lagi. Kita semua juga kaget, Zel."

Ia menghela napas panjang. "Entah deh nasib kita satu semester ke depan bakal gimana."

Azel kembali menyandarkan kepalanya. "Gue udah punya firasat buruk."

Sekar dan Bela langsung mengangguk kompak. "Sama."

Bela tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh iya!"

"Apa?"

"Lo tau nggak?"

"Tau apaan?"

"Gue denger dari Kak Fariz..." Bela sengaja menggantung kalimatnya.

Azel mulai penasaran. "Apa, Bel? Cepat ngomong."

"Pak Ibra sekarang jadi dosen pembina BEM Fakultas." Sahut Sekar.

"Hah?!" Suara Azel spontan meninggi hingga membuat beberapa mahasiswa menoleh.

"Masa, sih?"

"Iya."

Azel langsung menoleh ke Sekar. "Sekar, jangan ikut-ikutan ngerjain gue, ya."

Sekar menggeleng cepat. "Gue serius. Kak Fariz sendiri yang cerita."

Azel masih belum percaya. "Serius?"

"Iya. Kak Fariz kan Ketua BEM. Lo aja yang nggak ikut rapat kemarin."

Azel mengembuskan napas panjang. "Ya gimana, Sek. Kemarin gue capek banget."

"Makanya, rugi sendiri."

"Ya Allah..." Azel menepuk dahinya pelan.

"Kenapa lagi?" tanya Bela sambil menahan tawa.

"Gue kan pengurus Humas BEM."

Sekar dan Bela saling berpandangan. "Oh iya... Kita juga dong berati ya?"

"Nah baru sadar lo!"

Azel langsung menjatuhkan kepalanya ke atas meja. "Ya Tuhannnn.... Baru kemarin gue ribut sama beliau di jalan."

Sekar mengernyit. "Ribut? Maksudnya gimana?"

Azel langsung mengangkat kepalanya. "Jadi kemarin tuh gue kecipratan air lumpur gara-gara mobil."

"Hah?"

"Gue kesel banget. Akhirnya gue kejar mobilnya sampai berhasil gue hadang di tengah jalan."

"Masa?!"

"Iya!"

"Terus?"

"Pas yang turun dari mobil..." Azel berhenti sejenak. "...Pak Ibra."

"Hah?!" Kali ini Sekar dan Bela yang kompak berteriak.

"Iya! Mana gue tau kalau itu beliau. Orang dia keluar mobil langsung pasang muka jutek. Gue juga udah terlanjur ngomel."

Sekar menepuk meja sambil tertawa. "Astaga, Zel! Berani banget lo."

"Berani dari mana? Gue kan belum tau itu dosen."

"Lah terus?"

"Ya makin apes lagi, ternyata di mobilnya ada Arjun."

"Arjun siapa?"

"Anak daycare punya Uma. Ternyata Pak Ibra itu ayahnya."

Bela menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. "Jadi... lo marah-marah ke dosen lo sendiri?"

"Iya."

"Sebelum tahu beliau dosen?"

"Iya!"

Sekar sudah tidak mampu menahan tawanya. "Hahahaha... pantes tadi beliau senyum pas lo telat."

"Iya, ya?"

"Iya! Kayaknya beliau langsung ingat sama cewek yang kemarin ngadangin mobilnya."

Azel memukul pelan bahu Sekar. "Jangan ngomong gitu, napa!"

Bela masih tertawa. "Terus, lo ngomong apa aja kemarin?"

Azel memejamkan mata. "Jangan diungkit."

"Pasti parah."

"Parah."

"Coba cerita."

Azel menggeleng cepat. "Nggak mau."

"Kenapa?"

"Gue malu."

Sekar dan Bela saling berpandangan.

Azel... Malu?

Mereka justru semakin penasaran.

"Zel..."

"Apa lagi?"

"Lo jangan-jangan..."

"Apa?"

"...udah masuk daftar mahasiswa yang diingat Pak Ibra."

Azel terdiam beberapa detik. Lalu ia kembali menjatuhkan kepalanya ke atas meja.

"Fix! Hidup gue mulai hari ini resmi nggak tenang."

***

Sementara itu, di ruang kerjanya, Ibra belum juga menyentuh berkas-berkas yang menumpuk di atas meja. Pikirannya masih terpaku pada satu nama.

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu memejamkan mata sejenak.

"Ghazi..."

Nama belakang itu benar-benar tidak asing.

Ingatannya perlahan kembali menelusuri masa belasan tahun silam.

Pesantren. Suara lantunan Al-Qur'an selepas Subuh. Dan sosok seorang kiai yang begitu ia hormati.

Kiai Alif Arshad Ghazi.

Beliau adalah salah satu guru yang paling berjasa dalam hidupnya. Sosok yang mengajarkannya Al-Qur'an, adab, dan banyak pelajaran hidup selama ia mondok di sana.

Bahkan hingga kini, setiap kali mengingat nama sang guru, hati Ibra selalu dipenuhi rasa hormat.

"Kalau tidak salah..." gumamnya pelan. "Beliau punya dua cucu kembar."

Ingatannya kembali pada dua anak laki-laki yang usianya hanya terpaut beberapa tahun di bawahnya.

Arshaf dan Aryan.

Dua anak yang hampir selalu bersama ke mana pun pergi. Meski usianya lebih tua, Ibra cukup akrab dengan keduanya karena sering bermain di halaman pesantren sepulang mengaji.

Ia masih ingat bagaimana Aryan kecil yang lebih usil dibanding saudara kembarnya, sementara Arshaf cenderung lebih tenang dan mudah diajak bicara.

Tanpa sadar, sudut bibir Ibra terangkat tipis mengenang masa kecil mereka.

Namun senyum itu segera memudar. "Kalau memang Azel masih ada hubungan dengan keluarga Ghazi... Berarti kemungkinan besar mereka masih tinggal di sekitar pesantren."

Ia kembali teringat pesan terakhir almarhum ibunya. "Temuilah guru-gurumu... dan temuilah gadis itu."

Ibra mengembuskan napas pelan. Selama bertahun-tahun ia selalu mencari alasan untuk menunda kepulangannya ke kota itu.

Entah karena pekerjaan atau karena ia belum siap menghadapi masa lalu yang pernah ia tinggalkan.

Kini, hanya karena sebuah nama belakang yang diucapkan mahasiswinya, seluruh kenangan itu kembali bermunculan satu per satu.

"Apa ini hanya kebetulan..." gumamnya lirih.

"Atau memang Allah sedang menunjukkan jalan agar aku kembali?"

Ia menatap jendela ruangannya cukup lama. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, keinginan untuk kembali menginjakkan kaki di pesantren tempat ia dibesarkan terasa begitu kuat.

1
Syti Sarah
cie cie yg mulai pdkt nih,kyak nya gak lma lgi nih.cahayo pak dosen,kejar trus smpai dpat 🤭🤭
Fegajon: Besok lebih gong lagi 😋
total 1 replies
Anak manis
aku prnh kya Azel, emang gak enak bgt klo bocor tuh. Rsanya malu bgt🥲
cutegirl
ibra mulai terang-terangan🤣
syora
ya allah semoga slain takdir sbgai penentu mohon bersamai dan ridho jln mnuju halal buat mereka
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
Syti Sarah
Ibra mmang laki laki yg baik .klau mmang brjodoh,smoga Allah mudhkn sgla jlan nya .
syora
andai iya utk kli ini biarkan hati klian menuntun bertemu,dgn melalui takdir dan ridhoNzya
amiiiin
Syti Sarah
haaa kyak nya mreka ber2 blum mnydari prasaan nya masing2 deh.kok jdi aku yg snyum2 sndiri ya PGI ini 😅😅😅
kembangperawan
zel itu udah kode loh🤣
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart/
Syti Sarah
ayoo mai jawab ape zel,yg sprti bang iba kaaah 🤭kok jdi aku yg deg degan ya,huuuh 😅😅
Ayu Oktaviana
aduh abang ibra mulai pdkt ne.. trs semangat bang😍😍
Fegajon: yuhuuu😋
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Cie cie cie yang lagi pdkt
anakkeren
ibra mulai maju🤣
syora
ibra jgn menghindar ckp jlni takdir
Syti Sarah
smoga di prmudah sgla nya,Daan klau mmang brjodoh smoga Allah mudhkn smpai halal.
Aidil Kenzie Zie
Ibra langsung deg degan di tantang langsung kerumah sama Opa kalo ada niat baik🥰🥰🥰🥰
Syti Sarah
semoga smua di prmudah oleh Allah,kok jdi Mellow ya stiap BCA crita Arjun ini 🥺
Syti Sarah: iya btul bnget Thor .suka bnget sama crita Thor ,smoga azel bisa mnerima prmintaaan Arjun dgn ikhlas .amiiiin
total 2 replies
syora
mkasih thor slalu mnyajikan crita yg keseimbangan antra dunia dan akhirat brjln beriringan
bnyak hikmah dlm stiap critamu
Fegajon: Sama-sama Kak. Dukungan kamu juga membuat aku mau terus nulis🙏
total 1 replies
syora
ya allah thor kyknya kbnyakan bawang bombay ceritanya
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah
syora: wah hbr dong laper aja bs ngabisin karya yg bagus
andai puasa pasti double tuh bagusnya hehee
total 2 replies
Syti Sarah
Masya Allah,lngsung di lamar sndiri sama anak nya 😁😁😁smoga azel bisa membuka hati nya ya untuk mnerima prmintaaan Arjun 😊😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!