NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Ojol Biasa

Suamiku Bukan Ojol Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Wanita Karir / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

Amira melangkah dengan pelan. Nyeri di sekujur tubuhnya masih terasa menyengat, tetapi sejak remaja ia sudah ditempa menjadi pekerja keras—terbiasa menelan rasa sakitnya sendiri. Langkahnya terhenti di samping sebuah Grand Livina hitam.

"Masuk," panggil Amira begitu melihat Luki hanya diam berdiri.

"Ini mobil kamu?" tanya Luki heran.

"Kenapa?"

"CEO mobilnya kayak gini?"

"Kenapa memangnya? Nyesel kamu?" sergah Amira tajam. "Aku tahu kamu berniat memeras aku. Kamu pasti kecewa setelah tahu mobilku jelek begini, kan?"

"Iya, jelek sekali untuk ukuran CEO."

"Iya, jelek!" Amira makin kesal. "Kamu nyesel? Ya udah, tabunganku ada lima ratus juta. Aku kasih semuanya buat kamu, terus akhiri semua gila-gilaan ini!"

"Tabungan kamu cuma lima ratus juta? CEO tabungannya segitu... menyedihkan sekali," sahut Luki santai.

"Itu hasil kerja keras aku, ya! Jangan menghina! Cepat masuk!" bentak Amira, emosinya sudah di ubun-ubun.

Luki menurut dan melangkah masuk. Kabin mobil itu sederhana, namun sangat rapi dan wangi. Amira menjalankan kendaraan dengan kecepatan sedang, sementara Luki terus memandangi wajah Amira dari samping.

"Cantik juga," gumam Luki pelan.

"Jangan lihatin aku terus!" tembak Amira tanpa menoleh.

"Aku lagi ibadah."

"Apa maksud kamu?"

"Kata Pak Ustadz, memandangi pasangan sah itu bisa menggugurkan dosa."

"Omong kosong! Dasar mesum!" bentak Amira kesal, meski ada sedikit desir hangat yang asing di dadanya.

"Aku enggak mesum, aku cuma jujur."

"Aku enggak suka dilihatin kayak gitu!"

"Istriku kalau lagi kesel ternyata makin cantik, ya."

SREK!

Amira mengerem mendadak hingga tubuh Luki hampir terlempar menabrak dasbor.

"Aduh! Jangan gila, dong! Nanti malam kita mau nikah, jangan sampai batal cuma gara-gara kecelakaan!" seru Luki memegangi dadanya.

Tanpa menjawab, Amira langsung turun dari mobil, melangkah mutar, lalu membuka pintu penumpang. "Turun. Kamu yang bawa."

Luki tidak bergeming.

"Kenapa? Kamu enggak bisa bawa mobil, ya? Dasar enggak berguna!" gerutu Amira makin jengkel.

Luki akhirnya bangkit, lalu dengan gerakan cepat merebut kunci mobil dari genggaman Amira. "Masuk."

Giliran Luki yang memberi perintah, dan entah kenapa, Amira justru menurut tanpa bantahan.

Setelah Amira duduk di sampingnya, Luki menutup pintu rapat-rapat, memposisikan duduknya di kursi pengemudi, lalu memegang setir. "Ah, seumur hidup baru kali ini mengendarai mobil murah begini," gumamnya sangat pelan.

"Berhenti mengatai mobilku! Kamu cuma punya sepeda motor jelek saja belagu!" semprot Amira.

"Oh iya, aku lupa," kekeh Luki seraya terkekeh geli.

Tiba-tiba Luki condong mendekat ke arah Amira. Tubuh Amira mendadak menegang; hembusan napas Luki yang hangat bahkan terasa di sekitar wajahnya.

"Jangan gila kamu! Ini di dalam mobil! Jangan mesum kamu!" ancam Amira panik.

KLIK.

Suara pengunci sabuk pengaman terdengar.

"Aku cuma mau memasang seatbelt kamu," jawab Luki santai tanpa dosa, lalu kembali duduk tegap. "Bismillahirrahmanirrahim..."

Luki berdoa sejenak sebelum menginjak pedal gas dan melajukan mobil dengan sangat halus.

Kini giliran Amira yang diam-diam mencuri pandang pada Luki dari samping. Tampan juga ternyata... bisiknya dalam hati.

"Makasih," sahut Luki tiba-tiba.

Amira terkejut. "Kenapa?"

"Udah mau lihatin aku."

"Cih! Pede sekali Anda! Siapa juga yang lihatin kamu?" tepuk Amira cepat, langsung mengalihkan pandangannya kembali menatap jalanan. "Kita mau ke mana?"

"Mall Ibu."

"Sip," jawab Luki singkat.

Sebuah denting pesan masuk ke ponsel Amira. Ia membukanya, lalu membaca barisan kalimat di layar dengan cermat. "Gila aja... Kenapa malah diberi toko yang paling murah?" gerutunya kesal.

"Yang tadi itu bapak tiri kamu, ya?" tanya Luki memecah hening.

"Ya..."

"Pantas saja."

"Kenapa kamu tiba-tiba tanya begitu?"

"Ya pantas saja, sepertinya kamu enggak nyaman di dekat dia."

Amira menghela napas berat. "Dia itu memang lelaki brengsek. Cuma numpang hidup dari uang Mamah. Katanya punya usaha, tapi begitu aku cek sendiri, usahanya fiktif."

"Ya laporin, dong, sama Mamah kamu."

"Mamah enggak pernah percaya sama aku semenjak Papah meninggal..."

Entah mengapa, pertahanan Amira runtuh hingga ia bersikap terbuka dan curhat pada Luki—hal yang amat jarang ia lakukan pada orang asing. Dan ajaibnya, Amira merasakan kepalanya sedikit lebih ringan; ada sensasi hangat karena akhirnya ada seseorang yang benar-benar mendengarkannya tanpa menghakimi.

Tak terasa, mobil mereka sudah memasuki area parkir sebuah mall mewah. Luki mengendarai kendaraan itu dengan sangat mulus dan memarkirkannya dengan presisi sempurna. Begitu mereka turun dan melangkah menuju pintu masuk mall, seorang petugas security mendadak menghadang.

"Ojol dilarang masuk!" tegas security itu galak.

Luki menatap satpam tersebut dari atas ke bawah. "Anak baru, ya?"

"Apa urusan kamu?! Pokoknya ojol dilarang masuk!"

"Kenapa dilarang masuk?"

"Pokoknya enggak boleh! Mengganggu kenyamanan pengunjung!"

"Luki, cepat balik ke mobil, lepas jaket kamu," bisik Amira tak mau memperpanjang keributan.

"Enggak bisa," tolak Luki mantap. "Enggak ada peraturan ojol dilarang masuk. Dia pasti ngarang."

"Eh, kamu mau cari ribut, ya?!" bentak security itu makin melotot.

"Eh, ada apa ini?" sapa seorang komandan security berpakaian safari yang tiba-tiba datang menghampiri.

"Ini, Pak! Ada ojol cari ribut—"

Petugas berpakaian safari itu siap menyemprot, namun begitu matanya menangkap sosok Luki yang berdiri mengenakan jaket ojol, matanya mendadak membelalak lebar. "Tu... Tuan—"

Luki dengan cepat mengedipkan matanya beberapa kali memberi kode keras.

Komandan itu langsung berdehem keras memotong ucapannya sendiri. "Maaf, Pak... Ojol boleh masuk, kok. Silakan nikmati mall ini dengan nyaman," ucapnya mendadak sangat sopan sambil merundukkan badan.

"Pak?!" protes security baru itu heran.

"Diam kamu! Kamu itu anak baru, tahu apa?!" bentak sang senior.

Luki mendekati komandan berpakaian safari itu, lalu berbisik sangat pelan di telinganya, "Kalau Lusi mantau, kasih tahu aku."

"Siap, Bos," bisik komandan itu patuh.

Luki dan Amira melangkah masuk ke dalam mall, sementara di belakang mereka, security baru tadi langsung kena teguran fisik dan omelan habis-habisan dari seniornya.

"Kamu dikenal juga ya di sini?" komentar Amira heran melihat kejadian tadi.

"Iyalah, aku kan ojol. Banyak langganan yang kenal aku di mana-mana."

Amira mengajak Luki melangkah menuju sebuah toko pakaian sederhana. Ia sebenarnya agak kecewa karena ibunya justru merekomendasikan butik kelas bawah untuk pernikahan ini.

Mereka berdua berhenti tepat di depan butik tersebut.

"Kenapa ke tempat ini?" tanya Luki.

"Mamah yang rekomendasikan."

"Jelek banget seleranya."

"Sesuai budget, mungkin," sahut Amira pasrah.

"Enggak bisa. Ini pernikahan kita. Walau sederhana, jangan pernah menurunkan kualitas."

"Iya deh, jangan di sini. Kita ke tempat sebelahnya aja," kata Amira pasrah, lalu berbelok menuju butik yang sedikit lebih baik.

"Di sini saja," tunjuk Amira.

"Jangan di sini. Pernikahan itu momen sekali seumur hidup, harus spesial."

Tanpa meminta persetujuan, jemari Luki langsung meraih pergelangan tangan Amira, membimbingnya berjalan menuju sebuah butik haute couture paling bergengsi—Super Nova.

"Di sini mahal semua! Dan belum tentu juga kamu diperbolehkan masuk!" bisik Amira panik.

Luki tidak menjawab. Ia melangkah masuk dengan tenang ke butik mewah tersebut. Amira sudah memejamkan mata, bersiap-siap jika mereka ditendang keluar oleh petugas.

"Tuan..." panggil seorang pramuniaga yang langsung bergegas menghampiri.

"Ssssh..." Luki menempelkan telunjuk di bibirnya sambil mengedipkan sebelah mata.

Pramuniaga itu seketika paham dan membungkuk hormat. "Selamat datang Tuan dan Nyonya, silakan berbelanja."

Amira perlahan membuka matanya. "Kita... enggak diusir?"

"Kita mau belanja, kenapa harus diusir?" sahut Luki santai.

Amira mengedarkan pandangannya ke sekeliling butik yang dipenuhi gaun dan jas berharga fantastis. "Luki... kamu mau memeras aku, ya?"

"Kenapa lagi?"

"Di sini mahal semua!"

"Mahal itu cuma angka, tenang saja," bisik Luki pelan di telinga Amira. "Ayo cepat pilih."

"Aku enggak mau."

"Kamu harus mau."

"Enggak mau!"

"Harus."

"Kenapa kamu suka memaksa, sih?! Apa kamu enggak lihat isi saldoku?!" sergah Amira frustrasi.

"Aku justru pusing kalau lihat isi saldoku," sahut Luki jujur.

"Kayak yang ada aja saldonya!"

"Ya pokoknya ada," balas Luki terkekeh.

Aku emang pusing kalau ngitung angka nolnya, makanya paling malas buka m-banking, lanjut Luki tertawa dalam hati

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!