NovelToon NovelToon
Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Putri asli/palsu / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.

Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.

Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.

Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.

Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.

Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.

Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Evelyn Membuka Mata

"Tanyakan langsung kepada Bos," jawab Brandon ketika Keira mempertanyakan tanda tangan itu.

Ia tidak membela atau menjelaskan keputusan Rayhan. Ia hanya memastikan Keira memegang salinan dokumennya sendiri.

Keesokan harinya, Keira kembali ke RS Pondok Indah.

Bukan untuk Rayhan.

Selama bertahun-tahun, satu-satunya orang yang bisa membuktikan Keira tidak mendorong siapa pun terbaring di lantai VIP rumah sakit itu. Keira meminta izin kunjungan melalui perawat dan masuk ke kamar Evelyn setelah identitasnya dicatat.

Evelyn tampak sama seperti beberapa hari sebelumnya. Mata tertutup. Wajah pucat. Mesin monitor berdetak dalam ritme yang terlalu tenang.

Papan di sisi ranjang menyebut respons kesadaran Evelyn masih minimal. "Panggil namanya, gunakan kalimat pendek, lalu tunggu," kata perawat. Setelah ia pergi, Keira melihat daftar pengunjung. Nama keluarga Ji muncul hampir setiap hari. Keluarga kandung Evelyn hanya dua kali dalam sebulan.

Keira meminta tirai tetap terbuka dan pintu tidak dikunci. Setelah perawat pergi, ia meletakkan ponsel di atas meja dengan perekam suara aktif. Bukan untuk menjebak Evelyn. Ia hanya sudah terlalu sering kehilangan kebenaran karena tidak memiliki bukti.

Keira menarik kursi ke sisi ranjang.

"Evelyn," katanya. "Aku tidak tahu apakah kamu bisa mendengar."

Tidak ada jawaban.

"Lima tahun lalu aku marah kepadamu. Bukan karena kamu jatuh, tapi karena semua orang memintaku meminta maaf atas sesuatu yang tidak kulakukan."

Keira menatap tangan Evelyn yang kurus di atas selimut.

"Itu tidak adil untukmu. Kamu juga korban."

Monitor terus berbunyi.

"Kalau ada bagian dirimu yang masih sadar, aku tidak akan memintamu menyelamatkanku. Aku hanya ingin kamu tahu ada seseorang di ruangan ini yang tidak akan menyalahkanmu karena belum bisa bangun."

Jari telunjuk Evelyn bergerak.

Sangat kecil. Hampir seperti getaran otot biasa.

Keira berdiri terlalu cepat dan rasa nyeri menarik sisi kepalanya. Ia menahan tepi ranjang.

"Evelyn?"

Jari itu bergerak lagi.

Keira tidak menyentuhnya. Ia mengingat petunjuk perawat dan mengajukan pertanyaan yang bisa dijawab tanpa kata.

"Kalau kamu mendengar namamu, gerakkan telunjuk kanan sekali. Evelyn."

Jari itu terangkat, lalu jatuh.

"Kalau kamu mengenal namaku, gerakkan sekali lagi. Keira."

Gerakan kedua datang lebih lambat, tetapi tetap terpisah jelas dari yang pertama.

Di balik kelopak tertutup, bola mata Evelyn berpindah dari kiri ke kanan. Satu tetes air mata muncul di sudut matanya lalu mengalir ke pelipis.

Napas Keira terhenti.

"Kamu mendengarku?"

Grafik denyut naik beberapa angka.

Keira menekan tombol panggil perawat. Tidak ada jawaban setelah dua kali. Ia berjalan ke pintu untuk mencari petugas di meja jaga.

Lampu di atas tombol menyala merah, menandakan panggilan sudah masuk. Namun meja jaga kosong. Dari balik pintu ruang obat terdengar suara troli dan percakapan pelan. Keira memanggil seorang perawat. Jawaban terdengar dari dalam, meminta ia menunggu.

Ia menoleh ke kamar. Jaraknya tidak sampai dua puluh langkah.

Di ujung koridor, seseorang berdiri di balik pilar.

Vanessa.

Ia berdiri dengan masker medis menutupi setengah wajah dan kartu pengunjung tergantung terbalik. Ketika pandangan mereka bertemu, Vanessa pura-pura memeriksa ponsel. Keira baru menyadari kemudian bahwa perempuan itu tidak pernah bertanya nomor kamar Evelyn. Ia sudah tahu.

Begitu Keira meninggalkan kamar, Vanessa masuk melalui pintu yang belum tertutup sempurna. Wajah manisnya hilang. Ia menatap air mata di pelipis Evelyn, lalu monitor yang bergerak lebih cepat.

"Kamu tidak boleh bangun," bisiknya.

Kedua tangan Vanessa menutup leher Evelyn.

Ia menekan di bawah rahang, tepat di sisi yang tidak tertutup selang. Tidak ada bantal di tangannya. Tidak ada alasan untuk membungkuk sedekat itu.

Monitor langsung berbunyi tajam.

Keira yang baru mencapai meja perawat berbalik. Ia mendorong pintu dan melihat tubuh Vanessa membungkuk di atas ranjang.

"Lepaskan dia!"

Keira meraih bahu Vanessa dengan tangan kanan dan menarik sekuat tenaga. Kaki kirinya tergelincir, tetapi berat tubuhnya cukup membuat Vanessa terlepas.

Vanessa menabrak lemari alat.

"Kak Keira gila!" teriaknya. "Aku cuma membetulkan bantal!"

"Bantal tidak ada di leher."

Alarm memanggil tim medis. Dua perawat dan seorang dokter masuk. Mereka memeriksa jalan napas Evelyn, memasang ulang sensor, dan menyuruh semua orang menjauh.

Dokter mengangkat kelopak mata Evelyn dan memberi perintah sederhana. Telunjuk kanan itu kembali bergerak. Ia meminta perawat mencatat waktu respons, perubahan denyut, serta kemerahan yang mulai muncul di sisi leher.

"Panggil neurologi," katanya.

Perawat baru meraih telepon ketika langkah sepatu mendekat dari koridor.

"Siapa yang menekan tombol?" tanya perawat.

"Saya," kata Keira. "Dia mencoba mencekik pasien."

Vanessa menangis. "Tidak! Dia menyerangku lagi."

Sebelum petugas keamanan tiba, seorang perempuan berjas putih masuk dengan langkah cepat. Lencana di dadanya bertuliskan `Direktur Selena Maheswari`.

Ia memeriksa Vanessa lebih dulu, lalu Evelyn.

"Apa yang terjadi?"

Keira menjawab, "Evelyn menunjukkan gerakan sadar. Setelah saya keluar mencari perawat, Vanessa masuk dan menekan lehernya."

Mata Selena bertemu dengan Vanessa sesaat.

Hanya sesaat, tetapi cukup.

Vanessa berhenti menangis sebelum Selena mengalihkan pandangan. Keduanya tidak perlu bicara. Selena mengambil lembar catatan dari tangan perawat, membaca bagian tentang kemerahan leher, lalu melipatnya ke bawah papan jepit.

"Pasien membutuhkan ketenangan," kata Selena. "Semua pengunjung keluar."

"CCTV koridor harus diamankan," kata Keira. "Dan leher Evelyn perlu didokumentasikan."

"Saya direktur rumah sakit ini. Saya tahu prosedur."

"Kalau begitu jalankan, jangan mengusir saksi lebih dulu."

Keira menunjuk kamera di sudut koridor. "Catat permintaan saya sekarang. Rekaman dari sepuluh menit sebelum alarm sampai sepuluh menit sesudahnya tidak boleh ditimpa. Foto leher pasien sebelum bekasnya hilang. Simpan rekaman monitor dan log panggilan perawat."

Dokter yang tadi memeriksa Evelyn menatap Selena. "Gerakan jarinya konsisten. Pemeriksaan neurologi memang perlu."

"Saya akan mengambil alih," jawab Selena. "Dokter bisa kembali ke unitnya."

Nada itu bukan saran. Dokter menyerahkan papan jepit, tetapi sebelum pergi ia menulis jam pemeriksaan di sarung tangan kirinya. Keira menangkap gerakan kecil itu.

Wajah Selena tetap tenang. "Keamanan, keluarkan mereka."

Petugas memegang lengan Keira. Ia langsung menegang.

"Jangan sentuh. Aku bisa berjalan sendiri."

Keira mundur menuju pintu. Vanessa sudah lebih dulu dibawa ke sisi lain koridor oleh seorang perawat pilihan Selena, bukan oleh keamanan.

"Saya meminta nomor laporan insiden," kata Keira kepada petugas keamanan.

Selena menjawab dari dalam kamar, "Hanya keluarga pasien yang berhak mengajukan laporan internal."

"Saya saksi percobaan penyerangan. Polisi tidak memerlukan izin keluarga untuk menerima laporan saya."

Untuk pertama kalinya, ketenangan di wajah Selena retak. Ia memerintahkan pintu ditutup.

Saat pintu kamar hampir tertutup, Keira melihat tangan kanan Evelyn.

Jari telunjuknya terangkat dari selimut.

Pelan, gemetar, tetapi jelas.

Jari itu menunjuk ke arah Vanessa pergi.

Malamnya, Keira duduk di gudang sambil menatap salinan laporan kunjungan yang sempat ia minta sebelum diusir. Ponsel pemberian Amanda bergetar.

Di samping laporan itu ada catatan waktu yang ia tulis segera setelah keluar: panggilan pertama, alarm monitor, kedatangan dokter, lalu kedatangan Selena. Perekam di ponselnya menangkap suara alarm, tuduhan Vanessa, dan perintah pengusiran. Tidak ada gambar pencekikan, tetapi cukup untuk membuktikan bahwa rumah sakit telah diberi tahu.

Keira sudah mengirim salinan berkas itu ke Amanda dan satu alamat surel baru. Jika ponselnya hilang, catatannya tidak akan ikut hilang.

Pesan datang dari ID yang disembunyikan.

`Evelyn tahu siapa yang mendorongnya. Bukan kamu.`

Jantung Keira berdetak begitu keras sampai luka di kepalanya ikut berdenyut.

1
Intan Marliah
mewekkk banget... ceritanya disusun seepik ini.
Iba Sa Iba Daud
apa ginjal tu tuk bokapnya ato evelyn
Iba Sa Iba Daud
Kluarga bangat iblis... si kevin ni ga bs apa" klo udh depan bokapny.. bilang priksa CCTV tp bentakn bokap diam..
Iba Sa Iba Daud
sungguh orgtua yg pling kejam.. tunggu sj katmamu tua bngka
Iba Sa Iba Daud
kavin klo lo sayg kaira cari tau ksuus 5 thn llu dn sobeknya baju adk tiri manja lo tu
Rina Arie
good book
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!