elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Masa Promosi Suami
Tinta pada laporan tertulis Nan Shin belum kering ketika tepuk tangan terdengar dari ujung lorong.
Ia baru keluar dari IGD untuk menyerahkan penjelasan kepada Bu Ratna. Di depan ruang rapat unit bedah, beberapa dokter dan pimpinan rumah sakit berdiri mengelilingi Cheng An.
“Selamat masuk tahap akhir, Dok,” kata salah satu pimpinan. “Presentasi untuk posisi wakil kepala unit bedah hari Senin. Siapkan data kinerjanya.”
Cheng An tersenyum dan menjabat tangan orang-orang di sekitarnya. Jas dokternya rapi. Kartu identitasnya tergantung lurus. Di tangannya ada map presentasi berwarna gelap.
Nan Shin berhenti beberapa langkah dari sana, membawa selembar laporan tentang salah tulis waktu sepuluh menit.
Suaminya melihatnya.
“Kamu belum pulang?” tanya Cheng An setelah kelompok itu bubar.
“Baru mau menyerahkan laporan.”
“Laporan apa?”
“Ada kesalahan dokumentasi kecil tadi. Saya diminta buat penjelasan tertulis.”
Cheng An melirik jam. “Sudah dikoreksi?”
“Sudah. Tapi masuk bahan evaluasi.”
“Kalau sudah dikoreksi, ya jelaskan saja. Aku ada rapat lagi.”
Nan Shin menatap map di tangannya. “Kamu masuk tahap akhir promosi?”
Wajah Cheng An sedikit lebih terang. “Iya. Belum pasti, jadi jangan bilang Mama dulu.”
“Soal evaluasi kontrakku...”
Ponsel Cheng An berdering. Ia membaca nama di layar.
“Nanti di rumah, ya. Aku harus naik ke ruang operasi.”
Nan Shin menahan langkahnya. “Aku hanya perlu tahu apakah kamu sudah membaca pesan HRD yang kukirim.”
“Sudah sekilas.”
“Mereka memisahkan pegawai tetap dan kontrak.”
“Nan, aku benar-benar harus pergi.”
“Lima menit untuk promosimu semua orang punya. Satu menit untuk kontrakku tidak ada?”
Cheng An menatap pintu lift yang terbuka. “Bukan begitu. Nanti malam aku dengarkan.”
“Jangan hanya bilang nanti.”
“Aku janji setelah makan.”
Nan Shin mengangguk, meski janji semacam itu sudah terlalu sering kalah oleh telepon berikutnya.
Ia pergi dengan langkah cepat. Nan Shin berdiri di lorong yang sama, tetapi arah mereka terasa semakin jauh.
Bu Ratna membaca laporan Nan Shin dua kali.
“Kamu sudah tulis urutan kejadiannya, konfirmasi waktu monitor, dan tindakan pencegahan. Cukup.”
“Apakah ini masuk berkas evaluasi?”
Bu Ratna tidak menutup-nutupi. “Kemungkinan iya.”
“Kesalahan pertama dalam berapa tahun?”
“Catatan formal pertama yang saya ingat.”
Nan Shin menekan ujung kukunya pada telapak tangan. “Mereka datang tepat saat unit kekurangan orang, lalu satu angka salah dipakai untuk menilai dua belas tahun.”
“Saya lampirkan keterangan bahwa tindakan pasien tepat waktu dan tidak ada dampak klinis.”
“Terima kasih, Bu.”
Itu satu-satunya perlindungan yang bisa diberikan Bu Ratna: satu kalimat tambahan di bawah laporan kesalahan.
Di rumah, rahasia tahap akhir promosi Cheng An hanya bertahan sampai makan malam.
Ibu Kho meletakkan sup di meja dengan wajah berseri. “Tadi dr. Hartono telepon. Katanya Cheng An tinggal presentasi terakhir.”
Cheng An mengerutkan kening. “Saya bilang belum usah cerita.”
“Kenapa harus disembunyikan? Ini kabar baik.” Ibu Kho menoleh kepada Nan Shin. “Kalau jadi wakil kepala unit, tanggung jawab Cheng An makin besar. Di rumah jangan ditambah masalah kecil.”
Sendok Nan Shin berhenti di atas mangkuk.
“Evaluasi pekerjaanku bukan masalah kecil, Ma.”
“Mama nggak bilang itu kecil. Tapi kamu kan perawat kontrak. Cheng An sedang mengejar posisi pimpinan.”
“Justru karena aku kontrak, pekerjaanku sedang terancam.”
Cheng An tetap melihat ponsel. “Kita makan dulu.”
Ibu Kho menghela napas seperti orang yang dipaksa menghadapi persoalan tak perlu. “Kalau kontrakmu tidak diperpanjang, bukan berarti hidup selesai. Kamu bisa di rumah. Yi Ming perlu didampingi belajar. Yi Chen juga sebentar lagi masuk SD.”
Yi Ming yang sedang makan menunduk. Yi Chen menggeser potongan wortel di mangkuk tanpa memahami percakapan orang dewasa.
“Aku belum bilang mau berhenti bekerja,” ujar Nan Shin.
“Bukan kamu yang memutuskan kalau rumah sakit tidak memperpanjang.”
Kalimat itu tepat mengenai bagian yang paling ia takutkan.
Cheng An akhirnya meletakkan ponsel. “Mama cuma membicarakan kemungkinan.”
“Kemungkinan untuk hidupku, tapi kalian membicarakannya seperti jadwal kosong yang bisa langsung diisi.”
“Nan Shin, aku sedang banyak tekanan. Presentasi hari Senin, operasi besok pagi. Jangan jadikan makan malam ini pertengkaran.”
Ia berdiri sebelum piringnya habis dan membawa map presentasi ke ruang kerja.
Ibu Kho memandang pintu yang tertutup, lalu berbisik tajam, “Lihat? Dia bahkan nggak bisa makan tenang.”
Nan Shin tidak menjawab. Ia membereskan piring anak-anak, memeriksa tugas Yi Ming, lalu membantu Yi Chen menyiapkan pakaian untuk besok.
Ketika kembali ke dapur, Ibu Kho sudah menunggu dengan beberapa lembar kertas berwarna di atas meja.
“Mama minta brosur dari teman,” katanya. “Ini tempat les matematika untuk Yi Ming. Yang ini kelas persiapan membaca untuk Yi Chen. Kalau kamu nanti di rumah, antar-jemputnya gampang.”
Nan Shin mengambil salah satu lembar. Biaya pendaftaran dan uang bulanan dicetak dengan huruf tebal.
“Kita belum membahas biayanya.”
“Untuk anak jangan terlalu hitung-hitungan.”
“Siapa yang akan membayar?”
“Nanti dipikirkan. Yang penting tempatnya diamankan dulu.”
Ibu Kho merapikan semua brosur, lalu menyelipkannya di bawah magnet pada kulkas.
Yi Ming muncul di pintu dapur sambil membawa buku tugas.
“Mama nanti nggak kerja di rumah sakit lagi?”
Nan Shin melihat Ibu Kho. Perempuan itu pura-pura sibuk menutup wadah makanan.
“Belum ada keputusan,” jawab Nan Shin.
“Kalau Mama di rumah, Mama bisa jemput aku?”
Ada harapan sederhana di wajah putranya. Nan Shin tidak tega memarahinya karena anak itu hanya mengulang kemungkinan yang didengar.
“Kalau Mama libur, Mama jemput. Kalau Mama kerja, kamu tetap naik antar-jemput seperti biasa.”
Yi Ming mengangguk. “Aku cuma tanya.”
“Nggak apa-apa. Tapi soal pekerjaan Mama, tunggu Mama yang menjelaskan, ya.”
Anak itu kembali ke kamar. Ibu Kho baru membuka suara setelah langkahnya menjauh.
“Anak sendiri saja senang kalau kamu lebih sering di rumah.”
“Senang melihat Mama bukan berarti dia minta pekerjaanku hilang.”
Belum ada keputusan dari HRD. Belum ada hasil promosi Cheng An. Namun di pintu kulkas, hidup Nan Shin sebagai perempuan tanpa pekerjaan sudah mulai dijadwalkan.
Tiga brosur tempat les menunggu tanda tangannya.