Amalia, Anak gadis yang bekerja di salah satu perusahaan ternama diKota itu, keberuntungan telah berpihak kepadanya karena dengan ini dia akan mampu membayar utang budi kepada Pamannya yang telah merawat dirinya selama dia kecil hingga sekarang, Amalia adalah sosok gadis cantik dan periang, senyuman indah akan melelehkan kaum hawa. Amalia telah bekerja keras selama beberapa tahun ini dan akhirnya bisa mencapai ke tahap ini, yaitu posisi sekretaris bos keduanya. Walau sekretaris kedua Amalia tetap bersyukur.
Hingga suatu hari Amalia di kagetkan kedatangan mamah yang tidak lain istri paman nya, mendorong Letizia agar mau menjadi istri pria kaya, agar bisa menolong, usaha mereka yang lagi di ambang kebangkrutan. Amalia menolak apa lagi dia tidak mengenal pria yang akan menjadi Suaminya. Jihan mamah Amalia, membujuk Amalia dan mengimingi perkataan yang meluluhkan hati Amalia. Dengan berat hati Amalia menerima dan pasrah.
APAKAH AMALIA BERHASIL MENJALANI RUMAH TANGGA BARUNYA ATAU TIDAK??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Pilu dan sesak nafas
Amalia tetap tidak menjawab pertanyaan dari Peter. Peter mengusap wajahnya sangat kasar lagi sambil menatap wajah Amalia yang sudah lebih baik sedikit daripada sebelumnya.
"Katakan saja apa mau sekarang aku akan menuruti nya,?" tanya Peter dengan nada rendah tidak lagi seperti sebelumnya suaranya sedikit tinggi akibat emosinya masih di ubun-ubun.
Amalia menitikkan air matanya dan menunduk, Amalia Tarik nafas secara perlahan mulai menatap wajah Peter. Tarik nafas kembali Amalia mulai berbicara.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku tidak akan membuatmu tersiksa lagi tuan muda lebih baik kita bercerai saja," lirih Amalia dengan dada yang berdetak kencang.
Peter menatap wajah Amalia dengan tatapan yang tidak bisa diartikan lagi, gigi rata Peter seketika di eratkannya begitu kuat dan lagi tangan Peter di kepalnya dan menampilkan urat di tangannya. Amalia yang melihat ekspresi Peter kali ini merasakan Hawa yang tidak bisa ditebak lagi, namun Amalia berusaha tetap tenang dengan ini , Amalia berharap bebas dari jeratan pernikahan yang tidak disukainya ini juga Peter.
Amalia siap apapun yang akan dikatakan Peter kepadanya hinaan atau sebagainya Amalia siap sedia karena yang sudah merasakan putus asa dalam hidupnya ini. Pasrah, hanya kata itulah yang terlintas di benaknya saat ini.
Peter tidak menjawab pertanyaan Amalia dan memutuskan pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan hati yang semakin tidak karuan. Amalia merasakan pilu dan sesak nafas karena Peter keluar tidak menjawabnya. Amalia membuang nafasnya sangat kasar dan mengelus-elus dadanya yang terasa nyeri. Di luar Peter semakin gila karena pertanyaan Amalia barusan.
Peter pergi menuju ke apartemen miliknya, di sana Peter merenung dengan perjalanan hidupnya yang merasa lika-liku apalagi pernikahannya ini semakin membuat dirinya tidak jelas. Dua jam lama Peter berada di apartemen miliknya dan itu membuatnya tertidur lelap di sofa balkon, hingga malam telah tiba Peter terbangun karena ponsel miliknya berbunyi.
"Bunda...!" gumam Peter. Peter mengangkat telepon dari Nyonya Samantha dengan perasaan cemas.
"Bunda...!" sapa Peter
"Di mana menantu Bunda, Bunda ingin berbicara dengannya cepat berikan?" perintah Bunda Samantha. Peter kaget mendengar suara Nyonya Samantha.
"Bunda Amalia sedang mandi," jawab Peter alasan.
"Tunggu Bunda kenapa bisa menghubungi Peter?" tanya Peter mengalihkan pembicaraan. Nyonya Samantha menceritakan kenapa bisa menghubungi Peter, karena kemarin Bunda Samantha telah berkunjung ke apartemen milik Peter mengambil barang yang tertinggal pada saat itu, dan hanya Amalia di jumpainya di sana.
Peter mengusap wajahnya sangat kasar dan semakin memikirkan Amalia yang saat ini sedang berada di rumah sakit.
"Iya Bunda mungkin Amalia sudah menceritakan semuanya kepada Bunda kenapa kami cepat balik dari honeymoon, kami akan segera secepatnya kembali ke Mansion secepatnya Bunda," jawab Peter.
Percakapan Peter dan Bunda Samantha telah berakhir , Peter langsung turun ke bawah menuju parkiran langsung menuju ke rumah sakit, kali ini Peter tidak mau lagi membuang-buang waktunya yang tidak jelas beberapa hari ini, dengan perasaan yang membuncah Peter menancapkan gas mobilnya menuju ke rumah sakit tanpa perduli makian pengendara lainnya.
Peter tiba di rumah sakit turun langsung setengah berlari menuju keruangan inap Amalia. Amalia yang pada saat itu sudah selesai mengganti pakaiannya hendak meninggal Rumah sakit terkejut melihat Peter.
"Tuan muda...!"