"Cinta bisa membuat sesorang menjadi lebih baik dalam hidupnya. Namun juga sebaliknya cinta dapat membuat seseorang menjadi lebih buruk dan berdampak negatif bagi dirinya juga bagi orang yang dicintainya." (Plato)
Cinta adalah anugrah dari yang kuasa, tak ada yang bisa menghindar dari kehendak-Nya. Tuhan tidak pernah keliru memberikan anugerah cinta kepada hamba-Nya, karena sebuah cinta yang datang itu pasti ada makna dan alasannya.
"Cinta sejati itu memandang kelemahan, lalu dijadikan kelebihan untuk saling mencintai." (BJ. Habibie)
Sangat banyak kata-kata bijak tentang cinta, tapi tak satupun membuat gadis ini percaya tentang cinta. Keretakan rumah tangga orang tuanya membuatnya tak percaya dengan cinta. Perceraian orang tuanya membuatnya takut untuk jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bintun arief, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Temaramnya lampu jalan tak membuat gadis itu merasa takut untuk melintasi jalanan yang tampak sepi karena malam sudah semakin larut.
Hampir dua minggu gadis itu kedatangan tamu bulanan, sepertinya tamu itu sangat betah untuk berlama-lama tinggal disana. Satu minggu lebih dua atau tiga hari masih terhitung normal tapi tidak jika lebih.
Telepon genggamnya berdering, siapa lagi yang menelpon kalau bukan Papanya. Gadis itu membiarkan telepon genggamnya itu berdering, ia sama sekali tak berkeinginan untuk mengangkatnya. Ia memilih mendudukkan dirinya dibawah lampu jalan yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Tak ada alas yang menjadi tempat duduknya, ia hanya membersihkan semen trotoar itu dengan tangannya saja.
Beberapa kali telepon itu berdering, namun Juna tetap mengabaikannya. Dari kejauhan sorot lampu mobil membuat netra gadis itu mengerjap kesilauan.
"Kamu yang tadi ke praktek saya kan? ngapain disitu?" sapa perempuan paruhbaya tersebut menurunkan kaca mobilnya.
"Eh, dok. Iya tadi itu saya. Gak apa-apa dokter, saya hanya ingin sendiri." ucap gadis itu malu.
"Ayo naik! biar ibu antar." ucap perempuan yang disapa Juna dengan kata Dokter itu. Juna sungkan untuk menolaknya, dia pun bergegas masuk kedalam mobil itu.
"Maaf merepotkan, Dok." ucap Juna, perempuan paruhbaya itu tersenyum ramah.
"Rumahmu dimana? panggil saya ibu saja." ucapnya ramah.
"Di komplek perumahan Garuda, Bu."
"Oh, kau tinggal disana. Ibu tau tempat itu. Dulu ibu pernah tinggal disana, tapi tidak lama."
"Benarkah, Bu. Mungkin ibu mengenal orangtua saya."
"Yah, bisa jadi. Kau masih tinggal dengan orangtuamu?" percakapan hampir tak ada jeda. Keduanya saling bertukar cerita.
"Iya, Bu. Saya masih menumpang. Mau beli rumah sendiri uangnya belum cukup. Maklumlah, Bu. Gaji seorang karyawan rumah sakit seperti saya ini hanya cukup buat beli kerupuk dan sebongkah berlian saja. Kalau dokter mah enak, dua bulan gaji sudah dapat beli rumah mewah." Juna menyeringai.
"Haha, kamu ini ada-ada saja. Ternyata kamu itu orangnya humoris, tapi sayangnya bisa stres juga." ucap wanita itu.
"Apa yang membuatmu banyak pikiran, Nak. Kalau mau cerita, cerita saja sama ibu. Walau ibu tidak bisa membantu, setidaknya bebanmu akan berkurang."
"Hm, biasa lah, Bu. Nasib perawan tua. Saya mau dijodohkan oleh Papa saya." Raut wajah Juna berubah. Senyum manisnya seolah hilang entah kemana.
"Kok perawan tua. Memangnya berapa usiamu? kalau ibu lihat kau seperti gadis berumur 20 tahun." Ibu tadi mencoba menghibur, tapi memang benar yang dikatakannya. Gadis disebelahnya itu tampak masih sangat belia.
"Ibu bisa aja. 25 saja sudah lewat beberapa tahun yang lalu, Bu."
"Oh ya? tapi kau memang tampak muda, Nak. Ayo beritau ibu apa resepnya, ibu juga mau awet muda."
"Ibu juga tampak sangat muda, malah harusnya tadi saya panggil kakak saja." balas Juna pula, mereka pun tertawa bersama.
"Disini saja, Bu. Dari post satpam itu rumah saya tidak jauh kok. Terimakasih sudah mau mendengarkan cerita saya, Bu. Maaf merepotkan." Juna membuka sabuk pengamannya.
"Sama-sama, sayang. Ibu juga senang ada teman ngobrol. Cepat sembuh ya, jangan lupa obatnya dihabiskan. Dan jangan banyak pikiran. Usir aja tu tamunya yang gak mau pulang!" ucap perempuan yang masih tampak muda itu bercanda. Juna melambaikan tangannya , menatap mobil yang dikendarai perempuan berprofesi dokter itu sampai menghilang dari pandangannya. Ia pun meneruskan perjalanannya.
Juna menyapa petugas yang sedang jaga dipos. Kemudian berjalan malas menuju rumahnya. Kalau saja dia punya keberanian untuk kabur, dia akan melakukannya. Tapi rasa marahnya kepada orangtuanya dikalahkan dengan rasa sayang yang lebih besar. Dengan malas dibukanya pagar rumah minimalis itu. Decitan suara kunci penyangga pagar yang terbuka pasti terdengar oleh pemilik rumah tersebut.
Pintu rumah itu terbuka, laki-laki yang tak lagi muda sudah berdiri menunggu dengan segudang pertanyaan dibenaknya.
"Kenapa tak mengangkat telepon, Papa?"
"Juna gak dengar!" mencoba melalui Rudi yang berdiri tepat ditengah pintu yang terbuka setengah.
"Ini sudah satu minggu. Apa kau sudah punya jawabannya?"
"Juna gak mau, Pa. Papa tega benget sih. Kenapa harus sama Dadang?"
"Hiks ... hiks, kenapa harus ada pernikahan! aku benci pernikahan!" Gadis itu berlari meninggalkan Rudi, Cindy menatap mereka berdua dengan tatapan penuh tanya. Ibu sambung Juna itu memang sedang berada didapur tadi.
\=\=\=\=\=
Dari kejauhan netra wanita paruhbaya menangkap sosok laki-laki gagah sedang memukul samsak dengan sarung tinju yang melekat dikedua tangannya. Lelaki itu tampak lelah, tapi tetap memukul benda yang ia gantungkan balkon kamarnya.
"Kenapa dia?" gumam Fatmala memarkirkan mobilnya.
Setelah selesai membersihkan dirinya, Fatmala mengetuk pintu kamar sang anak. Beberapa menit berselang tak ada jawaban dari si empunya kamar.
"Anak mama kenapa? galau?" tanya Fatmala, Adzka sedang terduduk lesu diatas lantai tepat dibawah samsak yang telah bertubi-tubi menerima pukulannya.
"Siapa yang galau. Adzka hanya sudah lama gak olahraga, Ma. Jadi rasanya capek banget!" ucapnya melap keringatnya dengan handuk.
"Hm ... percaya deh! Ka, besok temenin mama ke pesta teman mama ya."
"Siapa,Ma?"
"Dokter Hari mantu."
"Astaga, lupa! Untung mama ingatkan!" Adzka menepuk jidatnya.
"Mama ingatin apa?"
"Ya itu tadi. Dokter Hari kan dokter dirumah sakit tempat Adzka kerja juga."
"Oh iya, Mama lupa."
"Hm ... faktor U tuh!" senyum Adzka mengembang.
"Dih, ngatain mama faktor U. Padahal dia duluan yang lupa. Besok bareng mama saja ya." Fatmala meninggalkan Adzka yang hendak masuk kedalam kamar mandi.
Laki-laki tampan itu membersihkan tubuhnya. Saat ia menyikat giginya ia menatap wajahnya di kaca yang ada di wastafel.
"Pasti dia tak mau ku ajak undangan bareng! biarlah aku pergi sama mama saja." batinnya.
\=\=\=\=\=
Wajah yang sudah mulai menampakkan beberapa kerutan dan rambut yang mulai berganti warna, tampak sangat sumringah ketika menuruni tangga.
"Apa hubungannya dengan si apoteker tua itu sedang bermasalah? bagus lah. Besok aku akan mengenalkannya dengan anak temanku." senyuman tak berhenti terlukis diwajahnya.
Karena banyaknya pasien membuatnya melupakan makan malam. Ya, Fatmala belum makan malam, padahal waktu sudah menunjukkan jam 22.40
Fokuslah menjaga kesehatan diri sendiri. Untuk apa menjaga kesehatan orang lain kalau toh, diri sendiri dilupakan. Kau harus sehat dan panjang umur. Banyak orang membutuhkanmu. Kata-kata itu selalu terngiang di telinganya. Itu kata-kata terakhir dari suaminya sebelum sang suami koma beberapa bulan dan menghembuskan nafas terakhirnya.
Senyum itu kembali mengembang mengingatnya.
"Iya, Mas. Maaf! Ini mau makan ni. Besok-besok gak lupa makan lagi deh." ucapnya sendiri.
Kamu akan tetap hidup dihatiku, kau tak akan pernah jauh dariku. Meski raga kita tak dapat lagi bertemu. Tapi cinta dan kerinduan ini hanya untukmu.
.
.
.
.
Maafkan jika ada typo yang bertebaran ya teman-teman. Happy reading. 🥰🥰**
KNP SIH JUNA MSH GK PERCAYA CINTANYA ADZKA MA DY...
SECARA DY SNDIRI SDH TAU HNY KPD DY CINTA PERTAMA ADZKA , DN ADZKA TDK PRNH MNGISI HATINYA BUAT WANITA LAIN, KCUALI DY, JDI KNP MSH RAGU, HINGGA GK MAU DISENTUH SUAMI HINGGA NGAKU SDG HAID..
SAAT U TINGGALKN ADZKA, LO MSH BSA DKT MA MARCHELL MNTAN LO, SDGKN ADZKA TTP SETIA MNCINTAI LO, BETAPA SAKITNYA PERJUANGN ADZKA MNCINTAI LO, MAKANYA DY WAJAR POSSESIF.. KRN DY TAKUT KHILANGAN LO..
GK MIKIR KBHAGIAAN ANAK..
APALAGI MARCEL DISEBUTKN TURUNAN MANADO DN TIONG HOA, GK DIJELASKN OTHOR KYAKINANNYA APA....
DN LO SBAGAI MUSLIMAH. JGN LH BRHUBUMGN BEDA KYAKINAN DGN LO..
terimakasih untuk tulisan indah mu thor 💜💜🌹🌹🌹🌹🌹🌹