Nadia merupakan cewek cupu yang sering menjadi korban bullying. Hingga akhirnya ia harus meregang nyawa di toilet sekolah.
Namun tiba-tiba matanya kembali terbuka dengan jiwa yang berbeda.
Aurora merupakan seorang ketua mafia yang terkenal sadis dan kejam. Namun dia harus meregang nyawa ditangan anak buahnya sendiri.
Betapa kagetnya Aurora saat menyadari jika jiwanya telah berpindah pada sosok gadis lemah dan cupu.
Sebuah ingatan masuk kedalam memorinya. Tangannya terkepal begitu melihat penderitaan tubuh yang ia tempati.
Dia berjanji akan membalas semua penderitaan yang dialami oleh pemilik tubuh.
Siapakah sebenarnya Nadia?
Bagaimana Aurora membalas semua perbuatan orang-orang yang sudah membuat Nadia menderita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan Laura
Nadia dan Anjani bolos selama tiga hari. Ditambah dengan libur akhir pekan.
Selama itu Nadia mencari pembantu dan juga satpam untuk menjaga rumahnya. Kebetulan di daerah situ ada orang yang cocok dan sedang mencari pekerjaan.
Nadia membeli sepeda motor untuk ia pakai ke sekolah. Ia akan menggunakan motor itu untuk ke sekolah bersama Anjani.
Nadia tidak memperbolehkan Anjani untuk berhenti sekolah . Bahkan Nadia berjanji akan menguliahkan gadis itu asal setia dan tidak berkhianat.
Anjani akhirnya tahu jika Nadia bekerja di perusahaan Shaka. Dia sangat takjub mengetahui kemampuan Nadia yang luar biasa.
Anjani berjanji di dalam hatinya akan membalas semua kebaikan Nadia di masa depan. Bahkan nyawa pun akan ia korbankan.
"Sudah siap?" tanya Nadia pada Anjani yang duduk dibelakangnya.
"Siap!"
"Oke let's go!"
Hari ini merupakan hari pertama Nadia kesekolah dengan sepeda barunya. Jarak yang ditempuh pun lebih jauh dari sebelumnya.
Ternyata hanya butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke sekolah. Hampir separuh waktu saat pergi dengan taksi waktu itu.
"Ingat...jangan mau di bully. Jika ada yang mencari gara-gara lawan saja. Kalau butuh sesuatu panggil saja aku!" pesan Nadia sebelum mereka berpisah.
"Siap!"
Setelah itu keduanya berpisah untuk pergi ke kelas masing-masing. Nadia ke kelas dua belas C, sedangkan Anjani ke kelas dua belas A.
Tiba-tiba ada yang menghalangi langkah Anjani. Siapa lagi kalau bukan saudara tirinya yang baik.
"Bagus sekali. Kalian tahu teman-teman, gadis di depan kita ini lima hari tidak pulang kerumah. Menurut kalian dimana dia tinggal?" ucap Mana dengan keras.
Suara Nana memang sengaja dikerahkan agar siswa lain mendengarnya. Dia yakin jika Anjani kan merasa malu.
"Pasti dia pergi sama Om Om," lanjut salah satu taman Nana.
"Cie...cie...."
Nana dan kedua temanya senang sekali membuat mental Anjani down. Biasanya Anjani akan langsung murung dan menangis. Namun saat ini Ia hanya menatap mereka datar.
Hal itu membuat Nana heran dan juga meradang. Tangannya terangkat untuk menampar Anjani. Namun dengan sigap Anjani menangkapnya.
"Kamu u u u u."
Anjani meremas tangan Nana dengan kuat. Untungnya Nadia mengajarinya ilmu pertahanan diri. Meskipun masih tahap awal, tapi sudah cukup baik.
"Jangan pernah kamu mengangkat tanganmu lagi dihadapanku. Kalau bisa mulutmu itu jangan asal bicara. Ngerti!" ucap Anjani dengan tegas. Tidak ada lagi Anjani yang penakut.
Setelah itu Anjani melepas tangan Nana begitu saja. Dan melanjutkan langkahnya yang tertunda.
"Anjani brengsek!" pekik Nana emosi.
"Nana!"
Ternyata ada guru di belakang mereka. Membuat Nana dan kedua temannya gemetar.
"Saya bu..."
"Mulutnya dijaga. Jangan biasakan bicara kasar seperti itu. Mengerti!"
"Mengerti bu."
"Tunggu apalagi masuk ke kelas kalian sekarang!"
Nana dan kedua temannya berlari ke kelas mereka. Meninggalkan sang guru yang menggelengkan kepalanya.
"Aduh...murid sekarang, sudah diajari sopan santun masih saja berbuat semaunya," gumam sang guru pelan.
Di bandara internasional seorang pria lanjut usia turun dari pesawat diikuti asisten pribadinya. Meskipun sudah nampak tua , namun wibawanya sebagai mantan Ketua mafia Lion king itu nampak berwibawa.
Selain mereka berdua ada sekitar sepuluh orang berwajah bule mengikuti mereka. Tubuh mereka gagah layaknya seorang bodyguard. Namun mereka adalah anggota mafia Lion King.
Tujuannya ke Indonesia untuk menjenguk sang putri yang sudah lama tidak ia temui. Dia merasa putrinya dalam bahaya. Apalagi anak buah yang ia perintahkan untuk melindunginya tidak bisa dihubungi.
"Sudah ada kabar dari putriku?" tanya Marchel pada asistennya.
"Belum tuan. Anak buah kita masih berusaha untuk menemukan keberadaannya."
"Baiklah. Kita langsung saja ke tempat tinggalnya. Semoga ada petunjuk disana."
"Baik tuan."
Mereka pun tiba di kediaman Laura setelah perjalanan satu jam setengah. Mereka disambut dengan ramah oleh kedua penjaga yang sedang bertugas.
"Silahkan tuan besar."
"Apa putriku sudah kembali?"
"Belum tuan. Mungkin saja Nona sudah berangkat ke kalimantan."
Mendengar jawaban seperti hampir saja emosi Marchel pecah. Untung saja ia pandai mengatur emosinya. Dia meninggalkan dua penjaga itu tanpa banyak bicara lagi.
Asisten Marchel mengikutinya dari belakang. Usianya tak jauh beda dengan Lionel. Bahkan Marchel lebih percaya padanya dari pada putra kandungnya.
Selain menjadi asisten Marchel, Jhon juga menjabat sebagai wakil dari Lion King. Marchel tidak melepas begitu saja, mafia yang sudah ia bentuk ketangan putra kandungnya.
Sejak Marchel membantu Laura, hubungan Marchel dengan Lionel merenggang. Tak jarang keduanya terlibat cekcok. Untung istrinya bersifat netral.
Kesepuluh orang tadi langsung bertindak sesuai keahlian masing-masing. Hal seperti ini sangat mudah bagi mereka.
Marchel menempati kamar yang biasa ia tempati. Begitupun dengan Jhon.
Namun keduanya hanya beristirahat sebentar. Marchel belum bisa tenang jika keadaan Laura belum ia pastikan. Saat ini Ia dan Jhon masih menunggu kabar dari anak buahnya.
Sepertinya Nadia saat ini agak ceroboh. Sehingga keberadaan Laura bisa dengan mudah ditemukan.
Setelah mengetahui keberadaan Laura, Marchel meminta anak buahnya untuk segera menjemputnya. Dia juga meminta mereka untuk memberikan sedikit hadiah pada Shaka.
Setelah Laura di selamatkan, rumah persembunyian Shaka langsung rata dengan tanah. Hal itu bukan hanya membuat gempar warga sekitar.
Warga berbondong-bondong melihat langsung ke lokasi kejadian. Tak lama kemudian aparat keamanan pun datang untuk mengamankan lokasi.
Semua anak buah Shaka yang berada dirumah itu tidak sempat menyelamatkan diri. Apalagi setelah mendapat serangan dari para mafia.
Shaka yang saat itu sedang meeting, langsung meninggalkan ruangan. Dia tidak menyangka jika akan ada kejadian seperti ini. Tak lupa juga memberi kabar pada Nadia.
Shock....tentu saja. Itulah yang saat ini Nadia rasakan. Dia juga merasa khawatir akan keselamatan Shaka dan keluarganya.
Nadia sangat yakin jika tragedi itu merupakan ulah dari ayah papanya. Namun ia tidak menyangka jika mereka akan bertindak dengan cepat.
"Maaf pak. Bolehkah saya ijin pulang lebih awal?" tanya Nadia pada guru yang saat ini sedang memberi pelajaran.
"Ada urusan apa?"
"Tubuh saya tidak enak Pak."
Guru itu menatap Nadia dengan intens. Nadia memang nampak lebih pucat dari biasanya. Sebenarnya itu karena dia shock dengan berita yang ia terima.
"Baiklah. Jangan lupa untuk periksa ke rumah sakit."
"Terimakasih pak."
Nadia dengan cepat memasukkan semua alat tulisnya kedalam tas. Kemudian buru-buru keluar dari kelas.
Saskia yang hendak bertanya sampai mengurungkan niatnya. Dia akan bertanya saat Nadia masuk kembali.
Nadia mengirim pesan pada Anjani untuk pulang terlebih dulu menggunakan taksi. Dia masih ada urusan yang perlu ia lakukan. Tak lupa menitipkan uang pada satpam buat Anjani.
Nadia mengendarai motornya dengan kecepatan super tinggi. Tentu saja tindakannya itu mendapatkan teguran dari pihak berwajib.
"Kamu tahu kesalahan mu?" tanya salah satu polisi yang menghentikan motornya.
"Maaf pak. Saya terpaksa melakukan motor saya dengan kecepatan tinggi karena ingin segera mengetahui keadaan saudara saya yang mengalami kecelakaan, Pak."
"Bukankah tindakan kamu ini juga dapat menimbulkan kecelakaan."
"Maaf pak. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi."
"Dimana kecelakaan yang dialami saudara kamu?"
"Bapak sudah mendengar berita jika ada rumah yang meledak?"
"Memangnya kenapa?"
"Saudara saya salah satu dari korban dari ledakan rumah itu, Pak."
"Kamu tidak bohong kan?"
"Kenapa saya harus bohong. Kalau bapak memang tidak percaya, bapak bisa mengantar langsung kesana. Bagaimana?"
Setelah memikirkannya, akhirnya polisi itu melepaskan Nadia. Namun mereka mengikuti Nadia ke lokasi kejadian.