Awalnya Su Lingyu adalah penggarap spiritual dari zaman modern. Namun karena sebuah kecelakaan konyol, ia terpaksa memasuki sebuah dunia novel percintaan zaman kuno, menjadi selir Pangeran Bupati Bo Mingchen sekaligus karakter penjahat wanita yang akan berakhir menyedihkan.
Su Lingyu tidak mau berakhir menyedihkan. Jadi dia dengan patuh menandatangani perjanjian perceraian lalu pergi. Dengan tubuh koi nya yang makmur, Su Lingyu berhasil melalui semua masalah yang timbul setelah bergesekan dengan pemeran utama wanita.
Namun, kenapa rasanya ada yang salah dengan plotnya? Dan apa yang salah dengan Bo Mingchen yang perlahan menipunya kembali ke istana pangeran bupati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kompetisi Berburu
Bo Mingchen melihat Su Lingyu seperti sedang berpikir keras, merasa tidak senang di hatinya. Dia menyentil dahi gadis itu agak keras, menyadarkannya dari lamunan.
"Jangan memikirkan sesuatu yang tidak harus kamu pikirkan? Seorang gadis yang telah diceraikan tak bisa naik menjadi selir kekaisaran kaisar berikutnya!"
Tanpa ampun, Bo Mingchen menghancurkan semua fantasi yang mungkin dimiliki gadis itu.
Namun Su Lingyu tidak pernah berpikir untuk menjadi selir putra mahkota. Pooh! Apa itu selir? Kenapa dia harus berbagi wanita dengan suaminya sendiri?
Ia memutar bola matanya dan menyentuh dahinya yang disentil. "Kenapa kamu begitu repot dengan pikiranku? Seolah-olah kamu naksir aku, jangan harap!"
"Siapa yang naksir kamu. Jangan terlalu percaya diri." Bo Mingchen menunjukkan ketidaksukaannya.
"Kalau begitu jangan terlalu mengurusi apa yang kupikirkan. Aku hanya selir buangan yang lebih suka menjadi kaya. Kamu dan putra mahkota bahkan lebih miskin dariku."
"Semua kekayaan yang kamu miliki awalnya karena aku?" Bo Mingchen sedikit kesal.
"Itu karena aku beruntung bercerai denganmu dan menjadi kaya. Apakah kamu tidak tahu, ini namanya berkah tersembunyi."
"...."
Bo Mingchen tidak mau bicara lagi dengannya karena Kaisar Shin Bo, Permaisuri De serta beberapa selir kekaisaran lainnya datang.
Ada pun dia pelayan istana di belakang mereka, sepertinya mendapatkan informasi luar biasa.
Siapa bilang jika Su Lingyu dan Bo Mingchen tidak akur? Tampaknya ini hanya kesalahpahaman saja. Keduanya bukan hanya akur tapi juga bertengkar seperti layaknya pasangan.
Mereka bahkan terkejut ketika tahu jika Su Lingyu lebih kaya dari Bo Mingchen. Kekayaan sejati dan buanglah pria! Ini juga baik-baik saja.
Su Lingyu tidak tahu jika kedua pelayan itu bahkan lebih tulus untuk melayaninya.
Ads upacara tertentu sebelum kompetisi berburu dimulai. Ini untuk menghormati para dewa sekaligus memberikan Rahmat. Lalu mengucapkan selamat panjang umur pada Kaisar Bo.
Kemudian tim dibentuk. Setiap tim bisa terdiri dari tiga orang atau lebih. Baik pria dan wanita tidak dibatasi. Ingin berburu sendiri juga tidak masalah.
Bo Mingchen jelas membawa Su Lingyu bersama dan Sikong Lian bergabung tanpa malu. Ia tidak lagi bersikap atau berbicara kasar pada Su Lingyu.
Sementara sisanya hanya penjaga gelap yang akan mengikuti diam-diam.
Penjaga gelap bahkan tak bisa membantu tuan mereka berburu. Jika ketahuan maka akan didiskualifikasi.
Kiwi keluar dari ruang spiritual, sengaja muncul dari keranjang dari tas kain yang dibawa Su Lingyu.
"Ah! Nona Su, kenapa kamu membawa tikus?" tanya Sikong Lian sedikit geli ketika melihat hewan berbulu itu keluar.
"Ini bukan tikus, ini hamster. Tidakkah kamu melihat nya saat datang ke rumahku hari itu?" tanya Su Lingyu.
"Aku lupa."
Sikong Lian memang lupa. Apakah ada hewan ini hari itu?
Tanpa diduga, Kiwi yang tidak senang dipanggil tikus pun langsung melompat ke arah Sikong Lian.
Pria itu terkejut melihat Kiwi melompat dan mendarat di wajahnya.
"Ahhh! Tikus!"
Sikong Lian pun terjatuh dari punggung kuda karena hilang keseimbangan.
Berbeda dengan Su Lingyu, kuda yang dinaikinya bahkan lebih patuh dan mengerti. Tanpa perlu dia instruksi kan, kuda itu berjalan santai mengikuti Bo Mingchen di depan.
Sikong Lian mencium tanah berumput cukup keras hingga lengannya sakit. Dan Kiwi yang marah pun memberi hadiah untuknya. Dia buang air kecil di pakaian pria itu.
Ini membuat Sikong Lian semakin jijik dan marah.
"Beraninya kamu!"
Bahkan dia dibenci oleh seekor hamster. Hewan kecil itu benar-benar memiliki temperamen yang sama dengan pemiliknya.
Kiwi langsung melarikan diri, melompat ke ekor kuda untuk memanjat lalu pindah ke bahu Su Lingyu.
Lu Tian yang mengawal mereka paling belakang, hanya menggelengkan kepala. Dia selalu mengira jika hewan kecil itu bahkan bisa mengerti bahasa manusia.
"Tuan Sikong, lebih baik untuk tidak menyinggung hewan kecil itu." Lu Tian memberinya saran.
"Aku tidak bisa menyinggung gadis itu, tapi aku bahkan tak bisa menyinggung hewan peliharaannya juga?" Sikong Lian sangat marah. Ia bangkit dan mencium aroma tidak sedap di pakaian.
Sialnya, ia bahkan tidak membawa pakaian ganti.
"Hamster nona Su adalah hewan keberuntungan. Hamster itu juga yang membantu nona Su menemukan harta di gudang bawah tanah dan batu giok di bukit."
"..." Apakah aku baru saja menyinggung hamster penggali emas? Batin Sikong Lian.
Konon, hamster penggali emas bisa menemukan jenis harta apa saja. Dan keberadaan hamster penggali emas itu mitos bukan?
Apakah benar hamster seperti itu memang ada di dunia ini?
Su Lingyu tidak tahu jika Sikong Lian sedang merindukan hamster yang ada di bahunya saat ini. Ia sedang berbicara di dalam hati dengan hewan peliharaannya.
“Apa yang kamu lakukan padanya?”
Kiwi mengeluarkan kuaci entah dari mana dan memakannya dengan santai. “Aku hanya membantunya untuk terhindar dari bencana. Kuda yang dia naiki sudah dibius oleh seseorang. Jika dia terus menunggangi kuda itu, maka mungkin nyawanya dalam bahaya.”
Su Lingyu terkejut. “Apa? Dibius? Siapa yang berani melakukannya?”
“Aku tidak tahu. Tampaknya semua itu tidak ditunjukkan untuknya, tapi untukmu.”
Jika ada pihak lain yang ingin mencelakakannya, pasti Ling Hua adalah tersangka utama. Gadis itu mengandalkan keberuntungannya untuk melakukan sesuatu dan mencuri keberuntungan orang juga.
Mungkin karena selalu gagal mencuri keberuntungan Su Lingyu, Ling Hua menjadi gelap mata.
Jika sesuatu terjadi pada Sikong Lian, maka seseorang pasti akan menghasut keadaan, mengatakan jika Su Lingyu adalah pembawa sial.
“Kenapa dia begitu gigih untuk mendapatkan aura keberuntunganku?” gumam Su Lingyu.
“Bukankah itu wajar? Dia sendiri adalah orang yang serakah.” Kiwi tidak menyukai tipe orang seperti Ling Hua yang hanya bisa memanjat orang dengan cara yang kotor.
Kiwi buang air kecil di pakaian Sikong Lian bukan hanya karena iseng semata, tapi memang itu adalah tindakan pencegahan. Kuda yang dibius itu tidak akan menjadi gila dan mengamuk ketika mencium aroma air seninya.
Namun pembicaraannya dengan Kiwi tidak bertahan lama, mereka berhenti karena ada seekor rusa yang sedang makan rumput di balik semak-semak.
Bo Mingchen mengambil anak panah dan menarik tali busur. Lalu tembakannya langsung mengenai tubuh rusa itu.
“Dapat!” Su Lingyu sangat senang hingga dia turun dari kudanya.
Ia ingin memeriksa rusa yang berhasil dipanah oleh Bo Mingchen. Tapi entah bagaimana, rupanya rusa itu sudah menjadi sasaran seekor harimau yang mengendap-endap dari balik semak lain.
Melihat jika buruannya telah dicuri oleh manusia, harimau itu sangat marah hingga dia mengaum dan melompat dari balik semak. Binatang buas itu berniat untuk menerkam Su Lingyu.
Ketiga pria yang masih berada di atas kuda pun seketika menegang.
“Su Lingyu!” Bo Mingchen mengambil anak panah baru dan hendak memanah harimau besar itu.
Namun sesuatu yang mereka bahkan tak bisa membayangkannya pun terjadi. Su Lingyu melemparkan Kiwi yang ada di bahunya ke arah harimau itu.