Bismarck telah tenggelam. Pertempuran di Laut Atlantik berakhir dengan kehancuran. Kapal perang kebanggaan Kriegsmarine itu karam, membawa seluruh kru dan sang laksamana ke dasar lautan. Di tengah kegelapan, suara misterius menggema. "Bangunlah… Tebuslah dosamu yang telah merenggut ribuan nyawa. Ini adalah hukumanmu." Ketika kesadarannya kembali, sang laksamana terbangun di tempat asing. Pintu kamar terbuka, dan seorang gadis kecil berdiri terpaku. Barang yang dibawanya terjatuh, lalu ia berlari dan memeluknya erat. "Ana! Ibu kira kau tidak akan bangun lagi!" Saat melihat bayangan di cermin, napasnya tertahan. Yang ia lihat bukan lagi seorang pria gagah yang pernah memimpin armada, melainkan seorang gadis kecil. Saat itulah ia menyadari bahwa dirinya telah bereinkarnasi. Namun kali ini, bukan sebagai seorang laksamana, melainkan sebagai seorang anak kecil di dunia yang sepenuhnya asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akihisa Arishima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Katarina
Anastasia masih menatap Katarina, gadis kecil di hadapannya yang kini menggenggam erat tangan adik laki-lakinya. Setelah beberapa saat hening, Katarina menghapus air matanya dan menatap Anastasia dengan penuh kebingungan sekaligus harapan.
Katarina terdiam, matanya membesar karena keterkejutan. "T-tidak mungkin... siapa kau sebenarnya...?"
Perlahan, Anastasia mengangkat tangannya, menyibakkan sedikit bagian punggungnya, memperlihatkan tato yang terukir di sana. Ia menatap Katarina dengan sorot mata penuh makna sebelum berbisik, "Tanda ini... sama seperti milikmu." Suaranya tenang, namun mengandung beban masa lalu yang tak terhapus oleh waktu.
Ia menghela napas sejenak, lalu melanjutkan, "Dulu, aku adalah Gunther Lütjens… Laksamana Armada yang berlayar bersama Bismarck hingga akhir."
Katarina terhuyung mundur, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. "Tidak mungkin... Laksamana Lütjens...?" bisiknya tak percaya.
Anastasia mengangguk. "Dan kau... siapa namamu sebelum terlahir kembali di dunia ini?"
Katarina masih gemetar, tapi akhirnya ia menggigit bibirnya dan menatap Anastasia dengan penuh keyakinan. "Aku... aku Claus Willheim. Aku bertugas di navigasi kemudi kapal... Aku adalah salah satu yang mengarahkan Bismarck dalam pelayarannya..."
Anastasia menatap Katarina dengan mata yang penuh emosi. Perasaan aneh menggelayuti hatinya. Claus Willheim, salah satu perwira muda yang pernah bertugas di bawah komandonya, kini berdiri di hadapannya dalam wujud seorang gadis kecil. Sebuah kebetulan yang terlalu mustahil untuk diabaikan.
"Claus... jadi kau juga di sini..." bisik Anastasia dengan suara yang lebih lembut, hampir tak percaya.
Mata Katarina membelalak, air mata mulai menggenang di pelupuknya. Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Laksamana... anda benar-benar Laksamana Lütjens...?" suaranya bergetar, antara haru dan tak percaya.
Anastasia mengangguk. "Ya, aku adalah Gunther Lütjens. Namun, kini aku Anastasia von Siegfried."
Tubuh Katarina sedikit gemetar. Ia tidak pernah menyangka bahwa seseorang yang pernah ia hormati dan ikuti dengan sepenuh hati kini berdiri di hadapannya, dalam kehidupan yang baru namun tetap membawa jejak masa lalu.
"Jadi… apa kau juga direinkarnasikan oleh Dewi Velthoria?" tanya Anastasia, matanya penuh rasa ingin tahu.
Katarina menunduk, jemarinya meremas ujung pakaiannya. "Aku… aku tidak tahu," suaranya terdengar lirih, hampir bergetar. "Aku terbangun di dunia ini tanpa tahu bagaimana atau mengapa. Tidak ada Dewi, tidak ada suara yang menjelaskan. Aku hanya… lahir kembali begitu saja. Tiba-tiba, aku hidup."
Mata Katarina yang semula berkabut kini menatap Anastasia dengan ragu, seolah mencoba mencari kepastian—mencari makna di balik semua ini.
Anastasia menghela napas pelan, lalu berkata dengan suara tenang namun sarat makna, "Aku bertemu dengan Dewi Velthoria sebelum direinkarnasi. Dia memberiku sebuah misi, Claus. Aku harus menebus dosa-dosa masa lalu… dengan menyelamatkan dunia ini dari kehancuran."
Katarina terdiam, mencerna kata-kata itu.
"Dewi itu juga meninggalkan tanda ini kepada mereka yang dipilihnya untuk bereinkarnasi," Anastasia melanjutkan, menunjuk tato Iron Cross di punggungnya."Dia hanya memberitahuku bahwa teman-temanku juga ikut dilahirkan kembali… tapi dia tidak memberitahu siapa dan di mana mereka berada."
Katarina menggigit bibirnya, matanya bergetar. "Dosa-dosa masa lalu…? Tapi kita hanya menjalankan tugas kita sebagai prajurit. Kita hanya mengikuti perintah."
Anastasia tersenyum tipis, bukan karena bahagia, melainkan karena memahami perasaan itu lebih dari siapa pun. "Mungkin… Tapi bagaimanapun, kita tetap menjadi bagian dari sejarah yang diwarnai darah. Kita pahlawan bagi negara kita, tapi bagi pihak lain… kita adalah penjahat."
Ia menghela napas, lalu menatap Katarina dengan sorot mata penuh keteguhan. "Entah benar atau tidak, aku telah diberikan kesempatan ini. Kesempatan untuk menebus dosa itu. Aku menerima tugas ini… dan aku tak bisa mundur."
Katarina terdiam. Dalam diri gadis di depannya, ia melihat sosok yang begitu dikenalnya—sosok pemimpin yang dulu ia kagumi. Meski dalam wujud yang berbeda, kehadiran dan wibawa itu tetap sama, seolah tak pernah pudar oleh waktu atau takdir.
Setelah beberapa saat, Katarina mengepalkan tangannya, seakan mengambil keputusan.
"Kalau begitu... biarkan aku mengikutimu lagi. Seperti dulu. Aku tidak tahu arah, aku tidak punya tujuan, tapi aku tahu satu hal pasti. Aku ingin tetap berada di bawah komandomu, Laksamana."
Anastasia menatapnya, mata mereka bertemu dalam keheningan yang penuh makna. Senyum kecil muncul di bibirnya.
"Baiklah, Claus... atau seharusnya aku memanggilmu Katarina sekarang?"
Katarina tersenyum tipis, matanya masih sedikit sembab karena tangisnya tadi. "Katarina saja... meskipun dalam hatiku, aku tetap Claus Willheim."
Anastasia mengangguk. "Kalau begitu, selamat datang kembali di bawah komandoku, Katarina. Kita punya dunia yang harus diselamatkan."
Tiba-tiba, Katarina berlutut di hadapan Anastasia, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Aku bersumpah untuk tetap setia, Laksamana! Meskipun di kehidupan yang berbeda ini, aku akan tetap berdiri di bawah naunganmu!"
Katarina berdiri tegak dan menghentakkan kakinya ke tanah, memberi hormat seperti yang dulu pernah ia lakukan di atas kapal Bismarck.
"Perintahmu adalah kehormatanku, Laksamana."
Malam itu, di bawah cahaya redup lilin dan batu sihir yang berpendar lembut, dua jiwa dari masa lalu kembali bertemu. Kali ini, bukan sebagai prajurit dan pemimpin di tengah perang lautan, melainkan sebagai anak-anak yang memiliki misi baru dalam dunia yang berbeda. Namun satu hal tetap sama—kesetiaan yang tak tergoyahkan.
Anastasia tertegun melihat pengabdian yang begitu mendalam dari Katarina—dari Claus. Ia mengulurkan tangannya dan menepuk kepala gadis itu dengan lembut. "Bangkitlah, Claus... atau sekarang, Katarina. Kita bukan lagi di medan perang. Tapi jika kau ingin tetap berada di sisiku, aku akan menerimanya sebagai rekanku."
Mata Katarina berkaca-kaca, tetapi kali ini bukan karena kesedihan—melainkan tekad yang baru tumbuh dalam hatinya. Dengan tangan gemetar, ia menegakkan tubuhnya dan memberi hormat.
"Terima kasih... Laksamana Lütjens... tidak, Laksamana Anastasia." Suaranya bergetar, namun penuh penghormatan.
Anastasia menatapnya sejenak sebelum tersenyum tipis. "Mulai sekarang, kita akan menghadapi dunia ini bersama. Seperti dulu, di atas lautan, di atas Bismarck. Tapi kali ini… kita akan bertahan lebih lama."
Ia kemudian menambahkan dengan nada lebih santai, "Oh, dan juga… panggil saja aku Anastasia, atau apa pun yang menurutmu nyaman."
Katarina mengangguk, masih terbawa oleh perasaan haru dan semangat baru yang tumbuh dalam dirinya.
Tanpa banyak bicara, Anastasia merogoh sesuatu dari sabuknya, lalu mengulurkan sebuah pistol Mauser C96 ke arah Katarina. "Apakah kamu masih mengingat cara menggunakan ini?"
Mata Katarina membulat sejenak, sebelum jemarinya dengan refleks menggenggam senjata itu. Beratnya, bentuknya, semua terasa begitu familiar. Ia menghela napas dalam, lalu tersenyum penuh semangat.
"Tentu, Nona Anastasia." Suaranya mantap, seolah-olah ia telah kembali ke masa ketika dirinya masih seorang perwira muda di atas kapal perang.
"Tapi bagaimana dengan Anda, Nona Anastasia?" tanya Katarina dengan sedikit khawatir.
Anastasia tersenyum kecil. "Ah, tenang saja… Enam bulan yang lalu, adikku, August, bersama beberapa pegawainya sudah membawakan persediaan senjata untukku. Tiga Mauser C96, lima Kar98k, dan beberapa ribu butir peluru. Itu sudah lebih dari cukup sebagai cadangan kita di masa depan."
Katarina sedikit terkejut mendengarnya. "Jadi… senjata seperti ini masih bisa dibuat di dunia ini?"
Anastasia mengangguk. "Ya, tapi itu bukan hal yang mudah. Butuh hampir satu tahun untuk membuatnya karena tingkat kesulitannya cukup tinggi. Para dwarf di kota Drachenburg sempat mengalami kesulitan saat mereplika mekanismenya."
Katarina tersenyum kagum. "Jadi, bahkan di dunia ini pun, Anda tetap satu langkah lebih maju, Nona Anastasia."
Anastasia terkekeh ringan. "Tentu saja. Aku tidak akan membiarkan diriku buta akan kekuatan di dunia ini."
"Ketika orang lain berlomba-lomba dengan sihir dan sihir mereka," Anastasia berkata dengan senyum penuh keyakinan, "kita akan menggunakan pikiran kita."