NovelToon NovelToon
Gadis Sultan & Cowok Pas-pasan

Gadis Sultan & Cowok Pas-pasan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: @Asila27

Di dunia yang penuh gemerlap kemewahan, Nayla Azzahra, pewaris tunggal keluarga konglomerat, selalu hidup dalam limpahan harta. Apa pun yang ia inginkan bisa didapat hanya dengan satu panggilan. Namun, di balik segala kemudahan itu, Nayla merasa terkurung dalam ekspektasi dan aturan keluarganya.

Di sisi lain, Ardian Pratama hanyalah pemuda biasa yang hidup pas-pasan. Ia bekerja keras siang dan malam untuk membiayai kuliah dan hidupnya sendiri. Baginya, cinta hanyalah dongeng yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Takdir mempertemukan mereka dalam situasi tak terduga, sebuah insiden konyol yang berujung pada hubungan yang tak pernah mereka bayangkan. Nayla yang terbiasa dengan kemewahan merasa tertarik pada kehidupan sederhana Ardian. Sementara Ardian, yang selalu skeptis terhadap orang kaya, mulai menyadari bahwa Nayla berbeda dari gadis manja lainnya.

dan pada akhirnya mereka saling jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Asila27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22 Nayla kecewa

Setelah Ardi dan Nayla berpegangan tangan, Ardi pun semakin berani menggoda Nayla.

"Mbak Nayla, kok tangan Mbak dingin? Mbak lagi sakit ya?" goda Ardi sambil menggenggam tangan Nayla sedikit lebih erat.

"Gak kok, Mas. Aku gak apa-apa," jawab Nayla sambil berusaha menutupi rasa gugupnya.

"Tapi kok wajah Mbak Nayla merah? Kenapa tuh?" tanya Ardi polos.

Dina yang ikut mendengar pun langsung menyahut. "Itu merah merona karena bahagia, Mas. Senang bisa gandengan tangan sama Mas Ardi," goda Dina sambil terkikik.

"Emang bisa ya, Mbak, bahagia bikin wajah merah?" tanya Ardi semakin penasaran.

"Ya bisa dong, Mas! Coba deh Mas rasakan sendiri, gimana perasaan Mas sekarang gandengan tangan sama Nayla?" pancing Dina dengan penuh rencana.

Ardi terdiam sejenak, lalu menjawab jujur, "Ya bahagia, Mbak. Campur suka... Gak bisa dijelasin deh," ucapnya tanpa menyadari bahwa dirinya sedang dipancing oleh Dina.

Mendengar jawaban itu, Nayla tersenyum malu-malu, hatinya terasa berbunga-bunga.

Dina yang masih ingin menggoda Ardi kembali bertanya, "Kok gak bisa dijelasin sih, Mas?"

"Ya gak bisa, Mbak... Apalagi ini pertama kalinya saya gandengan tangan sama Nayla, orang yang saya sayang. Ya tentu bahagia lah!" kata Ardi spontan, tanpa sadar mengungkapkan perasaannya.

Seketika Nayla berhenti berjalan, tubuhnya mematung di tempat.

Ardi yang menyadari ucapannya barusan langsung terkejut dan mulai panik. Sementara itu, Dina tersenyum puas karena rencananya untuk memancing Ardi akhirnya berhasil.

Nayla yang sudah kembali sadar dari keterkejutannya langsung bertanya, "Mas Ardi, apa maksudnya tadi? Mas bilang sayang... Mas Ardi sayang sama aku?"

Ardi yang mendengar pertanyaan itu langsung mengelak, "Maaf, Mbak. Maksud saya... ya senang aja bisa gandeng tangan Mbak Nayla."

"Soalnya Mbak kan cantik, terus bos saya juga. Jarang-jarang kan ada yang bisa jalan bareng sama bosnya, apalagi sampai gandengan tangan. Jadi ya saya bahagia," tambahnya, berusaha mengalihkan pembicaraan.

Nayla yang mendengar alasan Ardi hanya bisa manyun, merasa sedikit kecewa.

Dina yang melihat Ardi mencoba mengelak lagi, tidak tinggal diam. "Terus, Mas, tadi bilang sayang itu apa? Masa salah bicara?"

"Oh? Emang ada, Mbak? Perasaan saya gak bilang begitu, deh. Mbak salah dengar kali," ucap Ardi berpura-pura lupa.

"Mas, saya gak salah dengar! Nayla juga dengar, kok! Betul, kan, Nay?" tanya Dina, memastikan.

Nayla mengangguk pelan.

"Tuh, Mas? Nayla aja dengar kok! Gak mungkin saya salah dengar. Mas gak usah bohong deh sama kita. Mas jatuh hati ya sama Nayla?" desak Dina.

Ardi semakin panik. "Gak, Mbak! Saya gak jatuh hati sama Mbak Nayla. Lagian, mana saya berani jatuh hati sama Mbak Nayla? Dia kan majikan saya, jadi saya gak berani!"

Nayla yang sejak tadi menunggu kejujuran Ardi semakin kecewa. "Terus maksudnya sayang tadi apa, Mas?" tanyanya dengan nada lebih pelan.

Ardi terdiam sejenak, lalu akhirnya menjawab, "Ya sayang aja, Mbak. Sayang karena Mbak Nayla sudah baik sama saya. Jadi saya ingin melindungi Mbak, menjaga Mbak. Rasa sayang saya ke Mbak Nayla itu seperti rasa peduli ke seseorang..."

Nayla menunduk, menahan perasaan yang campur aduk dalam hatinya. Ada rasa ingin menangis. Ini pertama kalinya ia merasa patah hati, padahal biasanya para pria yang menyukainya selalu agresif. Tapi Ardi? Ia justru pandai menyembunyikan perasaannya.

Dina yang melihat sahabatnya sedih, tidak terima begitu saja. "Mas Ardi, saya boleh tanya sesuatu gak?"

"Mbak mau tanya apa?"

"Seandainya Nayla suka sama Mas Ardi... Mau gak Mas jadian sama Nayla?" tanya Dina dengan nada serius.

Ardi terdiam, lalu menghela napas sebelum menjawab, "Saya gak berani, Mbak. Saya sadar diri, saya ini orang miskin, gak pantas buat Nayla. Bahkan membayangkan itu aja saya gak berani."

Mendengar jawaban itu, Nayla langsung berlari ke toilet, menahan air mata yang hampir jatuh.

Dina hanya tersenyum miring, lalu memasukkan tangannya ke dalam tas dan diam-diam mulai merekam percakapan mereka.

"Mbak Nayla kenapa lari ya?" tanya Ardi heran.

"Mungkin kebelet pipis, Mas. Biarin aja."

"Mas, saya boleh tanya sesuatu lagi? Tapi kali ini Mas harus jawab jujur."

"Iya, Mbak. Mau tanya apa?"

"Ayo kita duduk di kafe itu dulu," ajak Dina sambil menunjuk sebuah kafe kecil di pinggir jalan.

Setelah mereka duduk dan memesan minuman, Dina kembali berbicara, "Sekarang kita cuma berdua, Mas."

"Iya, Mbak. Terus apa yang mau Mbak tanya?"

Dina menatap Ardi tajam. "Saya tahu, Mas itu sebenarnya jatuh hati sama Nayla. Saya tahu Mas suka sama dia. Jadi kenapa tadi Mas Ardi mengelak waktu saya tanya?"

Ardi terdiam, bingung harus menjawab apa. "Bagaimana Mbak Dina tahu...?" gumamnya dalam hati.

"Mas, kenapa diam?" desak Dina.

Akhirnya, Ardi pasrah dan berkata, "Mbak, saya orang miskin. Saya sadar diri. Saya gak pantas untuk seorang putri konglomerat. Saya juga gak mau diremehkan. Jadi saya berusaha memendam perasaan saya."

Ardi menghela napas, lalu melanjutkan, "Tapi apa daya? Terkadang keinginan gak bisa jadi kenyataan."

Lalu ia menatap Dina dan bertanya, "Mbak Dina tahu gak pertama kali saya ketemu Mbak Nayla?"

Dina mengernyitkan dahi. "Iya, Mas. Saya tahu. Kalian pertama kali bertemu karena gak sengaja tabrakan di kampus."

Ardi tersenyum tipis. "Iya, Mbak. Saat itu saya melihat wanita cantik sedang memarahi saya karena jalan gak pakai mata. Seiring waktu, kami sering bertemu lagi."

Dina menyimak dengan penuh rasa ingin tahu. "Terus apa hubungannya dengan pertanyaan saya tadi, Mas?"

"Saya belum selesai, Mbak," jawab Ardi pelan.

Dina mengangguk. "Oke, lanjutkan."

Ardi melanjutkan ceritanya, "Sore itu, saat saya kerja, saya melihat seorang perempuan sedang berkelahi dengan seorang cowok. Ternyata itu Nayla dan Mbak Dina. Saya yang melihat kejadian itu dari kejauhan langsung gak terima. Saya gak peduli dengan aturan kafe, saya hanya ingin melindungi Nayla."

Ardi tersenyum pahit. "Sejak saat itu, saya sadar... Saya jatuh cinta sama Nayla."

Dina terdiam, lalu tersenyum puas. "Jadi kenapa Mas gak ungkapin perasaan Mas ke Nayla?" tanyanya lagi.

Ardi menatap Dina dalam-dalam, lalu berkata pelan, "Karena saya takut, Mbak. Saya takut cintanya bertepuk sebelah tangan..."

1
Nyoman Nuarta
....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!