Demi menjalankan misinya mencari tahu mengenai pelaku pembantaian massal keluarga Anthony, dengan rela Tuan Vigor menikahkan putri tunggalnya dengan seorang mafia yang merupakan putra sahabatnya untuk melancarkan misinya dan mendapatkan harta yang ia inginkan. namun lain halnya dengan si mafia, yang mempunyai tujuan lain dengan adanya ia masuk kedalam keluarga elit itu untuk bisa menguasai dan mengendalikan keluarga itu lewat Calon istrinya yang saat ini mendapat julukan Bloody Queen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionnaclareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk
Sore harinya dipukul 3 sore, Leo bersama Vigor pun akhirnya berangkat ke tempat pernikahan nya, Yoona sudah terlebih dulu pergi sejak pukul 11 siang tadi untuk menyiapkan beberapa hal disana, sementara Leo harus menyelesaikan pengobatan tangannya sehingga membuat nya harus menunggu sampai dia benar benar tangannya boleh di gunakan untuk beraktivitas.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil mereka pun sampai di gedung pernikahan yang akan ia gunakan, gedung itu terletak tidak jauh dari kota sehingga tidak memakan banyak waktu untuk berangkat kesana.
Langit senja bagaikan lukisan jingga saat para tamu undangan mulai berdatangan ke sebuah gedung megah di jantung kota. Diiringi alunan musik klasik yang menenangkan, para karyawan kantor dan keluarga dari kedua mempelai melangkah anggun dengan busana terbaik mereka. Nuansa modern terasa kental dalam dekorasi pernikahan yang minimalis namun berkelas.
Pintu masuk gedung bagaikan gerbang menuju negeri dongeng, dihiasi dengan bunga-bunga segar berwarna putih dan pastel yang ditata artistik. Lampu-lampu temaram memancarkan cahaya hangat, menambah kesan romantis dan intim pada suasana. Di area resepsi, meja-meja bundar tertata rapi dengan taplak kain putih berkilauan, dihiasi dengan centerpieces bunga-bunga kecil yang menawan. Meskipun kedua orang tua mereka hanya punya waktu seminggu, tapi mereka bisa menyiapkan semuanya dengan begitu sempurna tanpa adanya kekurangan apapun.
Langkah kaki sang pengantin wanita terasa berat bagaikan batu saat ia melangkah menuju altar pernikahan. Gaun putihnya yang anggun menjuntai indah, bagaikan awan putih yang terurai di langit senja, namun dibalik semua itu harinya masih merasa begitu gelisah seakan akan ia tidak percaya hal seperti ini akan terjadi di dalam kehidupannya.
Diiringi alunan musik pernikahan yang merdu, ia berjalan dengan langkah gontai, bagaikan sebuah boneka tanpa jiwa. Pikirannya berkecamuk, dipenuhi dengan pertanyaan dan keraguan tentang pernikahan yang akan segera dilangsungkannya.
'Aku benar benar tidak menyangka pernikahan ini akan terjadi, ini seakan alan seperti mimpi buruk bagiku.' Batin Yoona sembari menatap tajam ke arah pria yang sedari tadi terus tersenyum manis padanya.
Sesampainya di altar, sang mempelai pria menyambutnya dengan senyuman hangat dan penuh kasih sayang. Tangan mereka bertautan erat, namun terasa hampa dan tanpa makna bagi Yoona yang memang sedari tadi tetap menatapnya dengan tatapan penuh dengan kebencian di dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian sang pendeta pun memulai upacara pernikahan itu, kata demi kata janji pernikahan mulai terdengar dan menggelegar di di setiap sudut ruangan sehingga membuat semua sorot mata fokus tertuju pada kedua mempelai yang sedang berusaha mengucapkan janji suci pernikahan mereka disana.
Akhirnya upacara pernikahan itu berjalan cukup lancar, meskipun Yoona sedikit mengulur waktu namun semuanya berjalan begitu lancar tidak ada halangan apapun.
"Selamat Tuan dan Noona kalian telah resmi menjadi sepasang suami istri, sekarang kalian boleh saling berciuman untuk membuktikan seberapa besar cinta kalian berdua" ucap pendeta itu setelah menyelesaikan acara tukar cicin dan sontak membuat Yoona memalingkan wajahnya dari pandangan Leo.
"Cih pembuktian Cinta katanya." Gerutu Yoona.
Sementara Leo yang mendengar hal itupun perlahan berjalan mendekatinya dan kemudian dengan perlahan dia mulai menarik pinggang Yoona kedalam pelukannya, Yoona yang tahu akan hal itu seketika langsung menatap matanya.
"Apa yang kau lakukan, jika kau tidak mau tidak usah, kita bisa melewatinya." Ucapnya.
"Kata siapa aku aku tidak mau, malah momen inikah yang aki tunggu, Aku ingin menunjukkan pada dunia kalau aku sudah seratus persen berhasil mendapatkan mu dan lima puluh persen berhasil menaklukkan mu." Jawabnya
"Hanya itu? Dengar jangan mengira aku sudah menyerah Oh Leo, aku masih belum kalah, lagi pula untuk apa kau ingin melakukan nya, kita tidak mempunyai perasaan apa apa." Bantah Yoona.
"Kau salah, siapa bilang aku tidak punya perasaan apapa padanya, dengar aku sangatlah mencintaimu sayang, aku benar benar sangat mencintai mu, dan sekarang aku akan membuktikan seberapa dalam aku mencintaimu." Jawabnya yang membuat Yoona terdiam seakan akan pria itu benar benar tulus mengatakan semua itu di hadapannya.
Melihat Yoona yang terdiam, Leo pun langsung menarik tengkuk leher gadis didepannya itu dan dengan perlahan dia pun mulai mencium dan melumat bibirnya sembari mempererat pelukannya. Sementara Yoona tidak sekali pun membalas sentuhan darinya bahkan ia sama sekali tidak mau membuka mulutnya, Leo yang mulai kesal akan hal itupun langsung menggigit keras bibir bawah Yoona sehingga membuat nya sontak membuka mulut.
Semua orang bersorak dan bertepuk untuk mereka sehingga membuat suasana semakin meriah. Setelah beberapa menit kemudian, Leo pun melepaskan pangutannya dan menatap lekat kearah Yoona sembari mengusap bekas darah yang ada di bibir Yoona karena ulahnya tadi menggunakan ibu jari miliknya.
Pria itu terus tersenyum begitu manis ke arahnya namun tidak dengan Yoona yang benar benar tidak nyaman dengan semua sorot mata yang tertuju padanya.
Resepsi upacara pernikahan pun kini usai, kedua mempelai pengantin itu mulai menyambut dan menyapa satu persatu tamu yang datang disana, sembari menikmati hidangan yang setelah di sajikan, para tamu undangan benar benar menikmati nya sembari menunggu acara selanjutnya.
"Laurent." Ucap Yoona ketika melihat pria yang begitu tidak asing sedang asik berbincang dengan beberapa tamu disana sembari membawa segelas wine di tangannya.
Mendengar hal itu membuat Laurent sontak menatap ke arah Yoona dan memberikan senyuman padanya. Yoona berjalan mendekat kearahnya dan memeluk erat tubuh pria itu tanpa peduli dengan lingkungan disekitarnya.
"Ku kira kau tidak akan datang." Ucapnya.
"Bukankah sudah ku bilang, aku akan selalu melindungi mu dari jarak jauh Yoona, dan meskipun dia terlihat kejam tapi aku lihat tatapan tadi mengatakan hal lain, seakan akan ia tulus padamu Yoona." Ujar Laurent.
"Cih, tulus katamu, dia hanya pintar mengendalikan ekspresi nya Laurent."
Laurent terkekeh kecil mendengar hal itu. "Ngomong ngomong dimana suami mu itu? kenapa kau berkeliling sendirian?" Tanyanya sebab ia tidak melihat keberadaan Leo di mana mana.
"Suami? Suami yang mana maksud mu? Dia bukanlah suamiku." Ketus Yoona yang berusaha untuk tidak menganggap pernikahan nya itu, sementara Laurent hanya menggeleng tipis mendengar ucapan yang keluar dari mulut seorang gadis yang baru saja sah menikah itu.
"Oh iya Laurent, bagaimana bisa kau datang kemari aku tidak memberimu surat undangan, lalu bagaimana bisa kau masuk?" Tanya Yoona yang bingung.
"Sebab aku yang mengundangnya." Ucap Leo yang tiba tiba datang entah dari mana asalnya menghampiri mereka berdua.
Leo menarik tangan Yoona hingga menjauh dari Laurent begitu saja ketika ia sampai di hadapan mereka berdua. "Tunggu kau yang mengundangnya?" Tanya Yoona.
Leo mengangguk "aku mengundangnya dengan atas nama keluarga Alexander, karena aku tahu hanya dia yang kau kenal disini, jadi harap bersikap sopan lah, dan jangan menjelekan nama baik Alexander." Ucapnya sementara Laurent hanya tersenyum kecut ke arahnya.
"Oke baik tuan, tapi sepertinya aku tidak perlu meminta maaf karena hal tadi." Jawabnya.
Leo menatap tajam kearah Yoona. "Dan kau, tidak bisakah kau menghargai ku sedikit saja, disini sedang banyak tamu, dan bagaimana bisa kau berpelukan dengan pria lain sedangkan suamimu ada disini." Lanjutnya.
"Kenapa? Kau cemburu?"
"Cih, untuk apa aku cemburu pada wanita seperti mu, aku berkata seperti itu karena disini ada banyak sekali kolega kantorku, entah apa yang akan dikatakan mereka setelah melihat perilaku mu." Responnya dan tidak lama kemudian datanglah seorang pria yang tiba tiba datang dan membisikkan sesuatu pada Leo.
"Benarkah, lalu dimana Luca? panggil dia untuk segera menemui ku."
"Baik tuan." Jawabnya yang langsung pergi begitu saja, sementara Yoona yang penasaran itupun hanya bisa menatap interaksi mereka berdua tanpa tahu apa yang sedang mereka bicarakan sebenarnya.
Dan disaat yang bersamaan seorang pria lain yang mengenakan jas navy pun datang menghampiri mereka. "Tuan, Noona, sekarang waktunya mengganti pakaian kalian, karena acara selanjutnya akan segera dimulai." Ucapnya.
"Baiklah." Jawab Leo singkat dan langsung pergi begitu saja meninggalkan tempatnya, sementara itu setelah melihat kepergian nya itu, Yoona pun ikut pergi ke ruangan gantinya.
Kini disinilah gadis itu berada sekarang, di sebuah ruangan yang luas dengan dan duduk di depan sebuah cermin rias dengan beberapa lampu kecil yang sedari tadi terus menyorot ke arah wajah cantik Yoona. Gadis itu duduk diam menatap pantulan wajahnya tanpa menghiraukan tiga penata rias yang kini tengah sibuk merias dirinya.
Butiran lembut dan aroma wangi serbuk bedak mulai tercium dan terasa di setiap lapisan kulit wajahnya, penata rias itu mendandani Yoona dengan begitu sangat baik, mereka bak seperti seniman yang kini sedang menciptakan sebuah mahakarya dengan menggunakan brush make up mereka, namun kali ini mereka tidak merubah banyak makeup Yoona mereka hanya memperbaiki dan menambah beberapa bagian seperti lipstik. Begitu juga dengan penata rambut nya yang juga tidak merubah banyak model rambut Yoona hanya saja dia sekedar merapikan gelungan rambut Yoona dan menambahkan beberapa aksesoris disana.
Hingga tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya mereka hampir selesai dengan pekerjaannya, kini Yoona sudah terlihat tampil begitu berbeda dari sebelumnya, meskipun mereka tidak merubah banyak tapi dia tampak begitu berbeda dari sebelumnya.
Mereka begitu sibuk karena waktu terus bejalan seakan akan waktu terus mengejar mereka, dan disaat yang bersamaan pintu ruangan itu tiba tiba terbuka oleh seseorang. "Kau sudah selesai?" Tanya Leo yang tiba tiba datang.
Mendengar hal itu Yoona dan penata riasnya itu langsung menatap ke arahnya yang sudah mengenakan setelan jas rapi sembari membawa sebuah kotak berwarna merah di tangannya.
"Kalian pergilah." Pinta Leo yang membuat semua penata rias disana langsung pergi meninggalkan ruangan itu, sementara Yoona dama sekali tidak memperdulikan kedatangan nya dan masih menatap ke arah cermin sembari memasang anting yang sempat penata rias tadi pasangkan untuk nya.
"Kenapa? Ada apa kau kemari?" Tanya Yoona tanpa menatap nya sama sekali.
"Tidak ada apa apa, aku kemari ingin tahu kau sudah selesai belum, ternyata belum selesai." Ucapnya sembari menghampiri Yoona.
"Aku sudah hampir selesai, jadi kau pergilah aku akan menyusul mu." Jawab Yoona.
"Tapi aku tidak akan pergi sebelum aku menyelesaikan urusan ku, dan aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum urusanku selesai.' Ujarnya yang langsung membuka resleting belakang gaun yang Yoona kenakan.
"Yyakk, kau gila, apa yang kau lakukan!!!" Marahnya sembari memegangi gaun miliknya agar tidak terjatuh.
"Cepat ganti gaunmu itu."
"Apa?"
"Aku sudah menduga kau akan berpenampilan seperti ini, dan kau kira aku akan membiarkan mu." Ucapnya ketika melihat Yoona yang kini menggunakan dress ketat berwarna putih dengan panjang jauh di atas lutut dengan model
Menyadari hal itu membuat Yoona berdiri dari tempat duduknya. "Memang nya ada apa dengan penampilan ku?" Tanyanya.
"Sudah ku katakan tidak semua pakaian itu bisa di perlihatkan pada semua orang, apa kau tidak tahu ada berapa banyak pria yang ada di luar, ahh atau jangan jangan kau sengaja ingin menggoda kekasih mu itu?"
Yoona mengerutkan keningnya, "Kekasih? Laurent maksudmu? Kalau iya lalu kenapa? Apa urusan mu, dan apa kau merasa terganggu?" Responnya.
"Lagi pula siapa kau berani mengatur ku, terserah diriku mau memakai pakaian apa itu urusanku." Lanjutnya dengan tatapan tajamnya.
"Aku adalah suamimu, dan aku berhak atas dirimu. Dan aku tidak mau hak yang sudah menjadi milikku menjadi tontonan gratis orang lain." Tegasnya.
"Aku tidak menyangka kau bisa se posesif itu padaku, tapi dengar honey, aku belum seutuhnya menjadi milikmu, jadi kau tidak bisa mengakui kalau aku adalah milikmu seutuhnya."
"Benarkah? Tapi Queen, setelah hari ini kau akan menjadi milikku, lihat saja malam ini aku akan membobol mu agar kau bisa menjadi milikku seutuhnya."
"Coba saja kalau bisa."
"Kau menantang ku?, dengar apa yang tidak bisa ku lakukan hmm? Sudah sekarang cepat ganti gaunmu itu dengan gaun ini." Pintanya sembari memberikan kotak merah yang sedari tadi dibawa olehnya.
"Kenapa kau terus memaksaku mengganti pakaian ku, kenapa tidak kau sendiri yang menggantinya."
"Apa?" Leo sedikit terkejut mendengar pernyataan itu, sementara Yoona langsung menjatuhkan gaun yang sedari tadi ia pegang hingga terlihat satu kain terakhir yang terbalut sempurna di beberapa area tubuhnya.
"Ku kira kau akan malu padaku."
"Untuk apa aku malu, bukankah kau sendiri yang bilang kau adalah suamiku? Lagi pula aku tidak seutuhnya memperlihatkan nya padamu" Jawab Yoona yang memang kini ia masih mengenakan baju dalam seperti korset untuk mengangkat pinggangnya.
Leo tersenyum smirik menatapnya dan membuatnya langsung menarik pinggang ramping Yoona dan mengambil alih bibirnya yang sedari tadi terus menggoda nya. Hingga beberapa menit kemudian Leo pun akhirnya melepaskan pangutannya.
"Aku baru saja mendapatkan sepuluh jahitan di setiap telapak tanganku, jadi untuk kali ini aku tidak bisa membantu mu." Ujarnya yang membuat Yoona sontak melirik ke arah lilitan perban di ke kedua tangannya.
"Kau pakailah gaunmu sendiri, nanti biar aku yang merias mu." Lanjutnya, Yoona mendengus kesal mendengar semua itu dan dia langsung membuka kotak besar nya itu dan memakai gaun yang masih terlihat rapi di dalamnya.
Dari pakaian yang terlihat sexy, kini Yoona terlihat lebih elegan dan cantik berkelas, masih menggunakan gaun panjang berwarna putih yang begitu memeluk tubuh hingga terlihat begitu jelas lekukan tubuh indahnya. Leo melepas gelungan rambut Yoona hingga terurai panjang, pria itu mulai sedikit merapikan dan menata rambut itu dengan begitu rapi hingga berhasil menutupi tulang bahu Yoona yang terlihat, dia juga menambahkan beberapa hiasan rambut sebagai pelengkap terakhir.
"Ku rasa kau tidak perlu mengubah gaya rambutku." Celetuk Yoona sebab jujur ia sangat senang sekali ketika melihat penampilannya dengan rambut yang tersanggul rapi.
"Menurutku kau tidak cocok berpenampilan seperti itu." Jawab Leo singkat.
"Jujurlah padaku, apa yang sedang kau rencanakan sekarang?" Tanya Yoona tiba tiba.
"Maksudmu?"
"Kau kira aku tidak tahu apa maksudmu, kau jangan sok berpura pura di depanku, katakan padaku apa yang sedang kau rencanakan sebenarnya, aku lihat kau sedang berbicara dengan anak anak buah dan asisten pribadi mu, kau pasti sedang merencanakan sesuatu sekarang." Tebak Yoona sembari menatap ke arah Leo.
"Itu tidak ada urusannya dengan mu Yoona."
"Tidak ada urusannya denganku, tapi menyangkut tentang keluarga ku, sekarang aku tahu alasan kenapa kau melarang untuk membawa benda tajam atau senjata berapi sebagai alat pelindung diri, kau bahkan melarang kita untuk mengerahkan banyak pengawal untuk menjaga tempat ini, kenapa? Sebab kau ingin mencelakai keluargaku termasuk aku di tempat ini secara diam diam iya kan." Ucap Yoona memperjelas Opininya.
"Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu, tidak bisakah kau sehari saja tidak berpikiran negatif terhadapku, sudah ku bilang, semua itu tidak ada kaitannya dengan mu ataupun dengan keluargamu, dan lagi alasanku melarang kalian membawa senjata itu sebab ku pikir ini hanyalah acara pernikahan, aku juga takut kau akan berperilaku tidak saat acara." Jelas Leo.
"kau takut aku akan membunuhmu dari jarak jauh, astaga....kalau begitu apa ucapanmu itu bisa di percaya?" Tanyanya.
"Mau percaya atau tidak itu adalah urusanmu Yoona, kalau kau masih tidak percaya padaku kau bisa menanyakan langsung ke Luca nanti."
"Sudah, ini kau lanjutkan sendiri aku akan menunggumu dibawah." Lanjutnya lalu pergi begitu saja dari dalam ruangan itu meninggalkan Yoona sendirian di dalam sana.