Sebut saja Mawar, sebuah nama yang diambil dari tumbuhan perdu, berduri, berbau wangi, dan berwarna indah. Mawar juga melambangkan romantisme, cinta, keindahan, dan keberanian. Namun, gadis yang bernama Mawar ini tidaklah seperti gambaran dari definisinya. Tragedi mengerikan membuat sang mawar menjadi layu, kering, dan dipenuhi oleh dendam yang membara.
Dari tragedi itu, Mawar tidak hanya menjadi korban kebiadaban para penjahat, ia pun harus menanggung fitnah yang mengarah padanya.
Dalam kondisi batin yang terguncang hebat, Mawar meneguhkan hatinya untuk membalas dendam tragedi nahas yang menimpa diri dan keluarganya.
Bagaimana cara Mawar dalam membalaskan dendam dan siapakah yang dapat menghentikannya? Simak terus ceritanya dalam novel yang kalian baca ini!
Kisah ini murni dari karangan dan imajinasi author. Selamat Membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sintaksis Cinta
Ketika teman-teman sekolahnya memikirkan kampus mana yang akan menjadi tujuan belajar selanjutnya, Mawar masih saja memikirkan tentang Baron Martin. Keberadaan sang otak di balik tragedi nahas itu disinyalir berada di Kota Metrolink. Akan tetapi, kota itu tak pernah tergambar di peta mana pun. Hal itulah yang membuat Mawar masih kesulitan menemukannya.
"Bagaimana caraku mengetahui lokasi Kota Metrolink?" pikir Mawar masih dibingungkan dengan keberadaan kota yang misterius baginya.
Mawar membenamkan wajahnya pada meja, mencoba menenangkan diri dari kemelut pencarian Baron Martin. Tak lama kemudian, terdengar nada dering dari ponselnya. Mawar mendelik dan melihat notifikasi pesan dari teman sekolahnya. Seorang pria cupu, kurus, dan berkacamata tebal yang selalu mimisan jika bertemu pandang dengannya tiba-tiba terpampang namanya di layar ponsel. Meskipun begitu,si pria cupu itu bukanlah seorang siswa yang dijadikan perundungan oleh siswa lain di sekolah. Ia adalah seorang cracker piawai yang disegani di dunia IT.
Mawar mengernyit dan bibirnya mengerucut mendapati nama yang tak pernah sekalipun berkomunikasi dengannya selama sekolah di SMA Martir Bangsa.
"Tumben si Ucrit nge-WA gue," gumamnya lirih.
Dengan rasa penasaran, Mawar kemudian membuka pesan dan mulai membacanya.
"Aku tidak tau bagaimana memanggilmu? Tapi bukan itu alasanku tidak pernah bertegur sapa denganmu selama ini. Selama kita sekolah, aku selalu mencuri pandang ke arahmu. Aku tau kamu membiarkanku melakukan itu, terima kasih, ya. Sejujurnya, aku selalu memantau kegiatanmu di dunia maya. Lebih dari delapan ribu kali dalam rentang empat bulan, kamu mengetik kata 'Baron Martin', dan dua ribu kali kamu mengetik kata 'Metrolink' selama sebulan terakhir. Maka dari itu, izinkan aku membantumu. Balas dengan emot senyum untuk melanjutkan atau kamu boleh menghapus pesanku."
Mawar tersipu membacanya, ia tak ragu membalasnya dengan emot senyum sesuai permintaan dari si pengirim pesan.
"Senyum yang manis dari sekuntum mawar yang pucat," balas Ucrit dalam pesan Whatsapp.
Kembali Mawar dibuat tersipu membaca balasannya.
"Seorang pria yang terobsesi dengan algoritma mampu berkata manis kepada seseorang sepertiku. Apa yang membuatmu berani melakukannya?"
"Di baris kode yang tak terhingga, aku tulis algoritma cinta yang abadi. Dengan variabel hati dan perulangan rindu, kau adalah output dari impian yang tercipta.
Dalam syntax asmara, kau jadi fungsi utama, Parameternya adalah senyumanmu yang menyala. Perulangan tanpa henti dalam keheningan malam, seperti looping tak berujung di dalam hati ini.
Conditional statements mengatakan cinta, jika kau ada, maka dunia ini berwarna. Compile cinta dengan compiler-nya rindu. Output-nya adalah kita dalam pelukan abadi.
Akan tetapi, terkadang debugging cinta pun diperlukan ketika error merajalela dan kita tersesat. Namun, diriku tak pernah menyerah, aku refactor cinta untuk senantiasa sempurna."
"404 Not Found. Remove me from your imagination!" balas Mawar menanggapinya.
Ucrit menggaruk-garuk kepalanya merasa malu.
"Oke, oke, aku menyerah," kata Ucrit, "kau tentukan saja kapan dan di mana kita bertemu. Kupastikan akan tiba sebelum waktunya."
"Besok pagi aku kabari."
Setelah itu, Mawar melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Dalam posisi telungkup, ia tersenyum mengingat pesan gombal dari Ucrit sampai kelopak matanya tertutup. Tidur.
Tepat pukul delapan pagi kelopak mata sang bunga terbuka. Sudut bibirnya melebar dan wajahnya merona mengingat janji untuk mengabari si pecandu sintaksis.
"Good morning, Ucrit. Did you have sweet dreams last night?" sapa Mawar memulai obrolan melalui WhatsApp.
Ucrit yang sedari tadi menunggu pesan dari Mawar hanya terbengong membaca pesan dalam bahasa Inggris. Ia kemudian menyalakan laptop dan langsung membuka aplikasi terjemahan, dan menautkannya ke dalam mode web.
"Finally, your message came through," balasnya seraya menambahkan emoji merah hati.
"You know, my dream was so beautiful last night, I had to wash my hair this morning." Ucrit tersenyum ceria bisa membalas dalam bahasa Inggris.
"Why's that?"
Ucrit terdiam. Ia membutuhkan waktu beberapa menit untuk menjawab.
"Sorry, can we get straight to the point?"
"Share your location, and I'll pick you up."
"Oh my God!"
"What's wrong?"
"It's okay, but my house is in an alley."
"Don't worry, I'll come to your house at 11 AM."
"Okay, i'll wait."
Ucrit menelan saliva dengan kasar, sementara Mawar tersenyum puas membayangkan reaksi si pria.
Pukul sepuluh pagi, Ucrit bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Setelah pintu kamar mandi terkunci, Ucrit meloloskan semua pakaian tanpa meninggalkan sehelai benang pun melekat di tubuhnya. Ia berdiri di depan cermin kusam; menatap tulang-tulang yang menonjol dari tubuhnya dan terutama pada makhluk jahanam yang berdiri tegak di bawah pusarnya. Ia kemudian mengelus dan mengajaknya bicara.
"Firasatmu kuat juga, ya, Dek." Ucrit mencomot ujung kepala adiknya yang mengilat dan berkedut.
"Sekarang kamu tidur, ya!" kata Ucrit sambil mengelusnya perlahan.
Dikira anak kucing yang kepalanya dielus-elus bisa tidur. Adik kecilnya justru makin membesar sempurna. Melihat itu, Ucrit langsung teringat pada Mawar. Ia memejamkan mata membayangkan sesuatu milik Mawar yang menggantung indah; meronta-ronta dari balik pakaian.
Dalam benaknya, Ucrit membayangkan Mawar berjalan ke arahnya lalu menciumi dirinya dari atas hingga sampai pada adik kecilnya secara lembut.
"Mawar, ah, enak!" racau Ucrit semakin intens mengelus adik kecilnya dengan tempo yang menanjak.
Lebih dari 30 menit berlalu, Ucrit mulai merasakan sesuatu menyeruak dari dalam tubuhnya, melesat sampai ke ujung kepala adik kecilnya.
"Come on, Baby, come on!" Ucrit terus meracau bersama derasnya keran air yang sengaja ia kucurkan maksimal untuk membiaskan racauannya.
"Mawar, i'm coming!" pekiknya sambil mendongakkan wajah ke belakang.
Wuzz!
Ribuan calon anak-anak tak berdosa meluncur keluar dari persemaiannya. Tewas secara mengenaskan setelah terkontaminasi udara luar. Berjatuhan bahkan sebagian ada yang terbentur dinding kamar mandi.
Sang pembunuhnya sendiri hanya menatap sendu pada calon anak-anaknya yang tewas secara mengenaskan. Ia ambil gayung dan menghanyutkan calon anak-anak tersebut ke dalam lubang pembuangan.
"Solihin, apa kamu membuang anak-anakmu lagi?" tegur seorang wanita tambun begitu melihat Solihin-nama aslinya-keluar dari kamar mandi dengan raut lesu namun penuh kepuasan.
Ucrit hanya bisa nyengir tanpa merasa bersalah, lalu kabur ke kamarnya tanpa mau menjawab pertanyaan dari ibunya.
Tepat pukul sebelas, Mawar yang mengendarai Jeep Defender tiba di depan sebuah gang sesuai dengan titik lokasi yang ditunjukkan oleh peta digital.
"Gang Demi Cinta," ucap Mawar, membaca tulisan yang tercetak di gapura.
Ia kemudian memarkirkan mobilnya di samping warung sebelah gang. Terlihat olehnya, seorang ibu sedang duduk di belakang etalase warung.
"Ibu, boleh parkir di sini?" kata Mawar meminta izin.
"Silakan, Neng!" balas si ibu warung dengan ramah.
Mawar tersenyum lalu melangkah memasuki gang. Suasana di dalam gang terlihat begitu rapi dan bersih. Rumah-rumah berderet saling berhimpitan satu sama lain, khas dari perumahan di dalam gang. Meskipun jalannya sempit dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan besar, suasana kekeluargaan antar tetangga tampak begitu harmonis.
Senyum ramah dari warga menyambut kedatangannya. Mawar yang berkarakter dingin pun mendadak menjadi gadis yang terus mengukir senyum membalas keramahan warga.
“Neng ini mau ke mana dan mau ketemu siapa?” tanya seorang ibu yang sedang menjemur ikan asin.
Mawar menghentikan langkah dan menyahut, “Saya mau ke rumah Solihin. Apa Ibu tau di mana rumahnya?”
“Solihin anaknya Bu Ijah atau anaknya Bu Ani?” tanya si ibu memastikannya.
Mawar bingung mendapatkan pertanyaan seperti itu. Sejenak ia terdiam lalu berkata, “Saya kurang tau siapa ibunya Solihin? Tetapi saya tau ciri-cirinya. Solihin teman saya itu kurus, berkacamata, dan rambutnya selalu lepek.”
“Oh, itu mah Solihin anaknya Bu Ijah. Itu rumahnya yang ada pohon jambu biji tapi tak pernah berbuah,” kata si ibu sambil menunjuk ke arah rumah bercat hijau muda.
Mawar menolehkan pandangan ke arah yang ditunjuk si ibu. Ia lalu berterima kasih dan meneruskan langkah ke rumah Solihin.
ga nyangka aja bisa berbuat busuk sm Mawar ..