Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL17
MASALAH BARU?
“Hei!”
Elusan tangan Jelita membuat Romi yang terlempar ke masa saat-saat terakhir mereka berpisah seketika tersadar.
Pria itu dengan cepat menarik tangannya yang disentuh Jelita.
Melihat reaksi Romi membuat Jelita tersenyum meringis.
“Emang harus segitunya ya?”
“Sorry.”
Jelita menarik nafas lalu menghembuskannya pelan.
“It’s okay. Aku yang harusnya minta maaf.”
“Jangan salah paham dulu. Ini tempat umum jadi agaknya tak pantas jika wanita bersuami dengan pria beristri saling bersentuhan seperti tadi.”
Jelita tertawa pelan.
”Dengan masalah kami dulu, apa kamu pikir aku masih bersamanya?”
Melihat ekspresi bingung Romi, Jelita kembali berucap. “Aku sudah pisah sama suamiku, Rom.
"Apa?"
Romi menatap Jelita beberapa detik. Meski mendengarnya langsung dari bibir wanita itu, ia tetap sulit mempercayainya.
“Kamu nggak percaya kan?”
“Jadi kamu sudah … cerai?”
Jelita mengangguk pasti.
“Ya, aku janda sekarang. Miris ya?”
Romi berdehem, seolah ada batu kecil yang terjebak dalam kerongkongan ketika Jelita mengatakan kata ‘janda’.
“Jadi kamu tahu kan kalau aku tetap Jelita yang sama, hanya sekarang keadaannya yang berubah, tapi pribadiku tetap sama seperti kamu dulu. Dan cintaku juga tetap sama tidak ada yang berubah, Romi.” Kalimat terakhir tidak ia katakan, hanya diungkapkan dalam hati.
Flashback End.
Ingatan itu buyar seketika ketika sebuah tepukan keras mendarat di bahunya.
Puk!
Tepukan seseorang dari belakang membuat Romi yang tengah menunggu lift turun melompat kaget.
“Sialan lo!” ucap Romi ketika melihat siapa pelaku yang mengagetkannya.
“Ngapain ngelamun?” tanya Gunawan, rekan satu divisinya.
“Nggak apa-apa. Darimana?” Romi mengalihkan, tidak ingin memikirkan hal itu lagi.
“Habis makan siang sama klien baru.”
“Oh.” Respon Romi singkat.
“Bukannya lo juga habis ketemuan ya sama klien baru bareng pihak pihak properti?”
Romi tak menyahut, hanya menanggapi dengan anggukan saja. Membuat Gunawan bertanya-tanya ada apa gerakan yang terjadi saat rapat tadi. Sukses kah atau—
Karena penasaran, akhirnya Gunawan kembali bertanya. “Pertemuan tadi aman kan? Semuanya lancar ‘kan?”
“Heum, aman. Kenapa?”
“Ya nggak apa-apa sih, tapi syukurlah kalau aman. Kirain gue lo gagal nge-dapetin proyeknya.”
“Nggak lah, aman, aman.”
“Yaudah sih yuk naik. Dan satu lagi, ubah ekspresi muka lo itu, elo kayak lagi banyak masalah padahal baru memenangkan proyek.” Serunya seraya menepuk pundak Romi dua kali.
“Tadinya kupikir semuanya sudah selesai. Tapi sekarang... sepertinya masalah baru justru akan dimulai,” ucap Romi, namun dalam hati.
***
Romi menghela napas sesaat mobil yang dikendarai sampai di depan rumahnya. Kemudian pria itu turun lalu membuka gembok pagar dan kembali lagi masuk ke dalam mobil untuk memasukkan mobil kedalam garasi.
Romi tak langsung masuk ke dalam rumah. Pria itu mengistirahatkan tubuhnya yang lelah di kursi teras.
“Cobaan apa lagi ini?” lirih Romi sambil menatap langit senja di hadapannya. Banyaknya pekerjaan di kantor terlebih datangnya masa lalu secara bersamaan membuat tidak hanya raganya yang lelah namun juga pikirannya.
Rasa sepi yang beberapa saat dirasakan terusik saat mendengar suara istrinya — Hannah.
“Kamu sudah sampai dari tadi, Mas?” tanya Hannah saat mendapati suaminya duduk di teras.
Romi membuka matanya dan tersenyum melihat wajah lelah istrinya namun tetap cantik di matanya.
“Belum begitu lama, kamu baru pulang? Kok aku nggak dengar mobil kamu masuk?” ujar Romi ketika mendapati mobil sang istri sudah berada di dalam garasi rumah mereka.
“Masa sih?” jawab Hannah yang di angguki Romi.
“Iya, Sayang beneran, Mas nggak dengar.”
“Fix berarti, Mas tadi ketiduran. Tapi kok nggak langsung masuk saja ke dalam kalau capek? Untung aku pulang cepat, kalau tidak mungkin kamu bakalan lanjut tidur sampai pagi disini.” Kekeh Hannah melihat raut kebingungan suaminya.
“Mungkin. Padahal, Mas nggak ada rencana lama di luar tadi cuma mau duduk sebentar sambil melihat senja sore eh tahunya malah ketiduran,” balasnya.
“Ya udah yuk masuk, sebentar lagi maghrib.”
Pasangan suami istri itu akhirnya masuk bersama dengan Romi merangkul Hannah masuk ke dalam rumah.
“Nah selesai. Sekarang tinggal panggil Mas Romi.”
Terlihat wajah puas Hannah menatap hidangan yang sudah ia sajikan. Walau makanan tersebut bukan hasil masakannya sendiri namun ia tetap puas dengan pilihan menu makanan yang ia beli tadi.
Hannah masuk ke dalam kamar utama di rumahnya, namun orang yang dicari tak nampak batang hidungnya.
“Apa di kamar mandi ya? Tapi nggak ada suara air, kemana dia?” tanya bermonolog.
Hannah tak langsung pergi mencari suaminya, wanita itu justru menuju ruang ganti sebab sejak masuk ke dalam rumah ia tak langsung masuk ke kamar melainkan langsung menyiapkan makanan jadi yang tadi dibeli di salah satu restoran favorit mereka.
Setelah berganti pakaian, Hannah menuju ruang makan, namun yang dicari ternyata belum juga datang.
“Apa ada di ruang kerja ya?” bisiknya pada diri sendiri.
Dengan langkah pasti Hannah berjalan menuju ruang kerja yang berada tidak jauh dari kamar belakang.
Sayup-sayup terdengar suara suaminya sedang berbicara dengan seseorang.
“Jangan telepon aku di luar jam kantor. Aku rasa pembicaran kita tadi sudah cukup. Ingat, aku sudah punya istri. Aku harap kamu mengingatnya terus.”
Romi menghembuskan napas tepat setelah mematikan sambungan teleponnya.
“Kenapa semuanya jadi serumit ini?”
“Apa yang rumit, Mas?”
“Sa-sayang? Sejak kapan kamu di sini? Tadi kamu dengar semua pembicaraanku?” tanya Romi panik. Bisa gawat kalau istrinya itu tahu.
“Kok panik gitu? Memangnya siapa yang telepon, Mas?”
“Siapa yang panik? Yang telepon… bukan siapa-siapa?”
“Tapi kok tadi sempat aku dengar kamu marah gitu, ada masalah di kantor ya?”
“Nggak ada, Na, semua aman kok aman.”
“Hmm … kalau misal kamu ada masalah kamu jangan ragu cerita sama aku, Mas, mungkin saja aku bisa bantu. Ya walaupun pekerjaan kita beda bidang, tapi siapa tahu bisa buat kamu lepas kalau kamu mau membagi bebanmu itu.”
Romi menatap istrinya dalam-dalam seraya mengatakan…
Apakah ia akan sanggup menyakiti hati perempuan baik ini?
“Mas,” seru Hannah melambaikan tangan di depan wajah suaminya. “Kok malah melamun? Pasti ngelamunin yang jorok-jorok ya?” Guyon Hannah.
Romi tergelak mendengar guyonan istrinya. “Habisnya kamu cantik banget sih. Pakai ajian apa bisa buat aku klepek-klepek begini?”
“Ngawur! Ajian apaan? Makan yuk, nanti lauknya nggak enak lagi kalau dingin.”
Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan sambil berpegangan tangan, lebih tepatnya Romi yang lebih dulu menautkan jemarinya ke dalam jemari sang istri.
Walau sedikit heran dengan sikap suaminya, Hannah mencoba berpikir positif. Mungkin saja Romi sedang ingin lebih bermanja dengannya. Sebab sejak tadi pria itu terus merayunya dengan cara-cara halus.
Meninggalkan rumah asri Romi dan Hannah. Di rumah berbeda terlihat seorang wanita cantik baru saja keluar dari mobilnya. Sejak tadi ia menatap bangunan rumah yang ada di depannya seraya membatin.
Aku tahu rasa itu pasti masih tersimpan jauh di ruang hatimu terdalam. Aku tahu ini salah tapi beri aku satu kesempatan untuk membuktikan jika rasaku tidak bertepuk sebelah tangan.
Setelah cukup lama menatap rumah itu, ia akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah barunya.
Ia tak pernah membayangkan, keputusan sederhana memilih rumah itu justru menjadi awal dari rangkaian kebetulan yang perlahan akan menghancurkan ketenangan banyak orang.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐