Sinopsis
Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.
Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.
Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Makam Ratu dan Rahasia Terakhir
Dua tahun telah berlalu sejak pernikahan kerajaan Derek dan Viona. Waktu berlalu begitu cepat. Istana Kerajaan Timur yang dulunya gelap dan penuh intrik kini telah berubah menjadi pusat kebahagiaan dan perdamaian. Taman-taman istana dipenuhi dengan bunga-bunga yang mekar, dan anak-anak kecil berlarian di halaman, tertawa di bawah sinar matahari.
Derek telah menjadi raja yang sangat dicintai oleh rakyatnya. Ia memerintah dengan hati yang adil, mendengarkan setiap keluhan rakyatnya, dan tidak pernah mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi mereka. Rakyat merasa aman, dan untuk pertama kalinya, Kerajaan Timur dan Barat hidup berdampingan dalam harmoni.
Viona pun telah menjadi ratu yang disegani. Ia tidak hanya duduk di singgasana dan menerima laporan; ia sering turun ke desa-desa, berbicara langsung dengan para petani dan pedagang, mendengarkan cerita mereka. Ia membangun sekolah-sekolah baru, membuka pasar-pasar bebas, dan membantu para janda yang kehilangan suami dalam perang. Tidak ada lagi yang mengingat Viona sebagai 'putri yang mati'. Mereka mengenalnya sebagai Ratu Permata—sebutan yang diberikan rakyat karena kebaikan hatinya yang bersinar terang seperti batu delima di cincinnya.
Neil dan Sera juga menemukan kebahagiaan mereka. Setelah setahun menjalani kehidupan baru di istana, Neil akhirnya melamar Sera dengan cara yang sangat romantis—di bawah pohon oak tua yang sama tempat mereka pertama kali bersembunyi dari pasukan Dewan Raja. Pernikahan mereka tidak semegah Derek dan Viona, tetapi diselenggarakan dengan penuh kehangatan di sebuah desa kecil, dihadiri oleh keluarga dan teman-teman dekat. Neil kini bertugas sebagai penasihat militer kerajaan, dan Sera menjadi kepala intelijen yang bertanggung jawab menjaga keamanan istana.
Namun, di balik semua kebahagiaan itu, ada satu hal yang masih mengusik hati Viona.
Setiap malam, ia sering bermimpi tentang seorang wanita yang tidak pernah ia kenal. Wanita itu memiliki wajah yang mirip dengan Derek—rambutnya yang panjang berwarna hitam, dan matanya yang berwarna abu-abu, sama seperti Derek. Dalam mimpi itu, wanita itu selalu tersenyum padanya, tetapi kemudian menghilang perlahan, meninggalkan perasaan kosong yang tidak bisa ia jelaskan.
Viona menceritakan hal itu kepada Derek suatu malam saat mereka duduk di balkon istana, menatap bintang-bintang.
"Derek, aku sering bermimpi tentang seorang wanita," kata Viona. "Aku yakin itu adalah ibumu—Ratu Elara. Dalam mimpi, dia tersenyum padaku, tetapi kemudian dia menghilang. Rasanya seperti ada sesuatu yang belum selesai di antara kita."
Derek menatap Viona dengan tatapan lembut. "Aku juga sering memikirkan ibuku. Aku sudah lama tidak mengunjungi makamnya. Mungkin sudah saatnya kita pergi ke sana bersama."
Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan ke pemakaman keluarga kerajaan—sebuah tempat yang terletak di lereng gunung di sebelah barat istana, di mana Ratu Elara dimakamkan. Tempat itu sepi, hanya ditumbuhi oleh bunga-bunga liar yang mekar di musim semi. Derek dan Viona berjalan perlahan di antara batu-batu nisan yang sudah tua, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah makam yang terawat dengan baik. Di atasnya, terukir kata-kata:
"Ratu Elara Minos, Ibu Kerajaan Timur, Wanita Berhati Emas."
Derek berlutut di depan makam, meletakkan sekuntum bunga putih di atas batu nisan. "Ibu, aku sudah lama tidak datang. Aku minta maaf."
Viona juga berlutut di samping Derek. Ia menatap batu nisan itu dengan perasaan yang mengharukan. "Ratu Elara, aku adalah Viona, istri Derek. Aku tidak pernah bertemu denganmu, tetapi aku mendengar banyak cerita tentangmu—tentang kebaikanmu, tentang keberanianmu, dan tentang cintamu kepada Derek. Aku berjanji akan menjaga putramu dan kerajaan ini selamanya."
Saat Viona mengucapkan kata-kata itu, angin sepoi-sepoi tiba-tiba bertiup, dan kelopak bunga putih di atas makam itu sedikit bergerak—seolah Ratu Elara sedang merespons.
Derek tersenyum. "Terima kasih, Viona. Kau sudah membuat ibuku bahagia."
Namun, saat mereka akan pergi, Viona melihat ada sesuatu yang aneh di balik batu nisan. Ada sebuah celah kecil yang tampaknya tidak sengaja—mungkin karena gempa bumi kecil, atau karena akar pohon yang tumbuh di bawahnya. Viona mengulurkan tangannya, menyentuh celah itu. Sesuatu terasa di ujung jarinya.
" Derek, tunggu. Ada sesuatu di sini."
Derek mendekat, dan bersama-sama mereka menggali sedikit tanah di sekitar celah itu. Di dalamnya, mereka menemukan sebuah kotak kayu kecil yang sudah tua dan menguning. Kotak itu terkunci, tetapi Derek menemukan kunci kecil yang tersembunyi di balik batu di samping makam. Ia membuka kotak itu dengan hati-hati.
Di dalamnya, ada setumpuk surat-surat tua yang sudah menguning, dan sebuah buku harian dengan sampul kulit.
Derek membuka buku harian itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia mengenali tulisan tangannya—tulisan ibunya. Buku itu berisi catatan harian Ratu Elara selama bertahun-tahun, termasuk saat ia pertama kali bertemu dengan raja, saat ia melahirkan Derek, dan saat ia menyadari bahwa Dewan Raja mulai berkomplot melawannya.
Derek membaca beberapa halaman, dan air mata mulai mengalir di pipinya. "Ibu menulis tentang semua orang yang ia cintai. Tentang ayahku, tentang aku, dan tentang Neil. Dan di sini, di halaman terakhir, ia menulis sesuatu yang mungkin tidak pernah ia sampaikan kepada siapa pun."
Derek membacakan isi halaman terakhir itu dengan suara pelan, yang hanya bisa didengar oleh Viona.
"Jika suatu hari nanti Derek kembali ke istana, aku ingin dia tahu bahwa aku tidak pernah menyesal menjadi ibunya. Aku mencintai mereka—Derek, Neil, dan raja mereka. Aku juga ingin Derek tahu bahwa cinta adalah kekuatan yang paling kuat. Cinta tidak bisa dikalahkan oleh kebohongan, tidak bisa dikalahkan oleh kekuasaan, dan tidak bisa dikalahkan oleh kematian. Cinta hidup selamanya. Dan aku akan selalu mencintai Derek, di mana pun aku berada."
Derek menutup buku itu dan memeluknya erat. Viona memeluk Derek dari belakang, membiarkan ia menangis.
"Ibu selalu percaya padaku," bisik Derek. "Dan sekarang aku tahu bahwa ia juga percaya pada kau."
Mereka kembali ke istana dengan kotak surat dan buku harian itu. Derek dan Viona menghabiskan malam itu bersama-sama, membaca setiap surat yang ditulis Ratu Elara. Surat-surat itu mengungkapkan banyak hal tentang kehidupan Ratu Elara—tentang impiannya, tentang kegagalannya, dan tentang cintanya yang tidak pernah padam.
Keesokan harinya, Derek memerintahkan sebuah perpustakaan baru di istana. Di dalamnya, ia menempatkan buku harian dan surat-surat ibunya sebagai pengingat bahwa seorang ratu sejati bukan hanya karena mahkota, tetapi juga karena hatinya.
Viona berdiri di samping Derek, menatap perpustakaan yang baru dibangun. "Ibu mu akan selalu hidup melalui kau, Derek. Dan melalui surat-surat ini, ia akan terus menginspirasi generasi berikutnya."
Derek meraih tangan Viona. "Aku berjanji akan menjadi raja yang layak bagi ibuku. Dan kau, Viona, akan menjadi ratu yang layak bagi kami semua."
Mereka berciuman di depan perpustakaan yang dipenuhi cahaya matahari, dan untuk pertama kalinya, Derek merasa bahwa semua luka di masa lalu telah sembuh. Cinta ibunya, cinta Viona, dan cinta rakyatnya telah menjadi pelindung yang tak tergoyahkan bagi dirinya dan kerajaannya. Dan di bawah langit biru yang cerah, masa depan yang cerah menanti mereka—bersama, sebagai satu keluarga, satu kerajaan, dan satu hati.