Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hak asuh
Safira berdiri kikuk di depan papa mertuanya. Dia tidak tahu harus melakukan apa di ruangan itu, terlebih papa Adrian hanya fokus pada layar laptopnya padahal Safira yakin, pria paruh baya itu menyadari keberadaanya sejak tadi.
Setelah dianggap angin lalu oleh keluarga Adrian, ini pertama kali dalam enam tahun dia dipanggil ke ruangan kerja papa mertuanya.
Safira sesekali mengambil napas panjang dan menghembuskannya pelan, berusaha tidak menimbulkan suara yang bisa menganggu konsentrasi papa mertuanya.
Alasan kenapa dia bertahan dalam rumah tangga bagai neraka ini, tidak lain untuk hidupnya dan cintanya pada Adrian. Meski sering dikecewakan, dia masih berharap suatu hari nanti Adrian akan jatuh cinta padanya.
Tapi kapan kiranya cinta itu akan datang padanya?
"Berhenti mengharapkan cinta Adrian lagi, dia sudah mati rasa sejak 6 tahun yang lalu."
Lantas, Safira mendongak mendengar ucapan papa mertuanya. Menatap dan menunggu pria paruh baya itu melanjutkan ucapannya.
"Jika terus mengejar cintanya, maka cepat atau lambat dia akan menyingkirkanmu dari hidupnya."
"Lalu apa aku harus menyerah Pa?" tanya Safira akhirnya.
"Mengerjanya nggak membuatmu bisa mendapatkan apapun meski sudah menikah bertahan-tahun, kecuali kau memiliki anak."
"Aku sedang berusaha Pa."
"Jadilah ibu sambung dan dapatkan hakmu layaknya ibu kandung."
"Maksud papa, apa?" Kening Safira mengerut.
"Rebut cucuku dari Alya dan alihkan hak asuhnya pada Adrian, maka kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Kelak, cucuku akan menjadi pewaris dan kau adalah ibu yang akan mendampinginya."
Safira terdiam, dia mencerna kalimat demi kalimat yang dilontarkan papanya. Enam tahun, dan dia tidak pernah berpikir untuk merebut apalagi membawa anak pertama suaminya ke rumah ini dan menjadikan dirinya ibu tiri.
"Maaf Pa, aku nggak bisa. Mas Adrian akan marah besar jika aku mengusik kehidupan masa lalunya."
"Terserah padamu, tapi jika kau terus seperti ini, kau akan tetap menjadi cangkang kosong di rumah ini." Papa Adrian kembali fokus pada layar di depannya.
Sedangkan Safira, meninggalkan ruangan itu dengan isi kepala bercabang kemana-mana. Memikirkan hidupnya selama 6 tahun, dicari jika Adrian membutuhkan pelampiasan hasrat saja, selebihnya dia adalah orang asing dalam hidup suaminya.
Padahal Safira tulus mencintai Adrian, dia berusaha hamil untuk pria itu tetapi takdir selalu menentang keinginannya. Tidak ada masalah pada rahim dan tubuhnya, begitu pun dengan Adrian. Namun, kenapa ia tidak kunjung hamil?
"Sudah pulang ternyata," guman Safira setelah tiba dikamarnya dan menemukan dompet, ponsel juga jas Adrian yang tergeletak di tempat tidur.
Dia mengambil jas itu secara asal, sehingga isi dalam sakunya terjatuh. Kertas putih panjang yang telah diremas.
Safira meluruskan setiap sisinya dan menemukan struk belanja dari toko ibu dan anak yang sangat populer di Bandung.
"Kau sedang apa?"
Safira berbalik, memperlihatkan kertas struk itu pada Adrian. "Untuk siapa semua mainan ini Mas?" tanyanya.
"Bukan urusanmu."
"Ini tentu menjadi urusanku karena aku istrimu dan kita belum memiliki anak, tapi kau malah membeli mainan anak laki-laki?" Mata Safira memerah, terlebih Adrian langsung merebut struk itu dan merobeknya.
"Jangan berdebat denganku."
"Putramu kan? Mas selama ini diam-diam membiayainya. Apa mungkin mas selingkuh dengan mantan istri mas di belakangku?"
"Jika bisa, akan kulakukan." Adrian tertawa.
"Sepertinya yang dikatakan papa benar." Safira menarik napas dalam-dalam. Tadinya dia tidak ingin mengusik Alya, tetapi melihat bagaimana Adrian bersikap, sepertinya harus ia lakukan agar tidak menderita sendirian.
"Papa menyuruhku mengambil putramu, membawanya ke rumah ini dan menjadikannya putraku," ucap Safira yang berhasil mengambil perhatian Adrian. Padahal pria itu hendak membuka lemari pakaian.
"Jangan mengusiknya, dia sudah bahagia dengan dunianya Safira!"
"Aku nggak bisa membantah perintah papa, jika mas nggak setuju protes sendiri padanya."
***
"Benar kita besok pulang ayah?" tanya Aryan yang kini berbaring di tengah-tengah antara ibu dan ayahnya.
"Lusa kakak," jawab Dipta, dia menumpu kepalanya, menghadap Aryan dan Alya yang melakukan hal sama.
"Jadi besok kakak masih bisa bertemu teman?"
"Loh kakak sudah punya teman aja, padahal baru 4 hari di sini," protes Alya.
Aryan langsung cekikikan, bahkan menutup wajahnya karena malu.
"Besok kita ke rumah nenek."
"Nenek galak?"
"Ih kok nenek dibilang galak sih? Nenek baik tau, tapi Aryan saja yang sering bikin nenek kesal, jadinya nenek marah-marah," jelas Dipta menjawil hidung mancung putranya.
Nenek galak yang Aryan maksud adalah ibu Alya. Kemarin-kemarin mereka sering berkunjung tetapi tidak bermalam, mungkin besok bermalam di rumah ibu Alya sekalian berpamitan ke Bandung.
"Kakak nakal ibu?" Kali ini Aryan menatap ibunya.
"Loh kok nanya ibu? Kakak cari kubu buat nyerang ayah ya?" tebak Dipta.
Aryan tergelak, menyembunyikan tubuhnya dalam selimut. Memeluk perut ibunya karena tangan sang ayah terus bergerak.
"Ibu lindungi kakak, tangan ayah nakal!" teriak Aryan di dalam selimut.
"Gimana dong, ibu juga takut sama ayah," Alya mengulum senyum, terus menatap Dipta yang tertawa terbahak-bahak saat berhasil menangkap Aryan dan membawa ke pelukannya.
"Dapat, sekarang kakak harus cerita siapa teman kakak itu." Pradipta mengendong putranya, membawanya ke sofa yang cukup untuk dua orang. Duduk sembari memangku Aryan dan menunggunya bercerita.
Tidak ada yang akan menyangka bahwa Dipta hanyalah ayah sambung jika melihat kedekatang mereka berdua.
Bahkan, saat pertama kali bisa bicara, Aryan lebih dulu memanggil ayah dibandingkan ibu. Selalu antusias menunggu ayahnya pulang kerja demi bermain bersama.
Dan anehnya, Dipta selalu mengiyakan ajakan Aryan meski lelah dan banyak pekerjaan dikantor.
Alya beralih pada ponselnya ketika mendengarnya berdering. Dia menjawab panggilan dari ibu kontrakan.
"Ada apa Bu?" tanya Alya sopan.
"Ini Bu, orang yang sering mengirim mainan, hari ini paketnya datang lagi. Saya harus apakan?"
"Minta tolong dimasukkan ke kontrakan saja Bu, nanti kalau orang yang ada di foto datang, suruh ambil semua barangnya Bu. Maaf ya Bu merepotkan.
"Sama sekali nggak Bu."
Alya menghela napas panjang setelah sambungan telepon terputus. Dia sudah mengirim pesan pada asisten Adrian agar tidak perlu mengirimkan mainan lagi, tetapi sampai sekarang paket mainan, pakaian dan seragam terus berdatangan. Dan beberapa di antaranya nggak ada yang pas untuk Aryan.
"Siapa ibu?" tanya Dipta.
"Pemilik kontrakan mas."
"Ouh Adrian kirim barang lagi?"
"Iya." Alya mengangguk, turun dari ranjang dan duduk tepat di samping suaminya.
"Adrian siapa ayah?" tanya Aryan.
Bukannya menjawab, Dipta malah melirik Alya. Untuk yang satu ini dia tidak memiliki hak menjawab pertanyaan putranya.
"Nanti ibu cerita, Aryan sebaiknya tidur biar besok bangun lebih cepat buat ketemu nenek."
Aryan mengangguk, berjalan ke kamar mandi untuk melakukan rutinitas yang dijarkan ibunya.
"Bagaimana jika kita bertemu Adrian, menolaknya secara langsung agar dia nggak buang-buang uangnya untuk hal yang nggak berarti seperti ini?" Dipta memberikan saran, mengenggam tangan istrinya dan menatapnya penuh cinta.
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan subscribe. Dukungan kalian semangat author
klo cinta... tak akn km mnduakn alya