Berawal dari menyelamatkan pria tampan yang tidak sadarkan diri di depan rumahnya, Adifa malah terjerat dalam hubungan pernikahan dengan pria nakal karena sebuah kesalahpahaman warga kampung terhadapnya.
Ia dan pria asing itu terikat dalam ikatan suci. Namun, Adifa tidak menyangka jika pria yang menjadi suaminya adalah seorang pria nakal yang suka bermain wanita.
"Dasar pria nakal!" ~Adifa Rahma
"Aku menyukai setiap lekuk tubuh wanita yang indah!" ~Raja Shaga
Bagaimana kisah selanjutnya? Mampukah Adifa menjalani pernikahannya dengan seorang pria nakal yang suka main wanita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Medusa Versi Mertua
Adifa menegakkan tubuhnya kembali. Gadis itu merapikan baju tidurnya yang tersingkap ke atas. Ia buru-buru turun dari atas ranjang.
Raja hanya mampu melihat istrinya yang sedang salah tingkah, mata pria itu terfokus pada baju bagian depan Adifa yang sedikit terbuka. Tampak pinggiran bukit istrinya yang mengintip malu-malu. Dalam hati Raja terus merutuki pikirannya yang sudah terkontaminasi dengan hal yang enak-enak.
Gadis yang ditatap oleh suaminya itu semakin merona. Akan tetapi, ada hal yang ganjal menurut gadis itu. Tatapan Raja tidak mengarah pada wajahnya, melainkan sesuatu yang berada di bawah dagu. Mata Adifa mengikuti kemana arah pandang suaminya berada.
"Astaga! Dadaku jadi asupan matanya," pekik Adifa dalam hati.
Ting! Tong!
Suara bel apartemen menyadarkan Adifa, ia segera membalik badan dan melangkah keluar dari kamar untuk melihat siapa yang datang ke apartemen milik suaminya.
Sementara itu, Raja terus memperhatikan kepergian istrinya. Bayang-bayang akan kulit putih yang menyerupai gumpalan membuatnya menjadi pusing sendiri.
Gadis yang sudah berada di depan pintu itu tampak ragu untuk membukanya, ia takut akan kejadian semalam, yang mana mommy Utami datang dengan segala ketidaksukaann terhadap dirinya.
"Huh, semoga bukan ibu seram yang semalam." Adifa merapalkan doa sebelum membuka pintu apartemen.
Tubuh Adifa sedikit menggeser ke kanan. Jadi, jika mommy Raja yang datang, ia bisa menyelip di balik pintu dan terhindar dari keganasan mommy Utami. Dirasa sudah mendapat posisi yang pas, Adifa segera membuka pintu.
"Siap—" Kepala Adifa menyembul dari balik pintu apartemen. Ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena bingung dengan sosok yang ada di depannya.
Merasa sedikit aman karena bukan mommy Utami yang datang, Adifa keluar dari balik pintu. Ia melihat wanita bertubuh s e x y dan berparas cantik yang ada di hadapannya dengan pandangan kagum.
"Cantik dan punya body yang bagus, apa dia seorang artis?" batin Adifa bertanya.
Wanita berambut pirang itu memperhatikan Adifa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan mata memicing. Adifa yang diperhatikan seperti itu spondan memegang wajah sembari menatap kakinya.
"Kamu siapa? Kenapa ada di apartemen Raja? " tanya wanita berambut pirang itu dengan nada curiga.
"Saya? Em ... saya is—"
"Hei wanita murahan! Apa yang kau lakukan di apartemen putraku?!" Mommy Utami berjalan mendekat ke arah Adifa dan wanita berambut pirang itu.
Spontan kedua perempuan itu menoleh untuk melihat ke arah sumber suara. Adifa dan wanita berambut pirang itu tampak takut saat mommy Utami datang dengan gayanya yang arogan.
"Satu wanita murahan, satunya lagi wanita miskin. Entah taktik apa yang kalian gunakan sehingga putraku bisa tertarik dengan dua wanita dari kalangan rendah seperti kalian," hardik wanita paruh baya itu.
Adifa beringsut mundur saat mommy suaminya semakin mendekati mereka. Dengan tak punya hati wanita paruh baya itu kembali mengeluarkan cacian kepada wanita berambut pirang yang tak lain dan tak bukan adalah mantan kekasih Raja. Yaitu, Maylisa.
"Pergi kau dari sini! Dasar wanita tak betul!"
"Tapi, Tan. Saya ingin bertemu dengan Raja." Maylisa memasang wajah iba, berharap wanita yang melahirkan Raja itu menjadi luluh. Namun, hati yang sudah sekeras kerak nasi di dalam rice cooker itu tak tersentuh sama sekali.
Mommy Utami memasang wajah tak sukanya, ia mendorong bahu kanan Maylisa hingga wanita itu hampir kehilangan keseimbangannya.
"Pergi dari sini! Atau ... akan kubuat dirimu menderita!" Ancam mommy Utami dengan tatapannya yang tajam.
Adifa yang berada di antara dua wanita berbeda usia itu tampak bingung harus melakukan apa karena dirinya sendiri pun tidak berani untuk membantu wanita yang tengah diancam oleh mommy Utami.
Melihat Maylisa yang tak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri, semakin membuat wanita paruh baya itu geram. "Apa kau tidak mengerti bahasa mamanusia! Putraku tidak akan mau melihat wajahmu lagi. Jadi, pergi dari sini atau kubuat kau kehilangan segalanya!" Mommy Utami menodongkan ancaman lagi kepada Maylisa yang tampak sedih.
"Saya pamit, titip salam untuk Raja. Permisi." Maylisa berbalik dengan menundukkan kepalanya, ia merasa terluka setiap kali mommy-nya Raja menghina dirinya hanya karena ia bekerja di sebuah toko minuman dan tidak berasal dari keluarga terpandang.
Langkah kaki Maylisa membawa dirinya semakin menjauh dari apartemen sang mantan kekasih.
"Huh, entah kenapa perempuan miskin seperti mereka yang disukai oleh putraku," dengus mommy Utami memandang kepergian Maylisa.
Sementara itu, Adifa fokus dengan pemikirannya soal wanita cantik dan s e x y yang baru saja pergi itu. Ia penasaran kenapa wanita berambut pirang tadi mencari suaminya, dan kenapa mommy Utami tampak membenci wanita secantik itu? Kepala Adifa penuh dengan tanda tanya.
Tatapan mommy Utami beralih kepada Adifa yang tengah sibuk dengan pikirannya. Merasa Adifa menutupi akses masuknya, dengan kasar ia mendorong tubuh gadis itu. Karena tidak siap, tubuh Adifa limbung dan kepalanya terbentur pinggiran pintu apartemen.
Bugh!
"Aw! Sttss." Adifa memegangi keningnya yang terhantuk pinggiran pintu.
"Menghalangi jalanku saja!" hardik mommy Utami. Tanpa rasa bersalah, wanita paruh baya itu melenggang masuk begitu saja tanpa menanyakan kondisi Adifa yang terlihat kesakitan.
Adifa menegakkan tubuhnya kembali, ia memegangi keningnya yang terasa perih. Tangan gadis itu mengusap dahinya untuk memeriksa apakah bagian itu berdarah. Namun, saat ia melihat telapak tangannya, gadis itu tidak menemukan noda darah. Jadilah ia dapat bernapas lega.
"Astaga! Mas Raja!" Adifa teringat akan suaminya, ia segera masuk menyusul mommy Utami yang hampir sampai ke kamar suaminya.
"Dimana putraku?" tanya wanita paruh baya itu pada dirinya sendiri.
Adifa yang berada di belakang sang mertua, mendengar suara seperti gumaman yang mengandung pertanyaan, spontan menyahut.
"Di kamar, Bu." Adifa mempersilahkan wanita yang merupakan ibu dari Raja dengan membukakan pintu kamarnya.
Diperlakukan sesopan itu oleh Adifa tidak membuat mommy Utami membalasnya dengan baik juga. Wanita paruh baya itu memutar bola matanya.
"Apa yang terjadi dengan putraku?!" pekik mommy Utami melihat kening dan kaki putranya di tempeli dengan kain.
Raja yang mendengar suara mommy-nya langsung membuka mata. "Mommy ada di sini?" tanya Raja dengan mengernyitkan dahi.
Bukannya menjawab, mommy Utami malah mendekat dan menarik sesuatu yang ada di atas dahi sang anak. Dan pada saat itu pula lah mata mommy Utami mendelik marah ke arah Adifa yang berdiri di sebelahnya.
"APA-APAAN INI?! KAU MENGOBATI PUTRAKU DENGAN TANKTOP MURAHANMU!" teriak mommy Utami dengan emosi.
Adifa yang merasa ketakutan, menundukkan kepala seraya mundur selangkah. Ia seperti sedang berhadapan dengan ratu Medusa.
`
`
`
Bersambung ....
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Hai readers zeyeng, maaf semalam othor absen update. Besok othor up-nya malam ya, biar yang lagi puasa tidak terganggu dengan hasil intip-mengintip othor di tengah malam 😂
Salam zeyeng dari othor ketche badai. Lope sebekon zeyeng.