~BEBERAPA PART MENGANDUNG MATURE CONTENT~
Hidup Regan tiba-tiba rumit sejak dipindah tugaskan mengajar di kampus keluarganya dan bertemu dengan Yona, model cantik dengan sejuta tingkah menyebalkannya.
Parahnya, mereka ternyata dijodohkan.
"Jika yang merindu adalah jiwa, kenapa yang sakit sekujur raga?" tanya Yona Anantasya William memeluk erat kekasih hatinya.
Kepulangan Yona ke Indonesia atas paksaan dari orang tuanya ternyata bukan tanpa sebab. Orang tuanya telah memilihkan seorang lelaki untuk menjadi suaminya.
Kata pepatah, 'Orang tua ikut menuliskan takdir anak-anaknya'.
Bagaimana takdir Regan dan Yona? Akankah perjodohan mereka berjalan dengan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiya Corlyningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernyataan Cinta Yona
Regan dan Fernand saling menatap, mereka berdua sangat frustasi menatap apa yang kini ada dihadapan mereka. Sudah tiga puluh menit berlalu sejak kedatangan mereka kesana, nampaknya Yona dan Nadia masih ingin melanjutkan kegiatan duet soju mereka.
Regan menghela nafasnya frustasi, dia bingung harus membawa Yona kemana setelah ini.
“Aku harus membawa Yona ke mana? Tidak mungkin aku mengantarnya pulang dalam kondisi mabuk. Bisa-bisa keluarganya berpikir buruk tentangku,“ ucap Regan bergumam.
Fernand menatap Regan dengan pandangan yang sama, dia sendiripun tidak tahu harus mengantarkan Nadia kemana, ke rumah keluarga Wijaya atau ke rumah Nadia sendiri?
Kedua lelaki itu menghela napasnya panjang, mereka menatap Yona dan Nadia yang tengah menggila dengan tatapan masam. Mereka merutuki pertemuan para wanita itu. Jika tahu endingnya akan seperti ini lebih baik Regan mengantarkan Yona untuk berbelanja keperluan kecantikannya.
Regan sangat menyesal karena menolak permintaan Yona untuk mengantarkan wanita itu berbelanja.
“Oh, Kembaran Regan ada di sini?” pekik Yona dengan matanya yang kini menyipit.
Yona menyentuh wajah Regan,
“Kenapa bisa sama persis dengan dosen bereng*sek itu?” tanya Yona menatap Regan menelisik.
Regan menganga, apakah pengaruh soju bisa segila itu hingga membuat Yona tidak waras lagi mengira dia memiliki kembaran.
Yona kembali menuangkan soju kedalam gelas kecil, meneguknya hingga tandas. Entah sudah botol keberapa, meskipun sudah mabuk tapi Yona nampaknya masih belum menunjukkan tanda-tanda teler ataupun tidak kuat lagi.
“Aku harus pulang, aku tidak tahan melihat bayangan Fernand di depanku,“ racau Nadia menepuk kedua pipinya, mencoba menyadarkan dirinya bahwa yang ada didepannya itu hanyalah bayangan Fernand. Nadia menggelengkan kepalanya berkali-kali, mengusir bayangan yang menyiksanya selama ini.
Nadia menggebrak mejanya, membuat Regan dan Fernand berjingkat.
“Lelaki busukkkk, menyingkir dari pandangankuuuuuuu!“ pekik Nadia menyiram soju di tangannya kepada Fernand.
Kedua lelaki itu terkejut, mata Fernand terbelalak ketika kemejanya telah basah karena siraman soju yang Nadia arahkan kepadanya.
“Ah, lelaki itu yang mengkhianatimu bukan?” tanya Yona menunjuk Fernand.
Fernand menatap kedua wanita itu siaga.
“Re, lindungi aku dari wanitamu,“ pekik Fernand memberikan komando kepada Regan.
Benar saja, Yona melempar tasnya kepada Fernand. Namun lemparan ta situ justru mengenai Regan yang mencoba menghalau Yona.
“Cukup! Ayo kita pulang,“ tegas Regan mencekal tangan Yona.
“Hah, suaranya Regan. Kalian mirip sekali,” ucap Yona menatap Regan dengan berbinar.
“Aku Regan, bukan kembarannya seperti apa yang ada dalam halusinasimu!” Regan mendengus kesal.
Yona menggeleng. “Aku akan melaporkanmu kepada Polisi karena mengaku-ngaku sebagai Regan, kamu harus melepaskan topeng itu dari wajahmu!“
Mata Regan terbelalak, kini Yona berhalusinasi bahwa ada lelaki yang tengah memakai topeng dengan wajah Regan. Yona menyentuh wajah Regan, menarik wajah Regan hingga lelaki itu terpekik kesakitan merasakan kuku Yona mengenai kulit wajahnya.
“Yona, lepaskan aku,“ ucap Regan menarik tangan Yona untuk melepaskan tangannya dari wajah lelaki itu.
Tidak ada cara lain, Regan langsung memeluk Yona dengan erat. Mengunci pergerakan tangan wanita yang sejak tadi berusaha menarik wajahnya.
Yona memberontak, dia harus melepaskan topeng wajah Regan dari wajah lelaki itu. Dia akan melaporkan lelaki itu kepada Regan nanti karena berani menggunakan wajah Regan. Apakah Regan setampan itu hingga dijadikan topeng oleh orang lain?
Yona terdiam, saat aroma parfum yang biasanya Regan pakai tercium di indera penciumannya. Yona memejamkan matanya, merasakan pelukan hangat yang sangat dia hafal. Yona mendongakkan wajahnya, menatap Regan dengan mata berbinar.
“Kamu Regan? Regan di sini?” tanya Yona dengan mata berbinar, mata wanita itu mulai berair, khas orang mabuk.
“Kita pulang sekarang!” ucap Regan kepada Yona.
Yona mengangguk antusias, wanita itu merangkul lengan Regan dengan erat. Seakan takut jika Regan akan akan pergi meninggalkannya.
Regan mengambil tas milik Yona.
“Aku dan Yona pulang dulu, jaga Nadia,“ ucap Regan menatap Nadia yang tidak kalah kacaunya dari Yona.
“Pasti,“ jawab Fernand.
“Aku yang bayar, kalian langsung pulang saja,“ ucap Regan diangguki Fernand.
Regan membopong tubuh Yona, membantu wanita itu berjalan dengan tegak. Regan menyerakan lembaran uang seratus ribuan kepada kasir di sana. Setelah itu Regan membopong Yona untuk masuk ke dalam mobilnya.
Regan menghembuskan napas leganya saat Yona sampai di kursi penumpang. Regan berdecak kesal, Yona memang ahli dalam membuat masalah untuknya.
Lelaki itu berpikir keras, ke manakah dia harus membawa Yona?
“Apartemen,“ ucap Regan mengingat bahwa dirinya memiliki apartemen pribadi yang dia beli dari hasil kerjanya sendiri.
Regan segera masuk ke dalam mobil, lelaki itu menoleh menatap Yona. Wanita itu sangat damai saat terlelap seperti itu. Regan memasang sabuk pengaman untuk Yona.
Mobil Regan memasuki parkiran apartemennya, lelaki itu keluar dari mobil. Regan berlari kecil mengitari mobilnya, membuka pintu penumpang. Regan membuka sabuk pengaman itu dengan perlahan, takut membangunkan Yona saat ini.
Regan mengangkat tubuh Yona.
“Dia harus diet lagi sepertinya,“ kekeh Regan saat membopong tubuh Yona.
Beberapa security menyapa Regan, mereka membantu Regan untuk menekan lift di mana apartemen Regan berada.
“Terimakasih, Pak,“ ucap Regan mengucapkan terimakasihnya.
Security itu mengangguk, meskipun Regan datang kesana bersama wanita yang tengah mabuk dari aromanya. Tapi perilaku Regan selama tinggal disana dan juga kesopanan Regan selama bertemu sang security membuat security itu tidak menaruh curiga kepada Regan.
Regan memasukkan kode apartemennya, pintu itu terbuka. Kaki Regan mendorong pintu itu hingga bisa dia lewati dengan membopong tubuh Yona.
Regan menurunkan Yona di ranjang kamar apartemennya, lelaki itu mendesah lega saat dirinya berhasil membawa Yona ke apartemennya sebelum wanita itu mengacau lagi dengan perkataan-perkataan tidak masuk akalnya.
“Regan ....“ panggil Yona menggenggam tangan Regan saat Regan hendak menyelimuti tubuh Yona.
Regan duduk di tepi ranjang, lelaki itu menatap Yona.
“Kamu butuh sesuatu?” tanya Regan dijawab gelengan kepala dari Yona.
“Regan, tadi ada lelaki yang memakai wajahmu,“ adu Yona kepada Regan.
Regan terkekeh, lelaki itu menyeka keringat dari kening Yona.
“Kamu mabuk, lelaki yang kamu maksud itu benar-benar aku,“ jelas Regan membuat Yona membelakkan matanya.
Yona bangun dari tempatnya dengan berat, wanita itu menatap Regan dengan berkaca-kaca,
“Kamu ke sana karena ada Nadia kan? Kamu mau menemui Nadia?” tanya Yona dengan mulut bergetar.
Wanita itu menangis, air matanya meluruh dengan derasnya. Hatinya terasa nyeri, Regan kesana untuk menemui Nadia, lelaki itu datang ke sana untuk Nadia, bukan untuk dirinya.
Tangis Yona pecah, wanita itu meraung seperti anak kecil yang direbut mainannya. Regan menganga tak percaya, dia bersumpah tidak akan membiarkan wanita itu untuk mabuk lagi setelah ini.
“Regan, kamu jahat sekali...hiks,” ucap Yona disela-sela isakan yang keluar dari mulutnya.
Regan mendekati wanita itu, tangannya menyentuh wajah Yona. Regan mencium kening Yona.
“Aku ke sana untuk menjemputmu, kamu mengerti?” tanya Regan menatap mata Yona dengan serius.
“Kamu bohong!” sahut Yona.
“Aku bersumpah Yona.“
Yona memeluk Regan. “Regan, sepertinya aku mencintaimu.“
____
Hellooo jangan lupa vote yahh untuk dukung novel ini jadi pemenangnya 🙏
Makasihh semuanyaa 🙏❣️
Mari lanjut membaca..