Bagaimana jika kau mencintai anak angkatmu sendiri?
Begitulah yang tengah di rasakan oleh Maxwell. Ia adalah satu-satunya suami yang tak mengharapkan Istrinya hamil. Bahkan, saat wanita itu di harus menjalani operasi Rahim maka Maxwell-lah satu-satunya manusia kejam yang tak perduli.
Ia di paksa untuk mengangkat seorang anak untuk mengobati trauma Istrinya. Tapi, balita 4 tahun itu sangat menguji kesabaran Maxwell yang di buat hidup di dunia Fantasi dan Mitologi.
Bagaimana tidak? saat Mentari datang maka Bocah itu akan sama seperti anak pada umumnya. Ia berkeliaran membuat suara berisik memusingkan. tapi, di malam hari ia akan menjelma menjadi seorang wanita dewasa yang arogan bahkan menyaingi sikap dinginnya.
Sosok yang begitu kasar dan selalu ingin membunuh membuat Maxwell hidup bagai di medan perang.
Mampukah Maxwell menundukan Sosok itu? atau ia terjebak dalam keputusan paksaan ini?
....
Tinggalkan Like, komen, Vote dan Giftnya ya say 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bos Baru?
Harapan Maxwell yang begitu tinggi akan sikap patuh Evelyne akan tunduk padanya malam ini seketika pupus. Ia tak menyangka Evelyne akan mengancamnya dengan pilihan yang sangat sulit dan begitu menguji kesabaran Maxwell yang benar-benar merasa sia-sia menyiapkan jebakan Batman seperti ini.
Bagaimana tidak? Sekarang Evelyne sudah duduk dengan begitu angkuh di pinggir Ranjang dengan tatapan tak biasanya selalu mendominasi Maxwell yang tengah membeku di Sofanya.
"Kenapa diam? Hm."
Maxwell memejamkan matanya untuk tak termakan oleh bara api yang Evelyne kobarkan di dadanya. Wanita ini mengancam jika Kupu-kupu itu tak segera di hilangkan maka ia akan menyakiti Tubuhnya sendiri.
Tentu hal itu akan berdampak pada Evelyne kecil yang akan terus menderita karna luka-luka yang disebabkan oleh iblis cantik di dalam dirinya.
"Jika kau tak menuruti-ku aku tak akan segan menyakiti Tubuh kecil Putrimu."
"Dia bukan Putriku," tukas Maxwell dengan nada datar dan tak bersahabat.
Mendengar itu Evelyne menyunggingkan senyum santai tapi jelas sangat meremehkan Maxwell. Ia masih saja berani duduk tanpa busana seperti itu hingga Maxwell harus menundukan pandangannya.
"Gadis yang malang. Dia begitu berharap jika Pria yang ia anggap sebagai Daddynya akan mengakui keberadaanya. Tapi.."
"Kau jangan memperburuk suasana hatinya," geram Maxwell mengangkat pandangannya.
Seketika Evelyne merasa jengkel karna jelas Maxwell memang perduli pada Evelyne kecil. Tapi, ia masih ada ruang untuk menyiksa batin bocah itu agar menyerahkan dirinya pada Evelyne dewasa yang penuh dendam.
"Baik. Aku tak akan mengusiknya tapi jika kau mau menuruti kemauanku."
"Kau pikir aku bisa di tawar?" desis Maxwell tapi tawa kecil penuh rencana Evelyne mengalun sangat halus dan meremangkan.
"Siapa yang ingin membuat tawaran. Hm?"
"Kauu.."
"Ini PERINTAH," tekan Evelyne dengan ekspresi serius dan sangat ingin melakukannya.
Maxwell diam. Di tatapnya wajah cantik penuh amarah dan api kebencian ini dalam hingga ia menemukan hasrat membunuh yang sangat besar di dalam diri Evelyne.
Manik abu itu berkobar panas. Tangannya terus mengepal dengan gestur tenang tapi Maxwell bisa melihat gejolak mendidih yang tengah Evelyne tahan.
"Kau ingin aku melakukan apa?"
"Yah. Itu yang mau ku dengar," decah Evelyne menyukai kalimat barusan. Maxwell hanya membuang muka jengkelnya karna ia tak bisa terus menentang Evelyne yang jelas tak bisa menurut dengan mudah.
"Katakan!"
"Cukup mudah. Kau hanya perlu menjalankan semua yang-ku mau," ucap Evelyne membutuhkan kekuasaan Maxwell untuk menemukan orang-orang yang malam itu menyerang Pura miliknya.
"Aku tak sudi menerima wanita sepertimu."
"Tak perlu sampai berlebihan. Tuan Idiot," desis Evelyne membuat Maxwell seketika menegakkan tubuhnya dengan raut jengkel dan sangat tak percaya Evelyne mengatainya selantang ini kembali.
"Kau.. Kau mengatakan apa?" tanya Maxwell mengeraskan wajahnya.
"I-D-I-O-T. Dengar?"
"Sialan!" geram Maxwell mengepalkan tangannya dengan tubuh berbalik memunggungi Evelyne yang sangat menguji kesabarannya.
"Kau tak usah khawatir. Aku tak akan mencampuri Urusan pribadimu karna aku juga tak tertarik,"
"Hm. Kau pikir aku berminat?" umpat Maxwell mengusap wajah Tampannya kasar. Ntah Dosa apa yang ia lakukan hingga di beri balasan bertemu Wanita iblis ini.
"Baik. Jangan membuang waktu lagi! Kau bekerja malam ini,"
"Bekerja?" gumam Maxwell heran lalu berbalik menatap Evelyne yang sialnya sudah berdiri tepat di belakangnya membuat Maxwell spontan mundur kalau tidak ia akan membentur bukit terindah itu.
"S..Sejak kapan kau.."
"Kau mendapatkan informasi tentang Evelyne kecil dengan muda. Aku ingin kau mencari orang yang sudah menghancurkan Pura-ku malam itu dan harus kau temukan," tegas Evelyne tak memperdulikan ketidak-nyamanan Maxwell kala berdekatan dengannya.
Sebelum menjawab hal itu. Maxwell lebih dulu melangkah lebar ke arah Lemari pakaiannya yang memang selalu di siapkan karna ia jarang kembali ke Kediaman.
Evelyne menautkan alisnya kala melihat Maxwell mengobrak-abrik lemari besar mewah itu menarik satu helai Kemeja putih yang langsung di lempar ke wajahnya.
"Kauu!!!"
"Pakai itu!" tegas Maxwell tak ingin mengotori matanya lagi. Ia melangkah ke dekat tempat tidur memunggungi Eveline yang menatap aneh dengan benda yang ada di tangannya.
Ini tak cocok untukku.
Satu kalimat yang terlintas di benaknya hingga dengan wajah tak bersalah ia merobek benda ini membuat Maxwell terperanjat kala Kemeja itu di lempar kembali ke wajahnya.
"Aku tak suka benda itu."
"LALU KAU INGIN MEMAKAI APA. HA??" bentak Maxwell sudah kehilangan kesabaran. Jika bisa di lihat dengan mata, mata sudah banyak asap keluar dari telinga dan api menyala di kepalanya.
"Itu terlalu besar," jawab Evelyne berjalan sendiri ke arah Lemari melewati Maxwell yang langsung memijat pelipisnya.
"Aku akan gila," gumam Maxwell membiarkan Evelyne mengobrak-abrik lemarinya dengan pakaian yang tak ia sukai akan terbang ke belakang tepat ke tubuh Maxwell yang hanya pasrah.
Setelah beberapa lama menyiksa Pria itu akhirnya Evelyne menemukan baju kaos lengan pendek kebesaran milik Maxwell dan Boxer hitam yang sudah ia peggang.
Dengan tangguhnya ia berbalik menunjukan benda itu pada Maxwell yang seketika langsung berdiri cepat ingin merampasnya tapi Evelyne sudah menyembunyikan itu di balik punggungnya.
"Berikan itu!!!"
"Aku mau ini. Pakaianmu semuanya kebesaran," tukas Evelyne membuat darah Maxwell semakin mendidih. Ia tak tahu lagi harus mengatasi wanita sialan ini bagaimana.
"Akan ku carikan yang lain. Letakan itu kembali!"
"Aku tak punya banyak waktu," jawab Evelyne yang memang mengejar Fajar.
Ia segera mengenakan benda itu hingga Maxwell tak bisa lagi mencegahnya. Baju kaos lengan pendek itu seperti mengulum tubuhnya yang memang langsing dan hanya beberapa bagian yang seharusnya berisi di tonjolkan ekstra.
Merasa sudah siap akhirnya Evelyne berjalan mendahului Maxwell yang melihat jika bagian dada Evelyne terlihat lebih menonjol dan tak bisa di sembunyikan. Alhasil ia menahan lengan wanita itu agar tetap di sampingnya.
"Ada apa?"
Maxwell hanya diam. Ia meraih kemeja yang di sobek tadi lalu menyobek beberapa bagian lagi hingga bentuknya sudah seperti Sehelai kain panjang selebar dua telapak tangan.
"Naikan bajumu!" Pintanya agak canggung tak memandang ke arah tubuh Evelyne sama sekali.
"Kau mau apa?"
"Naikan saja!" decah Maxwell sangat menjaga matanya hingga Evelyne menaikan Baju itu sampai ke lehernya.
Dengan agak kaku Maxwell mendekat hingga mengikis jarak yang ada. Aroma parfum yang maskulin dan kekar ini membuat Evelyne diam memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
Sementara Maxwell. Ia membalutkan sehelai kain ini ke dada Evelyne lalu membuat ikatan di belakang punggung halus wanita ini. Tanpa sengaja Maxwell merasakan kelembutan kulit Evelyne yang membuatnya harus menelan ludah untuk bertahan.
"K..Kau.."
"Terlalu kencang?" tanya Maxwell karna ia mengikat agak kuat. Evelyne merasakan panas di wajahnya hingga langsung mendorong dada bidang Maxwell untuk membuat jarak lebih lebar.
Keduanya langsung saling memunggungi dengan kecanggungan tiba-tiba datang. Evleyne meraba wajahnya yang merah lalu sadar jika Maxwell membuat Bera untuknya.
"Turunkan bajumu lalu lapisi dengan kemeja di dalam lemari!"
"Itu terlalu panas," gumam Evelyne memang tak biasa memakai pakaian terlalu tebal dan itu karnanya ia suka berpolos diri.
"Pakai jika ingin keluar dari sini!"
"Tapi.."
Maxwell sudah meraih Jasnya di atas ranjang lalu melangkah pergi ke arah Pintu kamar yang sudah terbuka otomatis. Tak ingin dikhianati akhirnya Evelyne memakai Kemeja hitam di dalam lemari
Ia bergegas mengikuti Maxwell yang tampak tengah berdiri di depan Pintu ruangan kerjanya ini seperti berbicara dengan seseorang.
"Minta Jack untuk menungguku di Markas!"
"Tuan! Bagaimana dengan Evelyne?" tanya Jirome yang masih mencemaskan bocah itu.
"Dia.."
Ucapan Maxwell terpotong kala Evelyne tiba-tiba berjalan gontai melewati mereka dengan wajah datar dan tatapan memindai Bangunan ini.
Sontak Jirome syok melihat ada wanita secantik ini tiba-tiba keluar dari ruangan Tuannya apalagi Kemeja, Kaos dan..
"Cepatlah! Aku tak bisa menunggu," tegas Evelyne dengan gaya angkuhnya melangkah pergi ke arah yang ia suka.
Yang membuat Jirome semakin terbelalak adalah Maxwell mengikuti wanita arogan itu walau wajahnya sudah membeku hebat.
"A.. Ada apa ini?" lirih Jirome sampai mematung di tempat. Para anggota yang ada di depan sana juga syok kala melihat Evelyne sepertu Bos memimpin jalan di hadapan Tuan mereka.
...
Vote and Like Sayang..