Hubungan tanpa kepastian membuat Zeline memilih berpisah, tetapi Daniel tidak ingin melepaskannya sekali pun Daniel juga tidak bisa menikahinya. Hingga pilihan tersulit dari orang tuanya terpaksa Daniel pilih, yaitu menjadikan wanita kesayangannya hanya sebagai wanita simpanan.
Apakah Zeline benar-benar hanya akan menjadi wanita simpanan untuk Daniel? Atau justru Zeline menemukan pengganti Daniel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Fi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akan Melakukan Apa Pun
Zeline bersyukur karena hari ini dia tidak bertemu dengan atasan yang Zeline pikir patut untuk dihindari. Bukan karena membenci atasannya, tetapi Zeline hanya ingin mencari aman dari wanita yang bekerja di hotel. Tenang adalah hal yang tentu semua orang inginkan termasuk Zeline, itu juga yang membuat Zeline berusaha menghindari masalah yang mungkin akan bermunculan.
"Ze, jadi ke rumahku?" tanya Shanum, pada Zeline, ketika jam kerja mereka berakhir.
"Tentu saja. Aku ingin bertemu keponakanku," jawab Zeline tersenyum.
"Baiklah, ayo!" Hanum lebih dulu beranjal pergi, disusul oleh Zeline. Keduanya masuk ke dalam mobil Zeline dan mulai menuju tempat tinggal Shanum.
Mobil yang dikemudikan Hanum berhenti di carport sebuah bangunan tiga lantai yang bisa dikatakan mewah menurut Zeline. Zeline yang sudah sejak awal menebak jika ada banyak hal yang Hanum sembunyikan, semakin yakin dengan dugaannya.
"Kau tinggal di sini? " tanya Zeline memperhatikan keadaan sekitar tempat tinggal Hanum.
Shanum menganggukkan kepala bersamaan dengan seorang anak berusia kisaran enam tahun, berlari menghambur memeluknya sembari meneriakan kata, 'Mami.'
Zeline yang melihat itu tersenyum, pria kecil yang terlihat begitu tampan itu sudah bisa ditebak adalah anak Shanum dari pria bule yang pernah Shanum ceritakan.
"Hai tampan." Zeline tak sabar untuk menyapa setelah melihat bocah tampan itu.
"Hai auntie." Pria kecil itu menghampiri Zeline tanpa diminta. Dengan sangat sopan dia mencium punggung tangan Zeline.
"Ya ampun. Tampan sekali," puji Zeline mengusap gemas hidung putra Shanum.
"Siapa namamu, tampan?" tanya Zeline lembut.
"Louis. Louis Agustin, Auntie!" jawab bocah kecil itu dengan logatnya yang terdengar berbeda.
"Bule kecil tampan, auntie. Kenalkan Au–"
"Zeline. Auntie Zeline," Louis tersenyum memotong ucapan Zeline.
"Aku bercerita banyak tentangmu," sahut Shanum.
"Ayo masuk!" Ajak Shanum.
Louis yang mendengar itu, menggandeng tangan Zeline lalu mengajaknya menyusul sang ibu yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah Shanum, Zeline yang melihat isi rumah Shanum semakin yakin jika Shanum bukanlah wanita biasa. Seorang pegawai hotel sekelas mereka tidak akan mudah untuk punya rumah seperti yang Shanum punya. Belum lagi di Carport Zeline melihat ada satu mobil lainnya yang tiga kali lipat dari harga mobil yang biasa Shanum gunakan saat bekerja.
Siapa kau sebenarnya, Shanum? Batin Zeline.
Zeline menatap ke sekeliling isi rumah Hanum hingga tatapannya berhenti pada sebuah bingkai foto berukuran cukup besar. Dalam bingkai itu terlihat Luois dan seorang wanita muda yang sangat cantik menurut Zeline dan dapat Zeline tebak itulah sosok asli Hanum.
"Sayang, Luois mandi dulu bersama mbok Ijah ya! Mami dan Auntie tunggu di sini, buruan ini sudah sore!" ucap Hanum pada Louis sembari melirik pengasuh Louis.
Setelah Louis pergi, Shanum duduk di depan Zeline yang sudah duduk di ruang tamu rumahnya. Hanum dengan santai membuka kaca mata serta tompel di wajahnya, tak hanya itu, Hanum juga melepas sesuatu dari kepalanya dan ternyata selama ini Hanum juga menggunakan rambut palsu. Rambut asli Hanum terlihat sangat unik dan cantik menurut Zeline. Keriting, tetapi begitu jatuh dan terlihat lembut.
"Kau sangat cantik, diluar dugaanku selama ini," puji Zeline yang terlihat sama sekali tidak terkejut, sama seperti Hanum yang juga tak ragu memperlihatkan wujud aslinya di depan Zeline.
"Ada banyak hal yang belum aku ceritakan. Perlahan kau akan tahu semua tentangku," ucap Hanum.
***
Seorang pria sedari tadi merasa cemas saat Zeline belum juga kembali dari hotel. Ia sudah berusaha menghubungi Zeline, tapi ponselnya tidak bisa dihubungi, ia juga sudah mencoba datang ke hotel tempat Zeline bekerja, tetapi ternyata Zeline sudah pulang.
Daniel menatap tangannya, luka itu kembali berdarah dan ia tidak berniat mengobatinya ataupun di obati oleh orang lain kecuali Zeline.
"Niel, aku harus kembali ke Jakarta. Banyak pekerjaan yang tidak bisa di tinggal," ucap Nick yang tiba-tiba datang.
"Kalau begitu pulanglah!" seru Daniel menjawab.
"Bagaimana denganmu?" tanya Nick lagi.
"Aku akan menetap di sini untuk sementara, aku harus mendapatkan kembali kepercayaan Zeline dan cintanya. Aku tidak bisa hidup tanpa Zeline, kamu tau itu."
"Niel, sadarlah! Yang Zeline butuhkan adalah status pernikahan, dia ingin kamu menikahinya. Sekeras apapun usahamu untuk mengejarnya jika tidak menikahinya itu akan tetap percuma," ucap Nick memperingati dengan mempertegas kalimatnya.
"Aku akan menikahinya!" ucap Daniel dengan lantang, mengejutkan Nick yang terdiam sejenak mendengarnya.
"Bagaimana mungkin?" tanya Nick sesaat kemudian.
"Niel. Jangan katakan kamu akan melakukan seperti apa yang dikatakan oleh keluargamu!" tebak Nick lagi, saat Daniel tak menjawabnya.
"Aku sudah bilang. Apapun caranya akan aku lakukan asal tetap bersamanya, aku akan menikahinya aku akan mengikuti keinginan mereka, tapi hanya Zeline yang akan aku anggap sebagai istriku dan wanita itu hanya akn mendapat status dari keluargaku. Keputusanku sudah bulat," ucap Daniel menjawab.
"Bagaimana jika nanti Zeline mengetahuinya? Dia pasti akan lebih marah padamu, Niel! Tidak ada wanita yang ingin dijadikan istri kedua," ucap Nick.
"Tidak ada yang namanya istri kedua, hanya dia satu-satunya wanita yang aku cintai dan wanita yang aku anggap sebagai istriku, hidup dan matiku."
"Niel. Tetap saja di mata dunia Zeline akan menjadi istri keduamu. Dia akan semakin kecewa padamu."
"Aku hanya ingin dia, Nick. Aku tau cepat atau lambat semua akan terbongkar dan saat hari itu tiba, aku hanya bisa berharap pada Tuhan. Aku akan menjelaskan semuanya, dan berharap Tuhan membantuku. Tolong dukung aku, hanya kau yang aku punya," ucap Daniel menatap Nick dengan sangat berharap.
"Baiklah. Aku bersamamu," jawab Nick lantang menepuk pelan bahu Daniel.
"Satu lagi yang aku inginkan."
"Apa itu?"
"Tolong mulailah berinvestasi di sini. Aku akan mulai semuanya disini, aku tidak mungkin menetap tanpa ada pekerjaan. Aku tidak akan membiarkan Zeline-ku hidup susah, maka dari itu aku akan mulai semua di sini," ucap Daniel lagi.
"Kamu tenang saja. Aku akan mengurusnya, sekarang obati dulu lukamu, setelah itu aku harus pergi!" pinta Nick bergerak mencari kotak obat lalu mengobati luka di tangan Daniel.
***
semangat thorr aku tunggu up nya yaa