#penghianatan
Dia pergi meninggalkan keluarganya karena sakit hati, wanita yang dicintainya menikah dengan pria lain yang usianya jauh di atas dirinya. Setelah kembali, dia menyadari jika semua yang terjadi pada kekasih hatinya tidaklah seperti yang dinilainya selama ini. Padahal dia sendiri sudah menikahi wanita lain, bahkan memiliki banyak hutang.Apakah benar, hidup sebercanda ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Geisya Tin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Itu Enak
Apa Itu Enak
Di saat yang sama, Gani tengah kedatangan kakaknya Algizali yang biasa di panggil Algi. Mereka masih mengobrol di luar rumah, sambil mengawasi anak bungsu Algi yang baru berumur dua tahun, sedangkan dua anaknya yang lain sibuk berada di dapur dengan sang nenek yang membuat camilan. Ami sangat senang dengan kedatangan anak, menantu dan cucu-cucunya itu.
Sebagai kakak pertama yang bertanggung jawab, dia prihatin dengan nasib yang menimpa adiknya. Dia tidak menyangka jika cinta Gani sedemikian besar pada Usfi, hingga dia nekat pergi dari rumah hanya karena ingin mengobati luka hati.
Gani menceritakan dengan jujur keadaan keluarganya di kampung halaman ibu mertua, hingga dia tidak bisa membawa mereka untuk ikut pulang bersamanya.
“Kasian Emak, tak bisa tengok menantu dan cucunya dari Gani!” komentar Algi sambil menyeruput kopinya.
“Bisa, Bang ... kalau aku sudah lunas utang, jadi aku bisa bawa mereka ke sini, tengok emak kita atau bawa Emak ke sana!”
“Mau sampai kapan utang kau lunas, Gan? Kalau sebulan cuma bisa bayar dua juta?”
“Entah, aku sendiri tak tahu, Bang!”
“Apa kau tak mau kerja lain yang punya gaji gede, gitu?”
“Jadi, aku punya rencana bulan ini mau ke sana, Bang, bawa ijazah aku mau cari kerjaan di sana, kumpul sama keluarga.”
“Oh, gitu ya, jadi kau mau tinggalin emak lagi, bukannya senang kau kerja sama Usfi?”
“Nggak, Bang ... Nggak baguslah itu lama-lama dekat sama istri orang bikin penyakit hati, apalagi dia sudah bahagia, lebih baik dekati istri sendiri dari pada dia nanti diambil orang!”
“Nah, bagus kau pikirkan itu, Gan! Kenapa nggak dari dulu kau waras begini?”
“Aku dari dulu waras, pun!”
“Kata siapa kau waras? Kau tergila-gila sama Usfi, macam gilanya Layla Majnun!”
Kedua kakak beradik itu tertawa lebar saat bercanda.
“Kalau kau tak gila, mungkin sudah jadi kepala dinas sekarang di kampung kita! Lumayanlah itu, apalagi kalau kau berada di lingkungan PEMDA, kursi basah, empuk pula, banyak proyek, banyak duit!”
“Alhamdulillah aku tidak jadi kepala dinas!”
“Nah, tak jadi kepala dinas pun kau bersyukur?”
“Takut tak kuat iman aku, Bang. Jadinya korupsi dan makan uang rakyat, dosa pula aku nanti!”
“Sekali lagi kau waras, Gan!”
Sekali lagi mereka tertawa.
$$$$$$$$$$
Gani benar-benar pergi menemui Istrinya, setelah Algi kembali ke perantauan. Saat libur sekolah setiap tahunnya, Algi pulang selama satu atau dua pekan, waktu yang cukup bagi keluarga kecil itu melepas rindu dengan Ima dan saudara lainnya.
Pria itu tampak senang dan optimis, berniat menemui keluargnya dengan membawa kabar gembira, kalau utangnya sudah dilunasi oleh Algi, kakaknya yang sukses menjadi petani sawit di perantauan. Dia hanya perlu mencicil utang, menurut berkemampuannya saja.
Gani sangat bersyukur, dengan pertolongan dari Allah melalui abangnya, apalagi dia datang dengan membawa ijazah sarjana, siap untuk mengadu nasib di kota yang berbeda, hingga bisa menafkahi keluarga sesuai tanggungan wajibnya.
Saat itu, Gani baru saja turun dari bis yang ditumpanginya menuju kampung halaman sang ibu mertua, saat dia dikejutkan oleh pemandangan yang menyita perhatiannya. Dia menoleh setelah mendengar suara tawa cukup keras, dari rombongan orang berseragam putih yang baru saja keluar dari warung nasi, tak jauh dari tempatnya berdiri.
Di antara mereka ada Asma—istrinya, yang sedang bercanda bersama beberapa teman sekantor, dengan sangat ceria. Saat itu Gani melihat pria yang dikenalnya bernama Nara, merangkul bahu istrinya dengan sangat akrab. Dan, yang membuat Gani heran, mengapa Asma membiarkan dirinya diperlakukan demikian. Tidak ada penolakan atau sikap risi dan marah pada sikap laki-laki itu. Apalagi pasangan itu bisa dilihat dengan jelas oleh teman-temannya, yang ikut membiarkan, seolah hal seperti itu biasa terjadi pada mereka.
Ada apa ini? Pikir Gani.
Rasa sakit dan amarah itu hadir lagi dan lagi, lebih sakit dari saat dia mendengar Usfi akan dilamar. Kalau dulu dia bisa pergi meninggalkan dan melupakan semua hal yang baginya menyakitkan tapi, kali ini dia tidak akan bisa melakukan hal yang sama, pergi sebelum memastikan kebenaran berita. Apalagi Asma adalah istri yang sudah dia nikahi secara sah menurut agama dan negara.
Gani terus mengikuti ke mana rombongan kecil yang terdiri dari enam orang itu pergi, mereka tengah istirahat di sela-sela kegiatan kantor. Setelah makan siang, mereka menikmati es krim sebagai hidangan penutup, di salah satu kedai es tak jauh dari warung nasi tadi.
Di kedai itu pula, Gani melihat Asma kembali diam saat Nara bersikap manis padanya. Tentu saja dia geram melihat tingkah istrinya yang, terlihat begitu mudah memberi kehangatan di hati seorang pria yang bukan haknya.
“Jadi, karena hal seperti ini dia susah sekali dihubungi? Teleponnya sering tidak aktif.” Gani bergumam sambil menyeka butiran keringat dingin yang mulai mengalir di keningnya sementara tangan dan kakinya gemetar, melukiskan bagaimana sakit dan hancurnya hati saat mengetahui istrinya dekat dengan pria lain.
“Mengapa seperti ini, Emak! Benar kali mungkin aku ini berbakat patah hati!” Gani berpikir sambil mengusap wajahnya.
Tiba-tiba dia menjadi dilema apakah akan mengungkap masalah saat ini juga atau menunggu bukti yang lebih banyak, kalau memang terjadi perselingkuhan antara istrinya dan pria yang dikenalkan padanya sebagai teman.
Namun, Gani laki-laki yang tidak boleh membiarkan istrinya terjerumus dalam dosa, karena akan menjadi tanggung jawabnya sebagai suami di akhirat kelak. Dia tidak membutuhkan bukti apa pun, karena apa yang dilihatnya sekarang sudah cukup membuat hatinya terbakar.
Kemudian pria itu mendekat secara elagan dan tenang, ke arah di mana Asma dan Nara duduk makan es krim dalam satu wadah berdua.
“Apa ini enak?” katanya sambil mencolek es krim itu dengan jari telunjuknya, bahkan tanpa mencuci tangannya itu terlebih dahulu lalu memasukkannya ke dalam mulut. Dia tidak melihat bagaimana ekspresi Asma dan Nara, ketika melihatnya tahu-tahu sudah berada di antara mereka berdua.
Gani terus saja mencolek es krim itu ke dalam mulutnya.
“Abang!” pekik Asma terkejut.
“Kamu?” ujar Nara kesal dan menunjukkan ekspresi jijik. Biar bagaimanapun juga, penampilan Gani setelah beberapa jam naik bis, sangat lusuh dan Kumal.
“Ini enak, pantas saja kalian begitu menikmatinya, harusnya kalian mengundangku kenapa telepon nggak aktif, Asma? Dari kemarin aku nelpon kamu?”
Gani bersandar sambil melipat tangannya di depan dada, sambil melihat ekspresi wajah kedua orang berlainan jenis di hadapannya.
“Kenapa, kaget begitu? Apa yang kalian lakukan berdua di sini? Masih ngaku Cuma berteman, mana ada teman mesra begitu, Asma?”
“Siapa yang mesra sih, Bang!”
“Kadang orang mengelak dari perbuatannya, demi melindungi dirinya sendiri padahal nyata-nyata yang dilakukan oleh mereka itu salah,” kata Gani tanpa mengalihkan tatapannya pada Asma.
“Jangan salah sangka, Asma tidak seperti yang kamu duga!” Nara tiba-tiba bicara.
“Apa kamu tahu apa yang aku duga soal Asma?” tatapan Gani seketika beralih pada Nara.
❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️
lanjut baca dulu ya...