Season 2 dari Aku Bisa Tanpamu 😘
Kehidupan pernikahan kedua Shofi yang semula berjalan begitu bahagia dan harmonis tiba-tiba diguncang dengan kecelakaan yang menimpa Awan, sang suami. Awan dinyatakan hilang dan belum bisa diketemukan dimana keberadaannya.
Tetapi Shofi dan keluarganya tidak pernah putus harapan. Mereka yakin bahwa dengan kuasa Allah SWT, Awan pasti bisa kembali dengan selamat dan rindu mereka akhirnya terobati.
Akankah kekuatan do'a dan keyakinan mereka benar-benar bisa membawa Awan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin Nuryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Pelangi Di Ujung Rindu ( 1 )
"PAPA AWAN!!!"
Suara teriakan itu sontak membuat Awan, Langit, dan Rijal menghentikan langkah mereka. Mereka bertiga kemudian berbalik dan menoleh ke belakang.
"Keinan," lirih Awan dengan kedua mata yang kembali berkaca-kaca begitu melihat Keinan dan Hamzah yang berdiri di depan pintu masuk rumah sakit tersebut.
"Papa Awan," kembali Keinan berteriak seraya berlari menghampiri Awan.
Awan langsung menjatuhkan tubuhnya, berjongkok dan merentangkan kedua tangannya, menyambut sang putra yang sangat dia rindukan itu. Keinan juga langsung menghambur dan memeluk Awan dengan erat. Tangis keduanya pecah seketika.
"Papa. Huhuhu, Kei kangen banget sama Papa," ucap Keinan di sela-sela isak tangisnya.
"Iya, sayang. Papa juga kangen banget sama Keinan," balas Awan seraya menciumi kepala Keinan beberapa kali.
"Papa kemana aja? Hiks, hiks. Kei, Bunda, sama dedek nungguin Papa terus. Oma sama Opa juga. Kita semua nyariin Papa tapi nggak ketemu-ketemu," keluh Keinan.
"Maafin Papa ya, sayang. Tapi sekarang Papa udah kembali, jadi kita semua bisa berkumpul bersama lagi kayak dulu. Ya sayang, ya," balas Awan.
"Iya, Pa. Hiks hiks," ucap Keinan yang masih setia memeluk sang Papa itu dengan sesenggukan.
"Bang, Kak Awan?" tanya Hamzah pelan kepada Langit dengan raut wajah yang begitu kaget.
"Iya, Ham. Syukur alhamdulillah Awan sudah kembali," jawab Langit.
"Alhamdulillaahi robbil 'aalamiin," ucap syukur Hamzah begitu bahagia.
Awan kemudian berdiri dengan menggendong Keinan dalam pelukannya. Awan beralih kepada Hamzah.
"Kak Awan," panggil Hamzah yang langsung memeluk tubuh Awan, tapi hanya sekilas saja karena Hamzah tidak ingin membuat Keinan merasa tidak nyaman.
"Hamzah," panggil Awan juga.
"Syukur alhamdulillaah, akhirnya Kak Awan kembali juga," kata Hamzah.
"Iya, Ham," balas Awan.
"Maaf ya, Bang. Tadi Kak Jani telepon, katanya Keinan rewel pengen datang ke rumah sakit. Keinan ngotot pengen lihat Bunda sama adeknya. Terus karena Kak Jani nggak bisa nganterin, akhirnya Kak Jani hubungin aku, Bang," kata Hamzah menjelaskan kepada Langit.
"Iya, Ham. Nggak pa-pa kok," balas Langit.
Awan mengangkat wajah Keinan. Dihapusnya air mata di pipi Keinan kemudian Awan mencium kening Keinan penuh sayang.
"Yuk, kita lihat Bunda sama dedek bayi," ajak Awan.
"Iya, Papa. Kei juga udah nggak sabar pengen lihat dedek bayi," ucap Keinan.
"Ayo semuanya," ajak Awan kepada yang lain juga.
Langit, Rijal, dan Hamzah pun mengiyakan. Mereka berlima kemudian meneruskan langkah mereka untuk menuju ke ruangan bersalin.
Sesampainya mereka di ruangan bersalin, ternyata Shofi dan bayinya sudah dipindahkan ke kamar rawat inap. Setelah mendapatkan informasi dari perawat yang sedang berjaga, mereka berlima pun kemudian meneruskan langkah mereka menuju ke kamar rawat inap Shofi.
Setelah sampai di depan ruang rawat inap VIP, dimana Shofi dirawat saat ini, Awan sempat menghentikan langkahnya sejenak. Langit, Rijal, dan Hamzah di belakangnya pun ikut menghentikan langkah mereka.
Mereka bertiga memahami kalau mungkin saat ini Awan butuh untuk menguatkan hatinya terlebih dahulu. Awan menarik nafas dalam kemudian mengucapkan basmalah dalam hatinya. Setelah itu Awan pun kemudian membuka pintu ruang rawat inap VIP tersebut.
🍁🍁🍁
"Assalamu'alaikum."
Terdengar suara seseorang yang mengucapkan salam setelah membuka pintu kamar rawat inap yang sedang aku tempati saat ini.
"Wa'alaikumsalam," jawabku, ibu, Mama Wulan, dan Papa Surya bersamaan seraya mengalihkan perhatian kami ke arah pintu masuk kamar rawat inap ini.
Dan ternyata itu adalah Mas Awan. Aku lihat Mas Awan sedang menggendong Keinan saat ini. Di belakangnya ada Bang Langit, Hamzah, dan juga seorang laki-laki lainnya. Aku yang saat ini sedang memangku bayiku tersenyum lembut dan bersyukur dalam hati. Melihat situasi saat ini, berarti benar kalau dia adalah Mas Awan, suamiku, yang menghilang selama hampir enam bulan ini.
Mama Wulan, Papa Surya, dan ibu yang saat ini sedang berdiri mengelilingiku sontak membulatkan kedua mata mereka masing-masing karena terkejut melihat kedatangan Mas Awan tersebut.
Keinan turun dari gendongan Mas Awan. Keinan kemudian menggandeng tangan Mas Awan dan menariknya untuk masuk ke dalam ruangan, menghampiri aku dan yang lainnya. Bang Langit, Hamzah dan laki-laki itu pun juga mengikuti di belakangnya.
"Bunda. Lihat, Kei bawa Papa, Bun. Papa udah kembali, Bun," teriak Keinan riang seraya menghampiri hospital bedku
Aku tersenyum dengan kedua mata yang sudah kembali berkaca-kaca. Aku sudah lebih dulu mengetahui tentang kembalinya Mas Awan ini, itu kenapa aku tidak terlalu terkejut seperti Mama Wulan, Papa Surya, dan ibuku saat ini.
Mas Awan menghentikan langkahnya begitu sampai di hadapan Mama Wulan. Sesosok wajah wanita yang tadi sempat hadir dalam ingatannya ketika sedang menemani proses persalinanku tadi.
Bisa aku lihat wajah Mama Wulan dan Mas Awan yang sama-sama terlihat penuh dengan kerinduan tersebut. Air mata sudah mengalir membasahi wajah keduanya. Kedua tangan Mama Wulan terangkat dan menangkup pelan wajah Mas Awan.
"Awan. Putraku," lirih Mama Wulan, seakan masih belum percaya.
"Iya, Ma. Ini Awan. Awan sudah kembali, Ma," ucap Mas Awan dengan menahan isak tangisnya.
Dan sedetik kemudian, Mama Wulan pun langsung menghambur memeluk Mas Awan. Tangis sepasang ibu dan anak itupun pecah seketika, mengiringi pertemuan kembali keduanya.
"Alhamdulillaahi robbil 'aalamiin. Terima kasih banyak, Yaa Allah. Terima kasih banyak karena akhirnya Engkau mengabulkan do'a-do'a kami selama ini. Terima kasih banyak karena Engkau telah mengembalikan putraku, Yaa Allah. Terima kasih banyak, Yaa Allah. Alhamdulillaahi robbil 'aalamiin," ucap syukur Mama Wulan seraya menangis memeluk Mas Awan.
Aku menghapus air mata yang mengalir di pipiku melihat pertemuan mengharukan antara ibu dan anak tersebut. Ibuku dan yang lainnya juga nampak menghapus air mata di pipi mereka masing-masing.
Mama Wulan melepaskan pelukannya. Diciuminya wajah Mas Awan, meluapkan rasa rindunya selama ini.
"Syukur alhamdulillaah, akhirnya kamu kembali juga, Wan. Gimana kabar kamu?" tanya Mama Wulan.
"Alhamdulillaah kabar Awan baik kok, Ma. Mama sendiri gimana kabarnya?" jawab Mas Awan sekaligus bertanya balik kepada Mama Wulan.
"Mama juga baik-baik saja, Wan. Seperti yang kamu lihat," jawab Mama Wulan juga.
"Syukurlah kalau gitu," ucap Mas Awan.
Mas Awan kemudian beralih kepada Papa Surya yang berdiri di sebelah Mama Wulan.
"Papa," panggil Mas Awan yang kemudian langsung memeluk Papa Surya.
"Awan. Syukurlah akhirnya kamu kembali juga," kata Papa Surya.
"Iya, Pa," balas Mas Awan.
Setelah melepaskan pelukannya dengan Papa Surya, Mas Awan pun kemudian beralih kepada ibuku.
"Ibu," panggil Mas Awan.
"Syukur alhamdulillaah, akhirnya kamu kembali juga, Wan," ucap ibuku yang juga ikut memeluk Mas Awan.
"Iya, Bu. Awan sudah kembali sekarang," balas Mas Awan.
Ibu kemudian melepaskan pelukannya pada Mas Awan. Diusapnya lembut pipi Mas Awan menggunakan tangan kanannya.
"Syukur alhamdulillaah, akhirnya Allah Subhanahu wata'ala mengabulkan do'a-do'a kami selama ini dan mengembalikan kamu untuk berkumpul bersama kami semua lagi," kata ibu Aminah, ibuku.
"Iya, Bu. Terima kasih banyak untuk semua do'a dan usaha dari kalian semua selama ini," balas Mas Awan.
"Tidak perlu bilang terima kasih. Itu adalah kewajiban kita sebagai keluarga, Wan. Sudah, sana temui istri dan putra-putra kamu. Mereka adalah orang yang paling merindukan kamu selama ini," kata ibu lagi seraya tersenyum lembut.
"Baik, Bu."
Mas Awan kemudian beralih ke arahku yang saat ini sedang memangku bayi kami dan juga Keinan yang berdiri di sebelahku. Aku dan Mas Awan saling bertatapan. Rindu itu terpancar dengan sangat jelas dari wajah kami berdua. Dan aku sangat bersyukur, karena akhirnya pelangi itu hadir juga di ujung rindu kami.
"Shofi," lirih Mas Awan.
"Mas Awan," balasku.