BUKAN KAWASAN ANAK DI BAWAH UMUR!
Di sebuah pesta, untuk pertama kalinya David bertemu Amelia, seorang pelayan yang datang ke pesta dengan undangan yang ditemukannya di jalan.
David jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Amelia sehingga membawa perempuan itu ke dalam apartemennya dan menghabiskan malam bersama.
Enam tahun kemudian, David bertemu dengan seorang perempuan yang berwajah mirip dengan Amelia. David yakin kedua perempuan itu adalah orang yang sama, tetapi perempuan itu malah mengelak.
Siapakah perempuan itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi pada enam tahun yang lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Citra Gtw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Putus 4
“Kau itu siapa?” tanyanya berbisik dengan nada mengintimidasi. “Kau itu hanya pencuri rendahan, tapi kenapa sulit sekali didapatkan? Aku punya segalanya. Kau bisa katakan apa yang kauinginkan agar aku bisa membelimu.”
Untuk kesekian kalinya David merendahkan Amelia. Akhirnya Amelia mau menatap David. Tatapannya sangat tajam karena harga dirinya kembali tersakiti.
“Kau tidak akan bisa membeliku karena aku sudah cukup memiliki apa yang kuinginkan. Aku tidak akan menjual diriku hanya untuk segala hak yang kaumiliki, karena aku tidak membutuhkan itu.”
Amelia langsung mendorong David. Bukannya terlepas, David malah menjebak tangan Amelia. David memegang kuat-kuat tangan Amelia yang meronta-ronta sehingga perempuan itu tidak bisa keluar dari kunciannya. Kemudian dia memaksa mencium perempuan itu.
Karena sadar tidak akan melepaskan dirinya dari kuncian David, akhirnya Amelia menyerah. Dia diam dan tidak meronta-ronta lagi. Akan tetapi, dia tetap menutup bibirnya dengan erat. Perlahan, air mata mulai menuruni pipinya. Dia menangis.
David tidak sadarkan diri. Dia telah terobsesi untuk mencium Amelia. Sampai merasakan air mata itu, David akhirnya tersadarkan. Dia mengira telah menyakiti Amelia dengan berusaha mencium perempuan itu. Akhirnya David melepaskan Amelia.
Setelah dilepaskan, Amelia tidak menggunakan kesempatan itu untuk pergi. Dia malah terdiam dan tetap menangis.
“Apa kau sebegitu tidak menyukaiku?” tanya David putus asa.
Amelia mengangguk.
“Kau benar-benar ingin aku pergi dan tidak menemuimu lagi?”
Amelia mengangguk.
David menggenggam tangannya. Lalu meninjukannya dengan keras pada dinding di samping Amelia. Dia menggeram sangat kesal. “Baiklah! Aku tidak akan menemuimu lagi!”
Amelia melihat darah keluar dari tangan David. Itu membuatnya khawatir. Sebelum Amelia mengatakan sesuatu, David sudah berbalik membelakangi Amelia.
“Kenapa sulit sekali mendapatkanmu,” gerutu David. Kemudian dia pergi meninggalkan Amelia.
Kaki Amelia terasa sangat lemah. Dia tidak pergi. Dia malah berjongkok di depan dinding itu. Dia pun melanjutkan tangisnya.
Amelia tidak terluka karena David memaksa menciumnya. Dia terluka sebelum itu, saat David merendahkan harga dirinya. Amelia mulai merasa kalau dirinya memang sangat rendah sampai orang lain berniat menghargainya.
Setelah kejadian itu, Amelia tidak kembali ke restoran. Dia bahkan tidak meminta izin lebih dahulu untuk pulang lebih awal. Dia pulang lebih awal untuk menenangkan dirinya.
Esoknya Amelia kembali bekerja. Untungnya Alex tidak tahu tentang bencana yang telah terjadi di restorannya karena dia masih belum bisa datang. Rekan-rekan kerja Amelia juga memaklumi tindakan Amelia yang pulang lebih awal tanpa izin. Mereka bergantian menanyakan kabar Amelia. Jawaban Amelia selalu sama, “Aku baik-baik saja.” Padahal Amelia tidak benar-benar baik-baik saja. Emma tahu itu. Dia bisa menebak dari cara bekerja Amelia yang lebih keras dari biasanya.
Meskipun tahu, Emma tetap diam. Karena bekerja sangat keras adalah cara Amelia untuk melupakan segalanya. Bercerita hanya akan membuat masa lalu terus teringat.
David memegang ucapannya dengan baik. Semenjak kejadian itu, dia tidak pernah menemui Amelia lagi, bahkan untuk menatapnya dari jauh. Seharusnya Amelia merasa senang dan tenang, bukan?
Ketidakhadiran David dalam kehidupannya adalah yang diinginkannya dari dulu. Akan tetapi, Hal itu malah membuat Amelia mulai merasakan sesuatu yang kurang dalam hidupnya.
Setiap mengantarkan pesanan ke pelanggan, Amelia menjadi teringat saat David menawarkan diri untuk mengantarkan pesanan itu dan setiap pulang bekerja, Amelia selalu melihat ke tempat di mana mobil David biasa terparkir. Akan tetapi, tempat itu selalu kosong. Selama tujuh hari sebelumnya, Amelia baik-baik saja meski David tidak menemuinya, tetapi sekarang dia malah mengharapkan laki-laki itu. Apa yang sebenarnya salah dalam diri Amelia.
Setiap hari Amelia terhimpit antara kesal dan sedih. Dia sedih karena David tidak bisa berhenti mengganggunya, bahkan setelah mereka berpisah dan dia sedih .… Amelia tidak yakin kenapa dia merasa sedih.
“Lia. Bos memanggilmu,” kata Emma menyampaikan pesan.
Sudah dua pekan semenjak perpisahan itu. Rupanya waktu yang lambat itu telah berlalu lebih lama. Telah banyak perubahan yang terjadi di sekitar Amelia. Hal itu menarik perhatian Alex.
“Apa yang terjadi?” tanya Alex setelah Amelia mendatangi ruangannya.
“Apa yang kaumaksudkan?” tanya Amelia tidak mengerti. Dia tersenyum seakan-akan tidak pernah terjadi apa pun.
“Kenapa aku tidak pernah melihat David lagi? Apa kalian sudah berpisah?”
Amelia tertawa pelan karena geli. “Aku dan dia bahkan tidak pernah bersatu, bagaimana aku dan dia akan berpisah?” elak Amelia.
“Lia,” panggil Alex.
“Iya, Bos?”
“Jangan terlalu keras pada David. Meski dia dingin, dia tidak pernah mengganggu orang lain. Kau itu perempuan pertama yang membuat dia tertarik. Dengan kata lain, kau itu cinta pertamanya.”
Itu tidak benar. Cinta pertama David adalah dirinya sendiri. Itulah kenapa, saat perempuan yang membuatnya tertarik menolaknya, dia akan mengganggu perempuan itu. Perempuan itu akan tetap terganggu sepanjang hidupnya.
***
Malam telah larut. Setelah pekerjaan di restoran selesai, Amelia tidak langsung pulang ke rumah. Dia berpikir untuk menghirup udara baru di tempat lain. Dia pun pergi dengan berjalan kaki menyusuri tepi sepanjang jalan raya.
Angin malam yang berembus dengan kencang mendekati Amelia lalu membelainya. Kemudian angin itu pergi meninggalkan rasa segar. Amelia merasa lega. Dia tidak lelah meski telah berjalan sangat jauh.
Dari jauh, Amelia melihat sebuah mobil hitam yang tak asing. Meski sudah lama tak melihatnya, ingatan Amelia cukup kuat sampai tidak bisa melupakannya. Itu adalah mobil David.
Mobil itu berjalan ke arah Amelia. Amelia menjadi gugup. Dia tidak yakin apa yang sebenarnya dia gelisahkan. Entah itu kegelisahan atau kebiasaan.
Tiba-tiba mobil itu berhenti pada jarak kurang lebih lima meter dari Amelia. Pintu mobil itu terbuka.
***
Lanjut part 30 ya😁 Karena ada revisi pengurangan kata, jadi ada part yang terhapus