Gadis tangguh yang mahir dalam seni bela di apa saja, ditarik ke dalam novel yang dia baca sebelum tidur. Dia yang tidak suka dengan akhir dari kisah cerita yang dia masuki, bertekad untuk mengubah jalan cerita dari novel tersebut.
Satu persatu masalah dia ubah dengan pemikirannya cerdas. Hingga pada akhirnya, masalah terbesar yang harus dia hadapi pun datang.
Apakah gadis tangguh itu mampu melewati masalah terbesar yang ada dalam novel tersebut? Karena setelah dia ditarik, otomatis, alur dari novel itu juga berubah hampir semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Episode 28
Ratna masuk ke dalam kamar. Mengambil ponsel, lalu menghubungi seseorang.
"Di mana kamu sekarang?" tanya Ratna langsung setelah panggilan terhubung.
"Aku ingin bertemu dengan kamu sekarang juga."
Ada yang tidak Ratna ketahui. Sebenarnya, Maria sudah menyadap ponsel itu sebelum Maria bikin ulah. Jadi, setiap aktifitas yang terjadi dengan menggunakan ponsel tersebut, Maria akan tahu semuanya. Tanpa ada yang bisa lewat sedikitpun. Mulai dari chat lewat Wa, FB, panggilan, dan semua komunikasi lewat ponsel itu, Maria tahu segalanya.
Beruntung, dia terlahir dengan anugerah otak yang jenius tingkat tinggi. Hanya melihat sekali bisa langsung memahami dan langsung melakukan.
Tapi, anugerah itu tidak mamanya perbolehgunakan secara terang-terangan. Hanya bisa melakukan segala hal yang dia sangat butuhkan secara tertutup atau sembunyi-sembunyi saja. Karena mamanya takut, hal itu akan menimbulkan masalah buat anak satu-satunya itu.
Namanya juga manusia. Jangan terlalu lebih, maka akan banyak yang ingin menjatuhkan. Karena rasa iri itu sangat jahat. Sangat-sangat jahat sampai manusia selalu kehilangan akal sehat jika menuruti rasa iri yang mereka punya.
Sementara itu, Maria yang sedang menguping obrolan Ratna lewat ponsel, mendengarkan dengan seksama. Dari percakapan itu, Maria tahu siapa yang sedang bicara dengan Ratna malam-malam begini.
Laki-laki itu adalah Rimba. Sepupu Arkan sekaligus sekretaris, dan juga mencakup asisten pribadi Arkan. Asisten yang tak dianggap tentunya. Karena Arkan sedikit banyak sangat memahami watak seseorang. Apalagi, orang itu lumayan dekat dengannya. Bukan hal yang sulit untuk dia melihat dan memahami watak itu secara jelas.
"Kau gila? Ini sudah malam, Ratna. Bagaimana mungkin kau mau ajak aku bertemu?"
"Aku malas. Tunggu besok saja. Kita akan bertemu besok saat aku makan siang."
"Aku tidak bisa menunggu besok, Rimba. Hati ini rasanya sudah tidak kuat menahan amarah. Aku ingin bicara dengan kamu secara tatap muka sekarang juga. Aku tidak mau tahu."
"Apa ini soal, Maria? Aku tahu kalau dia itu tidak mudah untuk dihadapi. Tapi kamu sangat meremehkan dia. Sekarang, kau kesal bukan?"
"Jangan tambah rasa kesal yang aku sudah miliki, Rimba. Jika aku tidak mempertimbangkan soal hak warisan yang dia miliki, aku pasti sudah menyingkirkan dia sejak lama. Tidak perlu bertahan dengan cara seperti yang aku lakukan saat ini. Cara sialan yang selalu bikin aku kesal."
"Tapi ... sebenarnya, cara itu tidak bikin aku merasa kesal jika Maria tidak berubah. Semuanya karena perubahan sikap yang dia alami setelah kecelakaan itu terjadi." Ratna berucap lagi sambil memikirkan, lalu menimbang apa yang sudah dia lewati beberapa saat ini.
"Apa maksud kamu?"
"Aku ajak kamu ketemu untuk membicarakan yang lebih jelas. Kita juga harus membahas perubahan rencana yang selama ini sudah kita susun. Kita tidak bisa melakukan rencana awal, karena itu tidak akan berhasil."
"Tapi .... "
"Aku tidak ingin mendengar bantahan dari kamu, Rimba. Ayo ketemu supaya kita gampang bicara."
"Apa tidak bisa nunggu besok? Ini hampir jam sebelas malam, Ratna. Aku lelah. Ngantuk juga."
"Sudah aku katakan kalau aku tidak ingin mendengar bantahan, Rimba. Apa kamu sudah tidak tertarik dengan perusahaan keluarga Arkan? Jika ia, maka kamu bisa mengabaikan pertemuan yang aku inginkan."
Terdengar dengusan kasar dari seberang sana. Itu adalah tanggapan kesal yang Rimba berikan karena dia tidak punya pilihan selain mengikuti apa yang Ratna inginkan.
"Baiklah. Aku akan temui kamu sekarang." Rimba berucap dengan nada malas.
"Jangan lama. Aku tunggu kamu di tempat biasa."
"Lihat saja nanti. Aku akan usahakan secepat yang aku bisa."
Setelah kata-kata itu, Maria tidak mendengar ada ucapan lagi. Ternyata panggilan langsung diputus secara sepihak entah oleh siapa.
Maria tidak ingin memikirkan soal siapa yang telah memutuskan panggilan terlebih dahulu, karena itu tidaklah penting buat dia. Yang paling membebani pikirannya sekarang adalah,
lokasi pertemuan yang akan kedua musuhnya datangi sebentar lagi. Karena musuhnya tidak mengatakan alamat, hal itu membuat Maria sedikit kesulitan untuk menyusul.
Tidak punya cara lain selain membuntuti Ratna saat dia keluar dari rumah. Hal itu sebenarnya sangat bahaya. Tapi karena sudah tidak punya pilihan, Maria tetap menempuh cara itu meski ketahuan adalah resiko yang akan dia terima.
Bunyi langkah kaki akhirnya terdengar juga. Ya meskipun sangat pelan alias begitu samar-samar sampai hampir tak terdengar. Tapi, karena Maria yang begitu fokus, langkah itu bisa dia tanggap. Ditambah, keadaan juga sangat mendukung. Malam hari yang lumayan sepi. Gerak sekecil apapun bisa terdengar jika mengandalkan pendengaran yang paling tajam.
Maria mengikuti langkah Ratna meninggalkan rumah. Sangat hati-hati, yang membuat Maria harus ekstra hati-hati dalam melangkah.
Ratna masuk ke dalam mobil yang biasa dia gunakan selama ini. Menghidupkan mobil itu, lalu tancap gas dengan cepat.
"Sialan. Harus naik apa aku pergi mengejarnya? Di sini tidak ada mobil. Sedangkan mobil yang aku punya, malah sedang berada di tangan Johan."
Maria tiba-tiba merasa cukup gusar akibat hal itu. Jika gagal mendengarkan rencana yang kedua musuhnya susun malam ini, maka semuanya akan berubah. Dia tidak akan tahu lagi jalan mana yang akan dia tempuh. Dia tidak ingin gagal dalam misi yang dia jalan kali ini. Yang paling tidak dia inginkan, dia berakhir dengan nasib yang sama seperti Maria yang sesungguhnya.
'Ya Tuhan ... bagaimana ini? Aku tidak ingin terjerat dalam dunia kecil ini untuk selama-lamanya. Ah, tidak. Bukan hanya terjerat, tapi berakhir. Oh ... tolonglah .... "
Untuk pertama kalinya, sikap tenang yang dia miliki musnah. Hancur berantakan bak kaca yang jatuh dari ketinggian menabrak kerasnya batu. Beling nya berserakan di mana-mana.
Maria begitu tak tenang sampai dia harus mengigit kukunya agar hatinya bisa tentram. Yah, walaupun usaha itu tidak ada hasilnya masa sekali, dia tetap saja melakukan hal itu sampai bayangan papanya datang.
Itu pesan terakhir yang papanya katakan sebelum papanya berulang.
"Lila Mariana. Ingatlah satu hal anak cantik papa. Kamu harus tetap tenang dalam situasi segenting apapun. Karena ketenangan lah yang mampu memecahkan masalah yang sedang kamu hadapi. Berpikir dengan ketenangan, maka kamu tidak akan menemukan jalan buntu, Nak. Ingatlah kata-kata papa ini di manapun kamu berada ya, Sayang."
Maria tertegun sesaat ketika kata-kata itu menyentuh benaknya. Perlahan, dia mengukir senyum karena pikirannya yang kacau sudah mulau bisa dia kuasai.
Maria tidak langsung beranjak meninggalkan rumah. Melainkan, malah naik ke lantai atas di mana kamarnya berada.
Dia yang awalnya panik, kini malah terlihat begitu santai. Sampai di kamarnya, dia langsung membuka pakaian yang dia kenakan sekarang. Lalu, mengganti pakai itu dengan pakaian lain.
seru