Bahagiana Bahtiar adalah wanita cantik, cerdas dan kaya raya dari keluarga terpandang. Sosok yang tak pernah percaya dengan namanya cinta, kekasih, suami. Karena sesuatu terjadi pada salah satu organ tubuhnya, dia dijodohkan oleh sang Papi dengan Balin Azura, pria dewasa dan tampan dari kalangan biasa.
"Ilmu gaib apa yang kau gunakan hingga berhasil mencuci otak Papi?" bentak Bahagiana seraya berkacak pinggang, menatap tajam.
"Asal kau tahu bahwa salah satu dalam organ tubuhmu itu adalah alasan utamaku menerima PERJANJIAN PERNIKAHAN ini!" Batin Balin dengan perasaan murka karena kalimat yang dilontarkan Bahagiana.
"Tidak bisa menjawab? uang, harta dan kekayaan? selamat kau berhasil!" Teriak Bahagiana untuk kesekian kalinya.
Bagaimana kisah antara Bahagiana dengan Balin? dua sosok beda karakter, martabat yang akan hidup satu atap.
Ikuti kisahnya di karya author recehan ini yang masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanzhuella annoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 28. Dilema
Tidak ingin mendengar apapun lagi Gia bergegas kembali masuk kedalam kamar. Ingin memejamkan matanya sampai esok hari.
Ia tenggelamkan wajahnya di batal, berselimut hingga menutupi batas leher. Sungguh malam ini ia ingin pingsan hingga pagi menjelang, ingin melupakan sejenak beban hidup.
Balin mengusap wajahnya frustasi. Ia sadar dengan penjelasanya itu tidak mudah bagi diapun yang mempercayainya.
"Sebenarnya siapa yang melakukan itu?" ujar Balin dengan marah.
Angin malam mulai menggerogoti tubuhnya, hingga Balin memutuskan segera masuk kedalam kamar. Pandangannya sejenak tertuju kepada Gia dengan posisi memunggunginya.
Tidak ingin menambah masalah ia memutuskan untuk rebahan, ingin segera masuk ke alam mimpi menyusul Gia. Asal ia tahu jika Gia belumlah tidur tetapi pura-pura seperti orang yang sedang tidur.
*
*
Selama 1 Minggu Balin keluar kota karena ada pekerjaan di sana yang perlu ia tinjau mengenai renovasi hotel. Selama itu juga Gia yang memegang peran di perusahaan pusat.
Di ruangannya Gia hanya melamun saja sejak ia datang. Entah kenapa selama kepergian Balin ia merasa kesepian. Bukankah seharusnya ia sangat senang atas kepergian suaminya itu? tetapi tidak bagi hatinya yang paling dalam.
TING
Notifikasi pesan masuk di ponselnya yang ia letakan di atas meja kerja. Dengan malas ia menjangkau ponsel tersebut.
DEG
Jantungnya berdegup melihat nama pengirim pesan. Itu adalah pesan dari Balin. Selama ini mereka tidak pernah saling menghubungi.
B: "Hari ini aku pulang, mungkin sampai rumah agak malam."
Begitulah isi pesan singkat tersebut. Entah sadar atau tidak bibir itu melengkung indah terukir di wajah cantik itu.
Tok tok
Lamunannya buyar akibat bunyi ketukan pintu. Dengan refleks ia kembali bersikap seperti biasanya. Tidak ingin ada yang tahu tentang perasaannya.
"Masuk!" Sahut Gia.
KLEK
Pintu di buka. Seketika raut wajah Gia menjadi masam melihat sosok yang itu. "Aku hanya ingin minta kunci kamar hotel, kebetulan ada pekerjaan di sana hingga malam. Biar tidak repot sekali aku akan menginap di sana," ucap Rika memberitahu kedatangannya.
Gia yang paham jika Rika ingin memeriksa pembukuan langsung memberi kunci tersebut tanpa bersusah payah dimintai Rika.
"Ingat jangan bawa siapapun kedalam kamar karena kamar itu milik keluarga, apa lagi laki-laki," sindir Gia seakan tahu kebiasaan Adik tirinya diluar sana.
"Apa urusannya? jangan khawatir karena yang kamu tuduhkan itu tak akan mungkin terjadi," jawab Rika dengan sinis.
"Aku berhak memperingatimu! Itu demi kebaikanmu, bagaimanapun kamu adalah-----" Gia tidak ingin melanjutkan kalimatnya yang masih menggantung.
"Lebih baik kamu urusi suamimu itu. Pria setampan dan sebaik itu kamu abaikan, jangan salahkan jika sesuatu yang tak diharapkan terjadi. Pria mana yang akan tahan jika hubungan-----sudahlah aku bisa-bisa terlambat," cicit Rika.
Gia tersentak mendengar perkataan yang dilontarkan Rika. Tiba-tiba dadanya seperti di hantam sesuatu ketika Rika memuji dan mengagumi suaminya itu. Ia tidak ingin orang-orang mendambakan pria tampan tersebut.
Dentuman pintu membuat lamunan buyar. Ia kembali duduk dengan tenang tapi perkataan Rika terngiang-ngiang, menganggu pikiran jernihnya.
Entah apa yang membuatnya ingin membalas pesan Balin yang sudah beberapa menit dibacanya.
B: "Oke..... hati-hati."
Kalimat itulah yang ia ketik, tapi belum kunjung juga ia kirim. Ia masih mikir mau dikirim atau tidak. Bingung itulah yang terjadi.
Gia memejamkan mata, merasa yakin pesan itupun ia kirim dengan jantung berdebar.
Bersambung.....
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi
jangan lupa juga yaaa kak mampir vote dan likenya cmiww💐