NovelToon NovelToon
Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Film Anti-Bullying

Selama seminggu itu, Rayhan Hartono tidak menghubungi Keira Salim sama sekali.

Hari pertama, Keira mengira ia sedang memberi ruang.

Hari kedua, ia mengira urusan keluarga atau bisnis menahannya.

Hari ketiga, ia berhenti mencari alasan untuk pria yang biasanya bisa membuat delapan lokasi drone menyala hanya agar pesannya dibaca.

Hari keempat, ia menerima kalung berlian ombak dari Bali yang dikirim ulang oleh butik karena Rayhan meminta kotak penyimpanan khusus. Keira tidak membukanya. Kotak itu diletakkan di rak paling bawah lemari, masih tersegel.

Hari kelima, akun gosip masih membahas foto Story Rayhan. Ada yang menyebutnya kekasih rahasia, ada yang menyebutnya simpanan, ada yang menulis bahwa Bos Besar Hartono hanya sedang menikmati mainan baru. Keira membaca dua komentar, lalu menutup aplikasi sebelum tangannya tergoda melempar ponsel.

Hari keenam, Tari membawa bubur ayam dan duduk di lantai apartemen sampai Keira memakan tiga sendok. Tidak ada yang menyebut Rayhan. Justru karena tidak disebut, nama itu terdengar di semua sudut ruangan.

Di apartemen, hidup Keira kembali rapi dengan cara yang dingin. Pagi ke kantor, siang rapat, sore lab, malam membaca laporan. Tari beberapa kali ingin bertanya, lalu menelan kalimatnya sendiri saat melihat wajah Keira yang terlalu tenang.

"Ci mau aku pesan makan?"

"Tidak perlu."

"Ci belum makan dari siang."

"Aku tidak lapar."

Tari menatap kotak bekal yang masih utuh di meja. "Rayhan juga tidak..."

Keira mengangkat mata.

Tari langsung berhenti. "Aku tidak menyebut apa-apa."

Keira kembali menatap laptop. Di layar, formula parfum baru terbuka, tetapi hidungnya tidak benar-benar menangkap apa pun selain aroma pahit kopi yang sudah dingin. Ia membenci dirinya sendiri karena menunggu suara lift. Membenci jari yang beberapa kali ingin membuka blokir pesan lama. Membenci fakta bahwa tidak ada pesan Rayhan ternyata bisa membuat ruangan terasa lebih luas sekaligus lebih kosong.

Malam ketujuh, hujan turun tipis di Jakarta.

Keira duduk di sofa apartemen, menggulir media sosial tanpa benar-benar membaca. Satu berita hiburan muncul di antara iklan skincare dan gosip artis.

Vanessa Tanujaya Bintangi Film Kebenaran Dunia, Suarakan Luka Korban Bullying.

Jari Keira berhenti.

Foto Vanessa memenuhi layar. Wajahnya polos, rambutnya dikepang longgar, seragam sekolah putih abu-abu dibuat kusut artistik. Di caption promosi, Vanessa menulis tentang keberanian korban, luka yang tidak terlihat, dan pentingnya menghentikan perundungan.

Video teaser otomatis berputar tanpa suara. Vanessa berlari di koridor sekolah, buku-bukunya jatuh, air mata mengalir sempurna di pipinya. Adegan berikutnya menunjukkan ia duduk di lantai toilet, memeluk lutut, sementara narasi teks berbunyi: Tidak semua korban mampu bersuara.

Keira menekan layar untuk menghentikan video, tetapi tangannya terlambat. Satu frame terakhir muncul: Vanessa menatap kamera dengan mata basah, seolah seluruh dunia berutang pelukan padanya.

Keira membaca kalimat itu sekali.

Lalu perutnya berbalik.

Ia tiba-tiba mencium antiseptik rumah perawatan, padahal apartemennya hanya berbau kopi dingin. Di telinganya, monitor Safira seperti berbunyi dari balik dinding.

Ia berlari ke kamar mandi.

Tidak banyak yang keluar karena ia memang hampir tidak makan. Hanya cairan pahit, napas yang patah, dan tangan yang mencengkeram bibir wastafel sampai buku jarinya memutih. Di cermin, wajahnya pucat, tahi lalat merah di ujung mata terlihat terlalu tajam.

Korban.

Vanessa Tanujaya akan berdiri di depan kamera sebagai korban.

Vanessa, yang dulu berdiri paling depan di koridor lantai enam. Vanessa, yang bertanya apakah ada orang akan percaya anak seperti Safira. Vanessa, yang hidupnya tetap indah selama Safira tidur delapan tahun.

Keira menyalakan keran. Air mengalir deras, menutup suara napasnya.

Ponselnya bergetar di ruang tamu.

Kevin.

Ia membasuh mulut, lalu kembali mengambil ponsel.

Aku baru dapat konfirmasi. Proyek Kebenaran Dunia mendapat jalur distribusi dan dana tambahan dari jaringan Hartono Group.

Pesan kedua masuk.

Keluarga Hartono dan Tanujaya sudah menyepakati perjodohan secara prinsip. Setidaknya itu yang beredar di level atas.

Keira menatap layar sampai huruf-hurufnya seperti bergerak.

Tidak mungkin.

Ia mengetik kalimat itu, lalu menghapusnya.

Kevin mengirim lagi.

Aku belum tahu motif Rayhan. Tapi fakta pendanaan itu benar.

Keira duduk perlahan di sofa. Hujan menyentuh kaca jendela seperti jari-jari kecil yang tidak sabar. Di luar, lampu kota buram. Di dalam, apartemen terasa terlalu bersih, terlalu diam.

Rayhan tidak mungkin membantu Vanessa.

Rayhan tahu Vanessa membuatnya tidak nyaman. Rayhan tahu nama Vanessa berdiri di antara mereka seperti duri. Rayhan mungkin kasar, mungkin salah, mungkin bodoh dalam cara mencintai, tetapi ia tidak mungkin memberikan panggung kepada perempuan yang membuat Safira jatuh.

Lalu Keira mengingat satu hal.

Rayhan tidak tahu Safira.

Ia tahu ada nama Safira. Ia tahu Fira kakak Keira. Ia tahu luka itu besar. Namun ia belum tahu wajah Vanessa di koridor lantai enam. Belum tahu cara Jessica tertawa. Belum tahu Brandon merekam. Belum tahu Denny menutup pintu.

Bagi Rayhan, Vanessa mungkin hanya masalah keluarga.

Bagi Keira, Vanessa adalah lantai enam.

Tari menelepon, tetapi Keira tidak mengangkat. Kevin mengirim pesan lagi, kali ini lebih hati-hati.

Keira, jangan putuskan apa pun malam ini. Tunggu bicara langsung.

Bicara langsung.

Keira tertawa pendek tanpa suara. Seminggu ini Rayhan tidak memberinya satu pun kalimat untuk diajak bicara.

Ia membuka chat Rayhan. Kolom terakhir masih berisi pesan yang tidak ia balas setelah Bali. Ia mengetik pelan.

Kamu yang memberi Vanessa film itu?

Jarinya berhenti di tombol kirim.

Jika Rayhan menjawab ya, sesuatu akan patah.

Jika Rayhan tidak menjawab, mungkin sesuatu itu sudah patah lebih dulu.

Di luar pintu, terdengar suara ribut dari koridor. Langkah kaki beberapa orang. Suara Steven yang setengah panik, setengah kesal.

"Pelan, Ray. Lo berat banget kalau lagi keras kepala."

Keira berdiri.

Kunci pintu apartemen terbuka dari luar. Steven punya kartu akses darurat yang dulu diberikan Rayhan setelah penculikan, hanya untuk kondisi genting. Malam itu, ia menggunakannya dengan wajah bersalah bahkan sebelum pintu terbuka penuh.

Rayhan berdiri di ambang pintu, ditopang Steven dan William.

Kemejanya kusut. Rambutnya berantakan. Bau alkohol tajam masuk lebih dulu daripada tubuhnya. Matanya merah, tetapi begitu melihat Keira, seluruh keributan di koridor seperti hilang dari wajahnya.

"Kei," gumamnya.

Keira masih memegang ponsel. Di layarnya, pertanyaan untuk Rayhan belum terkirim.

Di belakang Rayhan, Steven menatap Keira dengan ekspresi meminta maaf. William menghela napas lelah.

Rayhan melepaskan tangan Steven dan berdiri sendiri, goyah tetapi keras kepala.

Keira menatapnya dengan mata penuh kemarahan yang belum meledak malam itu.

Belum ada yang bicara.

1
kitty ❤
lanjut Thor 😍🔥
kitty ❤
Semangat Thor 😍🔥
kitty ❤
lanjut Thor 🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!