Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: Satu Bulan
Darah Keira seperti berhenti mengalir.
Di dalam ruang kerja, Ethan tetap tidak menoleh. Punggungnya lurus, tangan kirinya sudah kembali berada di atas meja, seolah getaran tadi tidak pernah ada.
Keira memaksa dirinya bernapas.
"Tidak lama, Ko Ethan," jawabnya.
Kursi Ethan tidak bergerak. Suaranya datang datar dari belakang layar komputer. "Kalau tidak punya urusan di sini, pergi."
Tidak ada bentakan. Tidak ada ancaman. Justru karena itu Keira tahu, ia sedang diberi kesempatan untuk tidak memperpanjang kesalahan.
"Baik, Ko Ethan."
Ia menunduk meski Ethan tidak melihat, lalu berjalan pergi dengan langkah stabil. Baru setelah melewati tikungan koridor, telapak tangannya terasa basah. Map catatan Stephanie di dadanya sudah sedikit penyok karena terlalu lama ia genggam.
Hari itu, Ethan tidak memanggil Bi Sari untuk menegurnya.
Tidak ada pengurangan gaji. Tidak ada peringatan tertulis. Tidak ada kata tambahan.
Namun selama beberapa hari berikutnya, Keira lebih berhati-hati saat melewati area kantor rumah. Ia belajar bahwa ada hal-hal di Kediaman Ciu yang boleh dilihat sekali, tetapi tidak boleh disebut dua kali.
Minggu keempat selesai seperti benang yang ditarik perlahan.
Stephanie semakin sering duduk dekat jendela dengan bayi di pangkuannya. Ia masih mudah lelah, masih kadang diam terlalu lama, tetapi ia tidak lagi terlihat takut pada napas kecil anaknya sendiri. Ko Gilbert belum kembali tinggal di Kediaman Ciu, namun pesannya tetap datang teratur. Tidak mendesak. Tidak menghilang.
Jayden juga mulai muncul lebih sering di dekat Keira, kadang membawa mobil mainan, kadang hanya berdiri sambil pura-pura tidak ingin diperhatikan.
Sementara itu, selimut kecil beraroma kayu cendana tetap tersimpan di lemari. Keira belum menanyakannya kepada siapa pun.
Pada hari ke tiga puluh sejak ia masuk ke Kediaman Ciu, Bi Sari datang ke kamar pengasuh tepat setelah sarapan staf.
"Suster Keira," katanya, "Nyonya Stephanie memanggil."
Keira langsung merapikan seragam. "Kondisi bayi?"
"Bayi baik. Ini bukan panggilan darurat."
Kalimat itu membuat Keira berhenti setengah detik.
Di rumah ini, panggilan yang bukan darurat kadang justru lebih menegangkan.
Kamar Stephanie pagi itu terang.
Tirai dibuka separuh. Aroma minyak telon bayi bercampur lembut dengan wangi teh hangat. Di ranjang kecil, bayi tidur dengan tangan mungil terbuka di samping kepala. Stephanie duduk di sofa, rambutnya diikat rapi, wajahnya masih pucat tetapi matanya jauh lebih hidup.
Di meja rendah depannya ada sebuah map biru tua.
"Duduk, Keira," kata Stephanie.
Keira tidak langsung duduk. "Nyonya membutuhkan saya untuk apa?"
Stephanie menatapnya, lalu tertawa kecil. Suara itu tipis, belum sepenuhnya bebas, tetapi cukup nyata untuk membuat Keira terdiam.
"Aku memanggilmu bukan untuk menyuruhmu menyelamatkan siapa pun hari ini."
Keira akhirnya duduk di kursi seberang sofa.
Stephanie mendorong map biru itu ke arahnya.
"Masa percobaanmu selesai."
Keira menatap map itu.
Selama satu bulan, kalimat itu menjadi bayangan di belakang setiap langkahnya. Masa percobaan. Tiga kata yang menentukan apakah ia bisa bertahan di rumah ini, apakah uang untuk Kiara tetap mengalir, apakah semua penghinaan dan ketakutan beberapa minggu terakhir ada artinya.
Jari Keira menyentuh tepi map.
"Keputusan Nyonya?"
"Kau diterima sebagai pengasuh bayi tetap di Kediaman Ciu," kata Stephanie. "Dan mulai bulan depan, kau juga akan membantu program pendampingan Jayden beberapa jam setiap minggu. Melissa sudah menyetujui. Nyonya Besar juga tidak keberatan."
Keira membuka map.
Di dalamnya ada kontrak kerja formal. Gajinya tertulis jelas, Rp 50 juta per bulan. Ada klausul bonus kinerja. Ada jadwal evaluasi. Ada ruang tugas tambahan untuk pendidikan dasar Jayden.
Dan di halaman terakhir, di bawah tanda tangan Stephanie dan Vivienne, ada tanda tangan lain.
Ethan Ciu.
Hitam. Tegas. Tidak banyak lengkung.
Keira menatap tanda tangan itu lebih lama dari seharusnya.
"Ko Ethan menyetujui?"
"Kalau dia tidak setuju, tanda tangannya tidak akan ada di sana." Stephanie menyandarkan punggung ke sofa. "Dia mungkin manusia paling menyebalkan di rumah ini, tapi dia jarang menandatangani sesuatu yang tidak dia pikirkan."
Keira tidak tahu harus merasa lega atau semakin waspada.
Stephanie melihat kebingungan itu, lalu senyumnya perlahan melembut.
"Keira."
"Ya, Nyonya."
"Kamu bukan sekadar pengasuh."
Keira mengangkat mata.
Stephanie menatapnya tanpa topeng. Tidak sebagai Nyonya keluarga Ciu. Tidak sebagai perempuan kaya yang memberi pekerjaan. Hanya sebagai ibu muda yang pernah duduk di lantai, hancur, dan tidak dihakimi.
"Kamu orang pertama di rumah ini yang memperlakukan aku seperti manusia."
Ruangan menjadi terlalu sunyi.
Keira menunduk, bukan karena takut, tetapi karena matanya mendadak panas. Dalam sebulan ini, ia dipanggil terlalu muda, terlalu miskin, terlalu berani, terlalu baru. Ia dinilai dari luka di tangan, dari asal-usulnya, dari uang yang ia butuhkan, dari posisinya sebagai staf.
Tidak ada yang pernah mengatakan ia memberi seseorang rasa menjadi manusia.
"Saya hanya melakukan pekerjaan saya, Nyonya."
"Tidak." Stephanie menggeleng pelan. "Orang di rumah ini juga punya pekerjaan. Tidak semuanya memilih melihat."
Keira menggenggam kontrak itu.
Bayi di ranjang kecil bergerak, mengeluarkan suara kecil seperti keluhan. Stephanie langsung menoleh, lalu berdiri pelan. Gerakannya masih hati-hati, tapi tidak panik.
"Dia mau bangun," kata Stephanie.
Keira ikut berdiri, tetapi Stephanie mengangkat tangan.
"Aku coba dulu."
Keira berhenti.
Stephanie mendekati ranjang kecil, membungkuk, lalu mengangkat bayinya dengan posisi yang sudah berkali-kali Keira ajarkan. Tidak sempurna, tetapi aman. Bahunya masih tegang, tetapi tangannya tidak lepas.
Bayi itu merengek sebentar, lalu menempel ke dada ibunya.
Keira melihat pemandangan itu dengan dada yang terasa penuh.
Satu bulan lalu, kamar ini hanya berisi tangis, pecahan kaca, dan seorang ibu yang takut pada dirinya sendiri. Hari ini, Stephanie berdiri dengan bayi di pelukan, masih rapuh, masih belajar, tetapi tidak lagi sendirian.
Ketika Keira keluar dari kamar Stephanie, kontrak itu terasa berat di tangannya.
Berat yang berbeda dari koper tua di hari pertama.
Malamnya, setelah semua catatan bayi selesai, Keira duduk di tepi jendela kamar pengasuh. Bulan menggantung di atas halaman belakang Kediaman Ciu. Rumah besar itu tampak indah dari jauh, seolah tidak pernah menyimpan jeritan, penghinaan, manipulasi, atau orang-orang yang rusak di dalamnya.
Ia sudah hidup di sana satu bulan.
Ia mengingat aula marmer dan tatapan puluhan pelamar. Ia mengingat Ethan yang menuruni tangga seperti keputusan buruk yang tidak bisa ditolak. Ia mengingat Stephanie di lantai kamar, bayi yang hampir kehilangan napas, Mbak Ratih yang jatuh dari keyakinannya sendiri, Chenny yang tersenyum sambil menanam racun, tiga Nyonya yang saling mengukur di meja arisan, Kevin dengan giok hijau di bawah pohon, dan Pak Darto yang keluar dari ruang kerja dengan lutut kotor.
Semua itu baru satu bulan.
Keira membuka ponselnya.
Ada pesan dari Kak Anisa. Satu foto.
Kiara menggambar matahari terbenam. Garisnya masih berantakan, warna oranye melebar ke luar batas, tetapi di bagian bawah gambar ada dua bentuk kecil berdiri berdampingan. Kak Anisa menulis singkat: Kia bilang ini kamu pulang nanti.
Keira menyentuh layar dengan ujung jari.
Di Sriwedari, ia pernah duduk di lantai rumah kecil dan berkata pada Kak Anisa bahwa ia pasti akan masuk ke Kediaman Ciu.
Sekarang ia sudah masuk.
Masuk saja ternyata belum cukup.
Keira memandang kontrak di meja kecil, lalu melihat kembali halaman gelap di luar jendela.
"Aku sudah masuk," bisiknya. "Sekarang aku harus bertahan."
Angin malam menggoyangkan tirai.
Saat Keira hendak menutup jendela, matanya melewati sisi barat Kediaman Ciu.
Bagian itu lebih gelap daripada bangunan utama. Letaknya agak terpisah, seperti seseorang sengaja meletakkan luka di tempat yang tidak mudah dilihat tamu. Bi Sari pernah berkata pendek saat mengenalkan jalur staf: sayap barat tidak perlu didekati kalau tidak dipanggil.
Namun malam itu, di lantai atas sayap barat, ada satu jendela yang menyala.
Cahayanya tidak terang. Kuning kusam, hampir seperti lampu yang lupa dimatikan.
Keira berhenti.
Di balik kaca, sebuah bayangan bergerak.
Hanya sebentar.
Sosok manusia, kurus dan cepat, cukup jelas untuk membuat tengkuk Keira merinding.
Lalu cahaya itu padam.